13 Pembunuh

13 Pembunuh
Cerdik dan genit


__ADS_3

Hanya sebentar saja si cantik jelita ini sudah kembali lagi sambil membopong tubuh kekar Sabarewang yang sudah pucat dan lemah tak sadarkan diri. Roro sudah tidak perduli lagi dengan batasan diantara dua lawan jenis, dia merasa bersalah karena terlalu lambat dalam bertindak. Respati yang berlari menyusul dibelakangnya tidak mampu mencegah kemauan wanita ini.


''Cepat tolong orang ini kak Rumilah.,'' ''Katakan apa yang bisa kulakukan untuknya.!'' ucap Roro cemas, Rumilah sedikit heran dengan kelakuan adiknya. meskipun dia tahu orang bernama Sabarewang ini terkena racun ganas, tapi seharusnya Roro sudah paham bagaimana cara menanganinya. rasa panik kadang bisa membuat orang pintar berubah menjadi sangat bodoh.!


''Sudahkah kau beri dia tambahan tenaga dalam, dan totokan penutup jalan darah untuk melindungi jantungnya.?'' tanya Rumilah sambil hembuskan nafasnya dan menarik kedua telapak tangan dari punggung muridnya tanda mengakhiri pengobatan.


''Bodohnya aku sampai tidak memberinya totokan pelindung jantung., aku hanya melakukan itu disekitar lukanya.!'' ucap Roro memukuli jidatnya sendiri. tangannya bekerja cepat menotok jalan darah disekitar dada Sabarewang.


''Kau tolong mendudukkan tubuh Sabarewang., biar kusalurkan tenaga dalamku padanya.!'' pinta Roro pada Respati, ''Kau baru saja selesai bertarung, tenagamu belum pulih benar., biar aku saja yang melakukannya.,!'' bujuk si pemuda. Wanita itu menoleh, ''Dia tanggung jawabku, jadi lakukan saja apa yang kuminta.,!'' bentak Roro marah. dengan apa boleh buat Respati melakukan apa yang diminta perempuan itu.


Dewi Malam Beracun duduk bersila di belakang tubuh Sabarewang, dia segera pusatkan tenaga dan pikirannya, kedua telapak tangannya diangkat keatas kepalanya, lalu perlahan ditempelkan ke punggung Sabarewang. sepeminum teh kemudian selapis kabut asap tipis mulai nampak mengepul dikedua telapak tangan dan ubun- ubun wanita cantik ini.


Butiran keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya yang putih mulus dan hanya memakai sehelai baju kutang hitam itu. meskipun ******* nafasnya mulai tersengal tapi pria didepannya belum juga sadar, Roro terus saja memaksakan dirinya, rasa bersalah membuatnya tidak mau menyerah.


Respati duduk bersila dibelakang tubuh Roro, telapak tangan kanannya didorongkan kepunggung wanita itu rupanya dia ingin membantu mengerahkan tenaga dalamnya, sebentar kemudian usaha Dewi Malam Beracun menampakan hasinya, Sabarewang mulai siuman dari pingsannya.


Dengan keluarkan suara keluhan tubuh Roro terkulai lemah didada Respati, Pemuda ini memeluk tubuh wanita cantik yang lemas itu. dengan sehelai kain dia menghapusnya keringat yang membasahi tubuh semampai di pangkuannya.

__ADS_1


''Apakah dia sudah siuman.?'' tanya Roro pelan, Respati hanya mengangguk sambil menyibak rambut hitam yang menutupi wajah si cantik, ''Sabarewang sudah ditangani kakakmu, 'Jangan memikirkan apapun., hari ini kau sudah terlalu lelah, istirahatlah.!''


''Aa., Aku ingin begini dulu., jarang- jarang kau mau bersikap lembut seperti ini..'' gumam Roro tersenyum manja, kerlingan matanya rada genit. Respati gelengkan kepala. ''Dalam keadaan begini kau masih sempat merayu, apa tidak malu dilihat orang.,?''


Roro cibirkan bibirnya, ''Huh., siapa peduli, 'Aku bahkan tidak keberatan kalau semua orang didunia tahu tentang hubungan kita.!''


''Hubungan kita ini sebenarnya seperti apa?'' batin Respati kesal, tapi dia terus saja memeluk tubuh Roro, sementara Ki Gimun dan istrinya sibuk membersihkan ruangan itu, ketiga mayat sudah disingkirkan keluar, noda- noda darah sudah mulai hilang. Satriyana menggendong Anggana yang mulai rewel, mungkin bayi itu haus atau lapar.


Hari mulai beranjak siang, cahaya matahari yang menembus jendela terasa hangat menerangi ruangan itu. susana kembali tenang. Sabarewang masih terbaring diatas balai, tapi racun ditubuhnya sudah dapat dipunahkan, dia hanya perlu istirahat.


Nyi Gimun dan suaminya bilang kalau ketiga orang ini adalah para pengunjung yang datang hendak berobat. tapi rupanya mereka hanya berpura- pura sakit saja.


Tapi suatu ketika tanpa sengaja Rumilah melihat Sukmanila berbicara secara rahasia dengan seorang tabib yang pernah membuat kekacauan di pondoknya. dari pembicaraan itu diketahui kalau gadis ini adalah anak dari si tabib sendiri yang sengaja disusupkan sebagai mata- mata sambil menunggu kesempatan untuk membunuh Rumilah.


Kakak seperguruan Roro ini punya hati yang welas asih, meskipun sudah terlanjur mengajarkan ilmu pengobatan dan silat pada Sukmanila tapi Rumilah cuma mengusirnya dan memberinya nasihat demi kebaikannya sendiri. gadis itu tidak berbicara apapun dan langsung pergi begitu saja mungkin dia menyadari kalau saat itu belum mampu membunuh Rumilah.


Mungkin dikarenakan dia sadar sangat sulit untuk dapat menghabisi Rumilah, maka Sukmanila nekat berkomplot dengan Serikat Kalong Hitam agar dia bisa membunuh mantan gurunya yang telah membuat usaha pengobatan milik ayahnya dan beberapa tabib lain dI wilayah Jepara gulung tikar.

__ADS_1


Tapi ditengah jalan rencana mereka berubah, dari ingin membunuh langsung menjadi memfitnah Rumilah sekaligus menjatuhkan nama baiknya, baru kemudian menghabisi tabib perempuan itu.


Rencananya setelah mampu melumpuhkan Rumilah dan muridnya dengan mengirimkan tiga orang pembunuh bayaran dari Serikat Kalong Hitam, Sukmanila akan menyamar menjadi Rumilah untuk beberapa waktu, kemudian memberikan obat- obatan palsu atau malah racun kepada semua orang sakit yang datang berobat.


Tapi untuk bisa menyamar dengan baik, tentu diperlukan alat yang bagus, kebetulan di dalam Serikat Kalong Hitam ada seorang sakti yang ahli menyamar dan membuat topeng wajah manusia, tokoh silat ini dulunya adalah seorang gembong perampok, penipu ulung yang kabarnya tidak seorangpun tahu wajah aslinya dan biasa dipanggil dengan sebutan si 'Celeng Muka Seribu.!


Pada akhirnya., setelah banyak korban berjatuhan, Rumilah gadungan atau Sukmanila itu akan pergi dan melimpahkan semua kesalahan kepada Rumilah yang asli.


Rumilah dapat mengetahui semuanya justru dari mulut Sukmanila sendiri. setelah ketiga pembunuh bayaran dari Serikat Kalong Hitam yang dia sewa mampu membekuk Rumilah dan muridnya, gadis jahat ini merasa yakin sekali rencananya bakal berhasil dengan mulus, dan biasanya orang yang terlalu yakin malah menjadi sombong dan takabur. buktinya., hanya dengan sedikit pancingan saja Rumilah sudah mampu membuat bekas muridnya itu membuka mulut lalu mengumbar semua rencana jahatnya.


Tapi dia tidak pernah mengira kalau saat itu ada orang lain tengah bersembunyi didalam sebuah ruang rahasia yang berada dibawah kamar Rumilah. tadinya dia sempat heran karena tahu bekas gurunya itu sedang menerima tamu seorang perempuan yang membawa bayi didalam biliknya. tapi saat mereka masuk disana cuma ada Rumilah seorang diri.


Sukmanila mengira tamu itu sudah pergi dari sana. mimpipun dia tidak pernah tahu kalau di bawah lantai ruangan yang sederhana ini terdapat sebuah ruang pemandian rahasia yang menakjubkan, dimana ada seorang wanita anggota dari kelompok 13 Pembunuh yang sedang bersantai mandi bunga.!


'Bagaimana kau bisa tahu kalau orang yang ada di depanmu saat itu bukanlah diriku,?' tanya Rumilah sambil ganti mengurut jalan darah Roro, agaknya semua orang juga ingin tahu jawaban itu, bahkan Nyai Gimun dan suaminya turut hentikan kerjanya. 'Dari awal aku sudah curiga pasti ada orang dalam yang terlibat, karena tidak mungkin kakakku Rumilah bisa dipecundangi begitu saja.' tutur Roro sambil betulkan tali kutang bajunya yang melorot ke lengannya hingga sempat membuat sebagian buah dadanya yang putih montok terlihat sekilas.


''Saat kulihat Rumilah gadungan itu terlihat kaget dan takut, padahal aku tahu betul kakakku adalah seorang yang selalu tenang, 'Meskipun ada seribu pedang sedang mengancamnya, dia tidak akan pernah berkedip ketakutan.!'' puji Roro bangga. ''Hanya itu saja.,?'' tanya Rumilah belum puas. Roro lingkarkan kedua lengannya keleher Rumilah, matanya menatap wajah sang kakak yang sedikit pucat. ''Dari dulu kau tidak pernah suka bau harum bunga mawar., 'Tapi dari tubuh orang itu malah tercium bau wangi bunga yang kau benci., aneh bukan.?'' pungkas Roro seraya bangkit berdiri. Rumilah tersenyum seakan mengakui kecerdikan adiknya.

__ADS_1


''Sialan., baru selesai membersihkan diri tubuhku sudah kotor keringatan, sepertinya aku mesti mandi bunga lagi, wanita cantik sepertiku mesti selalu merawat diri. 'Hei Respati., kau mau ikut mandi bersamaku dibawah sana.,?'' tanya Roro menggoda si pemuda. Respati mendengus dingin. wanita genit itu cuma tertawa lepas sambil kembali masuk ruang pemandian rahasianya. sementara Rumilah hanya bisa mengelus dada melihat tingkah adiknya.


__ADS_2