13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rumilah, Tabib Mata Hati


__ADS_3

Respati alias Si Ular Sakti Berpedang Iblis terus memacu kereta kudanya tanpa henti, hingga tidak salah kalau sebelum fajar tiba mereka sudah sampai di pinggiran wilayah Jepara, saat melewati sebuah kampung kecil sayup- sayup terdengar suara orang sedang mengumandangkan adzan subuh, pertanda penduduk kampung itu sudah memeluk keyakinan baru yang bernama agama Islam.


Semenjak Majapahit runtuh dan berganti kesultanan Demak yang didirikan oleh Raden Patah, penyebaran agama itu semakin pesat. terutama dengan adanya pengaruh besar dari Wali Songo, atau sembilan wali yang kadang juga disebut sebagai sembilan sunan. Raden Patah sendiri adalah putra dari Brawijaya, raja terakhir Majapahit dari seorang selirnya yang berasal dari negeri tiongkok.


Respati memperlambat laju kereta kudanya saat memasuki jalanan di kampung itu, beberapa penduduk desa terlihat menuju sebuah surau kecil untuk menjalankan ibadah. baru setelah keluar kampung itu dia kembali memacu kudanya, jalanan semakin lebar dan ramai, saat ada persimpangan Roro menyuruhnya mengambil jalan sebelah kanan, juga meminta supaya memperlambat lari kereta kuda.


Roro Wulandari sedikit melongokkan kepalanya ke jendela depan, ''Nanti kalau kau sudah melihat sebuah rumah besar dengan gapura bambu di bagian depan bertuliskan 'Pondok Pengobatan Mata Hati' diujung jalan segeralah berhenti. paling baik berhenti agak jauh dari rumah itu.!''


''Kenapa., kau mau jalan kaki kesana.?'' tanya Respati. ''Sudah jangan cerewet, kau turuti saja kataku.,!'' omel Roro. ''Dasar perempuan bawel., 'Bukannya dia yang selalu cerewet dan memerintah orang sesukanya selama ini.?'' batin Respati dongkol. meskipun begitu dia hanya bisa menurut tanpa berani membantah.


Sepeminum teh kemudian, Respati melihat sebuah rumah besar bergapura bambu, karena jaraknya masih lebih dua puluh tombak, dia tidak dapat membaca tulisan yang ada di gapura itu, tapi besar dugaannya rumah itulah yang dimaksudkan Roro. maka seketika pemuda ini hentikan jalannya kereta kuda. ''Kurasa kita sudah sampai., apa yang di depan itu rumah pengobatan yang kau bilang tadi.?''


Roro kembali melongok keluar jendela, di ujung jalan sana memang ada sebuah rumah besar, ''Sudah bertahun- tahun aku tidak kemari, entah dia sekarang seperti apa rupanya,?'' gumam gadis itu sambil termenung, meskipun tidak lama tapi dIa juga pernah tinggal dirumah besar itu. tempat pengobatan milik Rumilah kakak seperguruannya memang terkenal, tarifnyapun murah. bahkan dia juga sering kali menolong orang sakit yang tidak mampu membayar. malah mungkin golongan orang miskin jauh lebih banyak yang datang dari pada orang berduit. meski begitu anehnya rumah pengobatan ini justru semakin besar dan terkenal.


Konon pernah ada beberapa tabib yang merasa tersaingi dan takut kehilangan pelanggannya hingga menyuruh beberapa tukang pukul untuk mengobrak- abrik tempat tinggal Rumilah, tapi dengan mudah semua tukang pukul kasaran itu di buat babak belur dihajar tongkat tabib perempuan itu.


Semenjak itu tidak ada lagi yang mencoba menggangu pondok tabib Rumilah, apalagi saat banyak orang tahu kalau wanita ini juga memiliki hubungan baik dari orang- orang keraton yang pernah diobatinya hingga sembuh dari penyakit, semakin tidak ada lagi yang berani mengusiknya.


Dewi Malam Beracun mengambil sesuatu dari dalam buntelan kain, kini ditangannya bertambah dua buah guci kecil berwana putih, saat dibuka isinya beberapa butiran berwarna kuning dan hitam sebesar biji buah salak. ''Benda apa itu kak Dewi, apa pula kegunaannya.?'' tanya Satriyana heran. seperti biasa wanita cantik ini selalu membanggakan apa yang dimilikinya.


''Hmm., barang ini adalah sebuah obat yang sangat rahasia, tidak sembarangan bisa dimiliki orang, selain harga bahannya sangat mahal juga langka, dan kalau sampai salah menggunakan orang bisa menjadi cacat seumur hidup.!'' jawab Dewi Malam Beracun sambil mengambil sebutir obat berwarna kuning lalu di dipotong separuh dengan menggunakan pisau kecil. dari guci yang lain dia juga mengambil sebutir obat yang berwarna hitam.


Butiran obat berwarna hitam itu juga dipotong, kali ini dia cuma mengambil seperempat bagian saja, sisa obat kembali disimpan kedalam guci kecil. dengan bantuan sedikit air dihancurkannya kedua potongan obat hitam kuning itu diatas telapak tangannya hingga menyerupai bubur.

__ADS_1


Kemudian sedikit demi sedikit dia mulai mengoleskannya ke wajah cantiknya, dipijit- pijit lembut sebentar, lalu menutup mukanya dengan sapu tangan basah sampai beberapa lama. Satriyana tidak berani bertanya apapun, gadis remaja Ini menjerit tertahan saat Roro membuka sapu tangan yang menutupi wajahnya, kini yang terlihat bukanlah sebuah wajah gadis cantik jelita, melainkan wajah perempuan setengah umur, yang berkulit kehitaman, rupanya butiran kuning hitam itu adalah obat yang digunakan untuk penyamaran.!


''Hik., hi. hi, Ini adalah butiran obat yang biasa kugunakan untuk menyamar, kalau mau lebih sempurna seharusnya bagian tangan dan leherku juga disamarkan, tapi kali ini aku akan menutupinya dengan kain dan kerudung saja.!'' jelas Dewi Malam Beracun sambil tertawa mengikik, bahkan saat bicara dan tertawapun suaranya berubah lebih serak dan sedikit berat. seperti wanita yang sudah berumur.


Awalnya Satriyana tidak mengerti kenapa untuk menemui saudara segurunya saja Roro harus menyamar segala, tapi setelah berpikir akhirnya dia tahu alasannya. sebagai orang yang bekerja sebagai pembunuh bayaran mungkin Roro punya banyak musuh yang menyimpan dendam padanya, dia tidak ingin kalau orang lain tahu kalau Dewi Malam Beracun mempunyai saudara seorang tabib wanita, musuh bisa saja memanfaatkan ini untuk balas dendam.


''Kau jaga sabarewang., biar aku turun kesana dengan Anggana.' ujarnya sambil menggendong bayi itu. 'Terus awasi daerah ini, siapa tahu ada yang mengintai kita.!'' tambahnya saat melewati Respati.


Sambil menggendong Anggana yang masih tertidur wanita cantik ini berjalan perlahan menuju rumah besar, dari luar gapura pondok pengobatan itu terlihat beberapa orang menunggu pintu pagar gapura dibuka, dari keadaannya bisa diduga kalau mereka adalah pesakitan yang hendak berobat.


''Masih sepagi ini sudah banyak yang ingin meminta pengobatan, pondok pengobatan Mbakyu Rumilah benar- benar dipercaya orang.!'' batin Roro bangga. saat dia tiba didepan gapura, kebetulan pintu itu baru saja dibuka, dua orang pria dan wanita setengah tua terlihat mempersilahkan semua pengunjung masuk setelah diberikan sebuah bilah bambu kecil bertuliskan Pondok Pengobatan Mata Hati dan ukiran angka satu, dua, tiga, dan seterusnya, mungkin ini sejenis nomor antrian. entah kebetulan atau lagi sial Roro si Dewi Malam Beracun justru mendapatkan nomor urut dua belas.


Dihalaman pondok disediakan deretan tempat duduk panjang dari batang bambu beratap anyaman jerami untuk para pengunjung beristirahat sambil menanti giliran. Roro tidak bisa menunggu lama, Sabarewang sangat butuh pertolongan secepatnya.


Wanita itu terkejut melihat tusuk kundsi emas berbentuk bulan sabit di tangannya, dia lebih kaget lagi saat Roro berbicara padanya. ''Siapa kau., bagaimana aku bisa yakin kalau kau benar- benar kenalan Mbak Rumilah, atau Nyi Tabib Mata Hati.?'' tanyanya sangsi. sementara lelaki temannya ikut datang menghampiri. ''Ada apa Bune.?'' wanita itu membisikkan sesuatu kepada lelaki itu yang rupanya adalah suaminya. Roro tersenyum tipis, telinganya yang tajam dapat mendengar semuanya.


Pria setengah umur itu kernyitkan alisnya dia merasa ragu, saat hendak bicara Roro keburu memotong. ''Dengarkan aku., kalau kalian terlambat menyampaikan pesanku pada majikanmu, kujamin dia akan marah besar., 'Aku tidak tahu sudah berapa lama kalian bekerja padanya, tapi jika kalian tidak mau menyampaikan pesanku ini, aku bisa pastikan dia akan mengusir kalian.!''


Suami istri setengah umur itu melengak, mereka berdua terlihat marah tapi juga takut, sesaat keduanya ragu. ''Kenapa bingung., suruh saja istrimu ke dalam, aku akan menunggu disini bersama bayiku..''


''Jadi yang sakit itu bayimu., memangnya sakit apa dia, 'Batuk, demam, atau sakit perut.?'' tanya si suami. ''Hei., biasanya cuma perempuan yang bawel, tapi kenapa kau juga cerewet.,? 'Lakukan saja permintaanku sekarang juga.!'' bentak Roro tidak sabaran. karuan keduanya mengkeret, pengunjung yang lainnya juga rada kaget lalu mulai berkasak- kusuk. sang istri yang cepat tanggap segera masuk kedalam rumah besar. tidak lama kemudian dia sudah kembali keluar dengan raut wajah malu bersama seorang gadis manis tujuh belas tahunan berbaju biru muda.


''Eeh., Silahkan masuk Nyi., Mbak Rumilah sudah menunggu di dalam, beliau juga meminta buah setengah busuk yang Nyi katakan tadi untuk dibawa sekalian ke dalam pondok..'' ucap perempuan itu, Roro bangkit dan langsung melangkah masuk ''Buah setengah busuk ada dalam kereta kuda diluar rumah, kau minta saja kusirku untuk mengantarnya kemari.!'' jawabnya santai, membuat semua orang merasa heran dengan pembicaraan yang tidak berujung pangkal ini.

__ADS_1


Dewi Malam Beracun melangkah cepat menyusuri lorong- lorong ruangan yang ada didalam rumah besar diikuti gadis berbaju biru tua, sebenarnya gadis muda ini merasa heran dengan kelakuan sang tamu yang seakan mengenal betul keadaan di dalam rumah, seingatnya baru kali ini dia melihat wanita ini.


''Kau heran bukan kenapa aku bisa tahu tempat- tempat di dalam rumah ini., Hik., hi,.'' ''Dulu aku pernah tinggal disini., bahkan juga ikut jadi pemilik pondokan ini. 'Eeh., kau sendiri apanya Nyi Rumilah, sudah lama kau disini.?'' tanya Roro, ''Beliau adalah guruku sejak tiga tahun lalu..'' jawab gadis itu, ''Ooh., sungguh tidak disangka dia sudah punya murid., 'Bagus., Kau beruntung bisa menjadi muridnya, belajarlah sebaik mungkin dengan hati dan pikiran yang jernih.!'' tutur Roro.


Disebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka dia berhenti melangkah, nafasnya sedikit memburu bahunya bergetaran menahan luapan perasaan ''Tamu yang datang dari jauh silahkan masuk.,!'' terdengar satu suara menegur, meski sudah lebih dari lima tahun tidak bertemu tapi Roro masih ingat betul pemilik suara lembut ini.


Perlahan dia masuk kedalam ruangan, gadis muda itu juga mengikuti dibelakangnya. ruangan itu berbau harum bunga yang segar, tapi juga menebar aroma obat dan rempah tumbuhan. bentuk dan ukuran ruangannya masih sama dengan lima tahun silam, disebuah balai bambu beralas tikar pandan duduk bersila seorang wanita tiga puluh tiga tahunan, walau wajah ayunya masih agak pucat tapi tubuhnya sedikit lebih berisi jika dibandingkan lima tahun dulu. wanita ini tertawa lembut sebelum berkata, ''Lebih dari lima tahun berpisah tahu- tahu kau muncul membawa anak, tapi aku ikut berbahagia untukmu.!''


Roro tersenyum pahit, ''Kau tahu tidak ada yang bisa menyembuhkan rahimku., bayi ini cuma anak angkatku, namanya Anggana.!'' tutur Roro sambil memberikan bayinya kepada gadis muda dibelakangnya, ''Tolong kau jaga anak ini sebentar, aku mau bicara dengan gurumu.!'' gadis itu menerima Anggana yang sudah terbangun dan mulai merengek, dia melihat gurunya sebentar, wanita itu mengangguk ''Kau dan Ki Gimun mengurusi dulu mereka yang sakit, biar Nyai Gimun yang menjaga Anggana. 'Satu lagi., jangan pernah masuk kemari sebelum ada perintah dariku.!'' pesannya sambil menyuruh muridnya keluar ruangan. sekarang hanya tinggal dua orang wanita didalam ruangan itu.


Dewi Malam Beracun usap- usap wajahnya, terlihat ada lembaran kulit terkelupas, rupanya bubuk obat penyamar itu bisa berubah menjadi lembaran menyerupai kulit wajah manusia. entah dari mana dia bisa mendapatkan barang aneh seperti ini. kini terlihatlah wajah aslinya yang cantik jelita lengkap dengan senyuman sombongnya.


''Lama tidak berjumpa Mbakyu Rumilah., kakakku tercinta.!'' sapa Roro Wulandari haru.


''Lima tahun Roro., adikku tersayang.!'' ucap Rumilah tersenyum. ''Bisa kita mulai adikku.?''


''Tentu saja., seperti yang dulu biasa kita lakukan kakakku.!'' jawab Roro sambil langsung membentang kipas peraknya, detik selanjutnya wanita ini sudah menggebrak Rumilah, tidak tanggung- tanggung dia mengincar empat jalan darah paling mematikan ditubuh kakak seperguruannya. angin keras berhawa harum menyengat menghampar seantero ruangan.


'Whuut., Beet., bet.!'


'Whuuk.,Traang., trang.,!'


Rumilah menyeringai, tongkat besi putih di tangannya diputar kencang melindungi tubuh, lalu balas menusuk.! meski hanya satu tusukan tongkat tapi mampu memaksa Roro mundur selangkah, namun sekejab saja wanita cantik ini sudah kembali menggebrak, dia mengandalkan ilmu ringan tubuhnya untuk menyerang dari empat penjuru, bahkan kadang meluruk dari atas udara.!

__ADS_1


Sejauh ini Roro selalu berada dipihak penyerang, sebaliknya Rumilah cuma bertahan dan hanya sesekali menyerang balik. mendekati sepuluh jurus keduanya mendadak terpisah, dua goresan dibahu dan lengan mampu merobek jubah biru muda Rumilah, dijurusan lain baju kutang hitam Roro sudah bertambah sebuah lubang dibawah dada kirinya. ini hanyalah sebuah pertarungan singkat, tetapi cukup menegangkan hati.!


__ADS_2