13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pertarungan Roro. (bag2)


__ADS_3

Gerakan seperti menari yang diiringi dengan suara tangisan kesedihan dan uraian air mata darah itu adalah suatu pertanda kalau Roro Wulandari si 'Dewi Malam Beracun' sedang bersiap untuk lancarkan jurus kedua dari 'Kipas Darah Bulan Mentari' yang dinamai 'Bulan Mentari Berkabut Air Mata Darah.!'


Celakanya tidak ada seorangpun dari pihak lawan yang menyadari akan datangnya ancaman maut dari balik tarian aneh yang dimainkan wanita licin secantik bidadari kahyangan itu. seakan sukma mereka telah terbetot hingga tanpa terasa semuanya menjadi tertegun, bahkan hati mereka turut dilanda suatu kesedihan.


Maka saat kipas ditangan Roro mengibas datar perlahan lalu menghentak seiring suara jerit tangisan pilu dari bibirnya, sebuah sinar merah lebar membentuk kipas dengan garis- garis cahaya emas perak di tengahnya seketika menggebrak. hawa kabut berbau anyir disertai ribuan titik- titik air semerah darah turut mengiringi serangan jurus ini.


Dalam bertarung Roro tidak pernah mau tanggung- tanggung dalam menyerang lawan. jurus serangan sehebat itupun belum dirasa cukup baginya. Kipas Darah Bulan Mentari yang asalnya adalah senjata pusaka milik partai silat 'Kipas Sangkala' yang runtuh lebih tiga puluhan tahun lalu itu mendadak terlipat dan menutup rapat hingga menyerupai sebuah tongkat pendek.


Setelah sekali berputar dan tubuh sedikit membungkuk, tiba- tiba kipas di tangannya menotok lurus ke muka. sepintas lalu terlihat hanya sebuah gerakan jurus yang sederhana tapi kejap berikutnya melesat sebuah sinar merah darah seperti tombak dengan kilatan- kilatan seperti petir berwarna perak dan emas mengiringinya. ''Jurus ketiga dari Kipas Darah Bulan Mentari., 'Totokan Kipas Berdarah.!'' bentak Roro bengis.


Jika sebelumnya Roro menyerang dengan jurus- jurus kipas perak saja sudah membuat semua lawannya semburat ngeri bahkan ada yang terluka parah, apalagi saat sekarang dia memakai dua jurus ilmu kesaktian dari Kipas Darah Bulan Mentari. Ki Kala Mayit yang sudah kepayahan langsung menjadi korban. tanpa dapat menghindar lagi tubuh orang ini terpotong sebatas pinggang. saat potongan tubuhnya jatuh ke tanah, yang ada hanyalah dua onggokan daging dan tulang gosong berselimut darah busuk.!


Pucat pias muka semua orang. bahkan si Lengan Tunggal Pengejar Roh' yang terbiasa membunuh lawan dengan keji tanpa berkedip mata juga sampai tertegun. orang tua itu baru saja selesai memulihkan dirinya yang sempat luka dalam dan luar. meskipun dia belum sembuh seluruhnya tapi nyawanya masih dapat lolos dari intaian maut.


Teriakan ketakutan bercampur umpatan kotor terdengar keras. satu sosok pendek berkulit hitam penuh sisik melompat berjumpalitan ke udara. tanpa pernah disangkanya dialah yang menjadi sasaran dari jurus Totokan Kipas Berdarah. walaupun masih dapat selamatkan diri dari kematian tapi aliran darah pada jantungnya terasa sangat panas juga nyeri. dari atas udara sana 'Datuk Cebol Naga Guling' balas menghantam.!


Sepuluh larik cahaya hitam seolah cakar naga Iblis mencabik- cabik udara. dengan jurus 'Cabikan Jalur Hitam Naga Guling'. anggota baru dari 'Kelompok 13 Pembunuh' ini berniat membunuh Roro secepatnya meskipun dalam jiwa lelaki kate berwatak mesum itu juga merasa sangat tergoda dan bernafsu melihat kecantikan Dewi Malam Beracun yang memikat sukmanya.


''Mampuslah kau wanita setan.!'' bentak Datuk Cebol Naga Guling. jangan dikata orangnya sangat pendek, gerakan jurusnya selain cepat juga ganas. Roro hanya sunggingkan senyum sinis. dia seakan tidak mau perduli dengan ancaman maut yang datang melainkan terus menggebrak tiga pesilat aliran hitam lainnya yang sudah terdesak bahkan berniat kabur.

__ADS_1


Saat pukulan lawan datang menyambar, lima larik cahaya hijau berbentuk pisau- pisau tajam melengkung yang diiringi bayangan tengkorak hijau juga melesat memotong serangan. si Lengan Tunggal Pengejar Roh kembali turun tangan. jurus 'Cakar Pisau Hijau Setan Gentayangan' menggebrak memburu korban.!


'Whuuuss., whuuuss., sraatt.!'


'Bheeett., Braaakk., blaaarr.!'


''Aakh., Buntung tua keparat. kau benar- benar pengkhianat jahanam.!'' jerit Datuk Cebol Naga Guling. akibat bentrokan dua jurus sakti itu tubuhnya terpental kembali ke udara. ada tetesan darah yang tersembur dari mulutnya. jika saja dia tidak memiliki kulit bersisik hitam sekeras besi, pasti nyawanya sudah tamat tersambar pukulan sakti lawan.


Dalam sekejap saja kedua anggota Kelompok 13 Pembunuh ini sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit. walaupun secara tingkat ilmu kesaktian, nama besar dan pengalaman dalam dunia persilatan si Lengan Tunggal Pengejar Roh lebih hebat dibandingkan Datuk Cebol Naga Guling namun kulit bersisik sekeras besi hitam di tubuh lawan membuat si tua buntung ini kesulitan merobohkannya dalam waktu singkat.


Sekarang yang terlihat hanyalah sambaran sinar hijau dan hitam yang saling mencabik. tidak dapat lagi diketahui mana si buntung tua ataupun si cebol hitam. saking hebatnya pertarungan itu, jarak sepuluh tombak keliling angin yang berhembus seakan ikut berubah tajam menyayat kulit. sementara itu waktu pagi sudah mulai beranjak menuju siang hari.


Bahkan ada sekelebat ingatan terlintas di kepalanya. sekali lagi dia membentang kipas yang sempat terlipat. dari gerakan menotok, kini Roro Wulandari membuat tiga kali gerakan mengibas kipas ke udara. dengan memutar tubuh setengah lingkaran kipasnya lantas menggebut ke muka. untuk pertama kalinya wanita cantik itu gunakan jurus 'Kipas Penggulung Awan' dengan menggunakan senjata barunya.


Ini hanyalah sebuah percobaan jurus untung- untungan belaka karena belum pernah sekalipun Roro mencoba dalam latihannya. jika jurus itu ternyata gagal, dia sudah siap lontarkan pukulan 'Cakar Tengkorak Darah' juga lemparan senjata rahasia jarum atau paku terbang beracun untuk menyudahi pertarungan.


'Bheeeett., bheeett., whuuutt.!'


'Whuuuuss., wheeess.!'

__ADS_1


''Aaaakh., uuaaagk.!'' teriakan ngeri terdengar dari mulut ketiga lawannya saat segelombang angin sekeras dinding baja yang menebar hawa panas dan bau anyir darah melibas tubuh mereka hingga terpental lebih empat tombak jauhnya. gulungan kabut semerah darah turut pula mengiringi serangan jurus itu. meskipun mereka sudah mencoba untuk bertahan bahkan balas menyerang dengan pukulan dan tikaman senjata sakti tapi keburu disapu musnah ditengah jalan.


Roro Wulandari sama sekali tidak menyangka kalau tindakannya memadukan dua jenis jurus dan senjata yang berbeda yang dia lakukan secara dadakan ini bisa berhasil. dalam kepalanya segera muncul serangkaian jurus- jurus silat lainnya yang ingin juga dia coba untuk dipadukan dengan senjata Kipas Darah Bulan Mentari.


Jika saja dia sempat melatihnya lebih lama pasti hasilnya akan lebih baik. terbukti meskipun dengan sempoyongan dan sempat muntah darah tapi dua orang di antaranya, Ki Maung Gembong dan Ki Tongkat Cakrapati masih sanggup berdiri lalu tanpa bersepakat lebih dulu mereka berkelebat melarikan diri.


Walaupun sempat tertegun karena tidak mengira kalau lawan bakalan memilih kabur tapi Roro Wulandari tidak merasa gusar. kipas pusakanya dilipat lalu menghilang di balik pinggangnya yang ramping. selanjutnya kedua tangannya membuat gerakan yang berlainan. tangan kanan menghantamkan ajian Cakar Tengkorak Darah, sementara sebelah kiri mencengkeram dan mengibas.


''Kalau mau kabur setidaknya tentukan arah yang paling aman lebih dulu. dasar orang tua dungu.!'' gertak Roro memaki. entah cuma kebetulan atau memang sudah direncanakan, dari arah yang sama dengan kaburnya kedua orang itu, hanya berjarak beberapa langkah saja tergeletak kipas perak milik sang Dewi Malam Beracun yang sebelumnya berhasil menghabisi salah satu pesilat golongan hitam.


Seiring cengkeraman dan kibasan tangan Roro, kipas perak juga turut bergerak melesat cepat membabat bagian belakang paha juga pinggang kedua orang tua ini hingga gerakan larinya tertahan. saat itulah pukulan Cakar Tengkorak Darah datang mencabik punggung mereka hingga tembus ke rongga dada.


Dua tokoh jahat itupun terjungkal tewas dengan punggung tercabik hangus. sekali lagi tangan kirinya mengibas dan menyentak. kipas perak terbang melayang ke arah tangannya. dengan dua senjata kipas itu Roro merasa lebih percaya diri. sebelah ujung matanya melirik tiga orang yang entah sejak kapan sudah tiba di sana.


Setelah menonton dirinya bertarung, ketiga orang pendatang yang bukan lain Satriyana, 'Maling Nyawa' dan si 'Malaikat Copet' ini beralih pandangan pada pertarungan si tua tangan buntung dengan si Cebol hitam yang sudah semakin terdesak. ''Kalian bertiga mampir ke warung makan dulu yah., lambat sekali datangnya..'' cibir Roro. ketiganya cuma bisa nyengir berpura- pura tidak mendengar.


''Aaish, aku maklumlah. manusia semakin tua pasti makin lambat jalannya. kurasa kalian sudah waktunya untuk pensiun..'' ucap Roro seenaknya. dengan selembar sapu tangan hitam bersulam bulan sabit emas perempuan ini menghapus keringat ditubuhnya. terakhir dia sempat- sempatnya mengendusi kedua ketiaknya yang berbulu lebat. ''Eehm., kurasa tidak masalah. baunya masih wangi kok..'' gumamnya. (hiieeks.,🤢🤮 hoeekk..)


..........

__ADS_1


Maaf🙏 jika ada tulisan yang tidak berkenan. silahkan menuliskan komentar Anda. Trims👏.


__ADS_2