13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pertemuan yang aneh.


__ADS_3

Hembusan angin dingin dipenghujung malam itu terasa semakin kencang menyapu pedataran berumput hingga membuat daun- daun berguguran dan beberapa ranting pohon keringpun patah. semak rumput bergoyang tersibak. tidak ada sedikitpun suara binatang malam yang terdengar disana. suasana terasa sunyi mencekam jiwa.


Dua orang tua muda itu sudah berdiri saling berhadapan hampir sepeminum teh lamanya. jarak diantara mereka juga tetap tidak berubah, masih terpaut enam tujuh langkah. sebelah lengan baju putih usang dan robek- robek yang terlihat berkibaran tertiup angin menunjukkan kalau tangan kanan si orang tua itu telah lama buntung.


Sepasang mata dingin penuh hawa kekejaman itu juga terus menatap mata dari seorang pemuda berwajah pucat yang juga dingin tanpa menyiratkan suatu perasaan apapun. jika ada orang lain yang melihat kejadian aneh ini, mungkin mereka akan berpikiran telah bertemu dengan dua sosok mayat hidup yang sedang kesasar.


Jika dilihat dari pandangn mata kedua orang tua muda yang sama bermuka dingin ini, tidak akan ada yang mengira kalau sebenarnya dalam benak pikiran mereka sedang dilanda suatu beban berat yang sangat sulit untuk diungkapkan. bahkan jikapun bisa., mungkin keduanya juga tidak tahu bagaimana caranya.


''Mungkin dalam hidupku baru kali inilah diriku lari menjauh dari kalangan pertarungan besar. sebenarnya aku ragu untuk melakukan suatu perbuatan yang sangat pantang kulakukan. rasa- rasanya diriku seolah berubah menjadi seorang pengecut. tapi jika tidak berbuat begini., aku juga tidak tahu mesti bagaimana lagi. untungnya kau punya pikiran untuk mengikutiku..'' ucap pemuda pincang berbaju gelap itu mencoba memecah kesunyian.


''Darimana kau mendapatkan gelang rantai perak dengan bandul tengkorak itu. ada hubungan apa dirimu dengan si pemilik kalung dan kenapa kau sengaja untuk memancingku untuk datang kemari. cepat jawab.!'' bentak orang tua bertangan kanan buntung itu bengis. mungkin semenjak menjadi anggota kelompok 13 Pembunuh baru kali ini dia bicara banyak.


''Haa., ha., orang tua buntung. apakah dirimu tidak merasa kalau pertanyaanmu itu kelewat banyak. semula aku percaya kalau kau adalah sebangsa manusia yang hanya mau bergerak untuk membunuh tanpa banyak bicara seperti yang selama ini terdengar didunia persilatan. tapi kenapa sekarang kau malah jadi cerewet seperti perempuan tua yang bawel..''

__ADS_1


''Apakah kau berpikir., gelar 'Setan Pincang Penyendiri' tidak sepadan dengan dirimu si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' hingga begitu gampang kau gertak.!'' damprat si pemuda pincang bernama Pranacitra itu tidak mau kalah kereng sambil gebrakkan tongkat besi hitamnya ketanah.


Bumi sesaat terasa bergetaran. segulungan hawa panas yang dibarengi kilatan cahaya merah hitam menggebrak kedepan. dijajal kekuatannya oleh si pincang, orang tua lengan buntung juga tidak tinggal diam. tangannya yang tinggal sebelah kiri mengibas dua kali. segumpalan angin keras sangat tajam yang disertai sinar- sinar kehijauan menderu ganas. dua kekuatan sakti bertemu saling hantam.!


'Whuuuusss., Slaaaassh.!'


'Blaaaaammm.!'


Udara serasa terbelah. tanah batuan berumput tersibak pecah berhamburan menutupi pandangan. saat semuanya hampir berlalu gelak tawa si pincang Pranacitra sudah terdengar membahana hingga menggoncang pedataran itu. ''Haa., ha., si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' memang bukan nama kosong. pantas saja ketua 13 Pembunuh menjadikan dirimu sebagai tangan kanannya..''


''Justru aku yang mesti bertanya padamu soal gelang rantai perak itu., memangnya ada hak apa kau menanyakannya padaku. gelang itu jelas bukan milikmu, lalu kenapa kau ngotot memperkarakan sesuatu yang tidak ada kaitan apapun dengan dirimu. lagian., kalau hendak mengancam seseorang, sebaiknya lihat dulu siapa lawanmu..'' sindir si pincang mengejek.


''Ataukah., setelah lebih tiga puluhan tahun menghilang dari partai 'Gapura Iblis' dirimu bukan saja menjadi buntung sebelah tangan tapi juga bertambah tumpul otak.!'' bentak Pranacitra gusar. mendengar umpatan lawan bukan saja si tua buntung tidak menjadi marah, bahkan tubuhnya yang kurus tersurut mundur beberapa langkah. wajah tuanya yang dingin kejam terlihat berubah hebat. perasaan terkejutnya jauh lebih dalam dibandingkan kalau mendengar suara guntur disiang bolong.

__ADS_1


Baru saja dia hendak bicara, pemuda pincang itu sudah keburu menindas ucapannya. ''Orang tua., sekarang kita hentikan saja basa- basi palsu yang tidak berguna ini. gelang rantai perak berbandul tengkorak ditanganku ini jelas bukan milikmu. tapi dari sikapmu tadi bisa kupastikan kalau kau mengenal benda gelang itu. karena benda itu hanya dimiliki oleh orang- orang yang berhubungan darah dengan pendiri atau penguasa partai Gapura Iblis..''


''Meskipun aku bukanlah orang partai aliran hitam sialan itu, tapi bisa jadi., mempunyai hubungan dengan salah satu keturunan dari ketua lamanya yang sudah mati. atau dapat juga kusebut sebagai., saudara sepupumu yang telah membuat kau terusir dari sana..'' desis Pranacitra dengan raut muka tegang dan suara bergetaran.


Tangan kanan si pincang terangkat. jemarinya menggenggam sebuah gelang rantai perak berbandul tengkorak. raut wajah si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' yang selama ini selalu dingin dan bengis seakan tersirat bermacam luapan perasaan yang tidak mampu dia ungkapkan dengan ucapan.


''Kaa., katakan sia., siapa kau seb., sebenarnya bocah pin., pincang kep., keparat.!'' teriak orang tua buntung itu tergagap. mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya tokoh silat sekaligus pembunuh kawakan yang terkenal dingin dan kejam tanpa ampun itu berubah penuh perasaan sedih, bingung juga dendam kesumat.


Bibir si pincang bergetaran saat bersiul lagu berirama menyedihkan hati yang sudah biasa dia lantunkan. tapi baru setengahnya siulan itu tidak mampu lagi diteruskannya. gelang perak berbandul tengkorak dia lemparkan. si Lengan Tunggal Pengejar Roh menyambutinya. meski sudah melihatnya tapi saat gelang itu berada di jemari pisau hujaunya, tetap saja dia tidak mampu menahan kesedihan hati.


Hanya tiga langkah saja pemuda ini berjalan terseok. tubuhnya mendadak membungkuk hormat. ''Putra dari Sentanu dan si bungsu dari kembar ke empat menghaturkan sembah sungkem untukmu kakek tua. harap maafmu jika diriku berlaku tidak sopan padamu..'' satu kalimat penghormatan yang biasa dipakai seorang anak pada orang tua atau kakek neneknya terucap dari mulut si pincang.


Lengan Tunggal Pengejar Roh menggembor beringas bagai binatang buas. sekali bergerak tubuhnya sudah tiba didepan Pranacitra. tangan berpisau hijau berkelebat secepat bayangan setan. si pincang masih diam membungkuk. lengan buntung yang sudah menghabisi ratusan nyawa pesilat hebat itu meraih pundaknya, lantas perlahan memeluk dengan penuh rasa haru.

__ADS_1


*****


Maaf cuma dapat sedikit. telat lagi..🙏😓😅


__ADS_2