13 Pembunuh

13 Pembunuh
Dalam Lorong Gelap.


__ADS_3

Keheningan malam yang mencekam hati itu masih menyelimuti pelataran luas di depan rumah Ki Ageng Bronto. delapan orang sisa anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang masih hidup sudah tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan pertarungan. meskipun mereka bukanlah kaum pengecut, namun jika seorang manusia sudah di hadapkan pada pilihan hidup dan mati, pastinya mereka akan berusaha mempertahankan nyawanya.


Itu sesuatu hal yang wajar dalam sebuah kehidupan. karena jangankan mereka, sang 'Putri Penjerat' alias si 'Laba- Laba Kuning' sebagai lawan merekapun juga sudah tidak punya niatan lagi untuk bertarung. kejadian yang baru berlangsung di depan matanya itu terlalu mengejutkan sekaligus menyeramkan untuk di saksikan.


Songgok mayat busuk yang di gerogoti beratus belatung merah hingga tersisa tulang dan sedikit daging berdarah, juga seekor serigala hitam raksasa yang terbaring dengan sisa gumpalan jantung manusia berlepotan darah di antara gigi dan taringnya yang tajam.


Dua sosok mahluk mengerikan itu baru saja menyelesaikan suatu pertarungan paling kejam yang pernah mereka saksikan dalam hidup. perlahan serigala hitam jejadian itu mulai bergerak menggeliat. empat kakinya berdiri gemetaran menyangga tubuhnya yang berbulu hitam dan berlepotan darah.


Kepala serigala siluman yang bukan lain adalah jelmaan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun itu mendongak ke langit. dengan sorot matanya yang semerah darah dia menatap rembulan yang perlahan lenyap di balik awan dan mulai bergerak condong ke arah barat. dari mulutnya keluar suara lolongan panjang yang keras menggidikkan hati.


Tubuh binatang siluman itu bergetaran dan menggeram keras seperti menahan rasa kesakitan. segulung kabut asap putih yang entah datang dari mana mendadak mulai menyelimuti sosok serigala itu hingga tidak terlihat apapun. suara menggeram dan meraung masih terdengar keras dari balik kabut, hingga pada ujungnya berganti jeritan dan rintihan dari mulut seorang perempuan.


''Roro., kau berada di mana, apa yang telah terjadi padamu.?'' suara teriakan seorang pemuda terdengar bersamaan dengan munculnya sebuah kereta kuda hitam yang menerobos pintu gerbang rumah Ki Ageng Bronto.


Pintu gerbang yang terbuat dari papan kayu tebal itu hancur berantakan di hantam satu ilmu pukulan sakti yang di lepaskan pemuda berbaju putih ini. kereta kuda hitam itu terus menerobos masuk hingga berhenti di tengah pelataran. si pemuda yang menjadi kusir kereta ini melompat tinggi ke udara terus melesat cepat menembus gumpalan kabut putih tebal yang menutupi pandangan.


Semua kejadian itu berlangsung begitu cepat hingga tidak seorangpun yang dapat melihat dengan jelas. bahkan Putri Penjerat juga tidak sempat mencegah si pemuda berbaju putih yang memang Respati itu untuk masuk kedalam gulungan kabut tebal.

__ADS_1


Keheningan terasa semakin mencekam suasana. perempuan bertangan buntung ini melirik tajam sisa anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis. ''Kalau masih ingin hidup., cepat buang topeng tengkorak kalian lalu pergi tinggalkan tempat ini dan jangan pernah lagi bertemu denganku.!'' bentak Putri Penjerat bengis.


Delapan orang anggota bawahan kelompok 13 Pembunuh itu sesaat saling pandang, lalu satu persatu membuka topeng tengkorak putihnya dan di buang ke tanah. setelah menjura hormat merekapun berkelebat pergi tinggalkan pelataran rumah Ki Ageng Bronto.


Si Laba- Laba Kuning hanya mengikuti dengan ujung matanya hingga tubuh mereka semua lenyap di kegelapan. sesaat kemudian perempuan berbaju kuning bekas pembunuh nomor empat dalam kelompok 13 Pembunuh itu mengeluh pelan bersamaan dengan tubuhnya yang jatuh bersimpuh. rupanya wanita cantik bertubuh kecil ramping ini sudah kehabisan tenaganya.


Putri Penjerat mulai mengatur pernafasan untuk memulihkan dirinya. sebenarnya jika pertarungan terus berlanjut bisa jadi dia akan kewalahan sebab sudah kalah tenaga menghadapi delapan sisa anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis itu. karenanya wanita ini coba menggertak lawan. beruntung mereka juga sudah kehilangan nyali untuk bertarung.


Waktu sepeminum teh berlalu. dari balik kabut putih yang sudah mulai memudar, samar- samar terlihat sesosok tubuh berjalan keluar menembusi kabut. si Putri Penjerat menarik nafas lega bercampur sedih melihat Dewi Malam Beracun yang terkulai lemah dalam gendongan Respati.


Tubuh dan paras wanita cantik itu terlihat lemas serta pucat. jubah gaun hitamnya yang basah oleh darah sudah robek besar terkoyak- koyak tidak berbentuk hingga dia terlihat nyaris telanjang.


''Tolong kau jaga Dewi Malam Beracun, ganti bajunya dan bersihkan juga tubuhnya. biar aku yang berjaga dan mencoba menyelidiki tempat ini..''


''Yang kau minum itu memang bukan obat sembarangan. obat pemulih tenaga sakti ini hasil racikan seorang tabib sakti yang tidak ingin di kenal oleh orang luar..'' ujar Respati memberikan beberapa pesan, sekaligus mencegah Putri Penjerat yang sepertinya ingin bertanya lebih jauh soal obat ajaib itu.


Perempuan cantik berbaju kuning dengan gulungan benang baja melilit di tubuhnya ini cuma mengangguk. sekali berkelebat dia sudah lenyap ke dalam 'Kereta Kuda Maut'. diam- diam dalam hatinya tersentak karena merasa gerakan tubuhnya lebih cepat dan ringan di bandingkan sebelumnya.

__ADS_1


Setelah menutup pintu kereta, Putri Penjerat cepat mengerjakan semuanya. dia tahu meskipun di antara si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' dan 'Dewi Malam Beracun' mempunyai hubungan istimewa, namun pemuda bekas pembunuh nomor tiga belas itu masih punya harga diri dan ksatria hingga merasa enggan mengganti pakaian lawan jenisnya.


Putri Penjerat sesaat sempat terpukau dengan keindahan tubuh Roro yang tanpa selembar benangpun. biarpun sesama wanita tapi tetap saja ada perasaan rikuh di hatinya. dengan tangan sedikit gemetaran dia membasuh tubuh itu dengan air hingga bersih lalu menutupinya dengan sehelai selimut.


Laba- Laba Kuning memandang sekeliling kereta kuda itu. meskipun sudah beberapa hari dia berada di dalamnya bersama dengan si nomor dua belas dan tiga belas juga tahu ada senjata rahasia yang terpasang di sana, tapi baru sekarang dia benar- benar mengerti kalau di dalam kereta ini benar- benar penuh dengan senjata rahasia yang mematikan.!


''Hhmm., Dewi Malam Beracun memang perempuan yang penuh rahasia. ilmu silat dan kesaktiannya bukan saja tinggi, namun pengetahuannya dalam membongkar pasang senjata rahasia serta ilmu racun tidak dapat di ukur lagi tingkatannya..'' gumam Putri Penjerat kagum bercampur rasa penasaran.


Sesuai dengan pesan Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis, sambil terus merawat rekannya sang Putri Penjerat juga berusaha memahami cara kerja semua peralatan penggerak senjata rahasia yang tertanam di sana. dengan demikian dia dapat segera menggunakannya jika terjadi sesuatu.


Sementara itu Respati yang sesaat masih berada di luar kereta kuda sudah melesat masuk ke dalam rumah besar Ki Ageng Bronto alias si 'Pendekar Golok Bayangan Setan'. bekas nomor sembilan dalam 13 Pembunuh. ada tercium bau anyir darah dari mayat yang sudah beberapa hari lewat saat Respati mulai masuk ke dalam.


Berbekal keterangan yang dia dapat dari Roro, pemuda itu terus berkelebatan memasuki ruang demi ruang. meskipun dia bergerak cepat tapi langkahnya sangat teratur dan penuh perhitungan, karena dia tahu di setial ruangan dan lorong yang ada disana tersimpan senjata rahasia serta jebakan maut. sedikit saja salah melangkah dapat menyebabkan kematian.


Pemuda murid si 'Maling Nyawa' itu berhenti bergerak. beberapa langkah di depannya terlihat sebuah lorong gelap dan panjang dengan bekas ceceran darah kering. beberapa sosok mayat berseragam hijau dengan topeng tengkorak putih yang sudah mulai membusuk terlihat bergelimpangan.


Respati menyeringai., pedang 'Iblis Hitam' perlahan di cabutnya bersamaan juga tangan kirinya telah siapkan pukulan sakti 'Kobra Kuning Penjebol Karang.!'

__ADS_1


''Jika kita sampai di tempat itu, susunan langkah kaki yang aku ajarkan pada kalian mungkin tidak akan ada lagi gunanya. karena saat itu Ki Ageng Bronto memintaku agar dia dapat merubah susunan peralatan rahasia sesuai dengan keinginannya., jadi aku tidak tahu apakah sekarang masih sama atau sudah dia ubah cara kerja dari peralatan rahasia yang aku pasang di rumahnya..''


Itulah pesan Roro Wulandari sebelum mereka tiba di rumah Ki Ageng Bronto. pendek kata Respati harus gunakan pikiran dan kepandaiannya sendiri untuk dapat melewati lorong gelap itu.


__ADS_2