
Entah sudah berapa kali Satriyana berjalan mondar- mandir sambil menggerutu di depan api unggun itu, dia baru selesai berlatih memanah, badannya yang mulai terbentuk indah dan berisi terasa lelah. raut mukanya terlihat gelisah dan bingung. beberapa kali dia menengok kejalan dibawah bukit, saat yang dinantikan belum muncul gadis remaja ini kembali mengomel hingga Sabarewang merasa kesal dibuatnya.
Sambil menggerutu tidak jelas Satriyana melipat busur panah Srikandi yang tergenggam ditangannya lalu digantungkan di punggungnya. sekali lagi gadis ini menarik nafas berat. semenjak Dewi Malam Beracun pergi kemarin malam, atas perintah Respati dia mesti berlatih memanah dengan sasaran beegerak yang kecil dan jarak yang cukup jauh. dan dia harus dapat menguasainya sebelum Roro Wulandari kembali.
Yang membuatnya sebal dan heran, Respati sama sekali tidak mau memberitahu alasan kenapa dia harus melakukan latihan memanah yang sangat sulit ini siang malam.
''Sedari tadi kau cuma berjalan mondar- mandir juga ngomel sendirian, bikin orang lain sebal saja., sebenarnya kau sedang ada masalah apa.?'' tanya Sabarewang sambil menambahkan kayu bakar di perapian. api perlahan membesar dan mulai mendidihkan kuah daging yang ada di dalam kuali.
Sabarewang menambahkan bumbu halus, irisan sawi hijau, daun bawang dan sedikit potongan tomat. sebentar saja aroma sedap sudah tercium dari sana.
Biasanya Satriyana langsung mengambil nasi di periuk kecil dan juga sayuran kuah daging itu lalu makan dengan lahap. tapi sekarang dia hanya diam dan berdiri dengan muka murung.
''Sudah lewat sehari, malam juga telah turun. tapi kak Roro Wulandari belum juga kembali, atau jangan- jangan sudah terjadi sesuatu padanya.?'' gumam Satriyana khawatir. ''Tapi itu tidak mungkin, kakak Dewi punya ilmu silat tinggi juga sangat cerdik. siapa yang berani mencari masalah dengannya pasti bakalan celaka.,'' batinnya yakin. sementara perutnya yang lapar mulai berbunyi.
''Hei., kau ini sebenarnya sedang memikirkan apa, sedari tadi mondar- mandir seperti orang bingung, mau makan malam tidak.?'' teguran Sabarewang menyadarkan gadis itu.
''Eeh Iya., iya., aku makan sekarang.!'' dengan cepat gadis manis berkulit sawo ini mengambil nasi dan sayur daging lalu mulai makan dengan lahapnya. meskipun tubuhnya kecil nafsu makan anak ini lebih besar dari Sabarewang yang bertubuh tinggi besar. bekas anggota perkumpulan jasa pengawalan barang Garuda Nerah ini cuma geleng kepala melihat tingkah Satriyana.
__ADS_1
Sementara itu Respati yang berada di dalam ruang kereta 'Kuda Maut' terlihat mengamati hampir setiap jengkal bagian kereta itu. dahinya mengernyit. ''Tidak salah lagi, pantas saja beberapa hari lalu saat kami masih berada dalam goa, hampir tiap malam dia selalu keluar dan baru kembali masuk kedalam goa saat menjelang pagi dengan tubuh kelelahan..''
''Rupanya diam- diam dia sengaja merubah hampir seluruh pelalatan senjata rahasia yang terpasang di dalam kereta kuda ini menjadi lebih mematikan dan dapat menyerang hampir kesegala penjuru arah.!'' batin Respati takjub. ''Dan kalau benar yang Roro ambil dari Lembah Seruni adalah benda itu, bisa kubayangkan betapa dahsyat dan menakutkannya daya hancur kereta ini.!''
Dalam hatinya Respati merasa kagum sekaligus ngeri dengan kemampuan berpikir dan siasat yang ada dalam kepala wanita cantik yang masih terhitung saudara sepupu jauhnya itu. ''Sejak kapan Roro memiliki kemampuan menakutkan seperti ini, apakah dendam masa lalunya yang mengenaskan telah membuat dia menjadi wanita kejam yang tidak kenal ampun.?'' batin Respati prihatin.
Teringat akan Roro Wulandari, si pemuda seakan baru sadar kalau wanita yang sangat dekat dihatinya ini belum juga kembali dari Lembah Seruni. biar sedingin apapun sifat Respati, hatinya mulai khawatir juga.
''Semenjak malam itu, bisa dihitung hampir dua hari lamanya dia pergi ke lembah seruni. apakah Roro sengaja menginap disana beberapa hari setelah bertemu Puji Seruni sahabat lamanya., tapi kurasa itu tidak mungkin, dia pergi tergesa- gesa, pasti langsung kembali kemari..''
''Jadi cuma ada kemungkinan Roro menemui halangan di jalan., Aah, jangan- jangan ini ulah si nomor delapan, Iblis Betina Mawar Jalang. aku tahu kalau sudah lama mereka berdua saling membenci dan berharap salah satunya cepat mati. kalau tidak salah dugaanku ini ada kaitannya dengan bekas pembunuh nomor tujuh yang bernama Kamajaya, si Pendekar Romantis Pencabut Nyawa.!'' pikir Respati resah. biarpun sangat jarang bertemu dengan orang itu, tapi entah kenapa dia merasa muak dengannya.
''Hei kidal brewok., memangnya siapa yang kau bilang si putri rakus itu.,?'' sungut Satriyana marah. ''Tadi aku cuma sedikit menambah nasi dan sayur daging.!''
''Apanya yang sedikit., lihat sayur satu kuali kini tinggal separuh. Demit macam apa yang ada dalam perut karungmu itu Satriyana.?'' umpat Sabarewang kesal.
''Brewok sialan., saat ini hatiku sedang risau memikirkan kakak Dewi Malam Beracun yang belum kembali, juga kelelahan berlatih memanah gara- gara Respati..''
__ADS_1
''Jadi kau jangan membuatku tambah marah. salah- salah bisa kupaparas habis cambang brewokmu yang menyebalkan itu.!'' damprat gadis itu mencak- mencak.
''Ooh., jadi sekarang kau sudah merasa hebat. dasar bocah edan baru bisa memanah sedikit saja sudah sombong..'' Sabarewang ganti membentak.
Dua orang tua muda itu saling ejek dan maki tanpa ada yang mau mengalah. suasana menjadi rada panas. Respati yang keluar dari kereta kuda cuma melihatnya sebentar, karena dia tahu seberapapun ributnya kedua orang ini, tetap saja bakal akur kembali. mungkin saling olok dan ejek diantara keduanya adalah bagian ungkapan saling perhatian di antara mereka berdua.
Malam semakin larut., Sabarewang dan SatrIyana tertidur di dekat api ungun yang nyala apinya mulai mengecil. mungkin mereka kelelahan berdebat saling gontok, anehnya keduanya tidur berdekatan diatas selembar tikar. Respati yang bertugas jaga tertawa sendiri melihatnya.
Saat lewat tengah malam, telinga Respati yang tajam mendengar suara derap kaki kuda mendatangi. meskipun masih jauh tapi dia yakin orang yang sedang ditunggunya segera tiba.
Sabarewang terbangun, meskipun ilmunya masih jauh dibanding Roro dan Respati tapi kemampuan orang ini sudah meningkat tajam. tangan kirinya meraba gagang pedang buntungnya. sikapnya waspada dan curiga. berikutnya Satriyana turut terbangun. tali panahnya dibentang, gadis ini menyiapkan tiga anak panah ungu sekaligus.!
Derap kaki kuda semakin mendekat, dari suaranya jelas orang ini.sangat terburu ingin sampai di puncak bukit Lading itu. dan sama seperti dugaan Respati, di depan sana terlihat Roro Wulandari alias Dewi Malam Beracun telah muncul saat turun dari punggung kuda cokelatnya wanita cantik yang biasanya selalu bersih, rapi dan anggun itu terlihat berantakan, lelah dan bermandi peluh. jalannya sempoyongan wajahnya pucat seakan sakit dan kelelahan.
Respati langsung menyongsongnya, merangkul tubuh langsing jelita itu yang hampir terjatuh. pemuda ini terkejut saat melihat gaun jubah hitam Roro robek- robek dan dibasahi keringat bercampur noda darah. ''Apa yang terjadi padamu Roro., katakan siapa yang telah melakukan ini padamu.?''
Dewi Malam Beracun menggeleng lemah, ''Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya, kita semua masuk dulu ke dalam kereta kuda. ada banyak masalah yang harus kurundingkan dengan kalian semua..!'' ujarnya sambil membuka baju luarnya yang sudah robek lalu dibuangnya begitu saja. hanya memakai pakaian dalam yang tali bahunya terputus sebelah perempuan ini mendahului masuk kedalam kereta.
__ADS_1
Setelah menambatkan kuda tunggangan Roro di depan kereta, Respati memberi isyarat pada dua rekannya untuk ikut masuk. saat Roro dalam rangkulannya tadi, Respati sempat melihat buntelan dari kulit rusa menjangan yang tergembol di punggung wanita itu. sedikit aroma aneh yang tajam menyengat sempat tercium oleh si pemuda.
Meskipun sudah menduga sebelumnya, tapi tetap saja Respati bergidik ngeri. dalam hatinya pemuda ini malah berharap agar Roro mau membatalkan rencananya.