13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia bukit Lading (bag 2)


__ADS_3

Semua orang sudah berada di dalam goa yang ada di atas tebing bukit, tangga tali juga sudah kembali di tarik ke atas. Respati menarik sebuah tuas besi ke bawah yang ada di dinding goa sebelah kiri. terdengar suara gemerincing rantai dan benda berat bergeser, mulut goa itu kembali tertutup. bersamaan itu Respati memasang sebuah pasak kecil pengait pintu goa lalu menarik tuas besi kembali ke atas. pemuda ini juga menyalakan sebatang obor penerangan yang ada tergantung di dinding goa itu.


''Eeh., bagaimana dengan batu pualam hijau itu.?'' tanya Satriyana. sementara Dewi Malam Beracun terus memperhatikan bagian bawah lantai dekat pintu penutup mulut goa. rupanya pintu itu terbuat dari lempengan batu pipih besar setebal satu jengkal.


Roro tersenyum sambil bergumam tidak jelas, matanya mengamati setiap jengkal pintu batu dan tuas besi yang ada di dinding dengan penuh minat. saat melihat ada patahan pasak kecil di lantai goa, wanita cantik itupun mengangguk tanda mengerti.


''Aah., rupanya semuanya sangat sederhana. cahaya mentari senja yang terserap batu pualam hijau itu menjadi sinar panas yang melelehkan pasak pengait pintu goa. hingga pintu penutup goa jadi terbuka karena pasak penahannya patah..''


''Hhm., tadinya aku berpikir kalau ini suatu keajaiban, ternyata cuma peralatan rahasia. aku berani bertaruh di balik dinding goa ini pasti ada pemberat dan rantai yang mengendalikan naik turunnya pintu batu. makanya pintu batu itu sengaja diberi lubang di dekat pasak agar sinar batu pulam hijau yang ada di bawah dapat masuk dan menghantam patah pasak besi ini.!''


''Tapi kuakui perancang mainan ini cukup hebat juga., aku ingin tahu siapa dia, yang pasti bukan kau. otakmu tidak mungkin bisa secerdas itu.!'' ujar Roro mencibir sambil menunjuk muka Respati.


''Hei., Roro kau cuma benar separuh. karena sebenarnya kuncinya bukan pada sinar itu. tapi pada pasaknya. meskipun terlihat keras tapi sebenarnya cukup rapuh dan mudah terbakar karena sudah direndam suatu cairan. meskipun cahaya senja yang datang melewati batu hijau berubah menjadi panas, tetap saja tidak bakal lebih panas dari bara api. karena sebenarnya perlu cahaya panas untuk membuatnya meleleh dan patah.!'' jelas Respati sambil mengambil obor yang ada dikanan dinding goa lalu mendahului bejalan masuk ke dalam goa itu.


''Hei., kita mau kemana., bagaimana dengan batu ajaib yang ada di bawah itu.?'' Satriyana mengulangi pertanyaannya.


''Itu cuma batu pualam hijau. biarkan saja berada disana..'' jawab si pemuda. ''Tapi apa tidak sayang, bagaimana nanti kalau benda itu hilang..? desak Satriyana khawatir.


''Bocah., kau ini terlalu banyak bicara, kita ikut saja.!'' sentak Sabarewang yang sedari tadi diam sambil menarik tubuh Satriyana.


''Heei., aduh., jangan menyeretku begini.!'' gerutu gadis itu. ''Huh., cerewet amat, cepat jalan nanti kita bisa ketinggalan.!'' dengus si kusir kuda.


Lorong di dalam goa batu cukup panjang, berliku dan punya cukup banyak cabang. beberapa kali Respati berhenti di antara persimpangan lorong. dia berpikir sebentar seakan menentukan arah baru melanjutkan langkah kakinya. orang lain pasti tersesat jika tidak punya petunjuk jalan. saat mereka berjalanpun beberapa kali juga Respati mengingatkan agar tidak sembarangan melangkah atau memegang tonjolan batu di dalam goa.


Seperti saat mereka berempat tiba lima langkah di depan sebuah lorong yang bercabang empat. ''Jalan goa yang akan kita lewati nanti adalah yang nomor dua dari kanan. sekarang akan kutunjukkan sesuatu..'' bisik Respati sambil mengambil sebutir batu sekepalan tangan dari bawah goa, lalu melemparkannya ke dalam cabang goa yang pertama.

__ADS_1


Baru saja batu itu menyentuh dasar goa, terdengar beberapa kali suara berdesing di ikuti melesatnya puluhan anak panah kecil dan pisau aneh berbentuk segitiga dari kanan kiri dinding goa batu itu. kecuali Roro dan Respati dua orang lainnya nampak kaget dan ngeri melihat kejadian ini.


''Goa dengan pintu rahasia pasti juga punya banyak jebakan maut di sekelilingnya jadi kalian berdua tidak usah heran.!'' ujar Roro kepada kedua kawannya yang masih melongo sambil berjalan mengikuti langkah kaki Respati yang mulai memasuki lorong goa nomor dua. Sabareweng dan Satriyana buru- buru mengikutinya.


Roro melihat sebagian besar lorong di dalam goa ini adalah buatan tangan sesorang. bukan perkara mudah untuk membuatnya. saat hendak bicara mendadak dari depan muncul seberkas cahaya terang. Respati yang berada paling depan hentikan langkahnya. pemuda ini tersenyum ''Kita sudah sampai.!''


Di depan sana terlihat satu pintu yang terbuat dari besi berwarna hitam. ada puluhan lubang kecil dengan bermacam bentuk di pintu besi itu. Respati menarik nafas pelan. obor di tangannya dia berikan kepada Roro Wulandari. '' Tolong kalian mundur dulu beberapa di belakangku..'' kata si pemuda. ketiga rekannya menuruti.


Setelah itu dia melolos pedang Iblis Hitamnya. cahaya dan kabut hitam busuk menyebar di sekitar tempat itu. ketiga rekannya cepat menutup penciuman. Sabarewang dan Satriyana bahkan mundur lebih jauh lagi agar tidak terpengaruh gelombang hawa Iblis yang muncul dari pedang pusaka itu.


Respati perlahan memasukkan pedang Iblis Hitamnya ke dalam sebuah lubang sempit yang ada di sebelah kiri pintu besi lalu memutarnya beberapa kali hingga terdrngar suara 'klak., klak' yang cukup keras. pemuda ini mencabut pedang Iblis Hitam dan kembali di masukkan kedalam sarungnya.


Tanpa ragu Respati mendorong pintu itu, terdengar suara berderit saat pintu besi setebal satu jari telunjuk orang dewasa itu bergerak terbuka. sebelum masuk si pemuda sempat berlutut pejamkan matanya, mungkin dia sedang menghormati pemilik tempat ini. dengan perlahan dia mulai melangkah memasuki ruangan. terlihat ada perasaan berat di wajahnya.


Dengan obor di tangannya dia menyalakan dua belas lentera minyak yang tergantung di dinding ruangan itu hingga cahayanya bisa menerangi seluruh ruangan yang luasnya hampir mencapai tujuh kali tujuh tombak.


''Luar biasa.,!'' ucap Sabarewang berdecak kagum.


''Kakang Respati., Aa., apa semua barang di sini punyamu., Heebaaat..!'' seru Satriyana.


''Kenapa kau tidak pernah bilang padaku soal tempat ini., sekarang aku mengaku kalah padamu.!'' ujar Dewi Malam Beracun sembari tersenyum sambil memandang berkeliling.


Di dalam ruangan itu penuh dengan puluhan bahkan mungkin ratusan benda berharga dan barang pusaka. emas permata, belasan guci batu giok berukiran naga yang mungkin berasal dari daratan tiongkok, beberapa kuali dan periuk emas berukiran para dewa bertuliskan aksara dari tanah hindustan. bermacam patung emas dan perak serta masih banyak lagi barang berharga yang tak ternilai harganya tersusun rapi di atas belasan buah rak meja dari kayu jati.


Di dinding ruangan juga tergantung puluhan senjata pusaka mulai pedang, golok, keris, tombak, busur panah, trisula, gada sampai pisau belati dan masih banyak senjata lain yang bentuknya aneh.

__ADS_1


Respati duduk diatas sebuah kursi kayu, di disampingnya ada sebilah pedang bersarung hitam yang terlihat agak besar juga sebuah busur berwarna keemasan lengkap dengan puluhan anak panahnya yang berwarna keunguan.


''Kurasa kau bakal suka dengan ini.,'' kata Respati sambil memberikan sebuah kitab yang sudah isinya hanya tinggal separuh jilid kepada Dewi Malam Beracun. perempuan itu ternganga saat membaca tulisan di bagian depan kitab itu. ''Kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti..!'' desis Roro Wulandari. ''Dari mana kau bisa mendapatkannya., aku sudah bertahun- tahun berusaha mencarinya.!''


''Kurasa hal itu sudah tidak penting lagi, karena kitab itu sudah jadi milikmu.!'' jawab si pemuda santai. Roro menghambur ke muka, tanpa malu dia memeluk Respati juga menciumi pipinya hingga si pemuda jadi gelagapan lalu seenaknya dia duduk di pangkuan si pemuda sambil merangkul. ''Terima kasih Respati Sayang.,'' bisiknya manja.


''Hei., hei., apa kau tidak malu di lihat orang.?'' semprot Respati rada risih.


''Huh., Kakak Dewi kalau sedang begitu memang suka lupa diri., pakai bilang sayang, sayang, segala.,'' gerutu Satriyana cemberut. Sabarewang cuma tertawa ''Jangan- jangan kau juga kepingin sayang- sayangan seperti itu yah., hek., he., ingat kau ini masih bocah di bawah umur.!''


''Tahun ini umurku akan mencapai lima belas tahun, kurasa aku sudah bukan bocah lagi.,'' bantah gadis itu sewot.


Roro bangkit berdiri matanya tajam menatap Satriyana membuat gadis itu menunduk seakan takut, wanita cantik itu memeluk belakang tubuh gadis lalu berbisik ''Jangan cemburu., aku memang suka padanya, tapi., belum tentu juga dia menjadi milikku..''


''Hhm., meskipun diantara kami berdua sudah lama saling suka, tapi mungkin tidak bisa saling memiliki.,'' tambah Roro. kalimat terakhir terdengar penuh kegetiran hati. ''Kalau memang suka padanya kau bilang saja terus terang., meskipun wajahnya tidak terlalu tampan, tapi lelaki seperti dia punya daya tarik besar bagi kaum perempuan..''


Wajah Satriyana merah padam, dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ada di hatinya. mungkin cuma perasaan suka sesaat atau rasa sayang antara adik pada kakaknya.


''Hooii., apa yang kalian sedang bicarakan., Satriyana kemarilah ada sesuatu untukmu.!'' seru Respati. gadis itu tertegun lalu menghampiri si pemuda.


''Dulu kau pernah bercerita sangat suka berkuda dan juga memanah. pusaka bernama ''Busur Srikandi Kencana Wungu'' ini kurasa cocok untukmu.''


Satriyana tertawa senang, lalu memeluk si pemuda, bibir mungilnya mengecup Respati. ''Terima kasih kakang.,'' ucapnya pelan. entah kenapa pemuda ini merasa malu. Roro mendelik melihatnya, tapi kemudian dia ikut tersenyum. ''Weeh., sang tuan putri Istana Angsa Emas mulai berani main sayang yah., hik, hi.!''


''Bu., bukan kak Dewi, Aak., aku hanya berterima kasih saja kok, gak sunguhan.,'' ujar gadis itu sambil menunduk malu. ''Halah., beneran juga gak ada yang larang.'' goda Sabarewang. dia tahu mungkin gadis muda itu lagi kena cinta monyet. Satriyana melotot gemas.

__ADS_1


''Kang Sabarewang., aku tidak tahu pedang buntung ini bernama apa dan siapa pemiliknya. Nih., kuberikan saja untukmu.!'' kata Respati sambil melemparkan pedang bersarung hitam pada si kusir kuda. dengan sigap Sabarewang menyambut pedang itu sekaligus langsung mencabutnya.


''Pedang hebat., aku suka senjata ini.!'' gumam Sabarewang terpukau. ditangan kirinya tergenggam sebilah pedang baja keras yang lebar serta tebal. pedang buntung bersinar redup kemerahan itu bukan lain pedang curian Respati dari pesanggrahan Selaksa Pedang saat dia membantu si Maling Nyawa mencuri di sana.


__ADS_2