13 Pembunuh

13 Pembunuh
Akhir pertarungan.


__ADS_3

Jika seorang wanita yang setiap harinya terlihat cantik jelita dan dengan tingkahnya yang menawan mendadak berubah menjadi sesosok iblis berapi yang menakutkan, tentunya membuat semua orang yang biasa bergaul dengannya terperanjat kaget bercampur ngeri.


Satriyana nyaris saja pingsan melihat semua perubahan yang terjadi pada diri Roro Wulandari alias Dewi Malam Beracun. untung Sabarewang masih sigap menahan tubuh gadis ini, meskipun sebenarnya dia sendiri juga sedang diliputi perasaan seram.


Respati terlihat sangat tegang, bibirnya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. biarpun dia percaya pada Roro tapi keadaan wanita itu sekarang sungguh diluar dugaannya. ''Kalau tidak melihatnya sendiri aku tidak akan percaya Roro bisa senekat ini menggunakan tahap terakhir ilmu kesaktian Cakar Tengkorak Darah yang dinamai 'Api Ibis Tengkorak Darah.!''


''Padahal seingatku Roro pernah bercerita kalau tingkatan terakhir ilmu kesaktian itu sangat berbahaya dan sulit sekali dipelajari..''


''Sudah sejak lama Roro ingin menguasai tingkatan terakhir dari ilmu itu, tapi selalu dia hentikan di tengah jalan karena gagal untuk mengendalikan hawa jahat yang terkandung dalam jurus terakhir itu., apakah sekarang dia sudah bisa menguasai semuanya.?'' batin Respati sangat gelisah. jika Dewi Malam Beracun sampai tidak mampu menahan hawa jahat yang ada di dalam jurus Api Iblis Tengkorak Darah, bisa jadi Roro Wulandari kehilangan kendali atas jiwa raganya sebagai seorang manusia dan berubah menjadi siluman betina yang ganas.!


Kyai Jabar Seto terus memutar butiran tasbih dari kayu cendana wangi yang ada di tangannya. kalimat- kalimat suci terus terdengar pelan dari mulutnya yang bergetar. sementara rekannya I Gede Kalacandra atau Dewa Serba Putih tanpa sadar tersurut mundur. perubahan diri lawannya membuat tokoh silat dari pulau Bali ini mau tidak mau cukup tergetar juga nyalinya. biarpun demikian dia mana merasa gentar. tekadnya untuk menghabisi Roro malah semakin kuat.


''Rupanya wanita ini punya ilmu siluman yang mengerikan. aku tidak boleh membiarkan putri Satriyana terus bersama orang- orang yang berhaya seperti dua anggota kelompok 13 Pembunuh itu dan juga kusir kudanya..'' seraya berpikir demikian Dewa Serba Putih mengangkat kedua tangannya keatas dan ke samping. gulungan uap sedingin es dan cahaya putih berkilauan semakin menyebar.


Tangan sebelah kanan tetap dialiri ilmu pukulan 'Telapak Salju Gunung Agung', sementara dua jari tangan kirinya yang merentang kesamping mengunakan jurus 'Jari Sinar Pedang Salju Dewata'. sepertinya orang tua ini bermaksud menyudahi pertarungan ini secepat mungkin.!


Di dahului bentakan nyaring yang memecah keheningan malam Dewa Serba Putih hantamkan kedua telapak dan jari tangannya ke depan. gelombang hawa dingin membeku dan sambaran sinar putih berbentuk ujung pedang menyambar dahsyat. ribuan titik- titik embun salju menyembur bagaikan hujan. udara di sekitarnya berubah sangat dingin.!

__ADS_1


Di penjuru yang berlawanan, Roro Wulandari yang berubah wujud menjadi sosok wanita berselimut api terdengar tertawa bergelak. sepuluh jari tangannya yang turut berubah menjadi sepasang cakar tajam berkobaran api kemerahan terrentang ke samping lalu menghantam. sepuluh larik cahaya merah berbentuk cakar- cakar iblis menyambar. gelombang hawa sangat panas dan angin kemerahan berbau anyir darah menggebrak.


'Whuuust., Shraaat.!'


'Bheeet, Bheet.!'


Blaaaam., Glaaaar.!'


Dua kekuatan ilmu kesaktian bertemu, hawa panas dan dingin yang beradu ditengah udara malam membuat hempasan tenaga yang bergulung- gulung menghempas dan menyapu apapun yang ada di sekelilingnya.


Sabarewang berbalik mendekap Satriyana. tubuh kedua orang ini langsung terpelanting bergulingan hingga lebih lima tombak jauhnya. padahal jarak keduanya dari tempat pertarungan itu sudah lebih dari sepuluh tombak. bisa di bayangkan betapa kuatnya gelombang tenaga yang melabrak seluruh tempat itu.


Agak jauh darinya Kyai Jabar Seto juga masih sanggup berdiri. tapi tubuhnya sudah terseret mundur tiga langkah dari tempatnya semula. terlihat garisan jalur bekas dua alas kakinya yang menggerus tanah cukup dalam. dari sini bisa dikira kalau orang tua ini sudah kerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya untuk dapat bertahan.!


Saat semuanya yang menutupinya sirnah, dan sambaran gelombang tenaga sakti yang beradu mereda, terlihatlah pemandangan yang menggidikkan. ditengah kalangan itu terbuka sebuah lubang sebesar lima tombak keliling yang cukup dalam. sebagian tanah di sekitar lubang besar yang menganga itu terlihat hangus berselimut bara api yang anehnya lapat- lapat berbau anyir darah.


Sementara lebih separuh bagian lainnya justru basah dingin berselimut kabut salju putih dan membeku di beberapa bagian. tapi yang paling mengerikan adalah dua sosok tubuh yang berdiri tegak saling berhadapan di antara lubang besar yang menganga.

__ADS_1


Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun tegak berdiri dengan sepasang cakarnya yang mulai meredup bara apinya lalu menghilang. demikian juga seluruh tubuhnya yang tadinya diselimuti kobaran api darah kini justru memucat dan dingin diselubungi kabut putih dan butiran salju. Roro mulai menggigil setiap hembusan nafasnya mengeluarkan uap dingin, kulitnya memucat berselimut lapisan es di beberapa bagian.


Wanita ini menoleh melihat ketiga rekannya, pandangan matanya berhenti pada Satriyana. bibir Roro yang pucat bergetar saat bicara, ''Ma., maaf., kan aku. aku., sudah., ka., kalah..'' bersamaan itu tubuh Roro tumbang terkapar di tanah.


Serentak tiga kawannya memburu kesana. entah bagaimana justru Satriyana yang sampai lebih dahulu. gadis ini menangis memeluk tubuh Roro yang seakan diselimuti butiran salju. jubah hitamnya basah kuyup dan robek besar tidak berbentuk. meskipun demikian hebatnya Roro masih sadar. dengan bibir gemeletuk menggigil dia berusaha menegur Satriyana ''Dasar., gadis cengeng., aa., aku belum., ma., mati. kena., kenapa., kau., ma., malah., mena., ngis..''


Sayangnya cuma itu yang sanggup Roro katakan karena tubuhnya terus mengejang dan terbatuk muntahkan gumpalan darah beku lalu terkulai lemas.


Satriyana meraung marah bercampur sedih. sesat kemudian tubuhnya bergetar keras sepasang matanya memerah menyorot tajam menggidikkan. sebelah tangannya menunjuk Dewa Serba Putih tepat- tepat. ''Kau tahu., wanita yang kini sedang terkapar di pangkuanku ini adalah pelindungku, dialah orang yang paling dekat denganku., jadi atas dasar apa kau berani melukainya.!''


''Jika sampai terjadi sesuatu padanya., kau pasti akan menyesal. aku tidak akan pernah memaafkanmu. jika dirimu dan Kyai Jabar Seto masih mengangapku junjunganmu, kuperintahkan agar kalian segera tinggalkan tempat ini dan jangan pernah mengganngu kehidupanku lagi., pergi sekarang kataku.!''


Entah kenapa semua orang yang ada di sana jadi mengkirik, dalam hati mereka merasa seram seakan Satriyana telah berubah menjadi orang lain. setiap ucapannya terasa menghunjam jiwa yang mendengar. yang di perintah cuma bisa mengangguk dan menurut takut tanpa berani membantah. sementara lainnya hanya menunduk diam. suara gadis ini seperti membawa pengaruh kewibawaan kuat yang tidak bisa di lawan.!


Respati sekejap melirik I Gede Kalacandra, orang tua ini biarpun masih sanggup berdiri tegak tapi keadaan tubuhnya seakan baru dicabik- cabik puluhan binatang buas, jubah putihnya koyak dan hangus terbakar.


Pemuda itu bangkit berdiri menghampiri Kyai Jabar Seto, berbicara sebentar sembari memberikan sesuatu dari balik bajunya. orang tua ini tertegun sesaat. setelah sempat menjura hormat kepada Satriyana dia lalu mengajak rekannya pergi tinggalkan tempat itu.

__ADS_1


Beberapa lama kedua orang itu melangkah pergi, mendadak I Gede Kalacandra mengerang kesakitan tubuhnya terasa sangat panas, matanya memerah demikian juga sekujur tubuhnya. dari hidung dan mulutnya keluar darah kehitaman dan asap panas. orang tua ini terjungkal roboh ke tanah. secepat kilat Kyai Jabar Seto menahan tubuh rekannya yang terasa panas bagaikan menyimpan bara api. sampai- sampai bekas kulubalang nomor lima ini istana Angsa Emas itu harus kerahkan tenaga dalam untuk menahan hawa panas yang keluar dari tubuh Dewa Serba Putih.


''Celaka., I Gede Kalacandra sudah terluka dalam sangat parah. rupanya tadi dia terus berusaha untuk menahan luka dalamnya di depan lawan dan tuan putri Satriyana.!'' batin Kyai Jabar Seto. mendadak dia teringat sesuatu. dari kantung jubahnya dia mengeluarkan beberapa buturan obat berwarna merah yang tadi diberikan oleh Respati. menurut si pemuda butiran obat itu dibuat dengan campuran 'Darah Keabadian' yang mengalir di dalam tubuh Satriyana.


__ADS_2