
Wanita berhati keji itu tidak dapat menahan perasaan seram dan penasaran dalam hatinya sampai tubuhnya menggigil. kedua matanya menatap 'Dewi Malam Beracun' yang berdiri lima langkah didepannya. permukaan tanah di seputaran tempat perempuan cantik ini berada nampak diselimuti kabut merah yang menebar aroma anyir darah dan hawa sepanas kobaran api.
Setiap kali senjata sakti bernama 'Kipas Darah Bulan Mentari' di tangan Roro Wulandari di ayunkan, hawa udara panas membakar segera menebar ke muka. bebatuan kerikil yang tadinya basah oleh rintik hujan sekarang bukan saja menjadi kering namun juga berasap dan pecah meletus saking panasnya.
'Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma' yang duduk terpuruk beberapa langkah darinya sampai harus beringsut mundur akibat tidak sanggup menahan semburan hawa panas yang seolah hendak membakar tubuh dan memedihkan matanya. tapi dia tidak mampu lagi untuk bergerak menjauh karena tertahan bongkahan batu karang besar yang berada di belakang tubuhnya.
Sekujur tubuh wanita mesum yang sudah setengah telanjang karena jubah gaun jingga yang dipakainya robek besar tidak berbentuk, telah bermandikan keringat. Dewi Malam Beracun menyeringai hina. ''Chuih., melihat keadaan dirimu yang sangat menyedihkan ini pasti membuat orang lain menjadi tidak percaya kalau kau bukan lain adalah seorang wanita sundal berhati iblis yang selama ini telah banyak memakan korban kaum lelaki..''
Bagi perempuan sundal ini penghinaan seperti itu sungguh membuat darahnya mendidih. selama malang- melintang dalam ganasnya rimba persilatan, dialah yang selalu memandang rendah dan menghina siapapun lawannya. sambil meraung beringas dia paksakan dirinya bangkit berdiri sambil bentangkan kipas hitamnya didepan dada.
Entah kenapa dia bisa menggerakkan tubuh sesuai keinginannya. padahal sebelum ini jiwa raganya seperti telah dikuasai roh jahat dari senjata 'Kipas Tiga Kutukan' yang berada di tangannya. walaupun dari pancaran sinar hitam kipasnya menunjukkan kalau senjata itu masih memiliki kekuatan hebat namun dia juga merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam kipas sakti itu.
''Perempuan keparat., kau hanya bisa bicara omong kosong untuk menutupi semua kisah pahit dalam hidupmu. apa yang pernah kau alami bahkan lebih memalukan dibandingkan diriku.!'' maki Siluman Cantik Pesolek penuh kebencian. tiga kibasan kipas hitamnya membawa sambaran angin dan cahaya hitam menggidikkan. samar terlihat bayangan tiga wujud tengkorak di dalamnya.
Menghadapi datangnya ancaman maut, Roro Wulandari hanya tersenyum sinis. ''Dengan jurus pertama akan aku buat dirimu jatuh terjungkal.!'' mulut bicara kipas ditangannya bergerak menggebut serata dada. cahaya merah darah yang lebar dengan dua larikan sinar emas dan perak di tengahnya melabrak kemuka bagaikan mata golok raksasa yang menebas bukit. bau anyir darah dan hawa udara yang lebih panas dari bara api menggebrak.!
'Whuuuss., whuuut., wheeeet.!'
'Bheeeett., sheeett., srhaaaatt.!'
__ADS_1
'Braaaakk., blaaaaamm., blaaaarr.!'
Hanya terdengar tiga kali ledakan keras saat dua kekuatan kipas sakti beradu. akan tetapi akibat yang ditimbulkan sangat mengejutkan. gelombang cahaya merah darah berseling emas perak yang saling libas dengan tiga hawa hitam pekat sampai membuat ombak yang hendak menyapu pantai karang jadi terbelah dan berbalik arah. barisan batuan karang turut hancur dan terpecah sampai sebagian hangus.
Dalam jarak seputaran sepuluh tombak keliling seakan tersapu rata. suara jeritan parau tersembur dari bibir Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma bersama dengan cairan darah yang termuntah. jubah gaun jingganya hancur tidak berwujud lagi hingga tubuhnya telanjang bulat. walaupun dalam keremangan cahaya rembulan bentuk tubuh wanita sundal ini masih terlihat bagus tapi sudah mulai dihiasi luka dan menghitam.
Biarpun sempat sekali bersalto diudara tapi wanita inipun tidak dapat bertahan saat terhempas beberapa tombak ke belakang sebelum jatuh terkapar diatas tanah. rasa kesakitan dan panas yang membakar tubuhnya luar dalam membuatnya tidak tahan untuk menggerang dan menjerit. sepasang matanya beringas dengan asap kehitaman mengepul di ubun- ubun. meskipun jelas sudah terluka parah tapi daya tahan tubuhnya memang luar biasa.
Atau bisa juga., kebenciannya pada dunia yang dia anggap sudah menistanya membuat dia enggan untuk menyerah atau terlihat lemah di depan lawan. padahal melalui cermin sihirnya dia mengetahui kalau wanita yang berdiri dihadapannya ini mempunyai kisah masa lalu yang lebih buruk darinya. tapi kenapa orang ini masih sanggup berdiri dengan angkuhnya sementara dia justru makin terperosok ke dalam jurang dendam kesumat yang tidak ada habisnya.
Sekalipun sudah ratusan lelaki yang menjadi korban pelampiasan balas dendamnya tapi kenapa dia tidak merasakan kepuasan atau bahagia dalam dirinya. pendek kata., jika keduanya berasal dari keterpurukan akibat dendam masa silam yang hampir sama, kenapa jalan hidup yang mereka ambil justru berbeda.
Sementara mulutnya yang meneteskan darah kehitaman luapkan segala amarah yang terpendam dalam hatinya, kipas hitam di tangannya juga tidak tinggal diam. dengan segala kekuatan yang tersisa dia nekat beradu jiwa karena meskipun memilih jalan hitam tapi wanita ini juga punya harga diri seorang pesilat kelas atas. berusaha kabur atau melarikan diri dari pertarungan bukanlah gayanya.
Tetapi terasa suatu keanehan yang terjadi dalam Kipas Tiga Kutukan itu. biarpun tetap memiliki kekuatan dahsyat tapi senjatanya bergetaran seolah enggan untuk menyerang. ini sangat berbeda dengan saat menghadapi senjata kipas perak Dewi Malam Beracun. roh jahat dalam kipasnya begitu bernafsu untuk menghancurkan kipas lawannya.
Saat mata hitamnya melihat senjata Kipas Darah Bulan Mentari satu pikiran muncul di kepala perempuan cabul itu. ''Keadaan ini mulai kurasakan sewaktu wanita keparat itu mengganti senjata kipas peraknya yang leleh terbakar. sia., sialan., jang., jangan- jangan roh dalam Kipas Tiga Kutukan ditanganku sudah merasa tertekan dan ketakutan dengan kekuatan yang dimiliki oleh kipas sakti milik Dewi Malam Beracun.?'' batinnya dengan muka berubah ngeri menatap lawannya.
Sebaliknya orang yang berada di depannya hanya menggumam dengan mata terpejam, ''Jurus kedua Kipas Darah Bulan Mentari akan menjadi pengiring jiwamu ke alam kematian..'' begitu selesai bicara kedua matanya turut terbuka. mata itu bukan saja sangat merah tapi juga melelehkan darah. suara tangisan pilu turut juga terdengar. inilah pertanda awal Roro akan mengeluarkan jurus yang bernama 'Bulan Mentari Berkabut Air Mata Darah.!'
__ADS_1
Kipas bersinar merah darah mengibas miring seperti liukan batang daun tertiup angin. sepintas lalu terlihat lembut perlahan namun sanggup memancarkan suatu kekuatan yang menekan jiwa, hingga menimbulkan suatu kesedihan batin bagi orang yang melihat gerakan ini. seiring dengan titik- titik air semerah darah yang tercurah bagai hujan menyiram bumi, cahaya merah berseling emas perak juga turut menyambar.
Siluman Cantik Pesolek Pemikat Sukma masih sempat kibaskan senjatanya untuk melawan meskipun sadar dia telah berada di ambang ajalnya. sampai matipun wanita ini tetap tidak akan mau tunduk. mungkin karena hanya itulah satu- satunya kehormatan yang tersisa di dalam dirinya.
Tubuh wanita itu terhempas bagaikan daun kering tertiup angin. raga telanjang berhias luka menghitam kini terlentang tepat di tepian pantai. tetesan air matanya turut memerah seperti darah yang menyelimuti tubuhnya. ombak lautan yang datang bergulung tidak mampu menghapus luka di raga dan jiwa perempuan ini.
Mata yang dulunya memancarkan cahaya dendam, kekejian hati dan kecabulan nafsu kini nampak sayu, menderita dan putus asa. dalam akhir riwayatnya mata itu menatap Roro seolah dia masih ingin bertanya ''Kenapa kau tetap bisa begitu tegar dan kuat setelah mengalami semua kekejaman hati manusia.?''
Tubuhnya mulai terpecah menjadi gumpalan daging dan darah yang membusuk. saat jiwa hendak tercabut dari raganya orang ini masih sempat mendengar sebuah ucapan dari bibir lawan. ''Aku juga tidak tahu jawabannya. tapi diriku paham., walau sepahit dan sesakit apapun penderitaan yang kita alami, tetap saja itu lebih baik dari pada mati..''
''Selama manusia masih hidup, dia akan memiliki harapan dan kesempatan untuk meraih impiannya. jika harapan itu tidak juga muncul., maka ciptakan saja kesempatan dengan tanganmu sendiri. manusia hanya dapat menerima garis nasib dari yang Maha Kuasa. tapi jika kau cuma pasrah tanpa usaha apalagi melampiaskan dendam kesumat hanya karena lari dari kenyataan, lalu apa bedanya dirimu dengan mayat hidup.?'
Ombak lautan malam itu bergulung sedikit perlahan seakan turut bersimpati dengan nasib wanita itu. gumpalan daging dan darah busuk telah lenyap tertelan ombak. hilang bersama riwayat hidupnya yang memilukan. Roro Wulandari mendongak ke langit yang mulai sedikit berhias bintang.
Apakah bintang itu adalah lambang dari suatu harapan.? Roro mendengus angkuh. dalam hidupnya kepahitan macam apa yang belum pernah dialaminya, tapi sampai sekarang dia masih tegak berdiri. kobaran api darah yang menyelimuti tubuhnya telah lenyap. saat berbalik kedua matanya menatap ke depan dengan nyalang penuh keyakinan.
Silahkan tulis komentar jika Anda suka. 👌🙏.
__ADS_1