13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pedang payung, kipas perak.


__ADS_3

Malam semakin larut, bahkan mungkin sudah melewati dini hari. pertarungan sengit masih berlangsung, meskipun korban nyawa dari kedua belah pihak terus berjatuhan, namun tidak mengurangi hawa nafsu membunuh yang menggelegak dihati setiap orang yang terlibat dalam pertempuran besar itu.


Bau anyir darah memuakkan dari ratusan mayat yang bergelimpangan membuat hawa kematian semakin pekat menyelimuti lembah sunyi itu. jeritan penuh kesakitan dan terikan parau saat jiwa tercabut dari raga. suara bentakan penuh dendam kebencian yang ditimpali bentrokan senjata serta pukulan sakti, membuat lembah itu berubah seperti tempat berpesta para iblis yang haus darah.


Agak terpisah dari tempat kedua pasukan yang saling bunuh. terlihat dua kelebatan bayangan hitam putih berseling cahaya emas perak yang saling gulung dan melibas dengan sengitnya. meskipun sudah melewati empat puluh jurus tapi pertarungan antara 'Dewi Malam Beracun' dengan 'Bidadari Berpayung Emas' malah semakin memuncak.


Saat mengatup senjata payung emas dapat menusuk bagaikan tombak dan mampu membuat perisai dikala terbuka hingga serangan lawan sulit menembusnya. di lain pihak kipas perak juga sanggup membabat bagai golok saat terkembang juga menikam laksana pedang sewaktu tertutup.


Walaupun sudah tiga kali berjumpalitan diatas tanah untuk melepaskan diri dari tusukan ujung payung yang seruncing tombak, masih belum cukup bagi Roro Wulandari untuk terlepas dari ancaman senjata maut lawan. wanita cantik itu keluarkan dengusan gusar bercampur kaget saat sebuah pedang yang memancarkan cahaya keemasan bergerak hendak menikam dada serta merobek bagian perutnya sebelah kiri.


Sekarang dia malah harus menghadapi dua buah senjata lawan yang mengancam enam bagian tubuhnya yang paling rawan. payung emas ditangan kanan dan sebilah pedang tipis tergenggam di tangan kiri Bidadari Berpayung Emas. rupanya di dalam gagang payungnya wanita berjubah gaun putih itu tersimpan sebilah pedang pusaka yang juga bersinar kuning keemasan. inilah jurus 'Payung Pedang Emas Sehati Sejiwa.!'


Belum lagi kedua ujung senjata lawan sampai mendekatinya, sinar emasnya yang setajam lidah petir sudah terasa merobek urat nadi Roro Wulandari. wanita yang konon disebut sebagai salah satu yang tercantik di dunia persilatan itu membentak keras. meskipun masih mampu bergerak menghindar tapi sifatnya yang sombong membuat dia enggan melakukannya.


Justru sebaliknya si 'Dewi Malam Beracun' malah memilih bentrokan adu kekuatan jurus secara langsung. kipas perak berpindah ke tangan kiri mengibas tiga kali ke udara lantas menggebut ke depan. serangkum angin panas kencang sekeras benteng baja menghempas ke depan. jurus 'Kipas Penggulung Awan.!'

__ADS_1


Seakan tidak mau kepalang tanggung, Roro hantamkan tangan kanannya yang terkepal erat. puluhan jarum dan paku tajam semerah bara api dan asap panas melesat kemuka. senjata rahasia Roro yang sudah dilambari kekuatan ilmu 'Cakar Tengkorak Darah' menghujani lawannya tanpa ampun.


''Perempuan jahanam., aku tidak mungkin kalah olehmu.!'' rutuk Bidadari Berpayung Emas terperanjat bercampur gusar. sungguh dia tidak menyangka lawannya punya ilmu kesaktian seperti itu. tapi dia tidak mau kalah gertak. payung pedangnya terus menggebrak, cahaya emas senjatanya semakin berlipat tajam menyilaukan mata.


Tanpa dapat ditahan ledakan dua kekuatan terjadi. kedua wanita cantik itu sama terpental. meskipun cukup tercengang karena serangan jarum dan paku beracun yang sudah dilapisi ilmu kesaktian tinggi tetap tidak mampu merobek payung emas lawan, tapi dia tidak menjadi panik. jika tubuh Bidadari Berpayung Emas terpelanting kebelakang. Roro Wulandari saat terpental tubuhnya langsung mencelat tinggi ke udara.


''Haa., ha., mau bersaing denganku.? kurasa kau ini sudah terlalu lama bermimpi. jadi., cepatlah bangun dari tidurmu lalu pergi saja ke neraka.!'' Roro balas tertawa mengejek. lengan kiri mengibas, berpuluh jarum perak melesat. kipasnya menggebut, gulungan angin topan disertai titik- titik air panas menyapu ke bawah. jurus 'Angin Hujan Jarum Perak.!'


Bidadari Berpayung Emas memang bukanlah nama kosong, meskipun terkejut dengan jurus serangan lawannya, tapi sebagai pesilat wanita yang pernah menempati urutan empat dalam sepuluh pesilat muda yang terkuat pada masa lalu dia tidak menjadi panik. tanpa perlu merubah kedudukan kedua kakinya langsung menjejak bumi.


Jurus serangan 'Angin Hujan Jarum Perak' buyar ditengah jalan di hempas pusaran payung emas hingga bermentalan kesegala penjuru. beberapa tanpa sengaja melukai para anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' dan 'Pasukan Pedang Angsa Sakti'. masih dalam keadaan melayang di udara, Roro Wulandari harus menghadapi sambaran pedang emas yang datang seakan halilintar.


Biarpun kedudukannya tidak menguntungkan, tapi Roro tetap tenang. seiring tubuhnya yang mulai turun kipas peraknya berkelebatan cepat menangkis serangan pedang. denting senjata terdengar nyaring. meskipun tidak sampai terluka namun tetap saja hawa pedang lawan yang sangat tajam menyayat mampu merobek lengan jubah dan kerah leher bajunya.


Dewi Malam Beracun mengeluh tertahan. tubuhnya bergulingan ke tanah beberapa putaran sebelum berhenti tertahan sesosok mayat Pasukan Tombak Gergaji Iblis. senjata pedang dan payung maut Bidadari Berpayung Emas terus memburu. Roro sudah terpojok. ''Mampuslah kau perempuan sialan.!'' kutuk wanita itu bengis penuh dendam kesumat.

__ADS_1


Kedua mata bening dibalik rambut hitamnya yang terurai itu selintas bercahaya merah darah hingga Roro Wulandari terlihat sangat sadis. tanpa berusaha bangkit berdiri kipas peraknya dilemparkan menyusur tanah. kipas bercahaya perak berkelebatan laksana golok dari bawah naik ke atas. inilah jurus 'Kipas Mengejar Rembulan' yang mampu memburu kemanapun lawan bergerak.


Bidadari Payung Emas sungguh tidak mengira kalau dalam keadaan terdesak lawannya masih sanggup mengerahkan jurus kipas yang hebat hingga gerakan kakinya menjadi sedikit kacau dan tertahan. terpaksa dia gunakan pedangnya untuk menangkis kipas terbang lawan jika tidak ingin pahanya buntung. meski cuma sekejap saja pedang itu bergerak keluar dari jalur serangannya tapi sudah cukup celah bagi Roro untuk menyerang balik.


Tusuk kundai bulan emas sudah terlepas. rambut hitam lebat sepanjang pinggul terurai mengibas ke depan. berpuluh jarum beracun yang tersembunyi disana berhamburan. ''Huhm., hanya mainan inikah senjatamu yang terakhir.? kau hanya akan mempercepat kematianmu saja wanita sundal.!'' dengus Bidadari Berpayung Emas menghardik.


Masih setengah berlutut Roro melirik sinis. sejak awal dia sadar kalau kedua serangan jurus yang dia lancarkan tidak akan sanggup menembus pertahanan lawannya. karena kedua senjata Bidadari Berpayung Emas bukanlah senjata sembarangan yang mudah di tembus apalagi dihancurkan.


Karenanya dua jurus itu sengaja dipakainya sebagai pancingan belaka untuk mencari celah. ibarat kata daripada bersusah payah memaksakan diri mendobrak pintu besi untuk masuk ke sebuah gedung, akan lebih baik mencari lubang di tempat lain yang mudah dilewati. dan saat kesempatan itu muncul kesepuluh jemari tangan Roro sudah berubah merah membara dan berbau amis dengan kuku- kuku panjang melengkung menggidikan hati. 'Cakar Tengkorak Darah.!'


*****


Asalamualaikum., Salam sehat dan sejahtera selalu🙏. Maaf selalu lambat up date.


Mohon tulis komentar, kritik saran, like👍, vote, juga favorit jika anda suka. tolong bila berkenan share juga novel 13 Pembunuh dan Pendekar Tanpa Kawan ke teman" yang lain. Terima kasih. 🤗Wasalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2