13 Pembunuh

13 Pembunuh
Mulai berlatih.


__ADS_3

Sambil berkeliling ruangan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun terus mengamati hampir setiap benda yang ada di sana. sementara Satriyana dan Sabarewang seakan sudah sibuk dengan senjata baru mereka masing- masing.


Busur panah emas bernama Busur Srikandi Kencana Wungu yang jadi milik Satriyana rupanya dapat dilipat menjadi lebih pendek hingga mudah di bawa. sejilid kitab tipis yang isinya cuma lima lembar juga diberikan Respati kepadanya. saat di lihat ternyata kitab itu adalah pasangan senjata panah yang baru dia dapat. karena isinya adalah cara menggunakan busur dan panah Srikandi Kencana Wungu itu. hebatnya di dalamnya juga ada tiga buah jurus silat bernama 'Tiga Jurus Silat Busur Panah Srikandi' karuan gadis ini bertambah girang. meskipun mungkin bukan sejenis ilmu silat yang luar biasa. tapi lebih dari cukup untuk bekal menjaga diri.


Sabarewang bergegas keluar ruangan. meskipun lorong goa tidak begitu luas tapi tetap lebih leluasa baginya untuk bergerak dan mencoba pedang barunya. setelah memainkan beberapa jurus silat miliknya, Sabarewang semakin merasa kalau pedang buntung itu sangat mantap digunakan. dan karena pedang itu tidak memiliki nama, dalam hati dia sudah menetapkan sebuah nama pedang 'Lading Buntung' sebagai pengingat dari mana senjata itu berasal.


''Aku sudah lama berusaha mencari separuh jilid kitab 'Seribu Senjata Rahasia Sakti' tapi selalu bertemu dengan jalan buntu., sampai aku merasa putus asa..''


''Dari cerita guruku dulu beliau tanpa sengaja pernah menolong seorang tua yang sedang keracunan dan terluka sangat parah, dua jarinya juga buntung akibat di tebas pedang musuhnya. karena merasa berhutang budi orang itu memberi guru setengah jilid kitab 'Seribu Senjata Rahasia Sakti' dan berjanji akan memberikan setengahnya setelah selesai dia pelajari..''


Roro melirik sekejab Respati yang masih duduk santai diatas kursi goyang kayu jati.


''Sebenarnya guruku tidak pernah mengharap imbalan apapun., karena sesungguhnya saat itu beliau juga sedang membuat suatu ramuan obat dan racun baru sehingga butuh orang untuk dijadikan alat percobaannya, dan selama ini beliau tidak pernah tertarik mempelajarinya, kitab itu lalu diberikannya kepadaku..''


''Sekarang kau sudah tahu dari mana aku bisa memiliki kemampuan membongkar pasang senjata dan peralatan rahasia.!'' tutur Roro sambil membaca kitab senjata pusaka pemberian Respati.


Pemuda itu diam sesaat lamanya, matanya terpejam seakan sedang berpikir keras, atau bisa juga dia malah tidak memikirkan apapun di dalam kepalanya. sambil menarik nafas panjang Respati menggumam ''Jadi kau ini murid Nenek Tabib Selaksa Racun., orang tua berjari buntung yang dimaksudkan gurumu itu bukan lain adalah pemilik goa rahasia ini.!''


Sepasang mata Roro seakan bersinar tajam. Respati bangkit berdiri lalu menjura hormat pada wanita cantik itu. ''Meskipun aku dan orang tua itu tidak pernah ada ikatan resmi antara guru dan murid. tapi beliau adalah penyelamat jiwaku juga mengajarkan ilmu kepandaian silat., sering kali dia bilang kalau dalam seumur hidup hanya pernah sekali menerima budi orang., cuma satu orang itu yang dia kagumi dan beliau adalah gurumu..''

__ADS_1


''Mewakili orang tua berjari buntung itu aku menghaturkan terimakasih pada gurumu.!''


Roro Wulandari tersenyum geli., ''Perkara angkatan tua di masa lalu tidak perlu kita yang muda ikut mengurusinya.''


''Kalau aku tidak salah ingat, dalam kitab wasiat Ki Mijun disebutkan kalau pembunuh nomor tiga belas dari angkatan terdahulu adalah seorang pencuri sakti berjari buntung yang dikenal sebagai si Maling Nyawa., apakah pemilik tempat ini adalah beliau.?'' selidik Roro tegang. Satriyana dan Sabarewang yang sedang sibuk dengan senjata barunya ikut terdiam ingin tahu.


''Sampai sekarang aku tidak mengetahui dia berada di mana., apakah masih hidup atau sudah mati. saat aku membaca kitab wasiat Ki Mijun itulah baru kusadari kalau orang tua berjari buntung itu dan si Maling Nyawa anggota nomor tiga belas kelompok 13 Pembunuh dari angkatan lawas adalah orang yang sama.,'' jawab Respati. akhirnya sedikit ganjalan di hatinya terlepas juga.


Semua orang terdiam, tapi semuanya berpikiran sama. seluruh barang berharga dan benda pusaka di ruangan ini rupanya hasil kerja si Maling Nyawa guru dari Respati. bisa dibayangkan kehebatan orang tua itu sampai mampu mencuri sedemikian banyak barang yang aneh- aneh bentuknya.


''Kalian berdua tidak perlu risau., selama aku mengikutinya, diriku cuma pernah mencuri tiga buah barang, satu diantaranya sebuah pedang bernama Rondo Kuning. dua lainnya busur panah milik Satriyana dan pedang buntung Sabarewang. pemiliknya tidak diketahui, mungkin juga sudah lama mati.''


''Huh., biarpun pemiliknya masih hidup, aku juga bakal pertahankan busur panah ini..!'' tekad Satriyana. rupanya gadis manis berkulit sawo ini sudah merasa sayang dengan busur panahnya itu.


''Baiklah kawan- kawan., sepuluh langkah di sebelah kiri ada lorong goa menuju kolam pemandian. Roro dan Satriyana, kalian berdua boleh mandi duluan, biar aku dan Sabarewang keluar mencari makanan.,'' ujar Respati sambil mendahului keluar disusul Sabarewang.


''Eeh., tolong sekalian ambilkan juga pakaian kami berdua dari dalam kereta kuda yah.,!'' seru Roro, bersama Satriyana kedua perempuan inipun bergegas menuju kolam pemandian.


Setelah berjalan memasuki lorong goa yang agak menjorok ke dalam sesuai petunjuk Respati, ternyata benar saja di ujung lorong goa itu ada sebuah kolam pemandian batu, Roro menyalakan dua buah lentera minyak yang tergantung di dinding kolam. meskipun tidak seindah kolam rahasia di bawah kamar Rumilah kakak seperguruannya, tapi cukup nyaman juga.

__ADS_1


Tanpa ragu Roro melepaskan seluruh pakaian hitam yang menutupi tubuhnya. Satriyana terpukau melihat keindahan tubuh Dewi Malam Beracun. dalam hati dia merasa agak minder juga malu. meskipun sesama wanita, tapi baru kali ini dia mandi bareng perempuan cantik yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri itu.


''Heii., kenapa masih diam di situ, apa kau menunggu kedua kelaki itu datang dan mengintip kita berdua.?'' tegur Roro sambil berdiri telanjang bertolak pinggang.


''Eeh iiya., aku segera masuk kesana.,'' jawab Satriyana gugup. sesaat dia ragu untuk masuk ke dalam kolam tapi akhirnya gadis itu masuk juga, di sana Roro sudah asyik berendam di dalam kolam yang airnya terasa hangat. mungkin ada sumber air panas di bukit Lading ini.


''Ehm., kakak Dewi., Aa., apakah aku juga kelak bisa memiliki tubuh indah dan wajah secantik kakak Roro Wulandari.?'' tiba- tiba gadis itu bertanya sambil menggosok lembut punggung Roro yang putih mulus dibasahi air kolam.


Roro terkikik geli balikkan tubuhnya, ''Kau masih sangat muda, dengan perawatan tubuh yang baik, mungkin kelak tubuhmu malah bisa lebih menarik dariku.!'' tutur Roro ganti menggosok dada dan punggung Satriyana.


''Be., ben., benarkah itu.,?'' Satriyana seakan tidak percaya. ''Eehm., nanti akan kuajarkan padamu bagaimana caranya wanita merawat tubuhnya.!''


Wanita cantik ini menggelitik tubuh Satriyana. gadis remaja itu terpekik kegelian, lalu balas menggelitik ketiak Roro yang mulai ditumbuhi bulu halus. gantian wanita ini yang menjerit- jerit karena tidak tahan geli.


Saat mereka selesai mandi dan kembali ke ruangan rahasia, ternyata disana Respati serta Sabarewang sudah menunggu dengan hidangan seekor burung hantu bakar. sebuah buntelan kain berisi pakaian ada diatas kursi goyang.


''Kalau mau ganti baju pergi saja ke balik dinding ruangan sebelah kanan, disana ada tempat untuk tidur. kalian bisa memakainya..'' jelas Respati.


''Kurasa kita harus tinggal di sini beberapa hari, kuharap engkau mengijinkannya karena aku perlu tempat yang tenang untuk mempelajari kitab senjata rahasia ini.,!'' kata Roro dari balik ruangan.

__ADS_1


''Aku juga ingin segera menguasai ilmu memanah berikut jurus silatnya..'' sambung Satriyana.


Sabarewang memandang Respati penuh harap. pemuda itu cuma diam sambil melahap paha burung hantu bakar. biasanya diam berarti menyetujui. maka mereka berempatpun tinggal sementara di sana untuk melatih diri.


__ADS_2