
Waktu seakan berhenti sesaat lamanya., Birunaka yg jatuh terduduk lemas kehabisan tenaga melotot sampai leletkan lidahnya, meskipun kekuatan ilmu 'Rengkah Langit Bumi' miliknya dapat dikatakan sangat hebat, tapi jika dibandingkan ilmu panah si gadis ramaja manis berkulit sawo yang berdiri beberapa langkah di depannya, mungkin masih kalah dahsyat.
Pertama gadis itu membidikkan busur dan anak panahnya langsung ke tubuh Ki Kebo Dungkul, tapi berikutnya dia malah melepaskan panahnya ke arah langit tanpa perduli sasarannya sudah berlari menjauh hingga jaraknya lebih dari dua puluh tombak.
Yang paling mengejutkan sesaat setelah panah terlepas timbul ledakan keras mirip suara petir diikuti selarik cahaya ungu menyambar kebawah yang langsung menghantam tubuh Ki Kebo Dungkul hingga hangus gosong.!
''Siapa gerangan gadis ini., berasal dari mana dia., selain masih sangat muda ilmunya juga luar biasa., dan hmm., cantik juga yah.,'' batin Birunaka. sesaat dia seakan terlupa dengan keadaan tubuhnya yang masih terduduk di atas tanah. bahkan ketika Satriyana sudah berdiri dihadapannya dia masih terduduk di atas tanah dengan mulut terbuka melongo.
''Hii., hi., hii., kau ini kelihatan lucu banget., sampai kapan melihatku seperti itu, nanti ada lalat masuk kemulutmu baru tahu rasa..!''
''Tapi mungkin benar kata kakakku., jadi wanita cantik itu kadang serba salah karena bisa membawa kekaguman sekaligus derita bagi kaum pria..'' ujar Satriyana tersenyum sambil kibaskan rambut hitamnya, gayanya sengaja dibuat- buat seperti Dewi Malam Beracun. hanya sayang dia lupa kalau Roro Wulandari rambutnya hitam lebat dan panjang sepinggang, sedangkan dia biarpun sama hitam lebat tapi di potong pendek. jadi saat berlagak jadi wanita anggun malah terlihat menggelikan.
"Eeh iya., maaf namaku Birunaka penduduk desa Randung ini, kalau boleh tahu siapakah adik ini, dan berasal dari mana..?" tanya Birunaka seraya bangkit berdiri.
''Aku Satriyana seorang pengembara., asalku dari jauh, kebetulan lewat desa ini hendak membeli sarapan untukku sendiri dan beberapa orang temanku.." berpikir sampai disitu Satriyana baru teringat ketiga sahabatnya yang sedang menunggu. mereka pasti sudah uring- uringan karena lapar. pertarungan tadi memakan waktu yang tidak singkat.
"Aduuuh celaka., pasti kak Dewi bakalan mengomeliku sepanjang hari karena masalah ini.!" gumamnya panik sambil tepuk kepalanya sendiri. karena jangankan dia dan Sabarewang, Respati sekalipun juga tidak akan berani membantah kalau Roro sedang marah.
''Satriyana., apa yang sedang kau pikirkan, kalau cuma sekedar untuk sarapan, kurasa warung kecil milikku bisa menyediakannya.,''
''Tapi tadi kau bilang ada beberapa teman yang bersamamu, kenapa tidak kulihat mereka.?'' Birunaka celingak- celinguk. tidak ada orang lain disana keculi beberapa penduduk desa yang mulai berani keluar dari tempatnya bersembunyi. mereka saling berbisik mengagumi kehebatan Birunaka dan Satriyana yang telah mampu menghabisi Ki Kebo Dugul dan anak buahnya.
__ADS_1
Sebenarnya para penduduk sudah lama kesal dan memendam kemarahan atas ulah Ki Kebo Dugul serta Ki Mangun Gondo kepala desa Randung yang suka menarik pajak secara paksa kepada para penduduk, tapi selama ini tidak ada yang berani melawannya.
Sekarang para begundal pengacau warga desa itu sudah lenyap. beberapa yang masih hidup dan terluka menjadi bulan- bulanan warga yang marah. meskipun jengkel juga dengan mereka, tapi Birunaka meminta warga agar berhenti menghakimi, toh mereka semua sudah menjadi orang cacat dan lemah. tubuhnya babak belur lagi.
Atas kesepakatan warga desa mereka dibuang ketepian hutan, hidup matinya terserah nasib mereka sendiri. selanjutnya hampir semua warga desa serentak menuju rumah Ki Lurah Mangun Gondo dengan membawa senjata tajam hendak membuat perhitungan. Birunaka tidak mampu lagi mencegah, ''Aah biarlah., mungkin sudah takdirnya kepala desa lintah darat licik itu mati ditangan warganya sendiri.!'' pikir si pemuda pasrah.
''Ooh mereka bertiga sedang menungguku di luar desa ini., kalau tidak keberatan bisakah kau buatkan aku beberapa bungkus nasi.?'' kata Satriyana menyadarkan Birunaka dari lamunan sesaatnya. sambil mengisyaratkan untuk mengikutinya, si pemuda mendahului masuk kedalam warung kecilnya.
Saat baru tiba beberapa langkah di depan pintu warung saja Satriyana sudah dapat mencium aroma beberapa masakan enak. ikan gorang asam manis, tumis kangkung, sayur lodeh, sayur bening, ayam dan bebek goreng, dan masih ada beberapa macam olahan sayur. walaupun warung ini kecil tapi rasa masakannya setara dengan rumah makan terkenal di kota raja.
''Hhmm., benar- benar sedap baunya, apakah kau sendiri yang memasak semua makanan di warungmu ini..?''
''Kalau bukan aku lalu siapa lagi., kau pikir gampang mencari juru masak yang pintar tapi mau dibayar murah..?'' Si pemuda balik bertanya.
''Salah satu dari mereka adalah seorang perempuan muda yang sangat cantik, bahkan konon dia wanita tercantik di dunia persilatan. tapi orangnya sombong, galak dan suka memerintah. dua orang lainnya adalah lelaki. yang satunya masih muda, lumayan gagah tampan tapi dingin, tidak berperasaan dan tinggi hati. yang terakhir sudah agak berumur. sifatnya sangat kasar, pemarah dan brewokan. kurasa diantara kami berempat cuma diriku yang selalu sabar, baik hati dan pengertian..''
''Wah Satriyana., kau sungguh luar biasa. sudah berilmu tinggi, pintar masak, cantik, baik juga perhatian dengan teman- temanmu. apa ketiga kawanmu cuma bisa makan dan tidur tanpa membantumu sedikitpun..?''
Satriyana mengangguk tersenyum manis. dipuji Birunaka sebagai gadis cantik berilmu tinggi membuat hatinya senang. ''Aah., itu hal biasa bagiku. lagi pula mereka bertiga itu memang tidak dapat diandalkan..'' gadis itu duduk di kursi warung sambil mengangkat sebelah kakinya. dia terus saja membual sambil sesekali kibaskan tangan dan rambutnya mencoba berlagak gemulai.
Entah kenapa saat Satriyana membual Birunaka selalu melirik tajam ke arah kaki gadis itu yang terangkat sebelah di atas kursi warung. sekilas ada perasaan aneh yang tersirat di wajah pemuda itu.
__ADS_1
Bersamaan dengan selesainya Birunaka membuat nasi bungkus, di pintu warung sudah berdiri beberapa orang pengunjung.
''Eeh Birunaka., warungmu mulai ramai pembeli tuh..''
Di depan pintu warung itu telah muncul tiga orang. dua lelaki dan seorang perempuan muda yang cantik jelita. mereka memandang Satriyana dengan tatapan mata tajam seolah hendak menelannya hidup- hidup. tengkuk Satriyana seketika menjadi sedingin es.
''Ooh., jadi aku ini galak, sombong dan suka memerintah..'' ujar wanita cantik yang hanya memakai pakaian dalam berupa baju kutang hitam sambil bertolak pinggang. biarpun jelas sedang marah tapi penampilannya tetap mempesona dan menggairahkan. Birunaka sampai terpukau melihatnya.
''Kasar, brewokan, pemarah dan tidak dapat diandalkan. begitu yah menurutmu.,'' geram orang yang tinggi kekar. tampang sangarnya jadi lebih menyeramkan.
''Dasar gadis sial., pandai masak kau bilang, maksudmu pandai makan dan membual.?'' umpat si pemuda tampan berbaju putih.
''Eeih., Kal., kalian bertiga sejak kap., kapan datang kemari., hek., he., ma., maaf tadi aku cuma ber., bercanda saja..'' Satriyana gelagapan dan malu.
''Jangan banyak bicara lagi, cepat kau ambil bungkusan makanan itu. kita segera berangkat. awas yah., nanti kau bakal terima hukuman..!'' bentak si wanita cantik yang memang Roro Wulandari. tanpa berani berani bicara lagi Satriyana langsung mengambil lima bungkus nasi pesanannya dan langsung kabur sampai lupa membayar.
''Dasar gadis gila., aku juga yang harus keluar uang.!'' rutuk Roro sambil tinggalkan sepuluh keping uang tembaga di atas meja, lalu menyusul keluar di ikuti Sabarewang dengan raut muka sebal.
Respati melirik sekejab Birunaka. ''Ilmu silat pentungmu lumayan juga.,'' ujarnya sebelum melangkah pergi.
Pemuda baju biru itu tertegun ''Apa mereka bertiga inikah teman- teman Satriyana. meski hanya bertemu sebentar aku bisa merasakan hawa kesaktian yang hebat dari diri mereka..'' batin Birunaka sambil memandang kaki kirinya.
__ADS_1
Kalau sekilas tidak ada yang aneh dengan kaki kirinya. tapi jika di perhatikan terlihat jelas kalau jari manis dan tengah dikaki kirinya sama rata panjangnya. dan yang membuat hatinya risau, dia tadi jelas melihat kalau jari kaki kanan Satriyana mempunyai ciri yang sama dengannya. ''Benarkah dia yang selama ini kami cari..?'' gumamnya pelan. ''yang perempuan ada di kaki kanan, laki- laki di kiri., tidak salah lagi, pasti dia orangnya.!''