13 Pembunuh

13 Pembunuh
Jurus pedang pembunuh.


__ADS_3

Tubuh wanita cantik itu berdiri setengah menunduk. udara di sekitar ruangan itu perlahan berubah menjadi lebih dingin dan mencekam. hawa membunuh yang menakutkan terpancar dari tubuh wanita itu seiring dengan tercabutnya sebatang pedang yang tipis dan panjang dari sarungnya yang berupa sebatang tongkat merah.


Jubah gaun hitamnya sebelah bawah terlihat mengembang berkibaran, padahal ruangan yang berukuran cukup luas dan tinggi itu tertutup rapat. entah darimana munculnya gelombang pusaran angin yang bergulungan di ruangan itu.


Pedang tipis yang berkilauan itu sudah separuh tercabut. udara dingin dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi panas. sebuah bentakan keras melengking tinggi memecah keheningan ruangan itu. tubuh langsing putih tinggi semampai itu mencelat tiga tombak ke udara. rambutnya yang hitam lebat, panjang sepinggul terlihat berpilin seiring putaran tubuhnya.


Semburat cahaya menyilaukan terpancar dari mata pedang itu saat tangannya memutar gagang pedang lalu membabat dan menusuk, selaras dengan gerakan tubuhnya yang deras meluruk turun. sasarannya adalah seorang pemuda berbaju putih yang berdiri diam di bawahnya.


Pemuda bermuka dingin namun gagah itu sekilas menyeringai licik sekaligus kagum. meskipun belum seminggu belajar ilmu pedang, tapi dari hawa membunuh yang terpancar dari serangan itu menandakan kalau wanita cantik bernama Roro Wulandari ini sudah memahami betul cara menggunakan jurus pedang yang dia ajarkan.


Rambut hitam gondrong berikat kepala kulit ular hitam di kening pemuda yang bukan lain Respati si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' itu tersibak seiring bentakan kerasnya. pedang Iblis Hitam yang tergenggam di tangan kanannya menusuk tiga kali ke udara bersamaan dengan tubuhnya yang melesat ke atas. tiga larikan cahaya hitam busuk turut menyambar.!


'Whuuut., bheeet., beeet.!'


'Traaaang., traang., craaang.!'


Berulang kali terdengar bentrokan senjata di atas udara. gulungan cahaya hitam berhawa panas dan busuk dari pedang Iblis Hitam yang mengurung Roro di buat buyar oleh semburan cahaya tajam menyilaukan mata dari pedang pusaka yang di ambilnya dari mayat Nyi Sira.


Dalam waktu hanya empat lima kali kejapan mata saja kedua orang yang masih bersepupu jauh itu telah lepaskan hampir sepuluh serangan pedang yang mematikan di atas udara. saat tubuh keduanya terpisah dan mental hingga punggung hampir membentur dinding ruangan batu, kedua kaki mereka serentak menutul hingga tubuhnya dapat kembali meluncur untuk sama lancarkan jurus serangan berikutnya.


''Huhm., rupanya belajar ilmu pedang tidak sesulit yang aku kira. mungkin beberapa hari lagi aku bisa melampaui ke hebatan jurus pedang si Ular Sakti Berpedang Iblis yang terkenal sangat ganas di dunia persilatan.!'' dengus Roro Wulandari mengejek rekanya.

__ADS_1


Respati cuma terkekeh sinis mendengar ucapan wanita yang di juluki sebagai 'Dewi Malam Beracun' ini. ''Lagakmu yang selalu sombong dan suka memandang remeh itu akan membuatmu terpuruk. lihat saja., kubuat kau terjungkal roboh karena kesombonganmu dalam lima jurus berikutnya.!''


''Hik., hi., bilang saja kalau kau takut padaku karena bakat ilmu silatku yang jauh lebih baik darimu..'' balas Roro sengit. jangan di kira keduanya cuma beradu mulut belaka, senjata pedang mereka juga tidak berhenti saling membabat, menikam juga membacok. begitu pula tangan serta kakinya terus saja beradu pukulan berseling tendangan di atas udara dengan hebatnya.


Sekali lagi tubuh keduanya terpental ke bawah, pertarungan sengitpun terus berlanjut. hawa kesaktian pedang yang tajam berkali- kali menyambar keluar dari kalangan pertarungan, hingga mampu menggores permukaan keras dari dinding batu dalam ruangan itu.


Dalam ruangan itu juga ada Ki Ageng Bronto, Birunaka dan Satriyana. tubuh ketiga orang ini terlihat merapat ke dinding. di saat tertentu orang yang di gelari sebagai 'Pendekar Golok Bayangan Setan' itu menangkis sambaran- sambaran angin tajam dari kedua pedang yang berseradu dengan mengunakan golok saktinya.


Meskipun tubuhnya aman berada di dalam perlindungan Ki Ageng Bronto, tapi Satriyana juga Birunaka tetap merasa ngeri melihat pertarungan sengit antara Respati dan Roro. kedua anak muda itu sampai tidak percaya kalau itu hanyalah latihan saja. karena yang terlihat adalah sebuah pertarungan adu jiwa.


Empat jurus selanjutnya terdengar bentrokan senjata yang beruntun namun seakan terjadi dalam satu waktu yang sama karena begitu cepatnya semuanya itu berlangsung. sebuah suara keluhan tertahan juga turut terdengar diantara deru pukulan dan tendangan yang saling beradu.


Dua sosok tubuh berjumpalitan turun dari atas udara. untuk dapat melakukan pertarugan di atas sana seperti itu di butuhkan ilmu ringan tubuh dan kesaktian tenaga dalam yang tinggi. tapi bagi kedua orang bekas pembunuh bayaran ternama ini bukanlah suatu masalah yang terlalu berat.


Meskipun begitu pemuda ini masih berdiri tegak. sekali tangannya bergerak pedang Iblis Hitam sudah lenyap masuk ke dalam sarungnya yang terselip di belakang pinggang si pemuda. dengan menyeringai matanya melihat ke arah lawan.


Di sana nampak perempuan cantik itu berdiri terhuyung. tubuhnya yang putih mulus terlihat di basahi keringat. meskipun tidak mendapat luka luar, tapi wanita itu sedikit mengalami memar di pundak dan pinggul kanan. pedang di tangannya juga nyaris terlepas akibat bentrokan senjata pusaka yang di lambari dengan tenaga dalam tinggi.


Sepasang mata indah bening berbulu lentik itu menatap Respati dengan rasa penasaran. ''Aku sudah jelas dapat menjebol kurungan hawa pedang Iblis Hitam dan balik menekanmu. tapi kenapa pada akhirnya diriku tetap terjungkal olehmu.?'' tanya wanita cantik itu tersengal nafasnya. saat berlatih Roro lebih nyaman memakai pakaian dalam berupa kutang hitam yang sudah di basahi keringatnya.


''Dalam memainkan jurus- jurus ilmu pedang bukan saja mesti tepat dalam memilih jurus serangan, tapi hati dan pikiran juga harus menyatu dalam serangan jurusnya. kita yang mengendalikan jurus pedang, bukan malah sebaliknya di kuasai hawa membunuh dari ilmu pedang itu..''

__ADS_1


''Satu hal lagi., walaupun jurus pedang yang baru kau pelajari itu mampu menyerang secara hebat dan seimbang saat tubuhmu berada di bawah maupun atas udara, tapi mestinya kau tidak perlu memaksakan diri untuk menyerang dalam jarak dekat. karena pedang yang kau dapat dari Nyi Sira itu lebih panjang tiga jengkal jari tangan dibandingkan pedang Iblis Hitamku. pedang pendek lebih cocok untuk pertarungan jarak dekat..''


''Kau tahu kenapa Nyi Sira sangat sulit di dekati musuh.? itu karena dia buta dan sangat gampang curiga. indera pendengaran, penciuman dan perasaannya jauh lebih tajam di banding orang lain. nenek buta itu memilih lebih dulu menghabisi siapapun yang terasa mengancam dirinya dari jarak jauh dengan menggunakan hawa membunuh yang berasal dari kekuatan dendam kesumat dan sinar kesaktian pedangnya yang panjang..''


''Bagi si 'Mambang Wanita Buta' membunuh lawan secepat mungkin sebelum dapat mendekatinya adalah cara paling baik untuk menang dan bertahan hidup. jika ingin menguasai tingkatan tertinggi dari sebuah ilmu pedang, kau mesti memahami hawa pedang pembunuh.!'' terang Respati panjang lebar.


Dewi Malam Beracun diam merenung sesaat lamanya. dia seakan ingin meresapi setiap petunjuk yang didapatkan dari si Ular Sakti Berpedang Iblis. sambil berjalan anggun dia mendekati Respati, sepertinya wanita ini ingin menanyakan sesuatu yang belum dia pahami dalam pelajaran ilmu pedang pembunuh.


''Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan kepadaku.?'' tanya Respati melirik Roro.


''Memang ada sedikit masalah tentang jurus pedang yang kau ajarkan ini, yang tidak aku mengerti adalah kenapa..'' hanya sebatas itu saja kalimat yang terucap dari bibir merah Roro, karena selanjutnya pedang di tangannya yang bergerak menikam.!


Jarak diantara bekas anggota 13 Pembunuh itu hanya terpaut satu dua langkah saja. maka bisa dimaklumi jika Respati tidak sanggup menghindar. "Kena kau., dasar ular sok tahu.!" ejek Roro tersenyum licik. mata pedang panjang yang tipis berkilauan sudah menempel di belakang leher si pemuda. namun senyum kemenangan wanita itu sirnah melihat lawannya juga terkekeh.


Sebenarnya pemuda ini bukan tidak dapat menghindari serangan pedang Roro yang sangat mendadak tapi dia memang tidak berniat bergerak. cuma bahunya yang meliuk bergeser seiring dengan tangan kirinya yang menikam dari bawah ke atas. entah sejak kapan pedang Iblis Hitam yang pendek sudah tercabut kembali dari sarungnya. ujung pedang itu sudah mengancam bawah lengan kanan Roro Wulandari.


Tiga rekan mereka terperanjat melihat gerakan cepat yang di lakukan oleh kedua orang ini. mereka berdua seolah hendak benar- benar saling bunuh. Dewi Malam Beracun sesaat termangu, butiran keringat menetes deras dari keningnya. dia maklum jika dalam pertarungan sebenarnya, ada dua kemungkinan yang akan diterimanya. dada kanannya tembus, atau lengannya yang terputus.


Roro tarik pedangnya dari belakang leher Respati. setelah membetulkan tali baju kutangnya yang melorot ke bawah dia menjura hormat. "Terima kasih sudah memberiku banyak petunjuk tentang ilmu pedang. kurasa aku sudah siap melakukan rencanaku.."


"Meskipun belum sempurna tapi kurasa sudah lebih dari cukup. hanya sebelumnya kau mesti lakukan satu hal penting terlebih dulu.." kata Respati sambil memberi isyarat tangan. Roro maju mendekat ingin tahu. "Sebenarnya apa yang harus aku lakukan.?"

__ADS_1


"Dalam beberapa hari ini kau terus mengurung diri dalam ruangan rahasia tempat latihan Ki Ageng Bronto karena berlatih keras ilmu silat pedang pembunuh. selama itu aku yakin kau jarang keluar dari sini, meskipun masih terlihat cantik tapi sayangnya tubuhmu bau keringat. asem banget., makanya kau mesti mandi lebih dulu, sekalian bersihkan juga bulu ketiakmu yang makin gondrong itu. chuih., jijik.!" ejek Respati tutupi hidungnya lalu berbalik pergi meninggalkan Roro yang merah padam mukanya karena malu.


__ADS_2