
Suasana terasa semakin gelap saat Respsti mulai memasuki lorong itu. dari bercak darah kering yang tertumpah dan mayat- mayat yang mati seperti tertembus tombak dari bagian tubuh sebelah bawah sampai ke leher menandakan kalau ada peralatan rahasia di bawah lantai lorong.
Dari letak mayat yang tergeletak dapat di duga kalau senjata di lantai lorong sebelah kiri dapat di pastikan kalau peratan rahasia penggerak tombak ada di sisi kiri lorong.
Tapi anehnya pemuda itu tidak langsung berjalan melewati jalan di sisi kanan lorong yang jelas aman. dengan sebelah kakinya dia tendang salah satu mayat yang berada dekat dengannya hingga terpental belasan langkah dan jatuh ke lantai dalam lorong di sisi kanan yang terlihat kosong dan aman.
Hanya berselang dua kejapan mata saja sejak mayat itu terjatuh ke lantai, dari bawah lantai terdengar suara berderak halus seperti sesuatu benda berat sedang bergeser. berikutnya mencuat tiga buah mata tombak dari bawah lantai lorong yang langsung menembus tubuh mayat itu.
Walaupun tidak ada darah yang keluar dari mayat karena sudah mati beberapa hari lalu, tapi pemandangan kepala, dada serta perut mayat yang tertembus tombak tetap saja membuat perasaan orang yang melihatnya jadi bergidik seram.
''Sudah aku duga., peralatan rahasia yang berada di bawah lantai sudah berpindah dari sasaran di lorong sisi kiri ke sebelah kanan. mungkin Ki Ageng Bronto yang merubahnya atau bisa juga peralatan senjata rahasia itu memang di buat agar dapat berpindah sasaran dengan sendiri dalam jangka waktu tertentu..'' batin Respati sambil mulai melangkah memasuki jalan lorong yang gelap.
Baru saja lewat sepuluh langkah dia berjalan, dari arah depan lorong yang gelap terdengar suara letusan keras yang di susul suara benda besar dan berat sedang bergulir. dari balik kegelapan muncul sebongkah batu bulat sebesar badan kerbau yang bergerak cepat menggelinding ke muka. mayat- mayat berpakaian hijau dari anggota bawahan kelompok 13 Pembunuh yang terkapar seketika hancur tergilas.
Tanpa perduli apapun Respati segera hantamkan pukulan sakti 'Kobra Kuning Penjebol Karang' yang sudah dia persiapkan sejak awal. segelombang angin keras yang disertai munculnya cahaya kuning berbebtuk kepala ular kobra menggebrak ke depan. terdengar suara ledakan keras di susul semburatnya serpihan bebatuan yang hancur luluh terhantam pukulan sakti itu.
Di saat pandangan mata masih tertutup batuan debu yang terpecah, dari dalam lorong gelap terdengar suara berdesing di susul puluhan senjata rahasia pisau dan panah besi yang melesat cepat mengancam Respati. pemuda itu mendengus sambil babatkan pedang Iblis Hitam di tangannya, menciptakan lapisan cahaya hitam pekat berbau busuk yang bukan saja mampu menjadi perisai pelindung diri tapi juga sekaligus membuat hujan senjata rahasia itu rontok patah dan meleleh.
__ADS_1
Tapi masih ada lima buah pisau dan panah yang mampu lolos, karena seperti sengaja di buat melesat belakangan dan menyambar agak ke bawah seakan mengincar paha dan kaki sasaranya. dengan berjumpalitan dan sabetkan pedang 'Iblis Hitam' Respati mampu mematahkan semuanya.
Ancaman maut belum juga berakhir, saat kaki menjejak lantai dari dua dinding lorong muncul belasan lubang- lubang kecil. berikutnya tersembur asap hitam berbau menyengat yang di barengi melesatnya belasan jarum- jarum beracun.
Respati memaki dan menyumpah serapah. terpaksa dia menutup jalan pernafasannya sambil berguling menjauh sama rata dengan lantai lorong yang kotor oleh mayat dan darah hingga baju putihnya turut menjadi kotor dan bau. pedang Iblis Hitam menyabet secepat kilat menyambar.
'Wheeess., whuuuss., Shaaatt.!'
'Sriiing., triiing.!'
Belasan jarum beracun di buat patah dan melelah di babat pedang Iblis Hitam. mayat yang terkena semburan asap hitam terlihat semakin bengkak menggembung kehitaman. tanda asap itu mengandung racun ganas.
''Roro Wulandari., kau benar- benar wanita yang sangat menyeramkan..'' gumam Respati geleng- geleng kepala. anehnya masih dalam keadaan di bayangi maut seperti saat ini, justru si pemuda malah teringat kala dia dan Roro masih tinggal di kampung. setiap hari gadis itu selalu memintanya melakukan banyak hal seenaknya. mulai menangkap kodok, belut sawah, tupai bahkan biawak besar sekaligus memasakkan untuknya.
Di lain waktu dia mesti memanjat pohon- pohon tinggi cuma untuk memetik buah- buahan atau bunga warna- warni dari tempat yang sulit di jangkau. sepertinya gadis cantik kembang desa Pandamaran itu sengaja membuat Respati kesusahan.
Biarpun di dalam rumahnya Roro mempunyai banyak pelayan, tapi dia selalu ingin Respati yang melakukan semua keinginannya. jika pemuda itu menolak bisa di pastikan gadis itu bakalan ngamuk dan merusak semua perabot di rumahnya, sampai- sampai kedua orang tuanya juga tidak mampu mengatasi tingkah manja anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Jika sudah demikian biasanya Ibunyalah yang membujuk si pemuda untuk menuruti keinginan Roro. kalau sudah begitu terpaksa juga Respati menurut. yang lebih aneh lagi saat semuanya selesai dan Roro Wulandari kembali tersenyum senang, semua rasa lelah dan kesal di hati Respati turut hilang. lama- kelamaan semua itu seperti menjadi sebuah kebiasaan baginya.
Suatu hari Respati jatuh sakit karena demam panas hingga tidak mampu bangun dari tempat tidurnya selama berhari- hari. orang yang paling panik justru adalah Roro, gadis itu menangis sampai tidak mau makan. siang malam cuma menunggui pemuda itu di samping tempat tidurnya hingga terlelap dan mengigau.
Antara sadar dan tidak Respati sempat juga mendengar gadis itu meminta maaf dan berjanji akan berlaku baik. tapi saat Respati kembali sehat, semua kebiasaan buruk Roro itu kembali terulang. memerintah orang seenaknya dan sok paling berkuasa di desa. meskipun sebal tapi pemuda itu paham kalau sebenarnya di dalam hatinya Roro sangat perhatian kepadanya.
Ibunya pernah bilang kalau sepupunya itu hanya mencari perhatian saja. ayah ibunya sibuk dalam pekerjaan dan berhubungan dagang dengan para saudagar juga pejabat keraton. para pelayan di rumah tidak ada yang seumuran dengan Roro. sedang anak- anak di kampung itu sama takut dan segan dengannya.
Walaupun setiap hari dia selalu di kelilingi banyak orang yang selalu siap melayaninya, tapi tidak ada yang benar- benar tahu keinginan hati Roro. sebenarnya gadis itu selalu saja merasa kesepian.
Jadi mungkin cuma Respati saja yang dapat mengerti isi hati gadis itu yang sebenarnya. pemuda ini teringat kalau waktu itu umur mereka berdua baru dua belas dan lima belasan tahunan.
Tiba- tiba Respati terbayang akan sesuatu, jika suatu ketika dia dan Roro hidup bersama dalam sebuah rumah tangga dan wanita yang sok paling cantik, genit, perayu dan licik itu masih gemar memerintah orang seenaknya, bisa di pastikan Respati bakalan menjadi budak pesuruhnya untuk mengerjakan ini dan itu. membayangkan semua yang bakal terjadi, si pemuda seketika bergidik takut sekaligus geli sendiri.
Respati salurkan tenaga dalam dan hawa kesaktiannya mengelilingi tubuh. dengan menggunakan ilmu 'Langkah Melayang Ular Mabuk' si pemuda mampu bergerak cepat dan sangat ringan melewati lorong gelap itu.
Dia mendadak hentikan gerakannya saat hendak sampai di penghujung lorong itu. meskipun samar dan lirih tapi telinganya yang tajam mampu mendengar suara dengusan berseling rintihan seseorang. dengan siapkan satu pukulan sakti Respati meraba dinding sebelah kiri. rupanya ada sebuah pintu yang tersembunyi di sini.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu di hantamnya pintu tebal dari lempengan batu padas itu dengan pukulan 'Kobra Kuning Penjebol Karang'. hingga hancur berantakan. ilmu pukulan ini memang di ciptakan untuk menghancurkan benda besar dan keras.
Ruangan itu agak sempit, lebarnya hanya dua tombak keliling dan berbau memuakkan. samar di dalam sana terlihat seseorang yang sedang berdiri dengan kedua tangan kaki serta lehernya terikat rantai besi di dinding ruangan. kepalanya terkulai lemas, pakaian hitamnya yang mahal terkoyak compang- camping tubuhnya penuh luka berdarah. meskipun demikian dari suara tarikan nafasnya yang lemah dapat dipastikan kalau orang ini masih hidup.