
Sesaat lamanya suasana berubah hening dan kaku. dengan terbatuk Nyi Rumilah si 'Tabib Mata Hati' sedikit beringsut maju ke tepi balai pembaringannya. ''Harap maafmu sobat lamaku Nyi Sendang Inten bersama para pengikutnya, jika aku tidak dapat menyambut karena tidak leluasa bergerak. sekarang ini tubuhku sedang kurang sehat..''
Dalam hatinya Nyi Sendang Inten masih merasakan kekagetan melihat keadaan tabib kenalannya itu. ''Kau adalah seorang tabib ternama Nyi Rumilah. bahkan dulu dirimulah yang telah menolongku dari keracunan akibat pukulan seorang musuhku. aku sungguh tidak mengerti kenapa dirimu bisa mengalami sakit yang kurasa cukup parah ini..''
Nyi Rumilah menghela nafas berat seakan menyesali sesuatu. ''Seorang tabib yang baik akan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengobatannya dan tidak pernah berpuas diri apalagi sampai merasa kalau dia sudah sangat hebat. kira- kira sebulan lalu tanpa sengaja aku mendapatkan sebuah tanaman obat yang sangat langka..''
''Tanaman langka ini keseluruhan berwarna kehitaman baik akar, batang, daun, getah hingga bunganya. menurut penuturan mendiang guruku tanaman itu bernama 'Kembang Kepaten Ireng' yang kabarnya punya khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam racun ganas. sayangnya., untuk mengolahnya menjadi obat penangkal racun diperlukan pengetahuan yang sangat mendalam..''
Rumilah berhenti sebentar untuk mengatur pernafasannya yang agak tersengal. melihat itu kedua muridnya merasa khawatir. ''Guru., kurasa sebaiknya lebih banyak beristirahat. soal permasalah Nyi Sendang Inten mungkin dapat dibicarakan lain waktu..'' ucap murid pertamanya mencoba memberi saran.
Sang guru cuma angkat tangannya. ''Sudah aku bilang diriku tidak apa- apa. jadi jangan menyela pembicaraanku.!'' tegas kakak seperguruan Roro Wulandari itu. mendengar ucapan Rumilah bukan saja kedua muridnya yang terdiam. Nyi Sendang Inten pengikutnya juga merasa sedikit tidak enak.
''Karena terlalu bersemangat mengolahnya, aku sampai tidak menyadari adanya duri- duri yang sangat lembut di kulit batang tanaman itu. singkatnya duri halus itu menembus kulit tanganku. awalnya tidak terjadi apapun hingga seminggu lalu diriku mengalami demam panas dan muntah darah kehitaman..''
''Saat itulah baru aku sadari kalau selain berkhasiat sebagai tanaman pengobatan, duri tanaman itu juga mengandung racun mematikan yang bekerja sangat lambat. pendek kata bagi orang yang sekarat tanaman Kembang Kepaten Ireng itu adalah obat mujarab. tapi bagi manusia yang sehat dia dapat menjadi racun.!''
''Lantas bagaimana keadaanmu sekarang ini. apakah kau memerlukan sesuatu untuk kesembuhan. katakan saja, barangkali aku bisa melakukannya..'' Nyi Sendang Inten tanpa sadar turut khawatir. karena bagaimanapun juga perempuan didepannya itu pernah menyelamatkan dia dari kematian.
Rumilah tersenyum tipis. ''Kau tidak perlu merasa cemas. walau sesulit apapun juga diriku tetaplah seorang tabib. meski cukup merepotkan tapi racun dalam tubuhku sudah sangat banyak berkurang dan kini tinggal sisanya saja. dalam beberapa hari kuyakin dapat kumusnahkan seluruhnya..''
''Aah., kenapa kalian tidak mau menyantap suguhan diatas meja. ayoh, silahkan kalian nikmati..'' ajak Nyi Rumilah pada tamunya. dengan sedikit enggan merekapun memakan hidangan yang tersaji. ''Nyi Sendang Inten, sebenarnya ada permasalahan apa hingga kau datang berkunjung kemari..''
Yang ditanya meneguk air kendi sejenak untuk membasahi tenggorokannya. ''Melihat keadaanmu aku jadi merasa kurang pantas untuk bicara. tapi ini masalah yang sangat penting sekali bagiku. terus terang saja, dua hari lalu markas perkumpulanku telah disatroni dua orang tua. mereka juga berhasil membawa kabur hewan langka 'Penyu Laut Emas' yang aku simpan di tempat rahasia..''
''Penyu Laut Emas., bukankah itu salah satu hadiah besar yang kau terima dari seorang pangeran kerajaan karena berhasil mengawal calon istrinya ke istana beberapa tahun lalu.?'' seru Nyi Rumilah dengan muka berubah hebat. ''Siapa juga orangnya yang punya nyali hingga berani merecoki perkumpulanmu..''
Nyi Sendang Inten berkilat kedua matanya. ''Aku tidak tahu. tapi salah satu dari kedua bangsat itu telah terkena pukulan 'Tapak Rambah Biru' milikku. dari jejak yang kami temukan mereka berdua sedang menuju ke kadipaten Jepara ini..'' desisnya menatap tajam si 'Tabib Mata Hati'.
Nyi Rumilah menarik nafas pelan sembari pejamkan matanya. suasana sesaat berubah tegang. ''Aku mengerti maksudmu. dibagian tubuh mana orang itu terkena pukulanmu.?'' bertanya Nyi Rumilah. ''Harap maafmu sobat. tapi diriku terpaksa mesti memastikannya. aku memukulnya di punggung sebelah kiri..''
__ADS_1
''Kudengar siapapun yang terkena pukulan Tapak Rambah Biru kulit tubuhnya akan bengkak membiru dan terkelupas hingga ke bagian dalam tubuh..'' Rumilah perlahan balikkan tubuhnya sambil mengangkat pakaian biru mudanya ke atas. ''Apakah ada tanda seperti itu di punggung kiriku.?''
Semua orang dapat melihat dengan jelas kalau tidak ada sesuatu apapun di punggung kiri Rumilah yang berkulit putih sedikit pucat. ''Kalian rupanya mencurigai kalau gurukulah yang telah mencuri hewan pusaka milikmu. aku benar- benar tidak dapat menerimanya.!'' bentak murid tertua Rumilah.
Saat dia hendak menggebrak sang guru sudah menghardik. ''Apa yang kau akan lakukan. bersikaplah sopan pada tamuku.!'' sang murid masih hendak membantah tapi Rumilah mendengus marah. dengan takut bercampur kesal gadis itu cuma bisa mundur dan menunduk.
''Diriku turut prihatin atas musibah yang kau alami. tapi aku jamin semua orang di pondok pengobatanku tidak ada yang terlibat dengan masalah pencurian itu. mungkin kau curiga dengan beberapa orang perempuan berbaju hitam yang berada di tempatku. kuyakin kau pernah mendengar tentang persekutuan 'Bulan Perak'. suatu ketika aku pernah menolong salah satu anggota pentingnya..''
''Mendengar diriku dalam keadaan sakit, pimpinan mereka mengirimkan beberapa anak buahnya untuk menjagaku. maklumlah., kadang sebagai seorang tabib diriku juga pernah membuat beberapa pihak tidak senang, karena musuh mereka yang sudah seharusnya mati malah dapat bertahan hidup setelah aku obati..''
Nyi Sendang Inten dan kedua bawahannya hanya bisa saling pandang. rasa gusar dihati akibat kehilangan jejak buruannya terpaksa hanya bisa ditahan. saat itulah mendadak Nyi Rumilah menegur muridnya yang paling muda dan terlihat gelisah ''Kenapa dengan dirimu, sepertinya ada yang ingin kau sampaikan. bicaralah.!''
Gadis muda bernama Munira itu tiba- tiba berlutut. ''Aam., ampun guru. saya merasa telah melakukan kesalahan besar. sore tadi saat baru pulang dari pasar tanpa sengaja aku menemukan seorang lelaki tua berbaju kelabu sedang mengobati temannya yang juga memakai pakaian yang sama. sepertinya temannya itu sedang terluka parah. di punggung kirinya terlihat bengkak membiru..''
''Aah., mereka pasti kedua buruan kita.!'' seru lelaki muda bawahan Nyi Sendang Inten. ''Ada dimana mereka sekarang ini.?'' desak gadis cantik di sebelah Nyi Sendang Inten. ''Karena kasihan aku memberinya obat penguat tubuh. tanpa berterima kasih dengan tertatih- tatih keduanya langsung pergi begitu saja. dari arahnya mereka menuju ke wilayah Demak.
Meskipun geram tapi Nyi Sendang Inten dan pengikutnya tidak dapat berbuat apapun. lagi pula murid Nyi Rumilah juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena masih hijau dan lugu. tanpa membuang waktu merekapun berniat pamit untuk kembali melakukan pengejaran. Nyi Rumilah menahan sebentar.
''Bagaimanapun juga muridku tetap bersalah. sebagai permintaan maaf akan kuberikan sesuatu untuk kalian..'' Rumilah memberi isyarat murid tertuanya untuk membuka sebuah lemari kayu yang berada di sudut ruangan. ''Ambilkan periuk kecil berwarna ungu yang ada di sana dan berikan pada Nyi Sendang Inten..''
Nyi Sendang Inten alias si 'Dewi Biru Trisula Sakti' mengamati periuk kecil berwarna keunguan di tangannya. saat dibuka tercium bau aroma obat yang menyegarkan tubuh dan pikiran. di dalamnya terdapat lima butir obat yang juga berwarna semu ungu. ''Itu obat penguat tenaga dalam. meskipun bukan yang terbaik tapi cukup bermanfaat untuk orang persilatan dalam memperkuat tubuh mereka. dua butir obat untukmu sisanya bisa kau berikan pada bawahanmu..''
Nyi Sendang Inten sempat terkejut tapi seulas senyuman langsung tersungging di bibirnya. ''Terima kasih., obat ini sangat berarti bagiku. terus terang saja diriku perlu meningkatkan tenaga sakti jika ingin menyempurnakan ilmu pukulan 'Tapak Rambah Biru'. aku jadi merasa tidak enak denganmu sobatku. mulai sekarang apapun yang kau perlukan. kami selalu siap membantumu. maaf kami mesti segera berangkat. lain waktu aku akan datang berkunjung lagi kemari. tentu saja tidak dengan tangan kosong..'' ucapnya seraya menjura hormat.
''Kau tidak perlu memikirkannya. antarkan Nyi Sendang Inten keluar..'' perintah Nyi Rumilah pada murid tertuanya. setelah mohon diri dan berterima kasih sekali lagi orang- orang dari perkumpulan silat 'Intan Biru' itupun keluar kamar mengikuti murid Nyi Rumilah. sebentar kemudian gadis belasan tahunan itu sudah kembali dengan tersenyum lebar. ''Mereka semua sudah pergi guru..''
Gadis muda yang berlutut menghembuskan nafasnya seakan baru terlepas dari beban berat. ''Hhuuhh., sungguh susah untuk berpura- pura seperti ini. tapi kemampuanku bersandiwara cukup bagus bukan guru.?'' tanyanya tertawa sambil melompat bangkit. kedua orang didepannya turut terkekeh.
''Kalian berdua bisa keluar, keadaan sudah aman..'' seru Rumilah. dari salah satu dinding kamar itu terdengar suara seperti benda berat bergeser. di sana muncul sebuah pintu. dari baliknya keluar dua orang lelaki berambut ubanan berbaju kelabu. dengan sekali sapuan tangan rambut putih gondrong itu terlepas jatuh. saat baju kelabu gombrong di lepaskan terlihat seperangkat pakaian ketat warna hitam.
__ADS_1
Kini yang terlihat bukan dua orang lelaki tua namun sepasang wanita cantik. salah satunya terlihat sedikit pucat setengah terbungkuk. ''Sungguh beruntung Nyi Rumilah dapat mengatur sandiwara ini hingga mereka tertipu. selanjutnya sudah ada anggota kami di Demak yang akan membuat jejak palsu..''
''Luka dalam akibat pukulan Tapak Rambah Biru meskipun sudah dapat diobati tapi tetap membutuhkan waktu yang cukup untuk benar- benar sembuh. kalian berdua istirahat saja dulu. suruh kawan- kawanmu yang lain menungguku di ruang pembuatan obat..'' ujar Rumilah seraya bangkit dari tempat tidurnya.
''Kau siapkan semua bahan termasuk juga binatang 'Penyu Laut Emas' yang baru saja kita dapatkan. waktu kita tidak banyak. Roro sudah menunggu lama untuk dapat memiliki obat penangkal tumbuhan dan hewan beracun yang ada di pulau 'Seribu Bisa..'' kedua muridnya menyahuti dan bergegas melaksanakan pekerjaan besar.
Rupanya Rumilah tidak benar- benar sakit. dia tahu bahan terakhir untuk membuat ramuan obat yang di butuhkan adik seperguruannya itu berupa seekor Penyu Laut Emas yang sangat langka. walaupun tahu benda itu ada di mana tapi Rumilah tidak mau bersengketa langsung dengan Nyi Sendang Inten.
Bukan karena dia takut dengan kesaktian ilmu Nyi Sendang Inten, melainkan Rumilah tahu kalau masalah ini membesar akan melibatkan banyak pihak termasuk kerajaan. ketua perkumpulan silat Intan Biru itu sebenarnya masih sepupu dari istri pangeran Demak dan punya hubungan rahasia dengan beberapa tokoh silat dari berbagai golongan.
Meskipun pernah ditolong olehnya namun Rumilah yakin kalau wanita ini tidak akan mau untuk menyerahkan binatang langkanya, sebab itu merupakan hadiah yang langka dari seorang pangeran kerajaan. karenanya dia membuat tipuan dengan menyuruh dua orang anggota Bulan Perak untuk mencurinya dari markas perkumpulan Intan Biru.
Agar tetap menjaga hubungan baik sekaligus memupus kecurigaan, Rumilah sengaja memberikan beberapa butir obat penguat tenaga dalam buatannya pada Nyi Sendang Inten, karena dia tahu wanita itu sedang berusaha untuk menyempurnakan ilmu kesaktiannya.
Soal 'Kembang Kepaten Ireng' Rumilah memang pernah mendengar dari mendiang gurunya si 'Nenek Tabib Selaksa Racun'. meskipun sudah beberapa kali berusaha mencarinya tapi selama ini dia belum pernah menemukan bunga yang sangat langka itu.
Sebagai seorang tabib, Nyi Rumilah adalah seorang yang sangat menghargai kejujuran, kebersihan hati dan welas asih. walau tidak biasa berbohong tapi demi menolong adik seperguruannya yang sangat dia sayangi tabib wanita itu nekat bermain tipu muslihat.
''Di dunia ini tidak ada yang namanya kebohongan yang sempurna. sebab sepandai apapun orang menyimpan bangkai, suatu ketika baunya pasti akan akan tercium juga. namun jika kita hendak membuat penipuan yang terbaik, itu masih sangat mungkin untuk kita lakukan..''
''Syarat utamanya adalah., separuh dari kebohongan itu haruslah berdasarkan sebuah kenyataan. sisanya bisa kita tambah atau kurangi sesuai dengan keadaan. untuk menjadi seorang pendusta sejati, orang harus bisa membohongi dirinya sendiri terlebih dahulu..''
''Jadi untuk menipu orang lain kita mesti mampu menipu diri kita sendiri. kalau ingin menyamar sebagai pejabat tinggi, kita harus meyakinkan diri sendiri kalau kita ini memang seorang pejabat. jika ingin berpura- pura sakit, yah., kita mesti merasa kalau tubuh kita ini benar- benar sakit parah. barulah orang lain akan percaya..''
Itulah sepenggal kalimat yang pernah Roro katakan padanya. saat itu Rumilah cuma menganggapnya angin lalu saja. ''Hehm., tidak kusangka sekarang aku malah menjadi seorang penipu. tapi kupikir., rasanya cukup menyenangkan juga..'' batin Rumilah tersenyum sendiri geleng- geleng kepala.
*****
Chapter yang ini lumayan panjang. Mohon untuk menuliskan komentar Anda yah 🙏. (komentar negatif juga gak apa" 😅) Terima kasih.
__ADS_1