13 Pembunuh

13 Pembunuh
Dia telah datang.!


__ADS_3

Waktu sudah melewati tengah malam, suasana dalam lembah itu semakin terasa mencekam membuat hati semua orang disana menjadi berat dan tertekan. hawa membunuh menyelimuti udara. jemari kiri Sabarewang mencekal pedang buntungnya semakin erat. tangannya yang besar kekar dan berbulu sampai keluar otot- ototnya.


Birunaka dan Jurata juga tidak ada bedanya. golok dan pentungan sakti ditangan mereka sudah siap melabrak. diantara keduanya Birunaka yang paling merasa gelisah dan bersalah. bagaimanapun jatuhnya Satriyana ketangan lawan membuat pemuda itu merasa tertampar mukanya dan panik.


Roro Wulandari membuat suatu gerakan aneh dan samar. kipas peraknya yang terentang mengibas halus didepan dadanya. sepasang kakinya perlahan bergeser beberapa langkah ke sebelah kanan, sekarang dia berdiri agak menjauhi kelompoknya. semua yang dilakukan terasa begitu wajar dan luwes.


''Malam ini udara terasa panas, mungkin sebentar lagi akan turun hujan..'' gumamnya mendongak ke langit sembari terus mengipas dengan gaya anggun. ''Huhm., rupanya si Dewi Malam Beracun sudah putus harapan hingga bicara omong kosong.!'' geram si Raja Lutung. meskipun begitu dia justru semakin waspada dengan tingkah aneh wanita didepannya yang sangat licik.


Tiga orang bekas anggota Kelompok 13 Pembunuh terlihat hanya sekejap saja tegang. tapi kini mereka justeru hanya diam tanpa tanpa menunjukkan suatu kepanikan saat melihat sikap tenang Dewi Malam Beracun. seulas senyuman tipis tersungging di bibir indahnya. anehnya., Satriyana yang masih tertotok dan dalam cengkeraman 'Raja Lutung Merah Berlengan Delapan' juga tidak terlihat khawatir.


Semua ini juga tidak terlepas dari perhatian 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' dan para bawahannya. dalam hati mereka sama- sama membatin, ''Kenapa si nomor dua belas masih begitu tenang menghadapi keadaan ini, Aah., wanita cantik itu pasti sedang menggunakan otak setannya untuk membalikkan keadaan. aku jadi penasaran siasat licik apalagi yang akan dia lakukan.?''


''Hek., hee., kalian semuanya pasti tidak pernah menyangka kalau diriku adalah anggota dari kelompok 13 Pembunuh. saat Kamajaya si 'Pendekar Romantis Pencabut Nyawa' datang menemuiku dan mengajak untuk bergabung, jelas diriku menolaknya karena bagaimanapun juga 13 Pembunuh sudah menjadi bagian dari kaum pengkhianat Istana Angsa Emas. bahkan aku sempat melabraknya sampai akhirnya aku terjungkal diujung tiga pisau terbangnya..''


''Itu semua bukan karena ilmuku lemah. jurus 'Delapan Lengan Lutung Baja Membara' yang kebal senjata dan pukulan sakti kuyakin pasti mampu menahan serbuan pisau iblisnya. tapi., kecepatan pisau orang ini sungguh diluar nalar. bahkan aku kalah tanpa sempat untuk menangkis sambaran pisau terbangnya. pisau itu seperti dikendalikan oleh tenaga iblis.!'' tutur Raja Lutung Merah gemetaran. dia masih teringat pada kejadian itu. Respati yang mendengarnya cuma mendengus hina.


''Kamajaya bisa saja membunuhku saat itu juga, tapi dia kembali memberiku pilihan untuk mau bergabung dengan 13 Pembunuh. orang ini malah memberiku waktu yang lama untuk menentukan pilihan. bahkan diluar dugaan, setelah memberiku obat penyembuh luka akibat pisau beracunnya dia berbalik pergi hendak meninggalkanku begitu saja..''


''Jelas diriku merasa heran, lalu aku bertanya jika bergabung dengan 13 Pembunuh apa yang bisa kudapatkan. tuan Kamajaya bilang, sang ketua kelompok 13 Pembunuh akan memberiku benda pusaka yang sudah lama kuidamkan di ruangan rahasia Istana Angsa Emas berupa arca purba dari tanah hindustan. patung 'Dewa Kera Anoman' yang menyimpan kesaktian luar biasa Haa., ha.!''

__ADS_1


''Untuk apa kau mengumbar kehebatan ilmu lempar pisau orang gila yang sudah menjadi bangkai. asal kau tahu saja akulah yang telah membunuh si banci pecundang itu. lemparan pisau yang tanpa tandingan katamu.?'' jangan coba melawak disaat kau mendekati ajalmu.!'' bentak Respati gusar.


''Bocah bangsat., kau berani memakiku. cepat katakan maksud ucapanmu atau aku patahkan leher gadis ini.!'' rutuk Raja Lutung tua marah sembari memberi isyarat pada beberapa anak buahnya untuk melindunginya. ''Raja Lutung., kesalahanmu benar- benar tidak terampuni. jika sedikit saja putri Satiyana terluka. kau akan merasakan siksaan kematian yang paling menyakitkan.!'' teriak I Gede Kalacandra. dia hampir saja nekat melabrak jika saja tidak di tahan rekannya.


''Kau simpan saja tenagamu Dewa Serba Putih, orang ini tidak akan berumur panjang. saat lutung tua jelek itu menyadari apa yang telah kulakukan, semuanya sudah terlambat. Hik., hik, hii.!'' ujar Roro tertawa mengikik seseram kuntilanak hingga membuat hati semua orang merinding. ''Hei lutung tua., kau sendiri yang mencari penyakit. sekarang rasakan akibatnya jika berani menyakiti adik sang 'Dewi Malam Beracun.!''


Raja Lutung Merah Berlengan Delapan geram mendengus. ''Meskipun dirimu ahli menebar racun, tapi apa yang bisa kau lakukan padaku. aku juga biasa menggunakan racun untuk membunuh lawanku. jadi., semua tipuanmu tidak akan berguna. termasuk cara menebar racun melalui udara seperti yang pernah kau lakukan pada 'Sepasang Kupu- Kupu Darah' karena aku sudah meminum obat penangkal racun sebelum bertindak. Hek., he.!''


Mau tidak mau Roro juga Respati terkesiap juga, rupanya peristiwa penyegatan Sepasang Kupu- Kupu Darah dan Ki Suket Gajah pada mereka yang menumpangi 'Kereta Kuda Maut' beberapa bulan lalu juga dalam pengamatan orang persilatan. setelah sesaat terdiam Roro kembali sunggingkan senyuman liciknya.


''Wah, hebat juga telingamu., aku berani bertaruh semua kabar itu pasti kau dapatkan dari pihak 13 Pembunuh. tapi sayangnya berita yang kau dengar cuma benar sebagian saja, karena racun yang kutebar sekarang., sedikit berbeda. saat ini pasti kau sudah merasakan perubahan didalam tubuhmu. Hik., hi., dasar lutung tolol, matilah dalam kebodohanmu.!''


''Saat ini ada dua macam jenis racun yang telah menyerangmu. jika hanya satu saja tidak akan ada masalah. tapi kalau kedua macam racun itu bertemu, akibatnya akan sangat mengerikan. kulit tubuhmu secara perlahan terkelupas. meskipun kau punya ilmu kebal senjata sakti juga tidak ada gunanya. karena dua jenis racun itu jika sudah bersatu akan menyerang dari luar dan dalam tubuhmu.!''


''Ibarat lembaran dedaunan, ranting kering, juga minyak yang mudah terbakar, selama jauh dari panas dan api dia akan tetap aman. tapi jika sampai tersulut, whuuusss., semuanya pasti bakal terbakar musnah. demikian pula jenis racun halus pada pakaian Satriyana selama tidak tercampur dengan racunku, tidak akan terjadi apapun. bahkan memakannyapun juga tidak masalah. tapi hasilnya berbeda kalau kutambah racun dariku., kau pasti mampus.!''


''Aah., karena baru beberapa hari lalu aku ciptakan bersama Satriyana, sampai sekarang kami berdua belum sempat memberi nama pada racun ini. Eehm., bagaimana kalau kuberikan nama 'Racun Monyet Dungu' saja, bagus tidak. Hik., hi.?'' ejek Roro tergelak.


Karuan saja si Raja Lutung Merah Berlengan Delapan menggembor marah, namun dari mulutnya tidak terdengar suara apapun melainkan semburan darah busuk kehitaman. dengan mata mendelik dan tubuh gemetaran menahan rasa sakit yang teramat sangat, kulit tubuh lutung tua itu mulai pecah terkelupas seakan dikuliti pisau tajam. mulai dari tangan, lengan, perut, dada hingga naik ke wajah. hampir sekujur tubuh orang ini berubah menjadi manusia darah. semua orang terperanjat dan bergidik melihat kejadian yang sangat mengerikan itu.

__ADS_1


Roro dan Respati bergerak secepat kilat. sekali pedang Iblis Hitam membabat, tiga pengawal si Raja Lutung Merah di buat terjungkal roboh. Satriyana yang tidak tahan melihat kejadian seram itu sudah terkulai pingsan saat Roro menyambar tubuhnya dari cengkeraman si Raja Lutung. meskipun begitu darah busuk bercampur racun sempat membasahi pakaiannya. semua orang Istana Angsa Emas merasa khawatir melihatnya.


''Kalian jangan cemas., sebelumnya Satriyana sudah kuberikan obat penawar racun. semua ini memang kami berdua yang merencanakan secara diam- diam untuk berjaga- jaga saja. karena terus terang pada awalnya kami tidak dapat mempercayai kalian dari pihak Istana Angsa Emas. jadi jika perundingan kita gagal dan kalian sampai berbuat nekat merebut adik angkatku ini., maka apa yang di alami si Raja Lutung bodoh itu akan terjadi pada diri kalian.!'' terang Dewi Malam Beracun dingin.


Semua anggota Istana Angsa Emas bergidik ngeri mendengar cara wanita cantik itu dalam membuat perangkap beracun yang sangat sadis dan keji, karena berani menggunakan tubuh manusia sebagai perantara untuk meracuni orang lainnya adalah sungguh diluar nalar. mungkin bisa disebut., tindakan gila.!


Disaat semua orang masih terperangah melihat sosok tubuh Raja Lutung tua yang terkapar menjadi onggokan daging tulang berdarah busuk menyengat hidung, dari atas perbukitan yang mengelilingi lembah itu terdengar suara jeritan ngeri beberapa orang perempuan yang disusul melesatnya sebuah panah berapi kuning.


''Celaka., itu suara jeritan anak buahku, mereka juga sempat melepaskan panah berapi tanda isyarat bahaya. Aah sial., jangan- jangan..'' Roro Wulandari tidak sempat lagi berkata karena dari satu arah melesat satu cahaya merah menyala bagai api iblis neraka yang semakin membesar bagai bola api raksasa. ''Awas., cepat menyingkir.!''


Dengan segala upaya semua orang berkelebat menghindar. beberapa nekat melepaskan aji kesaktian mencoba menghancurkan bola api itu, tapi seketika gagal musnah tanpa sisa. ledakan sangat keras yang menggoncang seantero lembah terjadi, sampai membuat tanah terbongkar berlubang sebesar gajah. hawa panas terasa membakar udara. kulit tubuh semua orang seakan panas melepuh.


Perlahan semua orang bangkit berdiri, dengan menahan rasa sesak dan panas mereka coba melihat ke dalam lubang besar. disana hanya ada tanah yang terbongkar hangus menghitam dan sebuah benda bulat sebesar telapak tangan berwarna merah darah berselimut api. jika orang Istana Angsa Emas tidak mengenali benda itu, lain dengan empat orang bekas anggota 13 Pembunuh. hati mereka terasa dingin dan seram, bahkan juga ada ketakutan.


''Di., dia., akhirnya dia benar- benar datang kemari..'' desis Putri Penjerat alias si Laba- Laba Kuning gemetaran. ''Orang itu., dia., dia pasti tidak datang sendirian..'' Ki Ageng Bronto si 'Pendekar Golok Bayangan Setan' turut bergidik ngeri. tanpa sadar orang ini meraba telinga kirinya yang sumplung.


Orang tua bergelar Tuan Sesepuh Pelindung Istana seakan merasakan suatu pertanda buruk. ''Hawa kematian ini., kenapa aku seperti pernah merasakan sebelumnya. ''Siapa yang mereka maksudkan sebagai dia.?'' gumamnya tanpa sadar. ''Dialah si nomor satu. lempengan bulat berapi itu adalah tanda pengenalnya. sang ketua kelompok 13 Pembunuh., sudah datang kemari.!'' jawab Respati menarik nafas berat hingga membuat hati semua orang seketika menjadi dingin.


*****

__ADS_1


Asalamualaikum., Salam sejahtera dan sehat selalu. maaf🙏 ada beberapa tulisan yang hilang terhapus saat authornya mengirimkan bab cerita ini ke saya, terpaksa saya kira- kira sendiri agar dapat menyelesaikannya. jadi maaf kalau terasa berantakan dalam penulisannya👏. Terima kasih. Wasalamualaikum.


__ADS_2