13 Pembunuh

13 Pembunuh
Puji Seruni., gagal pamer.


__ADS_3

Melihat pasukan mayat hidup yang dia bangkitkan dengan ilmu hitam 'Angonan Mayit Sewu' atau jika diartikan 'Penggembala Seribu Mayat' musnah terbakar oleh cahaya matahari pagi, kemarahan ketua 'Kelompok 13 Pembunuh' menjadi semakin memuncak. meskipun demikian diluarnya dia terlihat masih tetap tenang.


Melihat orang tinggi besar berjubah kuning itu seperti tertegun, tiga orang pesilat aliran putih dan beberapa anggota Pasukan Pedang Angsa Sakti dari pihak Istana Angga Emas mencoba gunakan kesempatan ini untuk menyerangnya. orang bertopeng tengkorak cuma melirik sinis. hanya tinggal tiga jengkal saja senjata mereka merajam tubuhnya, mendadak muncul selapis cahaya kuning keemasan dari dalam tubuh orang ini hingga serangan para pengeroyoknya seolah tertahan oleh perisai gaib.


Hanya dengan menghentakkan lengannya kebawah, muncul suatu kekuatan tanpa rupa yang langsung membuat mental lawannya. dengan keluarkan suara jeritan yang disertai semburan darah, tubuh delapan orang itu terhempas keras lebih dari lima tombak ke belakang. pedang juga golok yang menjadi senjata mereka mental berpatahan. nyawa mereka telah tercabut sebelum tubuhnya sampai di atas tanah.


Kecuali orang- orang Istana Angsa Emas dan para pesilat yang pernah terlibat dalam pertarungan besar dilembah sunyi, hampir semua orang disana juga tahu kalau ketua dari 13 Pembunuh mempunyai tingkat ilmu kesaktian yang sulit diukur namun begitu, tidak satupun yang mengira kalau dia mampu membunuh lawan tanpa harus balas menghantam.!


Orang tinggi besar itu seakan tidak perduli dengan semuanya. perlahan rentangkan kedua tangannya ke samping. dengan sebuah gerakan seperti seekor angsa sedang mengepakkan sayap, ketua 13 Pembunuh kibaskan sepasang tangannya ke depan. dua kilauan cahaya kuning berbentuk sayap seekor angsa raksasa melabrak dahsyat.!'


'Whuuuuk., whuuuuts.!'


'Wheeeess., slaaaash.!'


''Awas., cepat menyingkir dari pukulan sakti ''Kepakan Sayap Emas Pemusnah Jiwa.!'' seru Ki Sabda Langitan saat mengenali ilmu pukulan lawannya. mulut bicara tangannya juga tidak tinggal diam. sambil melompat menghindar dia juga hantamkan aji kesaktian 'Awan Sakti Runtuh Menimpa Bumi' untuk menghadang serangan lawan yang memang punya daya hancur sangat mengerikan.


Menyusul pukulan sakti Ki Sabda Langitan alias si 'Tangan Penggoncang Langit, suami istri pimpinan perguruan .Lutung Ciremai' si 'Raja dan Ratu Lutung Ciremai' juga berniat menjajal kekuatan lawan. hampir bersamaan mereka hantamkan ilmu kesaktian yang di namai sebagai jurus 'Jari Lutung Nirwana'.


'Whuuuss., whuuuuss., wheeeess.!'

__ADS_1


'Blaaaaammm., blaaaarrr., jjdaaaarr.!'


Ledakan kekuatan terjadi secara beruntun saat empat kekuatan sakti saling beradu kekuatan. awal pagi yang seharusnya indah seakan malah berbalik menjadi kengerian tanpa akhir. pulau 'Seribu Bisa' kembali bergetar keras. batuan karang juga tanah yang berada di sekitar tempat pertarungan hancur lebur menjadi debu pasir dan kerikil, terus semburat ke segala penjuru.


Puluhan orang berteriak kesakitan saat tubuh mereka terkena pecahan batu karang yang terasa sepanas bara api. walaupun tidak ada seorangpun yang tahu dengan apa yang terjadi dengan ketua 13 Pembunuh karena pusaran debu pasir panas yang menghalangi pandangan, tetapi jelas terlihat ada tiga sosok tubuh yang terhempas roboh bergulingan dengan keluarkan suara keluhan tertahan.


Jika saja Ki Sabda Langitan serta Raja Ratu Lutung Sakti tidak memiliki tingkat ilmu kesaktian yang sangat tinggi, sangat mungkin sekarang ini mereka sudah tidak bernyawa. meskipun dapat selamat dari maut tetapi ketiganya jelas mengalami luka dalam yang cukup berat. melihat kejadian itu Puji Seruni dan 'Panglima Istana Tengah' berkelebat maju berniat untuk memberikan pertolongan.


Sebelumnya kedua perempuan cantik ini sudah lebih dulu siapkan satu ajian bertenaga dalam tinggi untuk sebagai penjagaan jika mereka diserang. tentu saja sang ketua dan para anggota 13 Pembunuh tidak sudi membiarkan mereka berdua untuk melaksanakan niatnya. 'Setan Arak' dan si 'Momok Jelaga Hitam' secara bersamaan meraung gusar sambil langsung hantamkan ilmu kesaktian masing- masing.


Belum cukup seperti itu saja, 'Pendekar Pedang Lali Jiwo' dan Klowor Gombor atau si 'Gila Tangan Kudis' juga turut serta lontarkan ilmu kedigjayaan andalannya yang mampu menyemburkan cairan darah kudis busuk yang sangat beracun. meskipun dua wanita cantik berjubah putih dan kuning itu sudah mempersiapkan diri tapi mereka tidak mengira kalau ada empat tokoh silat kawakan sekaligus yang turun tangan tanpa rasa malu.


Puluhan cahaya kuning keemasan dari dua jurus kesaktian milik kedua gadis itu seketika bentrok diudara dengan tiga ilmu kesaktian hebat milik anggota 13 Pembunuh. biarpun kekuatan jurus pukulan keduanya sangat hebat tapi keempat lawannya jelas masih lebih mengerikan hingga bukan saja mampu mencegat mereka tapi juga membuat Panglima Istana Tengah dan majikan Lembah Seruni itu tersurut mundur beberapa tindak.


Meskipun Puji Seruni sang 'Dewi Seruni Putih' mempunyai tingkat tenaga dalam sedikit lebih tinggi dibandingkan Panglima Istana Tengah, tapi justru dialah yang lebih dulu terpelanting dan muntah darah dari pada rekannya. semua itu selain dikarenakan dialah yang berada di depan, juga dari empat serangan lawan yang menggempur mereka berdua, tiga diantaranya langsung datang mengarah kepadanya.


Terutamanya sambaran cahaya pedang hitam milik Pendekar Pedang Lali Jiwo yang merasa sangat gusar karena sewaktu mereka berduel pedang orang tua cebol ini malah nyaris saja kehilangan nyawanya akibat termakan siasat licik Puji Seruni yang sengaja memancingnya untuk bertarung di antara tonjolan batu- batu karang terjal yang berada ditepian pantai. meskipun dapat lolos disaat terakhir tapi dia tetap terluka dalam. masih beruntung 'Darah Keabadian' pemberian ketuanya dapat sedikit meredam luka akibat sayatan pedang lawan.


''Huhm., jangan berlagak menyelamatkan nyawa orang lain, karena nyawamu sendiri juga pasti aku tamatkan hari ini. dasar gadis keparat. mampuslah kau tikus betina.!'' umpat Pendekar Pedang Lali Jiwo bengis. sekali lagi pedangnya bergerak membabat bersilangan. dua kelebatan cahaya hitam pekat dan lebar melabrak Puji Seruni. gadis itu menggeram buas. dengan nekat dia kerahkan sisa tenaganya untuk melawan sekaligus beradu jiwa.

__ADS_1


Sebuah tangan kekar namun rada pucat dengan ototnya yang melingkar kehijauan meraih pinggang rampingnya. tangan itu terasa agak dingin saat menyentuh tubuhnya. sedingin tatapan mata si pemilik tangan itu. jika lengan tangan kanannya merangkul pinggang si gadis lalu menggesernya ke belakang tubuhnya, maka tangan kiri yang menggenggam sebuah tongkat besi hitam bergerak cepat membuat lingkaran lantas menusuk ke muka.


Anehnya, meskipun hanya sebuah tusukan tongkat saja namun muncul dua jalur sinar merah kehitaman yang menebarkan hawa sangat panas. angin serangan menderu dahsyat. dua kali pula ledakan petir terdengar menggelegar. sesaat suasana pagi hari yang terang cerah menjadi gelap suram. tidak ada kembangan yang indah dalam gerakan ini tapi hawa membunuh yang teramat menakutkan dari jurus itu dapat dirasakan oleh semua orang.


Di penjuru berlawanan si Pendekar Pedang Lali Jiwo tetap berusaha bertahan. terlihat tenaga kesaktian dari jurus pedang yang dia lepaskan terus menyambar untuk menahan serangan tenaga sakti lawannya. namun itu cuma berlangsung tiga atau empat waktu tarikan nafas saja sebelum lelaki tua cebol berjubah putih gombrong ini meraung ngeri bersama tubuhnya terjungkal roboh.


Semua mata menatap ngeri pada dua buah lubang hitam yang mengepulkan asap panas tepat di dada kanan lelaki cebol itu. cukup dengan satu jurus serangan yang dinamai 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan' si pemilik tongkat yang tentunya Pranacitra itu mampu membunuh salah satu anggota baru dari 13 Pembunuh.


Bagi Puji Seruni ini bukanlah yang pertama dia mengetahui kehebatan jurus tongkat itu. setidaknya beberapa tahun silam gadis cantik murid Nyi Pariseta pernah melihatnya saat bersama si pincang mengobrak- abrik suatu pertemuan besar para pendekar yang diadakan oleh ketua perguruan 'Naga Biru' di gunung Semeru. dengan jurus itulah Pranacitra menghabisi sang ketua padepokan Naga Biru sekaligus membantu dirinya menuntut balas kematian Nyi Pariseta.


''Kau kelihatan lebih cantik dan dewasa bila dibandingkan saat terakhir kali kita bertemu beberapa tahun lalu. tapi jika ada noda darah seperti ini., kau jadi jelek..'' olok Pranacitra sembari mengusap lembut sisa muntahan darah di bibir Puji Seruni. wajah gadis itu yang sempat sumringah karena pujian menjadi mengkelam. biarpun begitu, di dalam hatinya merasa sangat senang karena pada akhirnya dia bisa bertemu dengan pemuda kekasih lamanya itu.


''Sejak kapan kau berubah bisa bersikap manis pada wanita.?'' cibir Puji Seruni sinis. meski begitu dia justru menggelendot manja di dada Pranacitra. ''Eehm., mungkin setelah bertemu banyak perempuan cantik di luaran sana, aku jadi sedikit tahu bagaimana cara berlaku romantis dan merayu para gadis atau janda muda yang bahenol. Hee., he..''


Jawaban yang asal- asalan ini pastinya mendapat balasan gamparan tangan kesal dan gemas dari Puji Seruni. si pincang cuma diam dan nyengir saja saat tangan si gadis memukuli dadanya karena dia tahu kalau Puji Seruni cuma bertingkah main- main. jika diamati semua kelakuan dua muda- mudi ini tidaklah pantas dilakukan saat berada di tengah pertarungan besar- besaran. sampai hampir semua orang sama melotot geram, malu tapi juga geli ataupun iri.


''Heii., apa kalian tidak pernah melihat kaum muda sedang berpacaran.?'' kalau mau terus bertarung adu jiwa, yah., silahkan saja. jangan perdulikan kami berdua.!'' hardik Pranacitra kibaskan tongkat besinya seolah memberikan ancaman. sementara itu Puji Seruni terus melirik sekeliling mencari- cari seseorang. ''Sialan betul., ada dimana si Roro brengsek itu. disaat diriku mau pamer kemesraan, Eeh., dia malah menghilang..'' gerutunya sebal.


...............

__ADS_1


Silahkan tulis komentar, like👍, vote☝, favorit👌 dan share novel ini jika Anda suka. Terima kasih🙏.


__ADS_2