13 Pembunuh

13 Pembunuh
Persekutuan Bulan Perak.


__ADS_3

Tiga orang berbaju serba hitam dan masih menjura hormat di hadapan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun itu meskipun juga memakai selembar cadar kain penutup muka yang juga berwarna hitam hingga sulit dikenali, tapi dari perawakan yang langsing dan aroma tubuhnya yang harum jelas mereka semua adalah para wanita.


''Hhm bagus., Kalian bisa begitu cepat datang kemari. itu pertanda kalian selalu giat berlatih tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. untuk itu aku ucapkan terima kasih.!'' ucap Roro mengangguk puas seraya memberi isyarat ketiganya untuk berdiri.


''Ini semua atas ajaran dan budi baik ketua yang telah menyelamatkan kita semua dari kematian, serta mendidik kami dengan baik..'' jawab orang yang ada di tengah sambil bangkit berdiri diikuti kedua rekannya. saat tubuh mereka berdiri, baru terlihat di sudut sebelah kiri cadar hitam yang menutupi separuh wajah mereka bagian bawah, terdapat sebuah sulaman gambar bulan sabit kecil berwarna keperakan.


''Budi pertolongan ketua Dewi Malam Beracun, biarpun seumur hidup tidak akan sanggup kami membalasnya..''


''Karenanya apapun perintah ketua., pasti akan kami laksanakan sebaik mungkin meskipun harus bertaruh nyawa.!'' sambung orang yang ada di kiri dan kanan.


''Urusan hutang budi jangan pernah lagi kalian ributkan., aku muak mendengarnya.!'' potong Roro menyentak. seketika mereka bertiga mengangguk diam. ''Sekarang aku bertanya., ada berapa anggota kita yang berada di daerah ini.?''


''Terhitung sampai akhir bulan lalu, di daerah ini ke arah timur hingga ke perbatasan barat Wonokerto ada sekitar tiga belas orang. jika masuk wilayah pusat Wonokerto masih ada lima orang anggota lagi yang berdiam di sana..'' jawab orang yang berdiri di tengah. sepertinya dia adalah pemimpin ketiga perempuan berbaju hitam itu.


Roro sesaat seperti berpikir keras lalu menarik nafas berat. ''Kau pilih dua orang anggota kita yang punya ilmu penyamaran dan ilmu meringankan tubuh terbaik. suruh mereka bergerak secepatnya untuk menghubungi kepala cabang perkumpulan kita yang berada di daerah Jepara..''


''Suruh dia dan anggotanya untuk diam- diam mengawasi Pondok Pengobatan Mata Hati yang di miliki seorang tabib wanita budiman bernama Nyi Rumilah..''

__ADS_1


''Sampaikan perintahku., apapun taruhannya dia dan seluruh anggota berkewajiban untuk menjaga keselamatan Nyi Rumilah dan seluruh penghuni pondoknya. terutama seorang bayi laki- laki yang berumur hampir setahun bernama Anggana. kalian dengar dan pahami.?'' tanya Roro tegas. ketiga orang perempuan yang mungkin adalah anak buah Roro Wulandari mengiyakan bersamaan.


Dewi Malam Beracun mengangguk puas sambil lemparkan tusuk konde berbentuk bulan sabit emas ke pada si pemimpin. saat tusuk konde itu di cabut rambut Roro yang hitam panjang dan lebat berbau harum segar seketika jatuh tergerai sepunggung.


''Berikan tusuk kondeku pada anggota di jepara sebagai tanda pengenalku. satu lagi, urusan ini sangat rahasia, tidak boleh ada orang luar yang tahu termasuk anggota persekutuan kita yg tidak terlibat dalam tugas ini.!''


''Perintah ketua segera kami laksanakan, jika tidak ada perintah lainnya kami ijin untuk mohon diri..'' ucap si pemimpin. Roro ulapkan tangannya, ''Pergilah., jaga diri kalian semua baik- baik. ingat aku tidak mau melihat ada orangku yang terluka atau tewas dalam bertugas..'' ujar Roro penuh perhatian.


Ketiga bawahannya menjura hormat sebelum akhirnya berkelebat lenyap dari hadapan Roro si Dewi Malam Beracun. wanita cantik ini tersenyum, kepalanya mendongak ke langit yang penuh bintang.


''Kalian pasti ingin bertanya siapakah ketiga orang perempuan yang mengaku sebagai bawahanku tadi.?'' gumam Roro seraya balikkan badannya. pertanyaan itu lalu dia jawab sendiri. ''Dulunya mereka itu kaum perempuan bernasib malang. ada yang kehormatannya terenggut oleh kekasihnya sendiri lalu di campakkan begitu saja, ada yang terjebak dalam sarang pelacuran karena sengaja di jual oleh suaminya. ada juga perempuan sebatang kara yang harus bekerja sangat keras melebihi siapapun hanya untuk mendapatkan sesuap nasi penyambung hidup..''


''Mereka semua sengaja aku selamatkan dan kukumpulkan di suatu tempat sejak hampir dua tahun silam. lalu dengan bantuan seorang kenalanku yang bernama Nyi Sapta Kenanga mereka di ajarkan silat kanuragan, terutama ilmu meringankan tubuh dan penyamaran..''


''Tunggu dulu., kau bilang Nyi Sapta Kenanga, bukankah orang ini adalah perempuan pencuri yang mengambil harta orang kaya kikir serta para pejabat tamak untuk dibagikan pada kaum miskin dan di juluki 'Tujuh Bunga Terbang.?'' potong Respati tiba- tiba dengan raut wajah kebingungan.


Dewi Malam Beracun tertawa geli melihat Respati. ''Kau pasti heran kenapa orang yang seharusnya sudah mati bisa tetap hidup dan menjadi salah satu orang kepercayaanku.?''

__ADS_1


''Hhm., hampir dua tahun silam aku memang pernah ditugaskan untuk menghabisi 'Tujuh Bunga Terbang.' atau Nyi Sapta Kenanga yang terkenal dengan ilmu meringankan tubuhnya. singkatnya setelah beberapa hari melacak jejak, akhirnya aku menemukan tempat persembunyiannya di dalam sebuah gubuk. terjadi pertarungan sengit. meskipun dia punya ilmu ringan tubuh dan senjata rahasia yang hebat, tapi tetap saja aku yang menang..''


''Saat aku hendak menuntaskan tugas, dari dalam salah satu bilik gubuk keluar empat orang perempuan yang langsung berlutut menangis dan memohon padaku agar tidak membunuh Nyi Sapta Kenanga yang pada saat itu sudah terkapar tak berdaya setelah kuhujani dengan sabetan kipas dan senjata rahasiaku..''


''Dengan perasaan heran aku bertanya siapa mereka dan kenapa begitu perhatian dengan Nyi Sapta Kenanga. saat itulah baru aku tahu kalau selama ini selain menjadi pencuri budiman, Nyi Sapta Kenanga si Tujuh Bunga Terbang juga sering menolong kaum wanita yang hidupnya teraniaya..''


''Mendengar kisah mereka aku jadi teringat kembali dengan kepahitan masa laluku. akhirnya kuselamatkan Nyi Sapta Kenanga sekaligus membuat kesepakatan dengannya untuk membentuk sebuah perkumpulan rahasia..'' tutur Roro Wulandari sambil menghela nafas bercampur kesedihan hati.


Respati mencorong matanya, ''Jadi kepala yang kau tunjukkan kepada atasan sebagai bukti tugas telah berhasil kau laksanakan adalah kepala Nyi Sapta Kenanga palsu.?''


Roro membenarkan ''Aku butuh bukti., jadi aku cari saja seorang korban. di pinggiran kota raja aku mendapati ada seorang wanita juragan kain batik sekaligus lintah darat kejam yang suka berbuat mesum dengan para pengawalnya. tanpa banyak pikir kuracuni wanita jalang ini, lalu kupotong kepalanya. dibagian wajah kubuat sedikit hancur dan menghitam agar tidak dapat dikenali..''


''Lagi pula hampir tidak seorangpun yang tahu bagaimana sebenarnya wajah asli Nyi Sapta Kenanga. asalkan dia tidak pernah lagi keluar, maka semuanyapun aman..'' jelas pembunuh nomor dua belas itu dengan santai, seakan tanpa ada sedikitpun rasa bersalah.


Sabarewang dan Satriyana dalam hatinya sampai membatin ''Dewi Malam Beracun benar- benar seorang pembunuh sadis, licik dan tanpa perasaan. kadang aku tidak percaya kalau dalam beberapa bulan belakangan ini bisa berkumpul dan bercanda dengan wanita pembunuh seperti dirinya..''


''Apa yang ada dalam pikiranmu sekarang ini Respati.?'' tegur Roro melihat rekannya cuma menunduk diam. ''Setahun belakangan aku ada mendengar kabar tentang munculnya sekelompok wanita berbaju dan bercadar hitam yang kerjanya mencuri harta orang kaya kikir dan para pembesar keraton yang tamak serta suka menindas rakyat..''

__ADS_1


''Setiap kali selesai menjalankan aksinya, mereka selalu meninggalkan sekeping perak bergambar bulan sabit bersilang pedang. demikian juga kala mereka membagikan hasil curiannya pada kaum fakir miskin. sekeping perak yang bergambar sama juga ditinggalkan di sana..'' ujar Respati sambil tersenyum dan geleng- geleng kepala.


''Aahh., sungguh aku tidak pernah mengira kalau saudara sepupuku yang galak ini bisa menjadi seorang ketua dari sebuah perkumpulan para maling budiman bernama 'Persekutuan Bulan Perak' yang namanya mulai terkenal setahun belakangan ini.!''


__ADS_2