
Secara bersamaan si 'Maling Nyawa' dan 'Malaikat Copet' masuk ke dalam pintu goa rahasia yang sempit, sementara kedua orang penjaga goa juga sudah bisa kembali bangkit berdiri meskipun masih merasakan kesakitan akibat sempat bertarung dan dihajar oleh si Malaikat Copet saat dia hendak memaksa masuk ke dalam goa.
Dalam ruangan goa batu itu mereka bertemu dengan Roro Wulandari dan Satriyana. Malaikat Copet sempat tertegun melihat keturunan dari keluarga 'Istana Angsa Emas' itu. meskipun tidak dapat memastikannya tapi pimpinan perkumpulan 'Maling Kilat' itu merasa kalau pancaran aura kemuliaan juga kesaktian gadis itu sudah sangat berkurang, bahkan nyaris hilang.
Sebagai seorang tokoh silat kawakan yang sarat pengalaman, orang tua berblangkon hitam dan suka menghisap pipa cangklong besi yang menebarkan asap tembakau bercampur kemenyan itu hampir pasti dapat merasakan perbedaan antara orang berilmu kesaktian tinggi dengan manusia umumnya, sekalipun orang tersebut sengaja berniat menyembunyikan ilmu kepandaiannya.
''Sepertinya ada suatu perubahan yang aneh dengan pancaran aura dari dalam tubuh gadis itu. apa kau tahu kenapa Maling Nyawa.?'' tanya rekannya setengah berbisik. ''Eehm., iitu., itu aku cuma bisa bilang kalau sudah terjadi sebuah kesalahan kecil antara muridku dengan Satriyana. tapi itupun tidak di sengaja..'' setengah nyengir Maling Nyawa menjawab.
''Mungkin karena kejadian inilah pewaris Istana Angsa Emas itu kehilangan sebagian besar hawa kesaktian di tubuhnya. malahan kini Respati yang meningkat tajam ilmunya bahkan sudah mampu menembus ke tingkat terakhir dari ilmu kesaktian yang terdapat di dalam kitab pusaka 'Kobra Iblis'. namun yang hilang darinya adalah garis aura kesaktian 'Darah Keabadian' saja. ilmu silat yang dia dapat diluar itu kurasa masih ada dalam dirinya..''
Walaupun semua yang dikatakan rekannya tidak begitu jelas tapi Malaikat Copet pada akhirnya tetap dapat mengetahui maksudnya. ''Huhm., mau apalagi. semua sudah terlanjur terjadi. ini mungkin adalah takdir dan ada hikmahnya tersendiri..'' dengus Malaikat Copet sembari sedot pipa cangklongnya.
''Heii., dua orang tua. apa yang sedang kalian bicarakan.?'' tegur Roro Wulandari curiga sambil bertolak pinggang. Malaikat Copet seperti baru menyadari akan adanya sosok 'Dewi Malam Beracun'. di bawah cahaya api obor penerang goa tubuh wanita secantik bidadari kahyangan yang cuma memakai pakaian dalam baju kutang hitam dibagian atas tubuhnya ini terlihat memukau, apalagi dengan gayanya yang rada angkuh. Malaikat Copet tanpa sadar menelan air ludahnya.
''Hee., he., kau jangan banyak curiga bocah ayu. sekarang semua yang kami rencanakan telah berjalan sesuai dengan perkiraan. hari sudah menjelang pagi. kita harus menyusul Respati dan kawan- kawan lainnya yang pastinya sedang bersusah payah bertarung melawan 'Kelompok 13 Pembunuh' yang mungkin sudah bersekutu dengan para tokoh silat golongan hitam..'' tukas Maling Nyawa terkekeh.
__ADS_1
''Tapi sebelum kita kesana, apakah kakak Dewi yakin tidak mencari pakaian yang lebih pantas dulu.?'' tanya Satriyana rada berbisik sembari melirik tubuh putih mulus yang sebagian di timbuhi bulu- bulu halus kakak angkatnya itu dengan pandangan risih. biar bagaimanapun juga seorang wanita cantik yang hanya memakai pakaian dalam berupa selembar kutang hitam penutup buah dada dan perut di bagian atas tubuhnya jika dia keluar di keramaian pasti akan menimbulkan anggapan miring bagi sebagian orang.
''Apa yang salah dengan yang aku kenakan ini. kalau mereka suka melihatnya silahkan saja, sebaliknya jika tidak senang tinggal tutup mata. ini tubuhku sendiri mau kuapakan juga tidak ada urusannya dengan orang lain. lagi pula jubah luarku sudah kau pakai sebagai penutup tubuhmu. kalau jubah gaun hitam itu aku ambil kembali, memangnya tuan putri Satriyana mau telanjang bulat.?'' semprot Dewi Malam Beracun setengah menyindir. seketika Satriyana diam menunduk tidak berani bicara lagi.
.....................
Sesosok tubuh tua kurus berparas dingin dan kejam itu terus menatap gulungan ombak lautan yang sangat keras menghantam bibir pantai karang hingga menimbulkan beberapa pecahan batu. angin laut yang berhembus kencang mengibarkan kain lengan bajunya sebelah kanan yang kosong pertanda lelaki tua ini seorang buntung.
Kakek bermuka bengis dan dingin yang bukan lain adalah si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' ini terus menatap ke tengah samudra luas yang terbentang di depannya. karena saat itu dia berada di atas sebuah tonjolan batu- batuan karang yang tinggi kepalanya mesti sedikit menunduk ke bawah agar dapat mengamati permukaan lautan yang semakin bergelora seakan hendak mengamuk.
Tidak seberapa lama kemudian di tengah samudra luas yang bergulungan ombak terlihat satu pusaran air yang semakin lama bertambah membesar hingga membentuk sebuah lubang gelap besar dan dalam. dari tengah pusaran lubang itu keluar suara menggaung seram di sertai kilatan- kilatan cahaya aneh berwarna kemerahan.
Berikutnya dari kedalaman lubang muncullah sesosok tubuh besar setinggi hampir dua tombak dengan wujud manusia bersisik mirip ular namun memiliki kepala menyerupai seekor naga dengan taring tajam mencuat . sepasang sayap terbentang dan mengepak keras dari belakang punggungnya nampak menyiratkan hawa hitam kemerahan.
Mahkluk aneh tapi juga sangat menyeramkan dengan kedua mata seperti kobaran api ini terbang berputar sekali sebelum melayang di atas lubang hitam pusaran air. sementara itu langit terlihat bergemuruh dengan suara guntur juga kilat yang menyambar bersautan, sekan badai prahara bakal melanda seluruh alam.
__ADS_1
''Salam hormatku pada yang mulia 'Datuk Naga Wisa' sang penguasa lautan dan pulau 'Seribu Bisa' ini. saya mendapatkan tugas untuk memberikan persembahan gadis suci untukmu lebih cepat dari perjanjian karena pulau ini mungkin sedang berada dalam ancaman dari luar hingga kami perlu untuk bekerja lebih keras selama sebulan kedepan. karena itu pimpinan merasa khawatir upacara wanita persembahan untuk Datuk Naga Wisa akan terlupakan..'' ucap si tua buntung sambil membungkuk hormat.
''Sebab itulah ketua 13 Pembunuh menyuruh diriku untuk memberikan gadis persembahan padamu lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan sesuai perjanjian. harap engkau sudi menerimanya..'' tanpa menunggu lagi si Lengan Tunggal Pengejar Roh sentakkan bahu kirinya. wanita yang tertelungkup disana seketika terlempar ke depan.
Mahkluk siluman yang konon adalah bekas salah satu bawahan Nyi Roro Kidul itu segera membuka mulutnya lebar- lebar. dari dalam tenggorokannya keluar cahaya merah yang membentuk lingkaran- lingkaran aneh. kain penutup tubuh wanita malang itu tersibak lepas hingga dia terlihat bugil. selanjutnya mulut Datuk Naga Wisa yang terbuka makin membesar lalu menyedot masuk wanita itu hingga masuk ke dalam mulutnya yang semerah darah.
Suara meraung keras tersembur dari dalam perut siluman naga itu. mahkluk penguasa lautan di sekitar pulau Seribu Bisa sempat terbang berputar sekali sebelum masuk kembali ke dalam lubang besar pusaran air. tidak lama kemudian gelombang bergulungan di tengah samudra yang tadinya mengamuk perlahan menjadi lebih tenang.
Raut muka dingin dan bengis dari si Lengan Tunggal Pengejar Roh yang terus menunduk hormat perlahan terangkat. sempat terdengar satu hembusan nafas halus penuh kelegaan yang keluar dari mulutnya. sekilas terlihat ada suatu seringai licik tersungging di bibir peotnya yang pucat. dalam hati dia merasa sangat lega karena rencananya berhasil.
Walaupun terlihat sederhana yang mudah untuk di lakukan, sebenarnya semua yang telah dia lakukan ini jauh lebih menegangkan jika dibandingkan saat berhadapan dengan seorang tokoh silat kelas wahid sekalipun. karena sekali saja mahkluk siluman itu sadar akan tipu muslihatnya sebelum dia menelan wanita persembahan darinya, sangat mungkin si tua buntung ini akan celaka atau bahkan mati terbunuh. sekali berkelebat tubuhnya lenyap dari pantai karang.
..........
Terima kasih sudah mau menunggu lanjutan novel 13 Pembunuh ini yang updatenya lambat😊🙏. Semoga semuanya sehat selalu. Amin.
__ADS_1