
Meskipun ilmu silat yang dipelajari Birunaka adalah silat dengan senjata pentungan warisan kakeknya si Dewa Pentung, tapi jurus silat tangan kosongnya juga lumayan bisa diandalkan. saat tendangan dan pukulan kedua pelayan warung itu mengancam dari kiri kanan, pemuda ini meraih sebuah kursi untuk menangkis sekaligus mengunci dua kepalan tangan lawan yang menghantam secara berantai. tapi kursi itu cuma bertahan sekejap saja karena dijebol kepalan yang menderu.
Bersamaan kedua kakinya bergerak mundur dengan pinggang memutar untuk menghindari tendangan lawan yang menyasar perut. biarpun dapat lolos tapi angin tenaga sapuan kaki yang menderu bukan saja mengoyak baju hitamnya, tapi juga mampu mematahkan kaki meja. rupanya kedua pelayan ini mempunyai ilmu silat berpasangan yang mengutamakan kekuatan tangan dan kaki.
Jika Birunaka langsung meladeni serangan kedua lawannya dengan tangan kosong, keras lawan keras, maka lain dengan Jurata. orang ini seketika melompat menjauh tiga langkah ke kanan saat dia merasakan ada ancaman dari belakang tubuhnya. sekali membalik badan tangan dan kakinya ikut bergerak cepat melempar kendi arak dan cobek sambal sisa makan para pengunjung warung yang masih berada diatas meja sekalian menendangi bangku tempat duduk hingga berhamburan ke depan.
Cara bertarung seperti ini sungguh di luar dugaan kedua lawannya. bahkan si pemilik warungpun sempat gelagapan dan merutuk marah. sekalipun ilmu silatnya paling tinggi di banding ketiga kawannya, tetap saja dia agak kebingungan. terpaksa keduanya meloloskan pedangnya dari balik baju untuk membabat bangku kayu yang melesat ke arah mereka hingga terpotong beberapa bagian.
Namun cobek sambal dan kendi arak tetap tidak dapat mereka hindari seluruhnya, bahkan sempat terpercik ke wajah hingga terasa panas dan pedih di mata. saat itulah Jurata sudah ganti melabrak mereka dengan gunakan goloknya yang tersembunyi di balik punggungnya.
Sekali serang dia lepaskan tiga bacokan golok yang diakhiri dengan dua buah sabetan miring ke arah dada dan iga. hebatnya di tengah jalan serangan jurusnya jadi berubah menjadi dua tusukan lurus yang menikam lambung lawan. kemampuan merubah jurus serangan dalam waktu sekejap sungguh mengejutkan hati kedua lawannya.!
Sambil berteriak tertahan keduanya melompat mundur sambil memutar pedangnya secepat yang mereka mampu untuk menangkis jurus golok lawan. bentrokan senjata yang terjadi berulang kali itu diakhiri dengan terjungkalnya tubuh salah satu pelayan yang mengeroyok Jurata bersama si pemilik warung.
Sebuah tendangan menghajar pinggang yang di susul sodokan gagang golok ke tengah dadanya tidak dapat dia hindari. selain jelas terlihat kalau ilmunya masih rendah, jurus golok lawan yang mampu berubah sampai tiga kali dalam sekali serangan sungguh membuat mereka mati kutu.!
Si pemilik warung meaung gusar. pedangnya di paksa lebih dulu menangkis golok lawan hingga lima kali sebelum mampu merebut kesempatan balas menyerang. dalam sejurus terlihat tiga larikan cahaya pedang yang tajam menikam Jurata. leher dan dada kiri kanannya yang menjadi incaran. orang ini terkekeh sinis, goloknya yang besar hanya dibabatkan ke atas lalu membacok.
__ADS_1
Tidak terlihat kembangan jurus yang indah, gerakan ini terlihat umum bahkan semua pesilat dapat juga melakukannya. hanya saja senpat terdengar suara menggerung buas dan menyeramkan. anehnya saat itu juga si pemilik warung seperti merasakan hatinya sangat tertekan nafasannyapun juga menjadi berat hingga tanpa sadar berseru kaget tersurut mundur.
Sebuah kilatan cahaya menyilaukan yang disertai pusaran angin tajam melabrak ke depan. tiga pasang meja kursi dalam warung pecah terbelah hancur berkeping- keping saat disambar tenaga jurus golok Jurata sebelum akhirnya melibas musnah tiga tikaman pedang pemilik warung.
Dengan petunjuk seorang ahli ilmu golok sekelas Ki Ageng Bronto alias 'Pendekar Golok Bayangan Setan' Jurata bukan saja mampu meningkatkan ilmu goloknya, bahkan sanggup menciptakan jurus golok baru yang dia namai jurus 'Bacokan Golok Penindas Jiwa'. sesuai namanya, lawan akan merasa berada dalam suasana yang sangat mencekam hati hingga semangat bertarungnya goyah sebelum di libas bacokan golok Jurata.
Tubuh pemilik warung makan 'Nagih Roso' itu terjungkal roboh begulingan hingga menabrak pintu dapur. seteguk darah menetes dari ujung bibir. pedangnya yang mental menancap di dinding rumah makan. satu goresan panjang terlihat di dada sampai turun ke batas perut. biarpun luka itu tidak sampai mengancam nyawa, tapi darahnya tetap mengucur.
Orang ini termasuk kuat juga hingga tidak terdengar keluhan kesakitan dari mulutnya tanpa sadar Jurata memujinya dalam hati. justru dua kali jeritan keras keluar dari dua orang yang menjadi lawan Birunaka. meskipun pertarungan mereka hanyalah baku pukul tangan kosong, tapi menggunakan tenaga dalam yang cukup besar, sampai- sampai beberapa meja kursi ikut remuk dihantam jurus serangan ketiga orang itu.
Birunaka sendiri walaupun bisa merobohkan kedua lawannya, tapi dia juga sempat terhuyung oleh tendangan yang melabrak pinggang kirinya. beruntung pemuda itu masih sempat gunakan sikunya hingga sedikit menahan tendangan lawan yang dilambari tenaga dalam tinggi. terlihat tangan pemuda itu sedikit terkulai, mungkin tulangnya agak cedera.
''Semua kabar yang perlu kami sampaikan sudah kalian dengarkan. terserah jika kalian tidak mau memberitahukan berita rahasia ini pada atasan. yang penting tugas kami sudah selesai..'' timpal Birunaka sambil mengurut sikunya yang memar. empat orang itu sesaat saling pandang. si pemilik warung yang punya lebih banyak pengalaman cepat mengambil keputusan. selintas kedua matanya berkilat.
''Harap maafkan jika kami telah lancang. tapi untuk masalah sebesar ini, kami perlu bukti yang lebih meyakinkan. jika benar kalian berdua adalah utusan rahasia dari pusat yang bertugas di daerah Jawa barat, tentunya kalian punya tanda rahasia sendiri. sekarang juga tunjukkan pada kami.!'' gertak si pemilik warung sunggingkan senyuman mencibir. Birunaka dan Jurata seketika tertegun dan saling pandang. ini sungguh di luar dugaan mereka.
Tapi kedua orang ini tidak melakukan apapun, bahkan tanpa bicara mereka langsung berbalik pergi keluar. ''Kalian sendiri yang cari masalah. akan kita lihat hukuman berat seperti apa yang bakal di putuskan para atasan, jika mereka tahu apa yang telah kalian perbuat pada kami berdua yang telah bersusah payah menyusup ke Wonokerto demi menyampaikan kabar rahasia ini..''
__ADS_1
'Tanda rahasia kami tidak boleh sembarangan di tunjukkan pada orang lain. jika kalian tidak percaya pada kami berdua., itu tidak masalah. apa kalian pikir kami tidak bisa melaporkan langsung pada para atasan di Istana Angsa Emas. lagi pula kalau kami dapat bicara tanpa perantara, uang jasanya yang besar tidak perlu dibagi dengan kalian. Haa., ha., ha.!'' Jurata dan Birunaka balas tertawa mengejek. sekali tendang pintu warungpun jebol.
Dengan langkah cepat keduanya bergerak keluar warung, tapi baru beberapa langkah mereka meninggalkan rumah makan, empat orang itu sudah berkelebat menyusul keluar. Jurata dan Birunaka seketika berbalik. mereka sadar pertarungan bakalan berlanjut karena si pemilik warung dan tiga pelayannya pasti merasa curiga.
Golok besar milik Jurata sudah tercabut dari sarungnya, sementara tangan Birunaka juga merogoh ke dalam buntelan besar kain hitam berisi pentungan yang dia panggul. sebenarnya dia enggan memakai senjata pentung saktinya karena khawatir bakal dikenali orang Istana Angsa Emas. tapi agaknya sekarang dia tidak punya pilihan lain. lebih baik gebuk duluan, masalah lainnya diurus belakangan.
Empat orang sudah menghadang. tatapan mata mereka terlihat tegang dan panik. tiba- tiba saja mereka menjura setengah berlutut. ''Kami berempat mohon maafmu., kami sadar sudah bertindak lancang dan gegabah hingga tidak percaya pada dua utusan rahasia seperti kalian. tolong jangan laporkan kesalahan kami pada atasan..'' ujar pemilik warung gemetar.
''Ben., benar., tolong kalian beri kami ampunan. kami semua hanya tidak ingin kecolongan..'' sambung tiga anak buahnya ketakutan.
Jurata dan Birunaka langsung melengak kaget, mereka berdua tidak menyangka gertakan tipu muslihatnya bakal berhasil. sesaat keduanya saling lirik menahan tawa. setelah bergaul dengan si cantik yang licik Roro Wulandari, otak keduanya jadi lebih cepat tanggap dalam menghadapi masalah. dengan mendengus dan pasang muka geram Jurata mendongak sombong lalu kibaskan sebelah tangannya.
''Huhm sialan., kesadaran kalian sudah terlambat. beruntung kami bukanlah orang yang suka mendendam. baiklah., kami akan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. lagi pula., kami juga tahu kalian hanya ingin menjalankan tugas dan tidak boleh gampang percaya pada orang lain..''
''Karena itu., aku pikir kalian patut mendapat imbalan lebih. nanti akan kami katakan pada atasan tentang kehebatan cara kerja kalian berempat..'' tambah Birunaka. secepatnya kedua orang itu berkelebat pergi tinggalkan si pemilik warung dan rekannya yang menjura hormat sambil mengucap terima kasih.
****
__ADS_1
Asalamualaikum., salam sejahtera. mohon maaf🙏kami jadi makin lambat up date, karena authornya/ adik saya sedang kurang sehat. tapi dia masih terus usahakan untuk bisa bikin sambungan cerita novel 13 Pembunuh dan Pendekar Tanpa Kawan.
Jadi mohon maaf jika hasilnya kurang bagus. 😓😊. Terima kasih sudah sabar menunggu, semoga kita semuanya sehat selalu. Amin. Wasalamualaikum.