
Masih telanjang bulat Dewi Malam Beracun berjalan dengan santainya mengitari ruangan mandi sambil sesekali mengibaskan rambut hitam lebatnya yang basah sepanjang pinggul. butiran air bunga wangi mengalir ke bawah mengikuti lekuk tubuhnya. cahaya mentari yang menyorot dari jendela atas ruangan membuat tubuh indahnya mengkilap.
Dengan memakai selembar kain tebal namun lembut Roro mengeringkan tubuhnya yang dibasahi air bunga wangi. dengan percikan cairan pengharum tubuh yang dikeluarkan dari guci kecil dia mengolesi kedua ketiaknya yang putih tapi ditumbuhi bulu- bulu hitam itu, juga buah dadanya yang mulus dan montok. aroma wangi segar semakin terpancar dari tubuh indahnya.
''Kau mau juga.? nih ambil saja. aku masih punya banyak guci minyak wangi seperti ini..'' ujar Roro melemparkan guci wanginya pada Indahsari alias Panglima Istana Tengah. ''Ooh terima kasih., kau baik sekali..'' sambutnya tersenyum senang. kaum wanita memang menggemari wewangian.
Saat pertama kali membuka tutup guci kecil yang besarnya cuma sejempol kaki itu, Panglima Istana Tengah merasakan aroma wangi yang bukan saja menyegarkan namun juga membuat perasaannya menjadi lebih tenang. dia sempat bertanya dari mana Dewi Malam Beracun mendapatkan benda ini tapi wanita itu cuma tersenyum simpul.
Sementara dalam hatinya dia justru berpikir lain sambil melirik sekujur tubuh Dewi Malam Beracun yang berdiri telanjang bulat. ''Selain punya kecantikan yang luar biasa, tubuhnya memang juga sangat indah. tapi kenapa dia tidak mau membersihkan bulu- bulu itu. Hihh., apa dia tidak merasa risih atau geli yah.?''
''Hei, kau sedang melihat apa. Aah., jangan katakan kalau kau sudah mulai iri dengan keindahan tubuhku. Hik., hi.!'' Roro tertawa mengikik. sekali tangannya bergerak, pakaian dalam kutang dan jubah gaun hitamnya yang tersampir di gantungan dinding tempat mandi sudah melayang kearahnya. dengan gaya anggun jubah gaun hitam itupun dipakainya.
''Cuih., siapa sudi punya tubuh buluan begitu. apa dirimu tidak pernah merasa risih.?'' cibir Panglima Istana Tengah sambil menyusul keluar dari gentong mandi. sekejap saja tubuhnya sudah tertutupi jubah kuning. ''Tadi kau bilang hendak mengadakan pertemuan dengan semua pimpinan Istana Angsa Emas. sebenarnya apa yang kau rencanakan.?''
''Memangnya rencana apalagi yang bisa kita lakukan kecuali mendahului menyerang masuk ke sarang kelompok 13 Pembunuh. tapi sebelum itu terlaksana, aku mesti lebih dulu memastikan kalau barang yang kucari benar sudah berada di tangan kami..'' gumam Roro seraya mengajak rekannya keluar dari ruangan mandi.
''Apakah kau akan mengadakan pertemuan sekarang juga, kalau memang demikian akan kuberitahu paman Kyai Jabar Seto, Ki Sabda Langitan dan yang lainnya. sekalian juga akan aku perintahkan orang untuk mempersiapkan ruangan pertemuannya lebih dulu. bagaimana menurutmu.?''
__ADS_1
Roro Wulandari mendengus dan membalik berkacak pinggang. ''Hei., aku tidak tahu dengan dirimu. tapi saat ini perutku sedang lapar. sebagai tuan yang baik bukankah kau sudah seharusnya menawari kami makan lebih dulu. kami ini tamu yang datang dari jauh yang kelelahan dan kelaparan..''
''Jadi sekarang., cepat kau perintahkan anak buahmu agar mengatur perjamuan makan untuk kami. soal masalah pertemuan dan mengatur rencana bisa dilakukan nanti. kau dengar tidak.!'' damprat Roro mendelik. jarinya menuding muka wanita bercadar kuning itu. mata beningnya berkilat tajam dengan suara yang menindas.
''Eehm., aduh maafkan aku., karena semuanya begitu mendadak kami menjadi lupa untuk memberi penyambutan..'' seru Indahsari tepuk keningnya. ''Kau kembalilah dulu ketempat mereka. sekarang juga akan kuatur jamuan makan untuk para tamu..'' sahutnya langsung berkelebat pergi.
Lewat belasan langkah dia keluar ruangan mandi, mendadak Panglima Istana Tengah hentikan gerakannya dan berdiri termangu. tubuhnya yang kecil ramping sesaat gemetaran. wajah cantiknya dibalik cadar kuning memucat . ''Ssii., sialan. kenapa aku mesti menuruti ucapan wanita setan yang sombong itu. Chuiih., awas saja nanti, akan kubuat dia menyesal.!'' geramnya kesal.
Sementara itu Roro Wulandari yang masih berdiri diruangan mandi terlihat menyeringai keji. dari kedua mata indahnya yang bening nampak memancarkan kekejaman. ''Biarpun sudah merasakan kalau senjata 'Kipas Darah Bulan Mentari' yang kudapat dari kakek tua 'Maling Nyawa' telah membawa perubahan dalam diriku, tapi tidak kusangka bisa sampai sehebat ini..''
''Tanpa harus kerahkan tenaga kesaktian yang banyak seperti sebelumnya, diriku mampu mempengaruhi pikiran seorang pesilat hebat sekelas Panglima Istana Tengah hingga mau- maunya mempersiapkan jamuan makan buat kami, hanya dengan memakai ilmu sihir rendahan 'Pelet Pengasihan Pemikat Jiwa..'' Dewi Malam Beracun terkekeh dalam hati.
Sementara itu jauh disebuah desa kecil dan terpencil yang bernama Kembangsoka, sudah sejak malam hari kemarin tempat itu didatangi banyak orang asing. dilihat dari dandanan dan senjata yang mereka bawa dapat di perkirakan kalau mereka berasal dari kaum rimba persilatan.
Padahal semenjak peristiwa tewasnya salah satu penduduknya yang bernama Ki Mijun dan Ki Sarpa juragan kaya yang menguasai desa itu bersama puluhan anak buahnya, hampir semua penduduk desa Kembangsoka memilih pindah dari sana karena ketakutan hingga kampung itu tidak ubahnya sebuah desa mati.
Apalagi pembunuhan itu juga diikuti peristiwa hilangnya seorang gadis remaja bernama Satriyana, membuat keadaan waktu itu makin kacau. mungkin cuma tinggal beberapa orang tua saja yang terpaksa masih bertahan hidup disana karena tidak punya tempat lain yang bisa mereka tuju.
__ADS_1
Salah satu penduduk desa yang masih tinggal disana adalah Ki Pulut. seorang tua tujuh puluhan tahun yang matanya sudah agak rabun. dibantu seorang cucu lelakinya yang kelihatannya baru berumur dua belas tahunan berkulit hitam dan sangat gemuk seperti buntelan karung beras, mereka berjualan makanan disebuah warung kecil yang berada diujung jalan desa.
Sore itu langit terlihat mendung. meskipun tidak tebal namun ada kemungkinan hujan akan turun. suasana nampak lebih gelap. Ki Pulut beniat menutup warungnya. sejak pagi hingga menjelang senja pengunjung warung cukup banyak. hanya saja hampir semuanya orang asing dengan penampilan aneh dan menyeramkan.
Meskipun terbersit rasa takut dihati Ki Pulut dan cucu lelakinya yang bernama Kundilan melihat kehadiran mereka, tapi karena warung menjadi ramai keduanya tidak ambil pusing. hanya saja biarpun diantara para pengunjung jelas sama menjaga jarak bahkan seperti saling curiga dan bersaing, namun ada suatu kesamaan.
Mereka semua secara diam- diam berusaha mencari tahu tentang dua buah rumah tua yang pernah ditinggali oleh Ki Mijun seorang petani tua yang tewas mengerikan didepan rumahnya bersama dengan juragan Sarpa dan puluhan anak buahnya beberapa tahun silam.
Tempat kedua yang lebih banyak menjadi perhatian adalah rumah keluarga Ki Winong. bekas kepala desa Kembangsoka yang juga sudah lama mati. tapi biarpun semua orang sudah tahu letak kedua rumah itu, tapi hampir tidak ada yang berani mendahului masuk ke sana. semuanya saling diam seakan sedang menunggu sesuatu.
''Kakek., beberapa hari ini rejeki kita cukup besar karena banyak pengunjung yang datang ke warung. sepertinya kita tidak perlu lagi berpikir untuk pindah dari sini..'' ujar Kundilan sambil membereskan cobek bekas tempat makan para pengunjung. saking ramainya sepasang kakek dan cucu itu terpaksa harus menambah meja dan bangku diluar warung.
''Hee., he., kau benar cucuku. meskipun para pengunjung warung kita menyeramkan tapi rejeki tidak boleh ditolak. tidak kusangka bekas gubuk reot Ki Mijun dan rumah tua Ki Winong membawa rejeki buat kita..'' jawab Ki Pulut terkekeh. karena matanya agak rabun tangannya tanpa sengaja menumpahkan gelas berisi wedang sari ketan hitam milik pengunjung warung yang masih ada disana.
Karuan baju lelaki kasar yang membekal tiga bilah gobang golok dan hendak meneguk minumannya menjadi basah. ''Orang tua sialan., matamu buta atau bagaimana, Hahh.!'' hardik orang itu seraya bangkit gebrak pinggiran mejanya hingga pecah. ''Ma., maaf., maafkan tuan. saya tidak sengaja. mata tuaku ini memang sudah lamur..'' jawab Ki Pulut ketakutan.
''Maaf katamu., keparat seenaknya saja kau bicara. sejak datang ke desa ini hatiku sudah kesal. biar aku buat buta sekalian mata tuamu yang tidak berguna itu.!'' bentak lelaki kasar berbaju dari kulit harimau belang itu seraya mencabut salah satu gobang dipinggangnya lalu membabat kedua mata Ki Pulut.!
__ADS_1
Yang diserang tertegun tanpa dapat bergerak. begitu juga cucunya. mereka mungkin tidak pernah menyangka bakal mengalami kejadian seperti ini hingga tidak mampu menghindar. gobang berkelebat secepat cahaya. sesaat lagi mata orang tua rabun itu akan benar- benar menjadi buta.
''Huhm., nama 'Macan Loreng Tiga Gobang' rupanya cuma julukan kosong hingga tanpa malu menyerang orang tua lemah yang tidak bisa melawan.!'' satu suara teguran terdengar dingin membarengi kelebatan cahaya kuning menyilaukan yang menghadang golok gobang itu.