
Orang yang pertama kali tiba menghambur ke tubuh Sabarewang yang terkapar bersimbah darah adalah Roro Wulandari. wanita cantik jelita yang biasanya tenang dan pintar dalam menghadapi setiap masalah, entah kenapa sekarang menjadi sangat panik dan ketakutan hingga dia cuma bisa bersimpuh sambil menangis di samping tubuh kusir kuda itu.
Berikutnya Respati, Ki Ageng Bronto juga Jurata turut berada di sana. Satriyana yang melihat semuanya dari kejauhan berusaha bangkit berdiri untuk melihat keadaan rekannya. tapi dengan keadaan tubuhnya yang baru kehilangan sebagian 'Darah Keabadian' membuatnya terduduk lemas. Birunaka juga menahannya agar tetap berada di tempatnya.
''Saa., Sabarewang., kau., kau jangan mati. aku., aku masih berhutang padamu. kau harus tetap hidup. aku., kami semua sangat membutuhkan tenagamu kakang Sabarewang. kau., kau bisa dengar suaraku bukan kakang Sabarewang.?'' bisik Roro Wulandari gugup di antara isak tangisannya yang memilukan hati.
Dalam keadaan seperti ini orang tidak akan percaya jika perempuan cantik yang sedang menangis pilu itu adalah 'Dewi Malam Beracun' yang terkenal sombong, licik dan tinggi hati. Respati sampai tertegun melihat semua itu. tapi dia juga menyadari kalau di balik sifat galak dan sombongnya, Roro sebenarnya adalah seorang wanita yang gampang tersentuh hati dan perasa.
Ki Ageng Bronto perlahan lepaskan tangan Roro Wulandari yang masih memeluk tubuh tinggi kekar itu. ''Perbuatan dan tangisanmu ini tidak akan dapat membantu apapun. berhenti menangis dan tenangkanlah dirimu kembali..'' bujuk orang yang memakai blangkon hitam dan juluki sebagai 'Pendekar Golok Bayangan Setan' itu.
''Ki Ageng Bronto benar Roro., sekarang kau menyingkir dan tenangkan diri. biar aku dan Ki Ageng Bronto yang mengurus Sabarewang. lagi pula., sikapmu tadi seperti bukan dirimu yang biasanya. kau pemimpin kelompok ini, jadi pikirkan saja apa yang mesti kita lakukan selanjutnya..'' ujar Respati tegas setengah membentak melihat sepupu jauhnya itu seperti enggan untuk menurut.
Kali ini Roro mengiyakan. dia mundur lalu berdiri pejamkan mata. dengan mencapai ketenangan otaknya dapat bekerja lebih baik dan cepat dalam mengambil tindakan. sementara itu Ki Ageng Bronto dan Respati berusaha mengobati luka Sabarewang dan mengalirkan hawa murninya secara perlahan dan bergantian, karena jika terlalu banyak justru dapat membuat jalan darah Sabarewang terpecah akibat tidak kuat menahan arus tenaga sakti yang datang dari luar.
Jurata juga membalut hampir sekujur tubuh rekannya itu terutama di bagian perut serta dada yang penuh luka. ''Nafasnya masih ada meskipun sangat lemah, aku sudah memberi Sabarewang dua butir obat terakhir buatan kakak seperguruanmu. untuk sementara ini nyawanya masih dapat di pertahankan..'' ucap Respati. sebenarnya dia dan semua orang di sini sama paniknya dengan Roro, tapi mereka sadar kalau rasa takut dan ngeri hanya akan menambah kalut suasana hati.
__ADS_1
''Respati, Jurata dan kau Birunaka., kalian berdua cepat bersihkan semua mayat- mayat para keparat ini. jangan sampai terlihat jejak pertarungan sedikitpun di sini. 'Aah jangan dulu., pertama pindahkan mayat Ki Lembu Singkil, Ki Maruta si 'Pendekar Belibis Putih' itu serta empat orang anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' dua ratusan langkah ke barat sesuai dengan arah mereka datang..''
''Di sana buatlah keadaan tempat itu kacau seakan telah terjadi pertarungan sengit. lalu buat juga jejak- jejak pelarian palsu yang mengarah ke utara atau timur laut. sementara sisa mayat yang lainnya bakar saja di tempat ini sampai habis tidak bersisa..'' seru Roro Wulandari memberi perintah. sepasang mata wanita ini memerah penuh dendam amarah, hingga semua orang merasa ngeri melihatnya.
Jurata dan Birunaka menyahuti. sekali panggul mereka membawa dua sosok mayat di bahu kanan kirinya. Respati menyeringai melihat sepupunya yang cantik itu sudah kembali main perintah seenaknya. karena baginya itu jauh lebih baik dari pada melihat wanita itu menangis. sekali bergerak diapun menyusul kedua kawannya dengan memanggul mayat Ki Lembu Singkil si 'Raja Celurit Emas' dan Ki Maruta.
''Kenapa hanya mayat Nyi Sira sang 'Mambang Wanita Buta ini saja yang kau bakar bersama belasan mayat anggota rendahan kelompok 13 Pembunuh.?'' tanya Ki Ageng Bronto sambil mulai merajang habis mayat- mayat itu jadi potongan tubuh yang lebih kecil. dengan golok saktinya semua itu dapat dia lakukan sangat cepat. dengan beberapa tumpukan kayu, potongan daging cincang manusia itupun di bakarnya hingga habis menjadi arang hancur.
''Huhm., aku ingin pihak perkumpulan 13 Pembunuh masih mengira kalau Nyi Sira tetap hidup dan sedang mengejar kita bersama anak buahnya ke arah utara. sementara kita justru akan kabur ke tempat lain yang tidak pernah mereka sangka..'' ucap Dewi Malam Beracun mendengus sinis.
''Kakang Bronto., bisakah kau bantu aku untuk membuat sebuah., Aah tidak., bukan sebuah, tapi aku butuh sepasang tandu juga dua buah rakit kayu yang kuat dan besar. dapatkah kau mempersiapkan bahannya sekarang.?'' tanya Roro Wulandari menatap Ki Ageng Bronto penuh harap. yang di tanya cuma diam menarik nafas dalam untuk kumpulkan tenaga kesaktiannya.
Sebagai jawabannya bekas juragan kuda dan kerbau berbaju perlente itu melompat ke atas. dengan golok saktinya dia membuat puluhan gerakan membacok dan membabat. saat turun puluhan batang pohon sebesar paha orang dewasa sudah berjatuhan ke tanah.
Golok Bayangan Setan kembali bergerak, kecepatannya sungguh di luar nalar manusia. saat tersarung kembali dahan pohon itu sudah terpotong- potong rapi sama panjangnya dan bersih dari daun ranting. Dewi Malam Beracun tersenyum manis. tanpa ragu wanita genit itu merangkul Ki Ageng Bronto seraya memuji ilmu goloknya yang luar biasa, hingga lelaki itupun terkekeh dan blingsatan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Respati dan kedua kawannya sudah kembali lagi ke tempat itu. mereka sesaat heran melihat semua mayat yang bergelimpangan sudah lenyap berganti onggokan arang yang menyebarkan bau daging hangus. puluhan batang lonjoran kayu yang bertumpuk juga membuat ketiga orang ini saling pandang.
''Kakang Bronto dan Respati., tolong kalian buat dua buah tandu untuk mengangkat tubuh kakang Sabarewang dan Putri Penjerat karena mereka tidak mungkin untuk kita panggul. nanti luka- lukanya akan terbuka kembali dan semakin parah akibat guncangan..''
''Sementara Birunaka dan Jurata mohon kalian bawa potongan kayu itu ke tepi sungai yang sebelumnya kita lewati tadi pagi. kumpulkan di satu tempat yang aman. kita akan membuat dua buah rakit yang kuat. soal Satriyana biar aku sendiri yang menggendongnya..'' ucap Roro Wulandari. lantas wanita itu menjura hormat di depan semua orang.
''Harap kalian sudi memaafkan semua sikapku yang mungkin sering berlaku seenaknya. kali ini aku memohon pada kalian agar dapat bekerja secepat mungkin. khawatir jejak kita keburu tercium oleh lawan sebelum kita semuanya sempat kabur dan menghilang..''
Semua orang sesaat saling pandang. kejap berikutnya mereka sudah bergerak sesuai tugas yang di berikan Roro. ''Saat bicara dan meminta maaf tadi, kau benar setulus hati ataukah cuma basa- basi.?'' tanya Respati setengah berbisik. Roro langsung mendelik, ''Sudah jangan banyak tanya., cepat kerja dan lakukan semua yang tadi aku perintahkan. mengerti.!'' bentaknya garang sambil bertolak pinggang.
Respati cuma nyengir saat jidatnya dipukul Ki Ageng Bronto. ''Kenapa kau suka sekali membuat masalah dengan wanita galak itu. turuti saja apa maunya dari pada kita terkena dampratannya..'' geramnya kesal sambil mulai membuat tandu kayu.
Respati terkekeh sekejap. memangnya siapa lagi orang di dunia ini yang paling mengerti isi hati Dewi Malam Beracun selain dirinya. waktu sudah lewat tengah hari saat dua buah tandu itu siap, sementara puluhan batang kayu juga sudah selesai di pindahkan ke tepi sungai agar dapat di buat sebagai dua buah perahu rakit.
Tandu pertama di gunakan untuk mengangkut Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning'. Jurata dan Birunaka yang mengangkatnya. tandu lainnya di pakai untuk Sabarewang. Respati dan Ki Ageng Bronto yang mengawal tandu itu. Roro Wulandari menggendong Satriyana di belakang punggungnya. tongkat merah berikut pedang Nyi Sira turut pula dia bawa. entah apa yang ada di pikiran wanita itu.
__ADS_1
''Sebenarnya kita hendak kabur ke mana lagi Roro.?'' tanya Respati sesampainya mereka di tepian sungai. semua rekannya yang mulai membuat rakit jadi ikut tertarik. Dewi Malam Beracun tersenyum sinis. ''Kita kembali lagi ke tempat asal. aku rasa sudah saatnya untuk menggunakan lorong rahasia lain yang terpendam di bawah rumah Ki Ageng Bronto.!''