13 Pembunuh

13 Pembunuh
Roro juga pingin.?


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya.,


Dalam suatu ruangan goa terlihat ada dua sosok perempuan cantik yang berdiri saling berhadapan. meskipun di sana juga nampak seorang lelaki tua berambut di kuncir ekor kuda tapi orang ini hanya memandangi keduanya tanpa bicara apapun. baginya persoalan ganjalan hati diantara dua wanita itu tidak boleh di campuri oleh pihak ketiga seperti dirinya.


Ruangan goa yang berada di antara celah tonjolan bebatuan karang tepian pantai itu hanya diterangi oleh cahaya obor yang sedikit redup. tapi itu sudah cukup untuk menerangi raut wajah cantik Roro Wulandari yang masih terlihat dingin dan sinis memandangi gadis muda di depannya yang memang Satriyana.


Gadis itu menunduk malu juga diselimuti perasaan bersalah pada wanita di depannya. semua yang terjadi diantara dirinya dan Respati saat berada dalam ruangan penjara sudah dia katakan pada kakak angkatnya itu. kini dia seolah adalah seorang narapidana yang sedang menanti keputusan hakim pengadilan.


''Jadi benar seperti yang Respati bilang, kau terpaksa melakukannya hanya karena ingin menyelamatkan nyawanya. Huhm., aku jadi tidak tahu mesti menampar mulutmu karena sudah berani berbuat seperti itu dibelakangku atau malah bersujud lantas memelukmu sebagai rasa terima kasih..'' sungut Roro berkacak pinggang.


''Kakak Dewi., Aa., aku., aku..'' Baru saja sempat Satriyana menjawab, wanita secantik bidadari itu sudah menghambur ke depan dan merangkulnya hingga membuat gadis itu gelagapan. dengan menahan tangis sesenggukan Roro Wulandari si 'Dewi Malam Beracun' terus mendekap Satriyana serta membelainya dengan penuh rasa sayang.


''Mana mungkin aku berlaku kasar pada adik kesayanganku ini. apalagi dia telah rela mengorbankan miliknya yang paling berharga demi keselamatan nyawa pemuda yang kita kasihi bersama. dengar Satriyana., aku akan mendukungmu untuk terus bisa bersama Respati. kalau bukan dirimu lalu siapa lagi yang pantas bersanding dengannya.?'' celetuk Dewi Malam Beracun.


Satriyana yang berada dalam delapan sang kakak angkat tertegun. dia sungguh tidak menyangka kalau Roro Wulandari sangat mudah tersentuh juga dapat berbesar hati. padahal sebenarnya dia tidak pernah berharap kalau sang kakak perempuan angkatnya ini mau merestui hubungannya dengan Respati.


''Kakak Dewi., aku tidak ada maksud seperti itu. dalam hati Respati cuma ada mbak Roro seorang..'' kilah Satriyana coba membantah. wajah Roro mengkelam gusar. ''Kalau aku bilang kalian berdua adalah jodoh, maka kau menurut saja dan jangan membantah ucapan kakakmu ini. paham.!'' Roro mendamprat kesal. wanita ini bicaranya memang suka seenaknya saja. cuma tahu memerintah dan dituruti kemauannya tapi enggan mendengar pendapat orang lain.


Satriyana hanya dapat mengeluh. dan pasrah kepada keputusan wanita cantik yang terus memeluknya ini. meskipun begitu dalam hatinya sudah merasakan kelegaan dan terbebas dari beban berat. ganjalan hati diantara mereka berdua telah hilang berganti perasaan sayang diantara saudara angkat yang semakin mendalam.

__ADS_1


Melihat kejadian itu si kakek tua yang berada tidak jauh di sana tanpa sadar juga merasa lega. ''Hehm., dari luarnya saja wanita murid 'Nenek Tabib Selaksa Racun' ini sifatnya galak, sombong dan mau menang sendiri. tapi sebenarnya dia punya hati yang sangat baik juga gampang tersentuh..'' batin orang tua yang bukan lain adalah si 'Maling Nyawa'.


''Eeh adikku., sebelum kita keluar dari goa ini aku ingin mengetahui sesuatu yang membuat diriku sangat penasaran..'' ucap Roro sambil tersenyum jilati ujung bibirnya yang merah merona. Satriyana jadi sedikit curiga dan risih dengan kelakuan Roro yang genit. ''Sso., soal apa itu kak.?'' gadis itu balik bertanya. ''Eehm,, itu., itu., saat kalian berdua melakukannya, hii., hi., rasanya seperti apa.?''


''Maksudku., bagaimana rasanya ular milik Respati. mantap tidak.?'' bisik Roro kedip- kedipkan matanya. ''Aduuhh., kakak dewi, kau ini benar- benar seorang perempuan yang tidak tahu malu. kenapa masalah seperti itu malah ditanyakan padaku. ingat disini juga ada kakek 'Maling Nyawa.!'' ucap Satriyana dengan raut muka merah padam.


Satu pikiran aneh terlintas di benak gadis itu. ''Sebenarnya apa maksud kakak Dewi sampai menanyakan hal yang tabu dan menjijikkan seperti itu. Aah., atau jangan- jangan mbak Roro juga kepingin begituan sama Respati. Iih., kakakku ini sungguh seorang perempuan yang sangat mesum cara berpikirnya..'' keluh Satriyana malu sendiri.


''Haallah., apa yang kau perdulikan dengan pencuri kawakan itu. lagi pula meskipun dia seorang lelaki tapi jelas sudah tua. Chuih., aku malah curiga batang singkong miliknya pasti sudah menjadi tape. jadi tidak akan ada gunanya bagi dia meskipun kita berdua berbicara tentang masalah yang rada mengairahkan..'' potong Roro mencibir.


''Hee., he., baguslah jika semua salah paham diantara kalian telah dapat terselesaikan. kalau begitu secepatnya kita keluar dari sini karena waktu kita tidak banyak. Respati pasti sudah bertindak di luaran sana. meskipun kekuatan bocah itu sudah meningkat sangat hebat tapi dia pasti juga butuh bantuan..'' ujar Maling Nyawa terkekeh.


Saat itulah dari luar goa batu terdengar ada suara keributan. dua orang yang dibebaskan Roro Wulandari dari penjara dan ditugaskan untuk berjaga di luar goa berteriak marah dan kesakitan. ''Mungkin ada orang yang hendak memaksa masuk ke mari. aku akan melihat keluar, kalian berdua tetap berada disini.!'' perintah si Maling Nyawa.


Ujung suaranya belum habis, orangnya sudah lenyap ke luar goa. pencuri tua yang ibu jari dan telunjuk tangan kanannya buntung itu tidak cuma berkelebat namun juga langsung lontarkan satu pukulan sakti ke depan. meski tidak terasa ada sambaran angin keras atau cahaya kesaktian tapi udara di luar mulut goa itu terasa semburat terbelah, panas mendidih dan sangat berat menekan pernafasan.


''Setan sialan., Maling Nyawa. apa kau benar- benar mau membunuhku.?'' rutuk seorang tua berbaju dan berblangkon hitam. dengan sebuah lompatan cepat ke atas si pendatang yang memang 'Malaikat Copet' itu bukan saja hanya berniat menghindar tapi juga balas menghantam. setelah semburkan asap putih pekat beraroma kemenyan dari mulutnya, Kejap berikutnya saat masih berada di udara, ketua perkumpulan 'Maling Kilat' ini kebutkan tangan kirinya tiga kali ke depan. hebatnya gulungan asap kemenyan itu tidak hanya mengembang berkali lipat lebih banyak tapi juga membentuk gumpalan menyerupai tengkorak menyeramkan.


'Whuuss., whuuss., whees.!'

__ADS_1


'Whuuk., sraaats., blaaass.!'


'Blaaaamm.!'


''Edan., jurus 'Asap Candu Kematian.!'' seru Maling Nyawa mengenali ilmu kesaktian yang dilancarkan kawan lamanya itu. dia tahu betul siapapun yang terkena sambaran asap beracun itu dan terhisap pernafasan, dia pasti menjadi gila karena otak dan jantungnya akan dipaksa berpacu sepuluh kali lebih cepat lalu mati akibat saraf jantung otak terpecah.


''Cukup sudah main- mainnya dasar copet tua sialan. kita tidak punya banyak waktu lagi.!'' rutuk Maling Nyawa sembari hantamkan dua pukulan sakti bertenaga dalam tinggi untuk menyapu buyar serangan lawannya. ''Kau yang cari gara- gara duluan. menyerang tanpa melihat siapa orang yang kau labrak.!'' bantah Malaikat Copet. setelah baku hantam singkat kedua dedengkot kaum pencoleng itupun kembali berdiri saling berhadapan.


''Bagaimana dengan pekerjaanmu, apakah kau menemui kesulitan.?'' tegur si Maling Nyawa. yang ditanya tidak menjawab tetapi melirik kedua orang penjaga yang terkapar roboh dan merintih kesakitan akibat dia hajar karena berani menghalanginya masuk. ''Mereka cuma orang buangan 13 Pembunuh yang kusuruh untuk berjaga diluar goa..'' ujar Maling Nyawa sembari lemparkan dua butir obat pemulih luka dalam pada mereka. ''Huhm., hampir saja aku membunuh mereka, seharusnya kau beri tahu dulu masalahnya agar diriku tidak sampai kelepasan tangan.!''


''Sudahlah lupakan saja. sekarang kau jawab pertanyaanku tadi.!'' potong Maling Nyawa tidak sabaran. ''Semuanya dapat kuatasi, meskipun hampir saja diriku ketahuan karena mendadak muncul si Momok Jelaga Hitam dan para begundalnya. beruntung diriku masih keburu menyelinap keluar. tetapi sayangnya, aku hanya bisa mengambil beberapa guci berisi 'Darah Keabadian..''


''Itu bukan masalah penting, asalkan sisanya sudah kau bereskan, kurasa semuanya dapat berjalan sesuai dengan rencana..'' tukas Maling Nyawa. ''Aah., saat perjalanan kemari aku sempat melihat si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' sedang berdiri di tepian pantai karang sebelah timur. sepertinya dia sedang memanggul sesuatu di bahunya. apa kau tahu apa yang sedang di perbuat si buntung itu di sana.?'' tanya Malaikat Copet.


Maling Nyawa tertegun sesaat sepertinya dia teringat sesuatu. ''Apakah ini adalah saatnya persembahan gadis perawan untuk mahkluk siluman di dasar lautan itu. tapi setahuku baru beberapa waktu lalu gadis persembahan itu diberikan. lantas kenapa si buntung tua jelek itu berada di sana.?''


Sebuah pemikiran terlintas di benak guru Respati ini. mulanya wajah lugunya seperti tercengang tidak percaya. lalu perlahan berubah menyeringai sebelum akhirnya tertawa mengekeh. ''Hee., he., tidak kusangka otak tua si buntung itu dapat memikirkan tipuan seperti itu. jika benar dugaanku, mungkin seisi pulau ini akan di landa suatu malapetaka..''


................

__ADS_1


Silahkan tuliskan komentar Anda👌. Terima kasih🙏.


__ADS_2