
Jika saja pertempuran itu terjadi daratan, bagi para anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti' dari pihak 'Istana Angsa Emas' tentunya tidak akan menjadi masalah karena mereka sudah cukup punya pengalaman dalam pertarungan. namun akan jadi suatu kesulitan tersendiri jika pertarungan itu berlangsung ditengah lautan luas.
Karena jangankan mereka, para pimpinan Istana Angsa Emas sendiri juga belum tentu punya pengalaman dalam pertarungan diatas samudra. maka dapat dimaklumi jika saat para anggota bajak laut Ombak Hantu yang berhasil menaiki salah satu kapal milik Istana Angsa Emas yang lebih kecil, pertarungan sengitpun terjadi di sana.
Mungkin disebabkan kurangnya pengalaman dan tidak menyangka kenekatan lawannya, membuat para anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti yang berada disana terdesak, bahkan korbanpun mulai berjatuhan bahkan sebagian terlempar ke dalam laut. mungkin tidak lama lagi kapal itu akan direbut oleh anggota bajak laut Ombak Hantu.
Kejadian ini membuat gusar Panglima Istana Kiri yang memang berwatak kaku dan rada berangasan. tanpa menunggu aba- aba dari Roro dia sekali lagi memerintahkan anak buahnya di dua kapal besar untuk serentak menembakkan meriamnya. ledakan keras dan beruntun terjadi. kapal besar bergetar hebat oleh hentakan meriam. meskipun berhasil mendekat dan sempat merusak dinding kapal dekat anjungan, namun kapal besar milik bajak laut itupun terbakar habis sebelum tenggelam.
Kapal bajak laut Ombak Hantu telah musnah. tapi salah satu dari tiga kapal yang lebih kecil milik Istana Anggsa Emas juga berhasil direbut oleh lawan. sepertinya mereka berniat hendak kabur dengan menggunakan kapal rampasan itu. ''Bangsat., berani benar mereka menggunakan kapal kita untuk melarikan diri.l!''
''Keparat., semua kawan kita yang berada diatas kapal itu juga telah tewas. apa yang mesti kita lakukan pada para bajak laut jahanam itu.?'' rutuk Panglima Istana Kiri dan Tengah gusar sekaligus kebingungan. kedua orang ini tanpa sadar menatap Roro Wulandari seakan mengharap pendapat. perempuan cantik itu cuma melirik sinis dengan tatapan merendahkan keduanya.
''Kelima kapal ini milik kalian orang Istana Angsa Emas. harusnya kalian berdua sebagai pimpinan pasukan, dapat cepat mengambil keputusan yang tepat. jika menghadapi masalah semudah ini saja kalian sudah kebingungan, sebaiknya urungkan saja niat kalian berdua untuk menyerbu pulau Seribu Bisa.!'' ucap Roro mencibir.
Biarpun merasa kesal dan jengkel dipandang rendah seperti itu tapi mereka tidak mampu berbuat apapun untuk membantah. Roro jadi tidak tega juga. ''Hehm., kapal kecil itu sudah mereka kuasai. anak buah kalian disana juga sudah mati. dari pada mereka berhasil kabur dengan kapal rampasan yang pastinya turut membawa banyak perbekalan dan barang berharga., lebih baik kejar lalu hancurkan saja dengan meriam..''
__ADS_1
''Meskipun harus kehilangan sebuah kapal, paling tidak kematian anak buahmu dapat terbalaskan sekaligus juga menyapu habis bajak laut Ombak Hantu tanpa tersisa. jadi., buat saja mereka tenggelam secepatnya dan habis perkara.!'' dengus Roro si Dewi Malam Beracun seraya kibaskan tangannya.
Kedua orang itupun sekejap saling pandang. ''kenapa penyelesaian masalah semudah ini saja tidak dapat terpikir di kepala kami.?'' pikir mereka malu. tanpa buang waktu Panglima Istana Kiri berteriak memberi perintah pada anak buahnya. kapal besar itu melaju lebih cepat. beberapa kejap kemudian tiga kali dentuman keras terdengar.!
'Blaaaamm., blaaaamm.!'
'Blaaaaarr., glaaarr.!'
Geladak kapal kembali bergetar. agak jauh di depan sana terlihat kapal rampasan para bajak laut sudah terbakar musnah. sayup masih sempat terdengar jeritan kematian dari tubuh anggota bajak laut yang terbakar hidup- hidup. meskipun ada juga yang masih berusaha melompat ke laut dan mencoba menyelamatkan diri namun akhirnya mereka tenggelam ditimpa reruntuhan kapal.
''Kita teruskan perjalanan. jika bertemu dengan kapal orang- orang persilatan lainnya, asalkan mereka tidak sampai mengancam, tidak perlu kalian perdulikan. walau bagaimanapun juga kita mesti sampai di wilayah lautan dari pulau Seribu Bisa pada waktu malam hari.!'' kali ini Roro Wulandari yang memberi perintah.
Biarpun di luarnya wanita ini terlihat tenang, sebenarnya dalam hatinya seolah baru saja keluar dari suatu ketegangan dan masalah berat. ''Untung saja sejak awal semua anak buahku dari persekutuan 'Bulan Perak' aku tempatkan di dua kapal besar ini. selain keselamatan mereka lebih terjamin, aku juga lebih mudah mengawasi dan memberi perintah jika diperlukan. seandainya tidak, pasti sebagian dari mereka akan ikut menjadi korban..'' batinnya menyeringai licik.
Di dunia ini terdapat banyak sekali manusia yang merasa dirinya pantas atau sanggup menjadi seorang pemimpin dalam suatu kelompok. tidak jarang untuk dapat naik menjadi pimpinan mereka sudi menjadi penjilat, menjual harga diri dan keluarganya atau mengkhianati rekan mereka sendiri demi keuntungan pribadi.
__ADS_1
Pendek kata., dari sekian banyak jumlah para pemimpin itu, hanya segelintir saja diantara mereka yang benar- benar layak dan mampu mengayomi orang yang dipimpinnya serta menjadi panutan bagi anak buahnya. selama bumi terkembang manusia culas semacam ini bukan saja tetap ada, malahan jumlahnya semakin banyak.
Roro Wulandari mungkin seorang wanita licik yang bahkan sudah banyak pula berbuat dosa. tetapi dia masih boleh digolongkan sebagai pimpinan yang tegas, adil dan sangat perhatian pada bawahannya. bagi yang setia dan berjasa bakal mendapat imbalan besar. begitu juga sebaliknya, mereka yang bersalah pasti mendapatkan hukuman.
Bahkan Roro tidak segan untuk turun tangan sendiri membunuh bawahannya yang punya kesalahan berat. jadi bukannya dia tidak memiliki perasaan simpati pada kematian anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti, tapi bagi si Dewi Malam Beracun keselamatan orang- orangnya sendiri tetap jauh lebih penting dari siapapun juga.
Sepasang kapal berukuran besar yang diiringi dua buah kapal dengan ukuran lebih kecil itu terus berlayar. dengan penambahan tenaga pendayung membuat laju kapal juga semakin cepat. saat hampir tengah hari mereka sudah tiba di wilayah perairan laut tanah Jawa bagian barat.
Walaupun sempat juga kapal orang Istana Angsa Emas ini bertemu dengan kapal lain milik orang persilatan namun kedua pihak seperti sengaja menahan diri agar tidak terjadi bentrokan. mereka sama menganggap saat ini tidak ada gunanya membuang waktu dan tenaga hanya untuk perkara sepele.
Saat matahari mulai condong ke barat, seiring dengan semburatnya cahaya kuning jingga yang membias permukaan samudra biru sampailah mereka di wilayah laut selatan Jawa bagian tengah. menyadari mereka sudah mendekati daerah lawan, tanpa sadar Roro Wulandari menarik nafas berat.
Karena biar bagaimanapun juga, dimasa lalu Roro pernah menjadi bagian dari Kelompok 13 Pembunuh. ironisnya sekarang ini justru dia kembali datang sebagai musuh mereka. ''Aaish., yang memang harus terjadi pada akhirnya akan terjadi juga..'' gumamnya mendesah.
*****
__ADS_1
Mohon menuliskan komentar Anda🙏, Terima kasih.