
Sabarewang menggeram seakan binatang buas yang siap menerkam mangsanya lalu mengangguk mantap. orang ini mengawasi sisi sebelah kiri. Satriyana begeser mendekat ke pembaringan Anggana, karena tempat itu berdekatan dengan lubang pengintai disebelah kanan, dia menjadi penasaran ingin melihat seperti apa sebenarnya orang yang ada di luar sana, hingga mampu membuat Dewi Malam Beracun dan Respati seakan sempat runtuh kepercayaan dirinya.
Dengan mengintai melalui lubang itu Satriyana dapat melihat siapa yang ada di luar sana, Seorang kakek tua berjubah putih, berambut panjang menjela, sehelai ikat kepala kain putih melilit keningnya, bermuka bersih kelimis dan menunggang kuda yang juga berwana putih. tidak ada yang istimewa dengan orang tua ini kecuali warna putih bersih yang ada padanya.
Gadis itu merasa heran dan penasaran, kali ini dia mengamati orang tua yang umurnya sekitar tujuh puluh tahunan itu dengan lebih teliti. dia terkejut saat melihat sepasang tangan dan kaki kakek ini juga berwarna putih mengkilap seperti batu pualam. ''Kakak Dewi tahu siapa orang tua berjubah putih itu,?'' yang ditanya cuma mengangguk. ''Apakah orang tua itu sangat sakti.,?'' kembali wanita itu mengiyakan. ''Tapi., kak Dewi dan kakang Respati pasti bisa mengalahkannya bukan.?'' desak Satriyana yakin. kali ini Dewi Malam Beracun cuma diam, lantas perlahan menggeleng. ''Aku tidak tahu., mungkin kami tidak mampu, entahlah..'' jawabnya ragu.
Sabarewang menjadi makin penasaran, tanpa dapat ditahannya dia bertanya ''Nyi Dewi., harap katakan siapa sebenarnya orang tua yang kau lihat itu. aku., aku benar- benar tidak mengerti kenapa kau mendadak menjadi., menjadi.,''
.'Menjadi begitu ketakutan, kan.?'' potong Dewi Malam Beracun. ''Seumur hidup aku belum pernah merasa takut menghadapi maut., itu karena lawan yang kuhadapi selama ini tingkatan ilmunya tidak berbeda jauh denganku, kalau cuma kalah tenaga dan ilmu silat, aku masih bisa mengandalkan otakku untuk menang. tapi orang ini lain., dia unggul segalanya dari aku dan Respati.!''
''Orang ini berasal dari pulau Dewata Bali, tepatnya dari daerah Jembrana. kalau tidak salah namanya I Gede Kalacandra, yang bergelar 'Dewa Serba Putih.!' asal kalian tahu saja, orang tua ini seumur hidupnya belum pernah menemui kekalahan. meskipun bukanlah orang jahat, tapi dia terlalu kejam dalam menghabisi lawan- lawannya.!'' tutur Dewi Malam Beracun.
Tiba- tiba terdengar ketukan beruntun dari depan, bersamaan kereta kudapun berhenti, itu isyarat kalau ada yang menghadang.
''Dua orang perempuan berbaju merah sudah tidak terlihat, mungkin mereka ada di depan.!'' kata Sabarewang sambil mengintai. Dewi Malam Beracun buka jendela kecil sebelah depan, ''Kau tetap kendalikan kereta kuda, biar aku yang menghadapai mereka berdua.!''
''Wanita memang sudah sepantasnya kalau menghadapi sesamanya., 'Tapi berhati- hatilah, kudengar sejak pertama kali muncul enam bulan lalu sudah cukup banyak korban mereka. 'Aku., aku tidak ingin sampai terjadi apa-.apa dengan dirimu..'' jawab Respati setengah berbisik. perempuan cantik itu tersenyum, hatinya terasa nyaman dan riang
Wanita itu mengatakan beberapa pesan pada Satriyana dan Sabarewang.
''Kalian berdua tetap disini, lakukan saja tugas masing- masing. aku mau turun dulu kedepan.,!'' ujar Dewi Malam Beracun sambil membuka pintu belakang kereta kuda. sekilas dia melihat jalanan itu nampak sepi, tidak terlihat orang yang berdandan pencari rumput, juga kakek tua berjubah putih alias Dewa Serba Putih. entah sejak kapan kedua orang ini menghilang. dengan sunggingkan senyuman sombong yang menjadi cirinya, Dewi Malam Beracun berjalan santai ke depan sambil keluarkan kipas peraknya.
Kedua orang wanita cantik berpupur dan bergincu tebal itu memakai baju merah darah bersulaman kupu- kupu dibagian dada.
mereka agak terkejut melihat kehadiran Dewi Malam Beracun, setelah saling pandang sesaat, merekapun turun dari punggung kudanya.
__ADS_1
''Sungguh tidak disangka hari ini kami berdua bisa bertemu dengan salah satu wanita tercantik di dunia persilatan, rasanya kami sangat beruntung.,!'' berkata si baju merah yang berdiri sebelah kiri dan punya tahi lalat kecil diatas bibirnya.
''Harap di maafkan karena sudah lancang menghadang kereta kuda ini, kalau saja kami tahu Dewi Malam Beracun yang ada didalam, tentunya kita akan berlaku lebih sopan..'' tambah perempuan yang di sebelah kanan, dan bertubuh lebih tinggi.
Dewi Malam Beracun mendongak, bibirnya tersenyum sinis lalu berkata, ''Sejak setengah tahun lalu tersiar kabar didunia persilatan tentang munculnya dua orang perempuan muda berilmu tinggi dan selalu memakai baju merah darah dengan sulaman kupu- kupu..''
''Hanya dalam waktu singkat nama mereka semakin mencuat, kalau tidak salah terakhir mereka menghancurkan satu perguruan silat di jawa barat, dan mengobrak- abrik sarang perampok yang berkuasa di pesisir tenggara tanah andalas, membunuh pimpinannya, sekaligus mengambil semua harta hasil rampokan.!''
''Tidak dinyana 'Sepasang Kupu- kupu Darah' sekarang bisa muncul disini., 'Apakah kalian sudah merasa begitu hebat sampai berani menghadang kereta kudaku.,?'' bentak Dewi Malam Beracun kereng.
Kedua perempuan muda yang mungkin usianya sekitar dua puluh lima tahun itu mengkelam wajahnya, ''Sudah kubilang kalau kami berdua tidak tahu kalau kau berada didalam kereta itu, kami juga sudah meminta maaf. 'Ataukah., kau memang sengaja ingin memperpanjang masalah sepele ini dengan kami Sepasang Kupu- kupu Darah.?'' wanita baju merah bertubuh tinggi yang bernama Kunti Pariyah balik membentak.
''Jangan kau kira kami takut menghadapimu, dasar wanita sombong.,!'' maki si baju merah yang bertahi lalat, namanya Wiji Ranti.
Dewi Malam Beracun tidak menjadi marah, dia bahkan tersenyum manis, ''Aah., aku memang terlalu terbawa perasaan, tidak seharusnya aku bersikap kasar seperti ini..'' ujar wanita itu. sambil mengipas- ngipas dia berjalan melingkar dengan gemulai, lalu berhenti hanya lima langkah disamping kanan kedua lawannya. ''Katakan., apa mau kalian sebenarnya..''
Terkesiap juga hati Dewi Malam Beracun mendengarnya, tapi dia malah menjawab jujur ''Ooh., kabar itu memang benar adanya. malahan dia sudah kuangkat sebagai anak, juga telah kubari nama Anggana. dia anak yang pintar dan ganteng, kemarin anakku itu sudah mulai merangkak., andai kalian bisa melihatnya pasti akan menyukainya..'' tutur wanita cantik itu sambil kembali goyangkan kipas peraknya.
Sepasang Kupu- kupu Darah tertawa pendek, ''Jadi kami berdua boleh melihatnya.?'' tanya Kunti Pariyah, ''Uuh., sayang sekali, anakku sedang tidur siang., tidak boleh diganggu.!'' jawab Dewi Malam Beracun gelengkan kepalanya,
''Kalau kami memaksa.?'' desak Wiji Ranti. wanita bergaun hitam itu melirik tajam, ''Itu artinya kalian ingin cepat mati.!''
Begitu kata, Mati' terucap, Dewi Malam Beracun langsung menggebrak.! tubuh langsingnya berkelebat cepat kedepan, kipas perak berputar menyebarkan bau harum memabukkan. bersamaan tangan kirinya mengibas, puluhan jarum perak beracun berhamburan menyambar,.!'
Sepasang Kupu- Kupu Darah keluarkan sumpah serapah kotor, buru- buru keduanya mencelat mundur sambil mencabut pedang berukiran kupu- kupu dari punggungnya masing- masing, lalu dengan sebat menangkis hujan jarum perak yang datang mengancam.
__ADS_1
'Whuut., wuut.!'
'Triing., ting., ting.!'
Puluhan jarum perak berhasil dirontokkan tapi ancaman tidak berhenti disitu, karena serangan yang datang belakangan inilah yang menakutkan, karena mereka harus langsung berhadapan dengan orangnya.
Kipas perak membabat leher dan dada Wiji Ranti, tapi ditengah jalan berbalik arah menyambar bahu dan tengkuk Kunti Pariyah, dengan gugup perempuan ini merunduk sambil putar pedangnya melindungi tubuh, lalu lancarkan babatan menyilang hendak merobek dada lawan. dibantu Wiji Ranti kedua perempuan inipun mengeroyok Dewi Malam Beracun dengan ganasnya.!'
Dalam waktu singkat ketiga wanita inipun sudah terlibat dalam pertarungan adu jiwa yang sengit. beberapa pejalan kaki yang hendak lewatpun berbalik arah ketakutan, mereka tidak mau sampai terkena imbasnya.
Dua puluh jurus lebih terlewati dengan cepat, Sepasang Kupu- kupu Darah saling lirik sekejab pedang ditangan mereka mendadak berubah menjadi merah, dan mengeluarkan kabut tebal yang juga berwarna merah.
Kabut merah berbau anyir darah itu semakin tebal dan pekat, Dewi Malam Beracun tutup jalan pernafasan sambil kibaskan kipas peraknya lebih hebat, tapi belum mampu membuyarkan kabut merah darah yang menggulung diudara.
Dewi Malam Beracun terdiam, dia bukan saja tidak dapat melihat kedua lawannya, bahkan kini tidak sanggup lagi membedakan arah, sekelilingnya cuma ada kabut merah pekat bebau anyir memuakkan. selanjutnya muncul seekor kupu- kupu sebesar telapak tangan yang juga berwarna merah terbang mengelilinginya, mulanya hanya seekor, kemudian dua ekor, sepuluh, duapuluh , hingga ratusan ekor kupu- kupu darah.!
'Hik.,hi, hi., Dewi Malam Beracun yang cantik jelita sebentar lagi akan menjadi seonggok mayat kering.!''
''Orang yang selalu merasa cantik memang sering berumur pendek, 'Sungguh kasihan.!''
Dewi Malam Beracun hanya tersenyum sinis mendengar ejekan kedua lawannya. ''Kurasa kalian cuma iri dengan kecantikanku., dasar perempuan jelek berwajah pasaran, sekalipun memakai sekarung pupur dan gincu juga tidak ada gunanya. hii, hi.,!''
''Wanita sombong keparat. kau akan mati mengerikan karena kesombonganmu.!'' terdengar suara makian Wiji Ranti.
''Bunuh., bunuh, bunuh.!'' seru kedua perempuan itu. bersamaan seluruh kupu- kupu merah darah itu terbang berhamburan menyerang Dewi Malam Beracun. wanita ini putar kipas peraknya, membabat kiri kanan, puluhan kupu- kupu darah berhasil dibuat rontok lalu lenyap. tapi kemudian muncul kembali puluhan kupu- kupu darah yang baru dari balik gulungan kabut merah.
__ADS_1
'Crass., cras.!' lengan dan betis kanan Dewi Malam Beracun tersambar kupu- kupu darah,
Perempuan ini mengernyit perih, lukanya mengeluarkan darah kehitaman, tanda mengandung racun.!