
Waktu sudah melewati tengah hari, tapi suasana pedataran di sebelah timur tugu perbatasan luar kadipaten Wonokerto justru semakin terasa mencekam. ratusan mayat terkapar dan darah yang membasahi tanah membuat hati siapapun bergidik ngeri.
Empat kereta hitam dengan kuda penariknya yang terpenggal kepala masih berada di sana dengan jarak yang berjauhan. para pendekar aliran hitam putih yang masih bertahan seakan terpecah menjadi empat kelompok. mereka memilih dan mengincar salah satu kereta kuda hitam itu yang di yakini berisi peta rahasia istana 'Angsa Emas.!
Biarpun begitu tidak ada seorangpun tokoh silat yang berani mendahului untuk bergerak. karena mereka sadar siapapun orangnya yang nekat bakal mampus lebih dulu. sesaat suasana menjadi sunyi mencekam. berpuluh senjata di tangan siap saling menikam, ilmu pukulan sakti juga menunggu menghantam lawan. tapi tidak satupun berani bertindak, karena bagaimanapun inginnya mereka untuk mendapatkan peta wasiat yang di idamkan, nyawa mereka cuma ada selembar saja.
''Haa., haa., kalau memang kalian semuanya sudah berubah menjadi kaum pengecut, biar aku saja yang memulainya.!'' terdengar suara seruan menggeledek yang di barengi berkelebatnya satu sosok tubuh kurus berpakaian tambalan compang- camping ke tengah kalangan.
Sosok tua yang punya keanehan pada sepasang matanya yang hitam gelap itu bukan sekedar berkelebat cepat di udara, tapi juga hantamkan kedua telapak tangannya ke arah gerombolan para pesilat yang berada di sekitar kereta hitam dan paling dekat letaknya dengan tempat si pengemis tua itu mendekam.
Beberapa sambaran angin panas yang di sertai cahaya merah hitam redup bertaburan mencari korban. seketika lima orang pesilat di tambah sepuluh orang prajurit Demak tumbang meregang nyawa dengan tubuh melepuh. anehnya mata mereka sama mendelik dan menghitam.
''Awas., ajian 'Lepuh Ireng'., cepat semuanya menyingkir.!'' teriak Nyi Wisa Geni mengenali aji kesaktian yang di lepaskan oleh si pengemis tua, sementara dia sendiripun mendahului berjumpalitan menghindar.
''Lihat., 'Pengemis Tua Mata Setan' sudah mulai bergerak.!'' seseorang berseru keras. serentak semua orang turut menyerbu. tentu saja sasaran yang mereka pilih adalah yang terdekat lebih dulu. tidak dapat di tahan lagi bentrokan besarpun kembali pecah.
Sementara bentrokan besar- besaran antar para tokoh rimba persilatan yang berebut peta rahasia istana Angsa Emas sedang berlangsung., pada beberapa malam sebelumnya di sebuah tempat berupa pulau terpencil yang di penuhi dengan binatang beracun dan terletak jauh sekali di laut selatan jawa, 'Pulau Seribu Bisa'.,
Malam itu di seputaran sebuah meja bundar besar yang terbuat dari batu pualam putih, terlihat sebelas sosok tubuh manusia sedang duduk di atas deretan kursi yang juga terbuat dari batu pualam putih. sementara di sekitar mereka juga nampak hampir seribu orang berseragam hijau dengan memakai kedok muka tengkorak putih.
Mereka berdiri tegak dan terbagi dalam sepuluh barisan. di pinggang masing- masing juga terselip senjata berupa sebatang tombak pendek berwarna hitam. di setiap barisan ada dua orang yang berdiri paling depan. satu orang membawa obor batu sebagai penerangan, sedang seorang lagi yang membekal dua buah tombak pendek sebagai pimpinan barisan.
Selain mereka masih ada satu orang lagi yang sama memakai topeng tengkorak putih dan juga membekal tombak kembar tapi berbaju hitam dan bercaping bambu, berdiri tegak di depan sepuluh barisan pasukan itu. mungkin orang ini adalah sang kepala dari seluruh pasukan baju hijau berkedok topeng tengkorak putih.
''Apakah kau yakin sudah mempersiapkan segalanya dengan baik Kamajaya., 'Pendekar Romantis Pencabut Nyawa.?'' tanya sosok tinggi besar berjubah kuning bersulaman gambar seekor angsa emas di bagian dadanya. wajah sosok ini tidak terlihat karena tertutup sebuah topeng tengkorak yang terbuat dari perak.
Meskipun orang ini sepintas hanya bertanya sambil duduk di atas sebuah kursi tinggi yang terbuat dari batu pulam putih, namun gema suaranya yang angker seakan berasal dari dunia lain hingga membuat hati orang yang mendengarnya merasakan suatu tekanan berat dan seram.
__ADS_1
Orang yang di sebut sebagai Kamajaya atau si Pendekar Romantis Pencabut Nyawa hentikan gerakan pisaunya yang sedang mengukir sebuah boneka kayu wanita cantik lalu berdiri menghormat, ''Seperti yang sudah kita atur tempo hari., semuanya berjalan sesuai rencana. diantara 13 Pembunuh cuma si nomor tujuh dan nomor sembilan yang masih berada diluar. tapi mereka selalu siap melaksanakan tugas.''
''Seperti perintahmu., si nomor dua belas Dewi Malam Beracun dan tiga belas si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' sudah kita hapus dari anggota kelompok. sebagai gantinya dua sobat lama kita Nyai Bawang dan Nyi Sira yang menempatinya..''
''Satu hal lagi ketua., setelah aku lakukan penyelidikan rupanya masih ada dua anggota kita yang terpaksa kita singkirkan. satu diantaranya adalah juga orang baru bernama Ki Manggal atau 'Pengemis Watu Item'. si pengkhianat perkumpulan pengemis 'Sembilan Tambalan'. rupanya luka dalamnya terlalu parah hingga butuh waktu lama untuk menyembuhkannya, jadi dia terpaksa kubuat mampus dari pada membuang waktu dan tenaga. lagi pula., ilmunya juga tidak begitu hebat..'' terang Kamajaya agak kecewa.
''Seorang lagi si nomor empat alias 'Laba- Laba Kuning' atau sang Putri Penjerat. perempuan ini mendadak menghilang entah kemana. aku sudah perintahkan si nomor tujuh bersama banyak anak buah untuk mencari dan kalau perlu menghabisinya karena aku merasa wanita ini punya niatan busuk..''
''Soal itu terserah kau saja. lalu bagaimana dengan nomor tiga dan delapan yang tidak ada kabarnya., apa kau sudah tahu di mana mereka berdua sekarang ini.?''
Kamajaya tersenyum mengangguk. ''Harap ketua tenang., si 'Kaki Tumbal' dan 'Iblis Betina Mawar J*lang' kita anggap saja sudah mampus. sebagai pengganti sudah aku undang dua orang tokoh silat hebat dari kawasan utara dan timur..''
''Tentunya kawan- kawan semuanya pernah mendengar nama 'Iblis Tua Berjangut Perak' dan si 'Kapak Jagal'. merekalah yang akan menggantikan kedudukan si nomor tiga dan delapan..'' terang Kamajaya sambil memberi isyarat kepada dua orang yang duduk di samping kanan kirinya untuk berdiri dan menghormat si jubah kuning yang bukan lain sang ketua kelompok 13 Pembunuh.!
Kedua orang itu langsung berdiri dan menjura hormat ''Salam hormatku ketua., aku si Kapak Jagal biasa malang melintang di daerah timur. suatu kehormatan besar bagiku dapat bergabung dalam kelompok 13 Pembunuh., saya siap menjalankan perintahmu.!'' saat dia berbicara suaranya terdengar keras seperti laki- laki.
Kalau di lihat dari julukan 'Kapak Jagal' yang seram orang sering mengira kalau dia pasti seorang pria kasar. tapi siapa mengira jika si Kapak Jagal ini adalah seorang wanita bertubuh gemuk padat berumur empat puluhan yang punya paras cukup menarik. hanya sayangnya matanya sebelah kiri picak dan hanya di tutupi selembaran kulit hitam.
''Hhm., aku berasal dari wilayah barat tapi sudah sejak lama mendiami daerah utara hingga ke seberang tanah Banjar dan Bugis. 'Iblis Tua Berjanggut Perak' siap menerima perintah ketua kelompok 13 Pembunuh.!'' ucap seorang kakek tua tujuh puluh tahunan yang berdiri di sebelah kiri Kamajaya seraya membungkuk hormat dengan gaya kaku.
Orang tua ini memakai sebuah jubah warna putih bermuka tirus, berambut putih panjang sebahu. selain memiliki pandangan mata tajam dan angkuh, orang ini juga mempunyai sebuah keanehan yang berupa janggut panjang dan lebat berwarna keperakan. setelah memperkenalkan diri orang tua bergelar 'Iblis Tua Berjanggut Perak ' itupun kembali duduk.
''Hak., ha., dua orang tokoh silat hebat ini punya nama lumayan terkenal, bisakah kalian berdua sedikit menunjukkannya langsung kepadaku.?'' bertanya sang ketua sambil tertawa bergelak.
Tanpa banyak bicara kedua orang pendatang baru itu saling lirik lantas menerjang cepat ke depan dengan sasaran sang ketua kelompok 13 Pembunuh itu. sesuai dengan perintah, kalimat 'menunjukkannya langsung kepadaku' adalah tantangan dan ujian dari sang ketua.
Senjata kapak besar bergagang panjang itu membabat sasarannya dengan gerakan lurus tanpa tipuan. cahaya hitam pekat dan panjang turut menyambar.
__ADS_1
Bagi orang lain yang melihat sekilas saja dari luar gerakan si Kapak Jagal ini cuma sebuah bacokan biasa saja. tapi tidak demikian jika di lihat dengan lebih seksama, rupanya di balik sebuah babatan kapak itu terdapat lebih dari sepuluh bacokan yang mengarah ke sepuluh tulang sendi utama lawannya. pendek kata dalam sekali bacok, dia mampu memotong lebih dari sepuluh bagian tubuh lawan. maka tidak salah kiranya kalau dia di sebut orang sebagai si 'Kapak Jagal'.
Kabarnya jurus yang di pakainya untuk menyerang sang ketua kelompok 13 Pembunuh ini bernama jurus 'Jalur Hitam Selusin Jagal Kegelapan.!'
Di sisi lainnya 'Iblis Tua Berjenggot Perak' juga turut menyerang, bedanya dia hanya bertangan kosong. kedua telapak tangannya yang terbuka di hantamkan ke depan. dua larik sinar keperakan yang menyilaukan mata dan di sertai suara ledakan bergemuruh menyambar ke muka. inilah pukulan 'Guntur Perak Kematian.!'
Dua jurus ilmu kesaktian ini jika di gunakan menghadapi tokoh silat kelas satu sekalipun mungkin akan membuat gentar musuhnya. tapi tidak berlaku kalau yang di lawan adalah ketua kelompok 13 Pembunuh.!
Tanpa beranjak dari tempatnya duduk, si nomor satu ini mulai tunjukkan sesuatu, sepasang tangannya terangkat sedikit ke atas kepala lalu membuat gerakan seperti sayap seekor angsa sedang mengepak. gelombang angin keras berhawa panas melabrak seiring kedua lengan sang ketua yang menghantam. bayangan sinar seekor angsa emas raksasa melabrak dahsyat.
Dua orang penyerangnya keluarkan suara tercekat kaget bercampur takut. aura kesaktian lawan mampu menindih lenyap kekuatan dua jurus kesaktian yang mereka lepaskan. setelah beberapa kejapan mata sempat bertahan melayang di atas meja bundar besar pualam putih. baik Iblis Tua Berjanggut Perak dan si Kapak Jagal sama terpental hingga tiga empat tombak ke belakang dan jatuh terkapar muntah darah.!
''Hhmm., lumayan juga dua orang ini, malah kurasa sedikit lebih baik dari si j*lang nomor delapan..'' batin ketua alias si nomor satu. sementara itu dengan tertatih dan gemetaran menahan luka dalam kedua orang ini bersimpuh di depan sang ketua.
''Sungguh mata kami buta hingga berani menyerang yang mulia ketua..''
''Harap ketua sudi memberi kami ampunan..'' ucap kedua orang baru itu gemetaran, karena dalam hati mereka sempat timbul rasa penasaran akan kehebatan sang ketua kelompok 13 Pembunuh hingga saat di beri kesempatan untuk menyerang mereka yakin bakal dapat setidaknya sedikit melukai sang ketua. namun hasilnya justru berbalik mereka yang hampir mampus.
''Bagaimana menurut ketua.?'' bertanya Kamajaya sambil tersenyum sinis melihat kedua orang yang dia bawa itu.
''Obati saja mereka berdua., kurasa keduanya cukup layak bergabung dalam kelompok ini..'' jawab sang ketua sambil lambaikan tangan kirinya. segulung hawa dingin melesat dan membungkus dua orang yang masih bersimpuh di atas tanah sehingga tubuh mereka terangkat naik dan berdiri. hebatnya gulungan hawa dingin itu juga merasuki tubuh mereka membuat sebagian rasa sakit akibat terluka dalam berangsur menghilang.
''Terima kasih yang mulia ketua.!'' ucap Kapak Jagal dan Iblis Tua Berjanggut Perak menjura hampir bebarengan. kini mereka benar- benar merasa takluk luar dalam.
''Haa., ha., baguslah., jika ketua sudah memutuskannya, tentu gerakan kita bisa segera di mulai.!'' ujar Kamajaya tergelak.
''Hak., ha., kau benar sobatku Kamajaya., tapi sebelum kita bergerak, apa tidak sebaiknya kita sedikit berpesta.?'' usul seorang gemuk plontos bermuka kemerahan yang sedari awal selalu meneguk arak. siapa lagi kalau bukan si Setan Arak. di sebelahnya ada si 'Penjudi Dari Akhirat' yang menyahuti, ''Pesta besar yang mengawali kita untuk berpesta darah dan nyawa para manusia tolol rimba persilatan..!''
__ADS_1
Di seputar meja bundar itu selain sang ketua kelompok 13 Pembunuh juga terlihat Nyai Bawang alias 'Nenek Bawang Beracun Belatung Darah'. Nyi Sira 'Mambang Wanita Buta'., Penjudi Dari Akhirat, si Setan Arak, juga orang berlengan buntung sebelah atau si 'Lengan Tunggal Penyambar Roh'.
Selain itu juga ada seorang pemuda berjubah mantel hitam yang terkesan dIngin dan sombong yang bergelar 'Naga Urat Hijau' dan seorang lelaki berbaju kumal kebesaran yang tubuhnya penuh kurap dan bisul kudis bernama Klowor Gombor alias si Gila Tangan Kudis'. mereka semua saling pandang lalu tertawa bergelak hingga mengguncangkan keheningan malam di pulau Seribu Bisa itu.