
Meskipun cuma sebuah seringai tapi bagi Satriyana yang sudah lama bergaul dengan Roro pasti tahu kalau kakak angkatnya yang cantik jelita dan punya kecerdikan luar biasa itu pasti sedang merencanakan sesuatu. biarpun merasa penasaran namun gadis ini tidak mau banyak bertanya. dia paham kalau Roro sangat tidak suka jika ada orang lain mengacau saat otaknya merencanakan sesuatu.
Kedua orang tua dedengkot kaum pencoleng sekilas saling lirik. saat hendak bertanya Satriyana justru memberi isyarat mencegah. dengan langkah cepat tapi anggun 'Dewi Malam Beracun' menghampiri si tua buntung. ''Kakek tua 'Lengan Tunggal Pengejar Roh'., bolehkah aku pinjam kedua senjata pisau Setan Hijau milikmu yang sudah lepas ini.?"
Orang tua buntung itu menatap wanita cantik di depannya yang menggenggam dua batang patahan mata pisau hijaunya. meskipun diam tapi jelas dia minta penjelasan. "Eehm., aku sedang ingin bermain dengan si nomor satu. walaupun mungkin tidak banyak berguna tapi pasti bisa membuat hati dan pikirannya kacau.." jawab Roro Wulandari tersenyum licik.
Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, Roro melangkah menghampiri mayat 'Datuk Cebol Naga Guling' yang sudah busuk mengering. dengan gunakan senjata kipas peraknya dia membabat putus lengan kiri mayat itu. meski belum jelas dan penasaran dengan apa yang akan diperbuat oleh Dewi Malam Beracun tapi semua orang tidak berani bertanya. biarpun cara kerja perempuan ini sangat cepat namun tetap penuh perhitungan.
Dari balik ikat pinggangnya Roro mengambil sebuah tabung keramik kecil. saat dibuka tutup sumbatnya, terlihat gumpalan bubuk putih didalam tabung. setelah lebih dulu menaburkan serbuk putih beraroma wangi itu ke atas potongan lengan kiri mayat, barulah Roro Wulandari berani mengambilnya. cara ini untuk mencegah racun cakar menyebar ke tangannya.
Kini terlihat kalau kulit lengan kiri dari mayat si Datuk Cebol Naga Guling berubah menjadi lebih putih dan pucat. sisik- sisik hitam yang menutupinya juga terlepas rontok. sekali lagi senjata kipas perak ditangannya bergerak membabat, lima jemari berbentuk cakar ditangan kiri si mayat seketika terputus.
Roro Wulandari tersenyum puas mengamati dua macam benda ditangannya. sebuah lengan kiri kurus pucat tanpa jari, sedangkan satunya lagi adalah dua buah pisau tajam melengkung yang bersinar kehijauan. ''Heih., bocah wadon ayu. sebenarnya apa yang hendak kau perbuat dengan kedua benda itu.?'' tanya Malaikat Copet yang tidak dapat lagi menahan rasa penasaran dihatinya.
''Sekarang ini Respati dan semua kawanmu , juga orang 'Istana Angsa Emas' mungkin sedang kerepotan menghadapi 'Kelompok 13 Pembunuh' dan para pesilat golongan hitam. tidak ada lagi waktu untuk bermain- main..'' seru Maling Nyawa mulai kesal. ''Mbak Roro., kita mesti cepat bergabung kesana dan membantu yang lainnya.!'' Satriyana turut berteriak.
''Kita memang harus segera pergi ke tempat pertarungan tapi kakek tua 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' untuk sementara waktu tetap berada di sini. akan lebih baik lagi kalau dia menyembunyikan diri sambil mengobati luka dalamnya. kau tidak boleh sampai terlihat oleh orang dari pihak 13 Pembunuh.!'' jawab Roro Wulandari seraya mendahului berkelebat pergi tapi si tua buntung keburu mencegat. orang ini hanya bermaksud menyampaikan beberapa pesan saja pada wanita itu. semua orang terkejut saling pandang.
__ADS_1
''Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya. kalian ikuti saja ucapanku nanti.!'' ujar Roro dari kejauhan. setelah mendengus sebal tiga orang itupun pergi meninggalkan Lengan Tunggal Pengejar Roh sendirian di sana. mata orang tua itu dua kali berpindah pandangan dari mayat Datuk Cebol yang buntung lengan kirinya lantas ke jemari tangannya sendiri yang tinggal menyisakan tiga buah cakar pisau hijau.
''Sebenarnya apa yang hendak di lakukan wanita licik bekas nomor dua belas itu. ''Aah., jangan- jangan dia mau membuat suatu tipu muslihat dengan pisau dan lengan itu. pantas saja aku dilarangnya untuk muncul di sana. tapi bagus juga, karena diriku juga masih merasa enggan jika harus terang- terangan melawan mereka..'' batin si tua buntung terkesiap.
Walau bagaimanapun juga setelah bertahun- tahun berada dalam perkumpulan pembunuh bayaran yang terbesar dan saling bekerja bersama, tetap saja ada perasaan berat dalam jiwa orang tua itu jika harus berkhianat atau melawan ketuanya sendiri. apalagi dulu dia pernah berhutang budi pada sang ketua saat masih menjadi buronan dari partai Gapura Iblis.
..............
Sementara itu., ditengah gelanggang pertempuran besar dalam pulau 'Seribu Bisa, pertarungan antara Pranacitra dan tuan muda pemalas sepertinya telah mencapai puncaknya.!
Tubuh pemuda tampan berjubah putih bersih yang berdiri sepuluh langkah dari hadapan si pincang Pranacitra terlihat menegang dan bergetaran. kilatan- kilatan cahaya petir berapi terus berpusaran menyambar diantara kedua kepalan tangannya. udara dan daerah sekitar pemuda ini berdiri seketika mengering dan berasap panas.
''Haa., ha., dua ilmu kedigdayaan yang dapat dikatakan sebagai raja- rajanya ilmu pukulan sakti bakal beradu kekuatan. siapapun nanti pemenangnya tetap akulah yang akan meraih keuntungan. dengan ilmu 'Mecah Rogo Mecah Sukmo' aku bisa menyusup ke dalam raga kedua orang bodoh ini jika nanti mereka telah menjadi mayat, lantas menyerap segala ilmu kesaktian yang mereka miliki..'' batin ketua kelompok 13 Pembunuh tertawa dalam hati.
''Pendekar Tanpa Kawan'., orang yang dimasa lalu pernah bercokol di puncak dari jajaran sepuluh pesilat muda pendatang baru. aku mendengar kalau ilmu pukulan sakti 'Nisan Kuburan Membeku' milikmu belum pernah ketemu tandingannya. suatu kehormatan bagiku karena punya kesempatan untuk menjajal kehebatannya.!'' seru si pemuda berjubah putih.
''Tuan muda pemalas dari 'Kota Hantu Pagi'., mungkin tidak banyak orang persilatan yang mengetahui kalau ilmu kesaktian 'Jaring Petir Malapetaka' yang kau punyai mempunyai daya hancur sangat mengerikan. selain sudah sangat lama putus pewaris, kau sendiri juga jarang sekali muncul di dunia ramai. aku juga merasa terhormat dapat berkenalan dengan ilmu pukulan dahsyat itu..'' sambut Pranacitra membalas pujian lawan.
__ADS_1
''Bagus., kita tentukan kalah dan menang, bertahan hidup atau terkapar mampus dalam satu serangan ini.!'' begitu ucapannya selesai, tuan muda pemalas sang majikan Kota Hantu Pagi membentak keras. sambil tubuhnya berkelebat dua buah kepalan tangannya yang diselimuti ratusan jalur- jalur cahaya petir di lontarkan ke muka.
Tidak mau kalah gertak, Pranacitra hampir bersamaan juga turut hantamkan pukulan saktinya. suara ledakan teramat keras yang bercampur gemuruh angin panas membakar dan dingin membekukan tulang silih berganti menghantam sekeliling tempat hingga jarak puluhan tombak hancur lebur. ratusan mayat korban pertempuran besar langsung hancur tersapu. sebagian hangus terbakar sedang lainnya membeku sebelum akhirnya terpecah menjadi serpihan daging beku.!
Tidak dapat lagi terlihat yang terjadi di sana. justru yang terdengar adalah suara jeritan ngeri dari para pesilat dari kedua belah pihak yang tidak sempat untuk menjauh. gulungan kabut dingin bercampur salju dan ratusan larik sinar putih laksana jala petir dari dua ilmu kedigdayaan yang saling beradu telah menutupi segalanya.
''Ilmu pukulan 'Nisan Kuburan Membeku' yang ibaratnya sanggup membuat gurun tandus menjadi hamparan bersalju. juga ajian 'Jaring Petir Malapetaka' yang seumpama mampu menghancurkan sebuah bukit sekaligus membakarnya hingga habis menjadi abu, sangat sayang jika kedua ilmu kesaktian hebat itu turut hilang bersama pemiliknya. jadi., aku mesti mendapatkan keduanya. Haa., ha.!'' gelak ketua 13 Pembunuh yang bersiap merapal ajian 'Mecah Sukmo'.
''Ingin mengadu domba kami berdua., Haa., ha., wahai ketua 13 Pembunuh, kau ini terlalu tolol hingga mudah sekali di tipu.!'' terdengar seruan disertai gelak tawa dari balik gulungan kabut petir bersalju. ''Walaupun belum jelas tapi aku tahu betul jika batu hitam yang berada di tanganmu cuma ada satu saja.!''
''Berniat mengambil alih dua ilmu pukulan sakti ini, baiklah kami berikan padamu.!'' timpal satu suara dingin tanpa perasaan. belum habis rasa terkejutnya, dari dalam gulungan kabut salju petir itu melesat dua pukulan sakti 'Nisan Kuburan Membeku' dan 'Jaring Petir Malapetaka' yang langsung melabrak ke tempat ketua 13 Pembunuh.!'
''Setan jahanam., bangsat kalian semuanya.!'' teriak ketua Kelompok 13 Pembunuh murka bercampur ngeri. sambil hantamkan pukulan sakti 'Kepakan Sayap Angsa Pemusnah Jiwa' dia berkelebat menjauh begitu juga anak buah yang berada disekitarnya. semua sama meraung gusar, bingung juga ketakutan. hampir bersamaan mereka berserabutan menghindar.
...............
Silahkan tuliskan komentar Anda, Terima kasih👏😊.
__ADS_1