13 Pembunuh

13 Pembunuh
Penyesalan.


__ADS_3

Kedua orang muda- mudi itu cukup lama terbaring menatap langit- langit ruang penjara tempat dimana selama beberapa minggu belakangan mengurung mereka. meskipun keduanya hampir tiap hari mendapatkan siksaan kejam yang diluar akal kemanusiaan namun sesakit apapun mereka masih sanggup bertahan.


Hanya perbuatan keji terakhir dari ketua 13 Pembunuh yang memaksa mereka berdua untuk bersetubuh demi mempertahankan hidup telah membuat perasaan keduanya seolah mati, terutama bagi Respati. terbayang selama hampir empat hari belakangan dia dengan penuh nafsu Iblis menggeluti tubuh Satriyana agar dapat melenyapkan racun yang membakar tubuhnya membuat dia sangat rendah diri.


Walaupun Satriyana dengan suka rela menjadikan tubuh sucinya sebagai tempat pelampiasan juga berdasarkan perasaan cinta murni yang tertanam dalam hatinya, tapi tetap saja pemuda murid si 'Maling Nyawa' itu merasakan kalau dirinya sudah menjadi manusia paling hina dan tidak berperasaan. karena selama tiga atau empat hari itu setelah selesai menuntaskan hasratnya, dia cuma bisa terbaring lemas saling berpelukan dengan gadis itu yang hanya dapat menangis.


Berikutnya bawahan sang ketua pasti datang memberi mereka makan dan minuman. jika keduanya menolak maka ada seribu satu cara siksaan dan ancaman yang dapat dilakukan agar mereka mau menelan semua hidangan yang pastinya sudah bercampur racun api pembakar nafsu birahi. hingga pada akhirnya kejadian terkutuk itu kembali terulang.


Tiba- tiba saja Respati terbangun. selintas pikiran muncul dalam kepalanya. ''Meskipun tidak tahu sekarang ini hari sudah siang atau malam di luaran sana, tetapi aku tahu kalau saat ini seharusnya telah tiba waktunya para begundal rendah bawahan 13 Pembunuh untuk mengantarkan makanan dan minuman celaka itu untuk kami berdua..''


''Namun anehnya., sampai saat ini mereka belum datang kemari. jelas tidak mungkin kalau mereka lupa melakukannya atau bisa jadi para jahanam itu sudah menganggap kami berdua telah mampus. tapi hal itu juga tidak mungkin. karena paling tidak., mereka pasti datang kemari untuk memeriksanya..''


''Kalau demikian berarti cuma ada satu saja kemungkinan. diluar sana pasti sedang terjadi sesuatu yang luar biasa hingga harus memaksa para anggota perkumpulan keparat itu untuk menunda masalah ditempat sialan ini. tapi kejadian besar apa.?'' pikir si pemuda sambil matanya menatap rantai besi yang membelenggu kedua kaki tangan, leher juga tubuhnya.


''Aah., mungkinkah Roro dan yang lainnya telah tiba di pulau Seribu Bisa ini.?'' pekik Respati tercekat. Satriyana yang mendengar turut merasa gembira. tapi meskipun kedua orang ini yakin dan senang bantuan dari Roro Wulandari serta kawan- kawannya telah tiba namun dalam hati mereka juga merasa malu sekaligus bersalah dengan semua yang telah mereka perbuat di dalam penjara inj.

__ADS_1


"Kurasa kita tidak perlu lagi memikirkan segala yang telah terjadi. ketua 13 Pembunuh bilang kalau kunci pembuka rantai yang membelenggu tubuh kita berdua sama. jadi kurasa ini saatnya untuk kabur. mumpung mereka belum datang kemari.." ucap Satriyana berusaha memecah keheningan. dengan beringsut dia meraih kunci pembuka rantai yang mengikat tubuh Respati.


Pemuda itu tidak mau berpikir lama. dengan cepat dia memasukkan anak kunci itu ke lubang gembok untuk membuka rantai yang mengikat tubuhnya. tapi anehnya meskipun sudah berusaha untuk membukanya tetap saja rantai gembok itu tidak dapat terbuka, bahkan anak kunci itupun sampai patah.!


"Jahanam ketua 13 Pembunuh. seharusnya aku sadar sebelumnya kalau kau memang berniat untuk membunuh kami berdua.!" teriak Respati kalap. rupanya anak kunci itu hanya dapat dipakai satu kali saja dengan maksud siapapun diantara Respati atau Satriyana yang akan menggunakannya pertama kali hasilnya akan tetap sama, salah satu dari mereka tetap terbelenggu disini hingga ajalnya.


Kekejaman juga kelicikan ketua 13 Pembunuh memang tidak dapat remehkan. dia seolah sudah tahu jika siapapun yang menggunakan kunci itu, dia tidak akan mau meninggalkan rekannya mati dalam penjara ini hingga sengaja membuat anak kunci sekali pakai. maka seperti perkiraannya, Satriyana memilih untuk menjadi korban daripada kabur sendiri.


Kemarahan yang meluap bercampur rasa benci dendam juga penghinaan yang merasuk jauh ke dalam jiwa Respati membuat sekujur aliran darahnya mendidih. pemuda itu meraung keras hingga ruangan penjara berguncang hebat. entah bagaimana bayangan seekor ular kobra hitam keluar dari dalam tubuhnya yang telanjang.


Mulanya hanya satu kemudian dua, hingga akhirnya muncul lima buah kobra hitam raksasa yang bergulungan menutupi raga pemuda itu. dinding ruangan penjara bergetar pecah. lantai batu dibawah kakinya ambles retak lantas terbelah. gelombang angin keras berhawa panas menyambar- nyambar ke seluruh ruangan sampai membuat pintu besi penjata terbanting dan jebol.!


Sebelum pingsan dia samar- samar masih sempat melihat pemuda itu menyentakkan sepasang tangan kakinya sambil meraung buas hingga rantai baja gaib yang kabarnya sangat sulit ditebas putus meskipun dengan senjata pusaka sekalipun itu hancur terputus semburat pecah berkeping- keping.!


Respati jatuh berlutut. bayangan lima ular kobra hitam raksasa sesaat masih bergulung- gulung menyelimuti dirinya. ada satu seringai tersungging di bibirnya yang pucat berdarah. "Tidak kusangka., disaat seperti ini aku malah berhasil menguasai tahap terakhir dari kitab pusaka 'Kobra Iblis'. padahal untuk dapat mempelajarinya butuh tenaga dalam yang sangat tinggi, sedangkan kekuatanku belum mencukupi..''

__ADS_1


''Sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa kesaktianku jadi melonjak begitu hebat.?'' gumam Respati sembari menahan getaran tenaga sakti yang masih tersisa. jelaslah dia belum sepenuhnya mampu mengendalikan kekuatan barunya. ''Ketua bangsat itu bilang kalau cuma 'Darah Keabadian' murni yang mampu meningkatkan tenaga kesaktian para pesilat, terbukti dulu aku dan Sabarewang pernah meminum darah Satriyana saat kami berhadapan dengan si 'Sabit Perak Pencabut Nyawa..''


''Tapi peristiwa itu sudah terjadi cukup lama. jadi tidak mungkin tenaga sakti dari Darah Keabadian itu muncul kembali..'' jantung pemuda itu mendadak seperti tertikam pisau tajam karena terlintas sebuah pikiran ngeri di dalam kepalanya. ''Aah., jangan- jangan yang dimaksud sebagai Darah Keabadian murni itu sebenarnya adalah..''


Respati tidak berani lagi meneruskan semua yang terbersit dipikirannya. perlahan dia menoleh kebelakang. pandangan matanya tertuju pada tubuh kurus Satriyana yang terkapar disudut ruang penjara. ada perasaan sakit dan sayang melihat keadaan gadis itu. ''Kau., kau sudah terlalu banyak berkorban..'' desisnya pedih.


Jika cuma pukulan atau tikaman senjata yang melukai tubuhnya hingga bermandikan darah sekalipun, mungkin Respati masih sanggup untuk menahannya. tapi kalau luka dan derita dalam jiwanya karena pengorbanan seorang gadis yang masih suci hanya demi menolong nyawanya, Respati jauh lebih memilih mati.


Walaupun dia tahu kalau penyesalan tidak akan ada gunanya namun Respati tetap saja tidak dapat berhenti mengutuki kebodohan dirinya. karena seharusnya dia menyadari sebelumnya, jika yang dimaksudkan sebagai 'Darah Keabadian' murni itu sebenarnya adalah darah kesucian dari seorang gadis.


Hanya dengusan gusar penuh kemarahan bercampur tangisan penyesalan tertahan yang dapat dia lakukan. entah marah pada semua musuhnya atau justru muak terhadap kelemahannya sendiri. Respati sadar kalau saat ini kesaktian ditubuhnya telah melonjak sangat hebat. tapi disisi lain dia juga merasa benci memilikinya.


Pandangan matanya perlahan menjadi gelap. kepalanya berdenyut kesakitan. di ujung kesadarannya pemuda itu masih sempat melihat kehadiran dua orang. seorang tua berambut panjang di kuncir ekor kuda yang datang paling depan jelas gurunya. satu lagi di belakang si Maling Nyawa berkelebat sesosok tubuh wanita secantik bidadari berjubah gaun hitam yang menebar aroma harum. ''Roo., Roro., maafkan aku..'' gumam Respati sebelum jatuh tersungkur.


........

__ADS_1


Silahkan tuliskan komentar Anda, dan selamat Idul Adha. semoga berkah bagi kita semuanya. Amin. Trims., WasalamπŸ™.


'Mbeeekk., emmbeeekk'., πŸπŸ‘πŸπŸ¦™.


__ADS_2