13 Pembunuh

13 Pembunuh
Permainan muslihat


__ADS_3

Jauh di seberang selatan tanah jawa, ada sebuah pulau terpencil yang belum pernah didarati kaum nelayan, selain letaknya sangat jauh dan ombak besar setinggi bukit selalu melanda lautan, konon di pulau itu juga dihuni ribuan binatang berbisa, seperti ular, kelabang, tawon, kalajengking, dan laba- laba beracun, bahkan ada yang bilang kalau lalat dan semut juga semua tumbuhan yang ada dipulau 'Seribu Bisa' itu mengandung racun mematikan. meski begitu bukan berarti pulau ini tidak berpenghuni,


Setidaknya ada lima orang yang sedang duduk diatas sebuah kursi batu mengelilingi sebuah meja pualam putih.


Salah satu kursi batu itu terlihat lebih tinggi dibandingkan empat kursi lainnya, letaknya seakan sengaja dibuat membelakangi meja. hingga tidak terlihat siapa orang yang duduk disana. empat orang yang duduk diatas kursi batu itu terlihat bersikap seenaknya, ada orang bertubuh gemuk dan berperut buncit sedang minum arak hingga berkendi- kendi, dua orang lainnya sedang bermain dadu, seorang bermata sipit seperti buta, seorang lagi hanya punya sebelah lengan, taruhannya siapa yang kalah harus menelan satu binatang beracun yang ada di sana.! asal tahu saja disekeliling mereka ada ratusan binatang berbisa sedang mengepung, tapi mereka tidak berani mendekat dalam jarak lima tombak keliling, seakan ada dinding tak terlihat yang mengelilinginya. seorang lagi lebih terlihat tenang, dia lelaki tampan berumur empat puluh tahunan yang sedang mengukir patung kayu dengan menggunakan sebilah pisau keci yang sangat tajam.


''Apakah sudah kalian dapatkan berita mengenai anak yang menjadi buruan kita ada di mana.,?'' tanya orang yang duduk membelakangi meja.


Keempat orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing- masing mendadak terdiam,


salah seorang dari penjudi yang bermata sipit itu memberanikan diri menjawab, ''Belum ada berita apapun mengenainya, padahal aku juga sudah menyuruh banyak sekali anak buah untuk menyelidikinya. tapi., selalu saja menemui jalan buntu., malahan aku mendapat kabar yang sangat menarik.!''


''Menarik bagaimana.?''


''Ada berita kalau dua orang bekas anggota kita di kelompok 13 Pembunuh telah muncul kembali, satu masih hidup seorang lagi mati terbunuh.!''


Orang yang duduk membelakangi meja putar kursinya, kini terlihat siapa orang itu, sesosok tubuh manusia berjubah kuning keemasan, didadanya ada sulaman seekor angsa, wajahnya tertutup topeng besi berbentuk tengkorak menyeramkan. ''Siapa kedua orang yang kau maksud.?'' tanya si topeng tengkorak, rupanya dia cukup tertarik dengan berita ini. demikian juga ketiga orang lainnya, ''Nyai Bawang, bekas nomor dua belas, dan Jagal Golok Buntung bekas nomor sembilan. sepertinya mereka saling bunuh, dan Nyai Bawang menang.!''

__ADS_1


''Berita yang sangat menarik., terus selidiki semuanya, karena aku merasa ini ada hubungannya dengan buruan kita.! mungkin juga sudah waktunya bagi kita untuk menyebarkan berita tentang bayi itu.!'' ujar si topeng tengkorak.


''Lalu bagimana dengan kotak yang ada pada anak muda itu., apakah perlu di sebarkan juga.?'' tanya orang yang sedari tadi mengukir kayu. ''Jangan dulu., aku masih butuh barang itu beserta seluruh isinya..''


''Permainan ini rasanya mulai menjemukan hatiku, sebaiknya kita sulut saja apinya, biar makin ramai.,!'' koar si perut buncit sambil habiskan arak dikendinya lalu dia tertawa terbahak, kecuali penjudi yang berlengan tunggal , semua orang di sana juga ikut tertawa keras hingga membuat seantero pulau itu berguncang karenanya.!


Menjelang siang nampak sebuah kereta kuda sedang bergerak menyusuri jalanan yang membentang panjang ditepian sebuah hutan. meskipun bukan jalan utama menuju kotaraja, tapi beberapa pejalan kaki maupun rombongan berkuda cukup sering melewatinya. terutamanya kaum pedagang dari Punggingan yang hendak menuju Wonokerto kebanyakan lebih memilih lewat jalan ini karena lebih aman dan ramai. sebenarnya ada jalan lain yang lebih dekat untuk sampai ke kadipaten Wonokerto, tapi jalan itu cukup sepi dan agak berbahaya karena berada di bawah tebing perbukitan.


Kali ini yang menjadi kusir kereta itu adalah Respati, Sabarewang dimintanya istirahat untuk merawat luka di lengan bahu kanannya, mulanya orang ini bersikeras menolak, tapi begitu Dewi Malam Beracun yang bicara dia langsung menurut tanpa berani membantah. untuk pertama kalinya Sabarewang berada didalam kereta kuda itu bersama wanita yang menjadi majikannya.


Satriyana mengganti kain pembalut luka di lengan Sabarewang, sementara Dewi Malam Beracun terlihat menyuapi bayinya sambil bercanda. meskipun begitu sesekali dia mengintai keadaan di luar sana melalui lubang rahasia yang ada di dalam kereta kuda. walau sudah berulang kali Satriyana mengamati isi ruangan dalam kereta kuda itu, tapi dia tetap saja heran sekaligus takjub dengan apa yang dilihatnya.


Hampir seluruh dinding ruang kereta itu dipasangi senjata dan peralatan aneh, seperti pisau, panah, rantai besi dan tuas- tuas pengendali senjata rahasia. juga terdapat beberapa tabung pipa besi, dan masih banyak lagi yang lain.


Sebuah kotak kayu besar dengan gantungan tiga buah gelang besi terpasang diatap kereta, sepintas Satriyana melihat ada beberapa gulungan pegas besi didalamnya. dia penasaran bagaimana cara kerja semua benda aneh ini.


Dewi Malam Beracun membaringkan Anggana yang tertidur, mungkin bayi itu sudah lelah bergurau dan kekenyangan.

__ADS_1


''Aku memintamu untuk berada di dalam kereta kuda selain agar kau dapat merawat lukamu, juga karena aku yakin dalam perjalanan ini akan ada yang mencoba menghalangi kita,! 'Karenanya aku perlu orang untuk mengendalikan tuas penggerak alat rahasia, tadi aku sempat melihat keluar, dijalan ada beberapa orang persilatan yang sepertinya juga menuju Wonokerto..'' ujar wanita cantik bejubah hitam itu.


Baru saja Sabarewang hendak bicara, mendadak terdengar Respati mengetuk dinding depan kereta sebelah kiri dengan irama tertentu. itu adalah isyarat kemungkinan adanya bahaya dari sebelah kiri kereta kuda, Dewi Malam Beracun beri isyarat agar mereka tetap tenang sementara dia sendiri cepat beringsut kekiri untuk mengintai lawan lewat lubang rahasia yang dibuatnya bersama Sabarewang.


Lubang rahasia itu ukurannya cuma sebesar biji buah kelengkeng, tapi meskipun dengan lubang sekecil itu orang dapat melihat keluar dengan jelas dari dalam kereta, karena ada cermin kaca khusus yang dapat membuat pandangan mata orang menjadi lebih jelas. cermin itu berbeda dengan yang biasanya, karena bentuknya agak menggelembung di kedua sisinya. ''Ada dua orang perempuan muda berbaju merah, wajahnya lumayan cantik., meskipun tidak secantik diriku tentunya.!'' gumam Dewi Malam Beracun. Sabarewang dan Satriyana cuma saling pandang dan tersenyum geli mendengarnya.


''Mereka sengaja berkuda dengan menjaga jarak agak di belakang kereta kuda, keduanya membekal pedang dipunggungnya.!''


''Aah., ada satu lagi, sekilas dandananya mirip seorang pencari rumput, wajahnya tertutup caping daun pandan, dia berkuda sambil menarik seekor keledai yang di punggungnya penuh dengan kayu bakar, dan keranjang berisi rumput.,''


''Beberapa kali orang ini tertinggal jauh dibelakang kita, tapi sebentar saja sudah dapat kembali menyusul.!'' Wanita itu membalik dan langsung beralih mengintai ke dinding kereta sebelah kanan, saat mendengar Respati kembali mengetuk dinding depan kereta kuda.


Hanya sebentar saja dia mengintai, wajah cantiknya terlihat pucat menegang, lalu perlahan maju ke depan, dia sedikit membuka jendela kecil yang ada di belakang kusir. ''Orang yang ada di sebelah kanan itu, kau bisa mengatasinya.?'' bisiknya pada Respati. yang ditanya cuma menghela nafas tanpa menjawab. Dewi Malam Beracun sandarkan dirinya kedinding kereta lalu pejamkan matanya sebentar, tidak biasanya wanita yang selalu percaya diri ini bersikap seperti itu, seakan ada rasa cemas dan keraguan di hatinya. Sabarewang dan Satriyana sampai ikut terbawa suasana mencekam, tapi tidak berani bicara apapun. dalam hatinya mereka penasaran siapa orang yang mampu membuat wanita cantik yang selalu tinggi hati itu begitu tegang dan khawatir.


Perlahan Dewi Malam Beracun membuka kedua matanya, kini pandangannya kembali menyorot tajam penuh semangat dan hawa membunuh. Satriyana bergidik ngeri melihatnya, ''Baiklah., kalau memang mereka berniat menjual, aku pasti akan membelinya dengan harga yang pantas.!''


Wanita itu menunjuk dua orang didepannya,

__ADS_1


''Kau jaga Anggana, kuserahkan dia padamu.,'' pesannya pada Satriyana. ''Nah Sabarewang., waktunya kita tunjukkan kehebatan Kereta Kuda Maut ini.!'' ujar Dewi Malam Beracun.


__ADS_2