
Empat orang bekas pembunuh bayaran itu masih terus berjalan beriringan. setiap hendak melangkah mesti mengikuti bekas telapak kaki Roro Wulandari yang menjadi pemimpin jalan. lorong itu panjang berliku dan punya beberapa cabang dan pintu. Respati yang tepat berada di belakang Roro menjadi terkesima juga melihat pinggul sepupu jauhnya itu yang selalu bergoyang lembut seiring langkah kakinya yang anggun.
Roro bukannya tidak tahu semua itu, tapi wanita cantik jelita ini malah merasa senang. ''Hhm., akhirnya kau sadari juga betapa menariknya tubuhku ini..'' batinnya tersenyum seraya kibaskan rambut hitamnya yang lebat panjang sepinggang.
''Hee., he., meskipun di luarnya si nomor tiga belas ini terlihat dingin dan tidak perduli, tapi aku tahu kalau dia selalu memperhatikan si 'Dewi Malam Beracun'..'' bisik Ki Ageng Bronto atau 'Pendekar Golok Bayangan Setan' pada sang Putri Penjerat alias si 'Laba- Laba Kuning' yang berjalan paling belakang.
''Hush., kita jangan ikut campur masalah mereka. asal kau tahu, sekali saja keduanya bertengkar tidak akan ada habisnya..'' jawab Putri Penjerat. ''Eeh., tapi apa kau tahu lorong ini akan berakhir di mana.?''
Ki Ageng Bronto cuma mengangkat bahunya. ''Hanya wanita licik itu yang tahu karena dulu dia membuat ruangan rahasia ini tanpa sepengetahuanku. saat selesai barulah dia bicara dan berpesan agar agar jangan pernah mencoba memasuki lorong ini tanpa dirinya jika tidak ingin mati konyol..''
''Mungkin terdengar aneh dan tidak masuk akal, tapi memang itulah yang terjadi. dulu seingatku Dewi Malam Beracun memakai tenaga sepuluh lelaki kekar yang dulunya adalah para maling dan penjahat kasar yang sudah dia taklukkan. ibarat kata orang- orang itu sudah menjadi budaknya untuk membantu dia membuat lorong ini. seingatku perlu waktu hampir sebulan untuk membuat semua ini..''
''Lalu di mana mereka sekarang ini, jangan kau katakan kalau wanita itu sudah membunuh semuanya untuk menutup mulut..'' tanya Putri Penjerat tajam.
__ADS_1
''Mereka semua sih masih hidup dan cukup punya banyak uang hasil upah kerjanya, hanya saja., sebagian besar ingatan mereka sudah hilang alias setengah gila dan bodoh akibat di cekoki obat penghilang pikiran sekaligus di berikan semacam jampi- jampi gaib oleh wanita itu..'' jawab Ki Ageng Bronto menghela nafas. meskipun terkejut tapi Laba- Laba Kuning percaya kebenaran ucapan rekannya. dia ingat Roro pernah membuat linglung para prajurit penjaga saat kereta kuda mereka memasuki gerbang barat kadipaten Wonokerto.
''Kalian berdua bicara apa., sebentar lagi kita akan sampai di pintu keluar. Respati kau pegang dulu obornya lalu mundurlah beberapa langkah. ingat rapatkan tubuh kalian sama rata dengan dinding lorong.!'' perintah Roro sambil berikan obor batu di tangannya pada Respati. semua rekannya menuruti perintah wanita itu.
Di depan Roro Wulandari terdapat sebuah pintu batu, anehnya tidak terlihat adanya pegangan atau sejenisnya untuk membuka pintu itu. Roro berjongkok lalu membersihkan lantai di depan pintu. dengan ujung jarinya dia mencingkel potongan lantai berbentuk persegi. di dalamnya nampak ada sebuah gelang rantai besi yang sudah karatan.
''Aku peringatkan sekali lagi pada kalian, jangan berani bergerak dan terus merapat ke dinding lorong sebelum aku bilang aman.!'' ucap Roro sementara tangannya menarik gelang rantai yang berada di bawah pintu. secepat itu pula Roro melompat merapatkan punggungnya ke dinding lorong.
Terdengar suara berderak keras, benda berat bergeser disertai bunyi roda berputar di bawah lantai. pintu batu persegi itu bergeser ke kiri. kini sebuah lubang gelap mirip goa muncul di sana. tidak ada suatu apapun yang terjadi setelahnya. meskipun ke tiga rekannya heran tapi mereka tidak berani bergerak hingga lebih sepuluh kejapan mata. tapi saat Putri Penjerat dan Ki Ageng Bronto hendak bersuara, dari dalam lorong gelap itu mendadak melesat puluhan panah dan pisau terbang beracun. kejap berikutnya juga menyambar ratusan jarum serta paku terbang.!
Sementara Laba- Laba Kuning juga berpikir hampir sama dengan rekannya. teringat dia belakangan bergaul dengan Roro Wulandari semakin membuatnya paham sisi lain yang menakutkan dari Dewi Malam Beracun. jika saja saat ini mereka berdua masih berhadapan sebagai musuh, bisa di pastikan dialah yang akan tergeletak menjadi mayat.
''Sampai kapan kita akan seperti ini, apakah masih ada mainanmu yang lainnya di dalam sana Roro.?'' tanya Respati. sepupunya itu hanya tertawa kecil. ''Ikuti saja langkahku., di dalam sana masih ada sedikit mainan kecil seperti tadi..''
__ADS_1
''Dasar wanita gila., barang berbahaya seperti itupun hanya dia sebut sebagai mainan kecil. untung saja aku tidak berjodoh dengannya. sebab jika tidak, bisa jadi diriku bakal mampus di atas ranjang sejak malam pertama setelah bergelut dengannya..'' batin Ki Ageng Bronto seram.
Baru belasan langkah berjalan Roro tiba- tiba berhenti dan membalik badan. ''Kalian akan lihat akibatnya jika tadi berjalan sembarangan tanpa arahanku..'' bibir bicara tangannya meraih beberapa kepalan batu yang ada di lantai lorong. batu- batu itu dilemparkannya kedepan.
Saat batu menyentuh lantai lorong, entah bagaimana muncul beberapa tombak tajam dari bawah lantai dan langit- langit, juga asap putih beracun dari lubang- lubang kecil yang muncul di dinding lorong itu. ''Hii., hi., barang mainan buatanku tidak terlalu mengecewakan bukan.?'' ujarnya tertawa renyah. sekali bergerak dia kembali maju memimpin jalan meninggalkan tiga rekannya yang mendelik ngeri.
Lorong kali ini lebih sempit dan rendah hingga membuat orang yang melaluinya mesti agak merunduk. setelah berjalan melewati beberapa tikungan mereka sampai di ujung lorong. di sana terlihat sebuah batu besar. menutupi ujung lorong. terdengar suara gemericik aliran air.
''Di balik batu besar itu adalah sebuah sungai yang letaknya sekitar tiga ratus langkah dari sebelah utara rumah Ki Ageng Bronto. jadi sekarang ini kita berada di balik tebing sungai itu..'' jelas Roro sembari memakai kembali baju atasnya yang tersampir di pundak.
''Aku ingat di sana memang ada sebuah sungai yang dalam mirip jurang. arusnya juga cukup deras. ja., jadi kita harus berenang untuk melewatinya.?'' tanya Ki Ageng Bronto terlihat agak panik. tiga rekannya sesaat heran, tapi mereka kemudian jadi tahu penyebabnya.
''Aduuuh kakang Bronto yang gagah perkasa rupanya mirip kucing yang takut air., Aah aku tahu sekarang, kau tidak bisa berenang yah. kasihan banget. Hik, hi.!'' ejek Roro terkikik. Pendekar Golok Bayangan Setan cuma bisa tersenyum masam. dua rekannya yang lain ikut terkekeh geli kerena tidak menyangka kalau ternyata si nomor sembilan punya kelemahan seperti itu.
__ADS_1
''Jangan khawatir begitu kakang Brontoku sayang., kita tidak perlu berenang. sebentar lagi akan ada yang menjemput kita keluar..'' hibur Roro, belum sempat mereka bertanya, pintu lempengan batu sudah bergeser. seberkas cahaya matahari pagi menyorot masuk. dua orang perempuan berpakaian dan bercadar kain hitam dengan sulaman bulan sabit perak terlihat di sana. tanpa banyak bicara Roro Wulandari berkelebat keluar di susul oleh ketiga rekannya.
Kini mereka berada di sebuah tepian sungai berarus deras dengan tebing yang tinggi dan penuh semak belukar lebat di atasnya. tiga buah perahu kecil tertambat di tepi sungai. beberapa orang yang sudah Roro kenal berada di sana. seraut wajah manis gadis muda lima belas tahunan tertawa gembira. ''Lihat kakang Sabarewang., kakak Dewi, Respati dan yang lainnya selamat.!'' serunya penuh rasa haru.