13 Pembunuh

13 Pembunuh
Siluman bermata tiga penghisap darah (bag2)


__ADS_3

Pertarungan antara Respati dengan mahkluk siluman jahat dari gunung Kawi itu terus berlangsung dengan sengitnya. hanya dalam beberapa gebrakan saja siluman yang bentuk tubuhnya seakan gabungan dari serigala, kera lutung dan kelelawar itu sudah membuat si pemuda terdesak hebat.


Berulang kali keempat cakar tajam di tangan dan kaki mahkluk jejadian itu nyaris berhasil merobek tubuh Respati. belum lagi gigitan taring dan sambaranan kepakan dua sayap kelelawarnya yang menghempas keras hingga menimbulkan angin tajam menderu.!


Respati terus bertarung mempertahankan dirinya tanpa sempat sedikitpun bisa balas menyerang. jika saat awal dia masih mampu melakukan tusukan dan babatan pedang Iblis Hitamnya, tapi sekarang jangankan membalas serangan, untuk bertahan saja dia sudah cukup kewalahan hingga terus bergerak mundur.


Dalam melabrak mangsanya, makhluk siluman bermata tiga serta bertubuh penuh bulu hitam itu menggunakan tiga bagian tubuhnya sekaligus untuk menghabisi sasarannya. gigi- gigi dan taring yang tajam, cakar- cakar panjang runcing penuh racun juga yang tidak kalah berbahaya kepakan sayap yang menyambar bagaikan sabetan sebilah golok raksasa.


Sabarewang yang melihat kawan karibnya terdesak hebat menjadi nekat hendak membantu. tapi sebuah tangan halus menahan bahunya yang kekar berotot.


''Nyi Dewi., harap kau lepaskan tanganmu, apa dirimu tidak melihat bagaimana keadaan Respati sekarang.?'' sentak Sabarewang sambil menepis tangan Roro Wulandari.


''Sabarewang., apa kau pikir mataku sudah buta., tentu saja aku tahu keadaan Respati. kalau soal khawatir diriku jauh lebih cemas darimu.!'' bentak Dewi Malam Beracun marah. sesaat mata keduanya bentrok pandangan. untuk pertama kalinya Roro mengalah, ucapannya terdengar melembut.


''Dengarkan aku., kita semua merasa cemas dengan Respati. tapi kita tidak boleh sampai bertindak sembarangan. aku merasa dia sedang berusaha mencari kelemahan mahkluk siluman itu..''


''Tapi Nyi Dewi., kita tidak bisa menunggu terlalu lama. aku takut Respati tidak bisa lagi bertahan dan kita terlambat membantunya..'' Sabarewang masih mencoba membantah.


Roro menunjuk ke arah pertarungan. ''Apakah kau tidak merasa Respati rada bertindak aneh., kalau dia memang terdesak, kenapa tidak meminta bantuan kita, bahkan seperti berusaha untuk mundur menjauhi tempat ini. seakan Respati takut mahkluk siluman itu mengetahui ada sesuatu di sekitar kita.?''

__ADS_1


Sabarewang tertegun sesaat sambil melihat kalangan pertarungan yang sudah semakin memuncak. sekarang kepakan sayap mahkluk siluman itu bukan saja mampu mengeluarkan sambaran angin keras dan tajam yang mampu menghempas habis rimbunan semak belukar dan menghantam patah dahan pepohonan di sekitarnya, tapi juga gelombang hawa panas kemerahan berbau amis memuakkan.!


''Soal itu., mungkin Respati sengaja tidak ingin melibatkan kita, hingga memancing siluman itu untuk menjauhi tempat kita berada..'' Sabarewang ajukan pendapatnya.


Roro seakan terkesiap mendengar jawaban Sabarewang. matanya yang tajam dan indah melirik sekejab ke arah kereta kuda. ''Apakah kau masih ingat saat siluman itu berkata kalau dia ingin makan jantung dan meminum darah..''


''Meskipun waktu itu kita berdua berada agak jauh darinya, tapi kurasa tiga bola matanya yang mengerikan itu terus memandang tajam ke arah kereta kuda kita, sementara hidungnya seakan mengendusi sesuatu yang menarik. seketika Respati menggeser tubuhnya sekaligus mencabut pedang Iblis Hitam seakan mencoba menghalangi pandangan mata siluman itu dengan aura hawa hitamnya.!'' desis Roro.dengan raut muka tegang.


Sabarewang seakan baru menyadari sesuatu yang menakutkan, ''Siluman itu haus akan darah., dia tertarik dengan sesuatu yang berada di dalam kereta kuda maut..''


''Aa., apa., apakah mak., maksud Nyi Dewi., siluman buas itu menyadari keberadaan dari Satriyana yang memiliki darah keabadian.?'' tanya Sabarewang tegang. Roro Wulandari mengangguk seakan membenarkan.


''Meskipun ini baru dugaanku saja, tapi kau bisa bayangkan jika mahkluk siluman jahat itu bisa mendapatkan darah ajaib Satriyana. seluruh dunia akan ditimpa malapetaka.!''


''Gadis bodoh., jangan perlihatkan dirimu.!''


''Mahkluk siluman itu sedang mengincar darahmu Satriyana.!'' jerit Sabarewang dan Roro Wulandari panik. Satriyana terkejut seakan baru menyadari sesuatu yang buruk. buru- buru dia menutup jendela kereta kuda, tapi semua sudah terlambat.


Dari kejauhan terdengar lolongan dan suara menggerung buas. sekali mahkluk siluman jahat dari gunung Kawi itu mengepakkan sayap kelelawarnya, tubuh penuh bulu hitam itu sudah melesat terbang menembus udara malam. Respati merutuk kesal, usahanya untuk memancing siluman itu agar menjauhi kereta kuda telah gagal. tidak ada waktu lagi untuk berpikir. tenaga dalamnya di kerahkan di telapak tangan kiri lalu menghantam.

__ADS_1


Segulung kabut putih pekat yang dibarengi cahaya keperakan berbentuk kepala ular kobra menyambar kedepan, inilah pukulan ''Kobra Penggerogot Mayat.!''


'Whuuss., Blaam., Dheaass.!'


''Grraaauurk.!''


Mahkluk siluman itu menggembor buas saat tubuhnya yang sedang terbang setengah jalan dihantam ilmu pukulan sakti. siluman itu tersungkur jatuh dengan tubuh diselimuti kobaran api. dengan keluarkan lolongan buas seakan serigala iblis, mahkluk jejadian kibaskan keras sayap kelelawarnya hingga kobaran api dan kabut putih panas yang menyelumuti sebagian tubuhnya semburat lenyap. pukulan 'Kobra Penggerogot Mayat' yang jadi andalan Respati dan digeruni rimba persilatan itu benar- benar tidak berguna dihadapan siluman ini.!


Mau tidak mau pemuda ini merinding juga, dia sempat juga berpikir untuk kembali menggunakan ilmu 'Roh Kobra Kegelapan', yang mempunyai keistimewaan sanggup menghancurkan mahkluk jejadian, tapi urung karena tenaga dalamnya belum pulih sepenuhnya.


Selagi dia mengatur pernafasan dan bersiap kembali menyerang, mahkluk siluman itu sudah berbalik terbang sambil menggembor murka melabrak ganas ke arahnya. terpaksa Respati melompat mundur menjauh secepat mungkin. dia perlu sedikit waktu lagi untuk memulihkan hawa saktinya agar dapat mengerahkan ilmu Roh Kobra Kegelapan. dia mesti mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan jurus- jurus pertahanan yang terdapat dalam ilmu pedang 'Kobra Iblis' untuk melindungi dirinya.


''Sabarewang., Roro., kalian cepat bawa Satriyana pergi dari sini. aku akan segera menyusul.!'' seru Respati sambil terus berjumpalitan sekaligus babatkan tiga kali pedangnya keleher, wajah dan dada siluman itu.


BIarpun tahu semua serangannya bakalan sia- sia karena mahkluk itu memang tahan senjata, tapi tidak ada yang dapat dia perbuat lagi. selain itu sebenarnya Respati sangat yakin jika semua makhluk siluman tetap saja memiliki kelemahan.


''Sialan, keparat., sebenarnya apa kelemahan dari siluman jelek ini, seluruh tubuhnya kebal senjata. bahkan hawa hitam beracun yang keluar dari pedang Iblis Hitam seakan malah terhisap olehnya., ilmu pukulan Kobra Penggerogot Mayat juga tidak mempan. kobaran api yang membakar tubuhnya dibuat musnah begitu saja dalam sekali kibasan..'' batin Respsti gusar dan ngeri.


Meskipun sudah menyuruh Sabarewang dan Roro untuk kabur terlebih dulu bersama Satriyana, tapi dua orang itu mana mau menurut. terlebih lagi Dewi Malam Beracun. dengan membentak garang wanita cantik ini langsung berkelebat sambil tangan kirinya menghamburkan berlusin jarum dan paku beracun. jarum paku itu agak berbeda dari biasanya karena bersinar kemerahan bagai bara api, pertanda Roro Wulandari sengaja memasukkan tenaga kesaktian dari ilmu 'Cakar Tengkorak Darah' ke dalam jarum pakunya sehingga kekuatan daya bunuhnya menjadi berlipat ganda.

__ADS_1


Bukan itu saja tangan kanannya yang sudah membentang kipas perak turut dikibaskan. seperti juga jarum dan paku terbangnya, senjata kipas perak itu juga seakan telah di selimuti kobaran api panas. hingga saat dikibaskan menimbulkan hempasan angin keras berhawa sepanas kobaran api. ilmu Cakar Tengkorak Darah sudah teralirkan dalam kedua serangan ini.!


Respati mendengus kesal, tapi biarpun agak jengkel dengan wanita itu namun dia juga tidak mampu melarangnya, karena dia paham betul jika Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun sudah bertindak, tidak ada seorangpun di dunia ini yang sanggup untuk menghentikannya.


__ADS_2