13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pencuri Tua Berjari Buntung


__ADS_3

Dua orang tua muda terlihat sedang duduk mencangkung diatas dahan sebatang pohon trembesi yang besar dan lebat daunnya. satu diantaranya adalah seorang tua enam puluh tahunan berpakaian kain tebal gombrong berwarna gelap. rambutnya yang panjang beruban diikat ekor kuda. muka orang ini biasa saja, hanya seraut wajah umum yang sangat gampang ditemui dimanapun.


Orang ini berkali- kali menguap sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanan yang sudah buntung telunjuk dan ibu jarinya membuat pemuda yang berada di samping kirinya mendengus kesal.


Pemuda ini memakai seperangkat pakaian warna putih. selembar ikat kepala kulit ular hitam melilit kening kepala dan rambut gondrongnya yang hitam. wajahnya yang dingin dan agak pucat tidak begitu tampan tapi sangat menarik hati, terutama bagi kaum lawan jenis.


"Sampai kapan kita duduk diatas pohon begini, sebenarnya barang apa yang kau incar kali ini.?'' tanya pemuda yang mungkin umurnya belum genap dua puluh tahun itu pada orang tua disampingnya.


Yang ditanya kembali menguap lebar terlebih dulu baru menjawab "Barang yang kuincar kali ini bukan sembarangan, lagi pula sebenarnya barang itu punyaku tapi sudah direbut orang lain.!''


Sementara mulutnya bicara dan sesekali menguap, sepasang mata cekung orang tua ini tetap tidak berkedip menatap pintu gerbang sebuah rumah besar yang berada agak jauh di bawah sana. rumah itu selain besar dan luas juga dikelilingi tembok batu bata cukup tinggi sehingga mirip sebuah benteng. dua orang penjaga berbaju jingga dan membekal pedang terlihat berdiri agak terkantuk di depan pintu gerbang.


Kali ini si pemuda menyeringai, "Kalau bukan kau sendiri yang bilang, aku tidak akan percaya kalau ada orang yang sanggup merebut barang dari tangan pencuri sakti sepertimu.'' ejeknya sinis.


"Di dunia ini orang berkepandaian tinggi tidak terhitung jumlahnya, meskipun diriku punya kepandaian lumayan, tapi juga memiliki kekurangan..'' jawab orang tua itu.


Sembari menepuk pundak si pemuda dia menyambung ucapannya "Kalau dirimu memahami kelemahan lawanmu, meskipun dia punya ilmu yang jauh lebih tinggi, tetap saja kau pasti bakal menang..''


Pemuda ini menganguk, meskipun sudah sering kali orang tua yang telah menyelamatkan dirinya dari kepungan kawanan serigala buas saat dia terkapar tak berdaya di tengah hutan kira- kira lima tahun silam itu mengatakan hal yang sama tentang mencari kelemahan lawan, tapi pemuda ini tidak pernah bosan mendengarnya. karena baginya ucapan orang tua itu sangat masuk akal.

__ADS_1


"Kau belum mengatakan benda apalagi yang bakal kau ambil kali ini, dalam goa rahasia tempat tinggalmu sudah penuh dengan bermacam barang berharga, apa masih kurang juga.?'' tanya pemuda itu penasaran. yang ditanya terkekeh pelan, "Bagiku nilai tertinggi bukan pada barangnya, melainkan seberapa susah kau mampu mendapatkan barang itu. karena semakin sukar dirimu meraihnya maka dia semakin bernilai.!'' tuturnya menatap mata si pemuda.


"Lagi pula Respati., barang yang bakal kuambil balik ini sengaja kupersiapkan untukmu. jadi bagaimanapun juga aku mesti mendapatkannya.!'' tegas orang tua yang jari telunjuk dan jempol tangan kanannya buntung ini.


Rupanya pemuda disampingnya bukan lain adalah Respati, anak muda yang pernah menghabisi nyawa lima orang begundal saat dia menyelamatkan Roro Wulandari gadis cantik sepupunya.


"Barang yang kita incar adalah sejilid kitab ilmu silat dan sebilah pedang sakti..'' terang orang tua itu lalu mengatakan semua rencananya, juga apa yang harus dilakukan pemuda itu.


"Tapi aku merasa tidak membutuhkan barang seperti itu, ilmu beladiri yang kau ajarkan padaku selama ini kurasa sudah lebih dari cukup..'' sahut Respati seakan tidak tertarik. "Kau bocah tolol tahu apa., kalau selama ini dirimu selalu menang saat bertarung, itu bukan karena ilmu silatmu tinggi. tetapi lawan yang kamu hadapi terlalu rendah kepandaiannya.!'' semprot orang tua itu. "Lagi pula ilmu yang kuajarkan padamu sebenarnya belum ada separuh dari seluruh ilmu yang aku miliki..'' tambahnya.


Respati mencibir sinis, "Lalu kenapa kau tidak mau menurunkan semua ilmu silat dan kesaktian simpananmu padaku, atau jangan- jangan kau takut diriku jadi lebih pintar darimu.?''


"Apa maksud ucapanmu orang tua.?''


Yang ditanya menghela nafas berat, "Di dunia persilatan ini diriku punya banyak musuh. beberapa ada yang punya kesaktian lebih tinggi dariku.!'' seketika orang tua ini hentikan ucapannya, matanya yang cekung tapi sangat tajam melihat ke satu arah, di bawah keremangan cahaya sinar rembulan malam muncul dua orang penunggang kuda berjubah hitam, keduanya hentikan laju tunggangannya tepat didepan pintu rumah besar yang ada disana.


Kedua orang ini turun dan langsung disambut dengan hormat oleh dua orang penjaga pintu rumah. salah satu dari orang berjubah hitam terlihat mendamprat kedua penjaga yang kedapatan mengantuk saat bertugas, sebelum akhirnya menyusul rekannya masuk ke dalam rumah.


"Kau kenal dengan mereka berdua,?''

__ADS_1


Orang tua itu cuma angkat bahunya. "Aku belum pernah melihat keduanya, tapi agaknya mereka punya hubungan dekat dengan si bangs*t penghuni rumah ini.!''


Mata Respati berkilat tajam, "Jadi kau kenal dengan pemilik rumah besar dibawah itu,?''


Orang tua berbaju gelap gombrong mengacungkan tangan kanannya yang buntung dua jarinya. "Dua puluh tahun silam jari tanganku masih lengkap., rumah besar ini bernama 'Pesanggrahan Selaksa Pedang' pemiliknya bernama Nyi Sumbar Geni, bergelar 'Dewi Pedang Api.' seorang perempuan jago pedang yang punya kegemaran mengumpulkan bermacam pedang pusaka sakti..''


"Saking tergila- gilanya dengan senjata pedang pusaka wanita ini sanggup melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya, termasuk merebut paksa dari tangan orang lain. sudah banyak yang menjadi korbannya.!'' geram orang tua ini menahan amarah. dari sini dapat diketahui kalau pemilik rumah Pesanggrahan Selaksa Pedang itulah yang telah membuntungi dua jari tangannya.


"Meskipun beberapa pesilat baik dari aliran hitam maupun golongan putih mencoba melabraknya tapi kebanyakan mereka selalu pulang tinggal nama, hingga nama wanita gila pedang itu semakin di geruni.!'' pungkasnya mengakhiri cerita.


Orang tua ini menarik nafas berat, kepalnya mendongak kelangit. waktu sudah mendekati tengah malam. "Kurasa saatnya telah tiba., ingat semua yang kukatakan padamu. jangan pernah perdulikan apapun juga, lakukan saja tugasmu, lalu tunggu ditempat yang telah kutentukan.!'' perintah orang tua itu sambil hendak mulai bergerak. tapi sebuah tangan menahan bahu kurusnya.


"Seberapa yakin kau dapat berhasil kali ini.?'' Orang tua itu menoleh heran, "Sejak kapan dirimu merasa sangat khawatir dengan keselamatanku,?''


"Aku hanya tidak ingin terjadi apapun dengan dirimu orang tua.,!'' jawab Respati gelisah.


Orang tua aneh berjari buntung yang belum diketahui namanya ini berkata pelan, "Kalau bicara sejujurnya, aku juga tidak yakin bakal bisa berhasil kali ini, tapi biarpun harus serahkan nyawa, aku tetap harus melakukannya.!'' jelasnya sambil gerakkan tubuhnya melayang lenyap dibalik kegelapan malam.


Dengan menghembus nafas berat Respati menyusul berkelebat kejurusan yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2