
Dibatas kesadarannya Respati masih sempat melihat Roro yang menghambur ke sudut ruangan penjara dimana Satriyana tergeletak akibat hempasan tenaga kesaktian dari kitab ilmu 'Kobra Iblis' yang terpancar dari dalam dirinya. sementara hampir bersamaan tangan sang guru juga terasa mengangkat tubuhnya.
Selintas wajah tua si 'Maling Nyawa' terlihat sedikit kesal, panik bercampur kemarahan melihat keadaan dari muridnya yang telanjang bulat penuh bekas luka berdarah. saat itulah ruangan penjara batu itu seperti bergetaran. bebatuan turut berjatuhan dari atas ruangan. rupanya ruangan goa rahasia ini hendak runtuh akibat tidak kuat menahan gelombang hantaman tenaga sakti dari tubuh Respati.
''Bocah wadon ayu., cepat kau bawa putri Satriyana. kita harus segera keluar dari sini karena tempat celaka ini sepertinya akan runtuh.!'' teriak si Maling Nyawa sambil memanggul tubuh Respati yang pingsan. Roro sesaat seperti diam termangu. matanya yang bening terlihat memerah sementara tubuhnya gemetaran.
Semua kejadian itu tidak luput dari perhatian Maling Nyawa tapi dia berlagak tidak tahu apapun karena saat ini keadaan ruangan penjara sudah tidak lagi dapat ditinggali lebih lama. ''Hei., bocah ayu. bukankah sudah aku katakan dari awal kalau lebih baik engkau singkirkan dulu urusan perasaan diantara kalian bertiga. cepat bawa gadis itu dan keluar dari tempat keparat ini.!'' damprat orang tua berjari buntung itu gusar.
Seakan baru tersentak bangun dari sebuah mimpi buruk, dengan gelagapan Roro Wulandari berusaha tenangkan dirinya. dengan cepat dia membopong tubuh Satriyana yang setengah telanjang sebelum berkelebat keluar ruangan menyusul si Maling Nyawa. tidak berapa lama kemudian terdengar suara gemuruh keras yang disusul runtuhnya ruangan penjara.
Retakan dinding ruang penjara yang hancur runtuh itu terus merembet ke ruangan lainnya hingga kearah lorong. disana ada puluhan orang lainnya dengan tubuh luka- luka bekas siksaan yang turut berhamburan keluar dari sana. rupanya dalam perjalanannya mencari kedua rekannya Roro tanpa sengaja bertemu dengan Maling Nyawa yang mempunyai tujuan sama.
Sebagai sesama bekas anggota 'Kelompok 13 Pembunuh' meski dari anggkatan yang berbeda, tentunya kedua orang ini tahu betul tempat- tempat rahasia di pulau 'Seribu Bisa' yang mungkin dijadikan tempat penyekapan. meskipun lorong menuju ruangan penjara itu juga dipenuhi jebakan- jebakan mematikan tapi dengan kemampuan mereka berdua semuanya dapat diatasi dengan mudah.
Disepanjang lorong gelap dan pengap itu juga terlihat puluhan orang tahanan. dari mereka Roro dapat mengetahui dimana tempat Respati dan Satriyana disekap. sebelum pergi dia dan Maling Nyawa sempat membebaskan para tahanan itu tanpa perduli mereka berasal dari aliran hitam atau putih. bahkan beberapa orang di antaranya terdapat bekas anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang dihukum karena dianggap membuat kesalahan.
Bagaikan baru terbebas dari neraka, semua tahanan itu bersorak dan menjura hormat sebagai ungkapan terima kasih. wanita cantik itu cuma mendengus sinis sambil sedikit mundur dan tutupi hidungnya karena tidak tahan dengan bau tubuh para tahanan itu. biarpun begitu si cantik licik itu masih saja merasa tidak tega melihat keadaan mereka hingga dia membagikan beberapa butir obat luka dan pemulih tenaga. karena jumlahnya terbatas, sebutir obat mereka bagi untuk dua hingga tiga orang.
__ADS_1
Meskipun belum dapat pulih benar tapi dengan khasiat obat itu keadaan tubuh mereka menjadi lebih baik. secara singkat Maling Nyawa juga sempat mengatakan pada semua orang tentang keadaan yang sedang terjadi diluar sana. biarpun diantara mereka berasal dari golongan yang berbeda bahkan ada yang bermusuhan namun kesamaan nasib membuat para tahanan ini sepakat untuk bersatu.
Bersamaan itu mendadak muncul puluhan anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang diperintahkan pimpinan mereka untuk membunuh seluruh tawanan yang ada dalam penjara. segera para tawanan menghadang mereka sekaligus menyuruh Roro Wulandari dan Maling Nyawa untuk segara melanjutkan pencarian mereka.
Dalam waktu singkat terjadi pertarungan sengit di dalam lorong pengap itu. meskipun kalah jumlah dan keadaan mereka belum pulih benar, tetapi banyak diantara para tawanan itu dulunya adalah kaum persilatan yang punya nama dan berilmu silat cukup tinggi hingga mampu mengimbangi kekuatan lawannya, malah perlahan balik mendesak.
Dengan cepat kedua orang tua muda itu berkelebat menembus lorong penjara hingga akhirnya tiba diujung lorong yang terdapat sebuah pintu besi karatan. di depan pintu besi yang tidak tertutup rapat itu keduanya berhenti. suara tangis rintihan lirih bercampur dengan dengusan berat dan nafas memburu yang terdengar dari balik ruangan itu membuat mereka tertegun.
Saat jeritan yang bercampur desah erangan keras terdengar berkepanjangan, Roro tidak dapat lagi menahan diri, apalagi keadaan pintu besi yang tidak tertutup rapat membuat mereka sedikit bisa melihat peristiwa yang terjadi di dalam sana. hampir saja Roro menerobos masuk ke dalam namun dicegah oleh Maling Nyawa. dengan pandangan mata bengis wanita jelita bergelar 'Dewi Malam Beracun' itu menatap si pencuri sakti. orang tua itu cuma menggeleng dan balas menatap.
''Aku paham kalau ini sangat mengejutkan juga membuatmu muak serta benci. asalkan tahu saja, diriku juga tidak kalah bingung dan marah. tapi bisa saja yang sebenarnya terjadi di dalam sana tidak seperti yang terlihat. semuanya pasti ada alasannya..'' cegah Maling Nyawa terus mencengkeram pergelangan tangan kanan Roro Wulandari.
''Kutahu antara dirimu dan Respati sudah saling mengenal sejak kalian berdua masih anak- anak. sangat jarang ada sepasang muda- mudi yang dapat saling memahami luar dalam seperti kalian. gadis muda bernama Satriyana itu juga termasuk paling dekat dengan dirimu. apakah rasa saling percaya di antara kalian bertiga hanya setipis garis saja.?''
Tubuh Roro bergetaran menahan amarah. kedua matanya terpejam dan mulai berair. dadanya yang montok turun naik dengan nafas berat memburu. salah satu perempuan tercantik di dunia persilatan itu jelas sedang berusaha mengendalikan dirinya. walaupun bibirnya terkatup rapat tapi masih bisa didengar isak tangisnya yang tertahan.
''Yang satu pemuda tambatan hatiku. tempat dimana aku selalu dapat mencurahkan segala keluh kesah. dia yang paling mengerti tentang diriku. seorang lagi adalah gadis muda yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. dia orang yang sangat kusayang juga kulindungi. tapi kenapa harus mereka berdua yang melakukannya.?'' gumam Roro setengah menggeram dengan kedua tangan terkepal erat hingga kuku jarinya menembus kulit dan berdarah.
__ADS_1
Maling Nyawa bukannya tidak memahami suasana hati wanita itu. meskipun sebagai orang tua dia punya banyak pengalaman hidup tapi soal asmara pencuri tua yang dua jarinya buntung itu memilih tidak ikut campur karena hanya akan membuat dirinya pusing. untuk beberapa lamanya kedua orang tua muda ini hanya saling berdiam diri dengan pikiran masing- masing.
Saat itulah dari dalam ruangan penjara tiba- tiba terdengar suara teriakan meraung keras yang disertai gulungan angin panas yang seolah melabrak apapun yang ada di dalam sana. begitu hebatnya tenaga kesaktian yang entah berasal dari mana itu menghantam, sampai- sampai Roro dan Maling Nyawa yang berdiri di luar juga turut terhempas mundur ke belakang hingga merapat dinding lorong.
Walaupun kejadian itu tidak berlangsung lama tapi pintu penjara besi setebal jari telunjuk itu sampai bengkok melesak nyaris roboh pertanda kekuatan sakti yang baru saja datang mengamuk bukanlah dari tingkatan sembarangan. dalam keadaan semacam itu membuat segala yang terjadi di dalam sana makin jelas terlihat mata.
Semua peristiwa itu kembali terlintas di benak Roro yang memondong tubuh Satriyana. meskipun lorong penjara itu terus runtuh seperti sedang dilanda gempa akibat sisa kekuatan ilmu kesaktian 'Kobra Iblis' yang tanpa di sangka keluar dari tubuh Respati, namun dengan kepandaian ilmu silat mereka yang sangat tinggi, dengan mudah keduanya dapat melewati semuanya.
Di sepanjang jalan lorong yang berliku banyak bergelimpangan mayat bersimbah darah. meskipun semua anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang memergoki para tawanan yang kabur itu telah tewas. namun nampak pula lima orang tawanan yang turut terbunuh. sesampainya di ujung lorong terlihat puluhan bekas tahanan yang cemas menunggu mereka berdua.
''Kalian semua dengarkan., aku inginkan dua orang diantara kalian untuk ikut bersama kami. yang lainnya segera bisa tinggalkan tempat ini. tapi untuk dapat pergi dengan selamat, kalian semua mesti berjuang sangat keras. harap saja setelah ini kau semua yang dulunya terbiasa melakukan kejahatan, bisa merubah perilakumu..''
''Sebab jika tidak demikian., aku sendiri yang bakal membunuh kalian.!'' ancam Roro dingin. tangan kirinya menyala merah dengan kuku- kuku panjang mencuat. tanpa menoleh dia mengibas ke belakang. lima cahaya merah darah menyambar mulut goa hingga hancur runtuh kepulkan asap panas. semua bekas tawanan bergidik ngeri melihat kedahsyatan ilmu 'Cakar Tengkorak Darah.!'
''Aku tahu diantara kalian semua ada yang berasal dari golongan hitam. anggap saja semua peristiwa yang kalian alami ini sebagai pelajaran pahit sekaligus kesempatan kedua bagimu agar dapat merubah cara hidup dengan menjadi lebih baik dimasa depan..'' timpal si Maling Nyawa.
Semua orang sesaat saling lirik sebelum menjura hormat mengaturkan rasa terima kasih dan mengatakan bakal membalas budi. sebagian lagi bersumpah untuk merubah cara hidup mereka yang dulunya sesat. setelah semua tawanan itu pergi, kini hanya tinggal dua orang bekas anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang masih berdiri di sana. serentak mereka maju ke depan lalu membungkuk hormat tanda bersiap untuk menerima perintah.
__ADS_1
..........
Silahkan tuliskan komentar Anda. Matur suwun. 🙏