13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pisau dalam kotak kayu.


__ADS_3

Melihat betapa menggelikannya keadaan si 'Maling Nyawa' saat itu semua orang saling pandang lantas tertawa bergelak termasuk juga si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh'. bahkan suara tawanyalah yang paling keras. mungkin selama hidup baru sekarang orang yang terkenal dingin dan kejam tanpa ampun itu bisa tertawa lepas.


Maling Nyawa melotot gusar tapi tidak mampu berkata apapun. selama ini dialah yang suka menipu, mempermainkan dan menindas lawannya. namun sekarang dia malah harus memberi hormat pada bekas rekannya yang paling dia benci. maka dapat dibayangkan betapa kesal hatinya.


''Tapi bagaimana ceritanya kalian berdua bisa menjadi sepasang kakek dan cucunya. atau jangan- jangan kalian cuma berniat untuk mempermainkan diriku.?'' tuding pencuri tua yang dua jari tangan kanannya buntung itu penasaran dan merasa curiga.


''Soal itu ada rahasia yang belum dapat kami ungkapkan pada orang lain. tapi percayalah kalau semua ini adalah benar adanya. lagi pula kurasa sekarang ini yang terpenting kakek lengan buntung sudah bersedia membantumu untuk menghancurkan kelompok 13 Pembunuh..''


''Sebagai gantinya jika kelak kami butuh bantuan, sudilah kakek Maling Nyawa berkenan menolong kita..'' ujar pemuda yang bernama Pranacitra ganti menjura hormat dengan sikap agak kaku. ''Terserah apa yang kau katakan, asal si buntung itu bisa pegang janji saja..'' gumam Maling Nyawa sementara dalam hatinya dia berpikir lain.


''Sungguh aneh., kedua orang ini terlihat tidak berdusta. tapi aku tetap merasa penasaran bagaimana ceritanya mereka dapat menjadi pasangan kakek dan cucu lelakinya. Aah., atau Hee., he., jangan- jangan tua bangka buntung bermuka jelek ini dimasa mudanya pernah menghamili seorang perempuan lantas dia tinggal kabur.?'' pikir si Maling Nyawa tertawa sendiri.


''Dimana Dewi Malam Beracun, muridmu si Ular Sakti, putri Satriyana dan yang lainnya berada sekarang ini kakek Maling Nyawa. kenapa mereka tidak datang bersamamu.?'' tanya si 'Laba- Laba Kuning' yang sedari tadi diam merenung. jika dilihat dari banyak bekas noda darah dipakaian kuningnya jelas sekali perempuan ini pernah terluka luar dalam yang teramat parah.


Tetapi kalau melihat raut wajahnya yang segar juga caranya mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang mampu membabat sebatang pohon besar hingga jadi belasan potongan, menunjukkan kalau dia bukan saja telah pulih malah meningkat kekuatannya.


Semua orang merasakan firasat buruk saat melihat raut wajah pencuri tua itu menegang, ''Eehm., kawanmu yang cantik dan genit itu sudah pergi mengikuti orang- orang Istana Angsa Emas bersama beberapa temannya yang lainnya. mereka butuh tempat aman untuk memulihkan diri serta mengatur rencana baru..''


''Sedangkan Striyana., sepertinya bocah itu sudah terjatuh ke tangan 13 Pembunuh. kemungkinan saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju pulau Seribu Bisa. jika aku tidak salah mengira, Respati juga telah terjungkal saat berusaha menolong pemilik Darah Keabadian itu. dugaanku dia turut dibawa kesana..'' terang Maling Nyawa.

__ADS_1


''Lantas apa gunanya kau kemari, kenapa tidak berusaha pergi menyelamatkannya. memangnya dirimu tidak merasa khawatir pada keselamatan muridmu sendiri. Huhm., dasar maling gila, guru macam apa kau ini.!'' damprat Malaikat Copet mendengus. semua orang selain terkejut mendengar berita itu juga merasa kalau sikap pencuri tua itu agak tidak berperasaan.


''Kalian jangan berprasangka buruk padaku. tentu saja aku merasa rada khawatir juga. tapi setelah kupikir lebih jauh, kedua bocah itu tidak akan apa- apa untuk sementara waktu. karena ada suatu benda yang sangat dibutuhkan ketua 13 Pembunuh selain Darah Keabadian yang berada di tubuh putri Satriyana..''


''Orang itu sengaja menahan muridku untuk ditukar dengan barang pusaka yang pernah hilang dari istana Angsa Emas. kau mungkin sudah dapat menebak benda apa yang aku maksudkan bukan.?'' tanya Maling Nyawa sambil melirik si Lengan Tunggal Pengejar Roh.


Muka pucat bengis manusia buntung itu berubah semakin menyeramkan. ''Jadi benar kalau dirimulah yang telah mencuri benda pusaka itu, setelah sebelumnya kau sempat menggantinya dengan barang pusaka palsu yang bentuknya begitu mirip aslinya.!''


Maling Nyawa tertawa bergelak. ''Haa., ha., aku bisa bayangkan saat si nomor satu itu menyadari kalau barang yang sudah lama di incarnya hanyalah benda pusaka palsu. jika bicara yang sebenarnya, pikiran untuk menukar benda itu dengan pusaka tiruan bukan berasal dariku melainkan si nomor delapan Ki Jarot Winongko alias 'Pedang Geledek.!''


''Lalu ada dimana barang itu sekarang.?'' tanya si tua buntung. ''Chuih., tidak biasanya kau suka mencari tentang rahasia orang lain. cukup kau tahu saja., dulu aku memberikan pusaka itu pada si Pedang Geledek yang kemudian menyimpannya entah dimana. setelah dia mati, kurasa sekarang tidak ada satu orangpun yang tahu letak penyimpanan pusaka itu..''


''Memangnya benda pusaka seperti apa lagi yang diincar ketua 13 Pembunuh selain Darah Keabadian.?'' tanpa tertahan Putri Penjerat ajukan pertanyaan. kecuali si tua bertangan buntung, kedua orang lainnya juga merasa penasaran dan ingin tahu.


''Sebenarnya barang pusaka yang aku curi itu hanyalah sebilah pisau yang berada didalam sebuah kotak kayu cendana hitam..'' terang si Maling Nyawa. ''Kalau hanya sebilah pisau lantas apa Istimewanya senjata itu.?'' desak si Putri Penjerat penasaran.


Pencuri sakti itu sempat menghela nafas pelan sambil pejamkan mata seakan sedang terbayang pada masa lalunya sebelum dia menjawab. ''Meskipun cuma sebilah pisau, tapi benda itu adalah kunci rahasia untuk membuka pintu gudang pusaka Istana Angsa Emas.!''


Tiga hari kemudian disuatu tempat lain yang berada dalam sebuah gugusan pulau karang terpencil yang berada disebelah utara selat Sunda, terlihat serombongan orang yang menaiki dua buah kapal besar berlabuh di dermaga yang letaknya dibuat tersembunyi diantara karang pantai yang cukup tinggi. Orang lain tidak akan dapat mengira kalau dibalik tonjolan batu karang itu dibangun sebuah pelabuhan rahasia lengkap dengan jembatan gantung yang menghubungkan pulau- pulau karang kecil dengan pulau karang utama yang ukurannya jauh lebih besar.

__ADS_1


Rombongan orang yang rata- rata memakai pakaian kuning keemasan dan celana hitam itu terlihat kelelahan bahkan banyak yang harus dipapah atau diusung tandu karena terluka parah. dari bendera kuning dengan lambang seekor angsa emas yang berkibar ditiang layar kapal menandakan kalau mereka adalah orang Istana Angsa Emas.


Salah satu orang yang mesti ditandu adalah Sabarewang. lelaki gagah tinggi kekar yang sedang luka parah ini dibawa dengan tandu oleh Birunaka dan Jurata. disamping mereka terlihat Roro Wulandari sang 'Dewi Malam Beracun' juga Ki Ageng Bronto yang ikut mendampingi.


Berturut- turut keluar dari kapal yang kedua adalah para pentolan Istana Angsa Ema yang tinggal beberap orang saja. bahkan I Gede Kalacandra juga sedang sekarat. jika tidak mendapat pertolongan mungkin saja si 'Dewa Serba Putih' itu akan kehilangan nyawanya.


Dua orang anggota 'Pasukan Pedang Angsa Sakti yang sedang menandunya terlihat bergerak cepat menuju kesebuah goa batu yang berada di antara celah karang diikuti oleh Kyai Jabar Seto dan Ki Sabda Langitan alias si Tangan Pengguncang Langit. wajah keduanya terlihat murung.


Demikian juga dengan 'Panglima Istana Kiri' serta 'Panglima Istana Tengah'. hati mereka terasa gusar dan kecewa tanpa ada tempat pelampiasan. bukan saja karena telah kehilangan banyak sekali anggotanya dalam pertempuran besar, namun juga karena tewasnya 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' alias si 'Tuan Sesepuh Istana Barat' yang sudah mereka anggap orang tua mereka sendiri.


Tapi sebab utama yang membuat mereka merasa putus asa dan nyaris kehilangan harapan adalah lenyapnya Satriyana yang menjadi pewaris Istana Angsa Emas. dengan jatuhnya pemilik Darah Keabadian itu ke tangan kelompok 13 Pembunuh membuat semuanya semakin panik.


''Hoii kalian., tidak ada gunanya mengumbar kesedihan begitu. sekarang tunjukkan padaku ruangan untuk mandi dan istirahat. kita semua lelah, besok saja kita pikirkan lagi langkah kita.!'' seru Dewi Malam Beracun yang sudah berdiri bertolak pinggang di depan mulut goa batu.


Meskipun merasa kesal dengan sikap wanita cantik bekas pembunuh nomor dua belas yang dianggapnya sombong dan tidak tahu diri itu, tapi Panglima Istana Kiri tidak dapat berbuat apapun. apalagi rekannya Panglima Istana Tengah sudah berkelebat menyusul ke depan. dengan tertawa riang kedua perempuan itupun bergegas masuk kedalam goa rahasia.


*****


Mohon tulis komentar anda😊. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2