13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pedang pembunuh mata buta.


__ADS_3

Hari sudah mulai beranjak siang. delapan orang itu terus berjalan beriringan menerobos lebatnya hutan. Birunaka dan Jurata yang berada paling depan menjadi pembuka jalan. dengan golok besarnya lelaki dari daerah tanah pasundan itu menebas semak belukar dan pepohonan yang menghalangi jalan mereka.


Kalau di lihat dari gerakan tebasan goloknya, sepertinya kepandaian silat orang ini sudah mengalami peningkatan di bandingkan saat bertarung dengan Sabarewang bersama pembunuh adik perempuannya.


Demikian pula jika terhalang batu besar atau tebing bukit yang membuat jalan menyempit, pentung sakti Birunaka dengan mudah akan menghancurkannya hanya dalam sekali hantam. pemuda berbaju biru itu beberapa kali nampak tersenyum malu bercampur senang mendengar Satriyana terus menyorakinya memberikan semangat.


''Woouu., Birunaka kau bukan saja gagah dan berilmu silat tinggi, senjata pentungan saktimu juga luar biasa. sekali gebuk batu padas di depan langsung kau buat hancur.!'' puji gadis itu sambil sekali kedipkan sebelah matanya, hingga membuat pemuda itu rada blingsatan.


''Kau lihat bukan Respati., adikku Satriyana sudah semakin dewasa. dia jadi paham bagaimana cara membuat seorang pemuda bersemangat sehingga rela berbuat apapun untuknya. Hik., hi., hi..'' bisik Roro Wulandari sembari tertawa mengikik.


''Semua hal aneh yang kau ajaran kepadanya memang menakutkan. dalam waktu yang singkat dari seorang bocah perempuan kurus kotor, bau badan dan polos, sekarang berubah menjadi seorang gadis muda cantik hitam manis yang pandai menyelami hati lawan jenisnya. kelak dia., bakal berubah jadi seekor rubah betina yang licik..'' keluh Respati seakan prihatin.


''Aah., kau jangan terlalu berlebihan begitu. lagi pula menjadi wanita cantik dan pintar yang agak licik sepertiku juga baguskan. setidaknya dia tidak akan mudah di tindas orang lain..'' sangkal Roro mendengus. ''Eeh., Jurata dan kau Birunaka, seharusnya kalian berdua bisa lebih cepat dalam bekerja..''


''Kalau di depan terlalu banyak pohon besar dan penghalang, mestinya kalian tidak perlu memaksakan diri maju. cari saja jalan yang lainnya, meskipun kita jadi agak memutar dan sedikit lambat untuk dapat keluar dari hutan sialan ini..'' omel Roro berkacak pinggang. kedua orang itupun menyahuti dan bekerja lebih cepat. karena mereka sadar kalau ucapan wanita itu tidak dapat di bantah.


''Kau jangan seenaknya saja memerintah orang lain Roro, bukannya masalah gampang untuk menerobos hutan lebat seperti ini. lagi pula hendak kemana tujuan kita sebenarnya.?'' tanya Respati sedikit jengkel melihat penyakit Roro yang gemar memperbudak orang lain mulai kambuh.

__ADS_1


''Sudahlah kau diam saja. di sini aku yang jadi pimpinan. dan sebagai seorang pemimpin aku punya dua buah peraturan yang tidak boleh dilanggar. kalian semua harus mendengarkan sebaik mungkin apa yang akan kubilang..'' ucap wanita cantik berjuluk si 'Dewi Malam Beracun' itu sambil berhenti membalik badan.


''Peraturan., dua peraturan apa itu Nyi Dewi.?'' tanya Sabarewang ingin tahu. ''Iya., saya dan teman- teman pasti mendengarkan dan patuh pada aturanmu..'' sambung Birunaka. semua orang turut berhenti berjalan. sekilas terlihat ada senyuman dan pandangan licik di wajah cantik si Dewi Malam Beracun.


''Dasar mereka berdua memang manusia tolol., apa kalian semua tidak sadar kalau dia sedang menjebak kita. lagian sejak kapan dia menjadi pimpinan di sini..'' gerutu Respati kesal sambil menepuk keningnya. semua rekannya saling pandang tidak mengerti.


''Sudah diam kau.!" bentak Roro Wulandari mendelik. "Peraturan pertama., sebagai pemimpin aku tidak pernah berbuat salah dan tidak boleh di salahkan. sedangkan peraturan yang kedua adalah., jika aku sebagai pemimpin ternyata melakukan kesalahan, maka kalian harus melihat lagi pada peraturan yang pertama. hanya itu saja, apakah kalian semuanya paham.?'' tanya Roro tersenyum licik. Sabarewang dan Birunaka termenung sebentar. ''Ooh., rupanya cuma itu saja. Nyi Dewi tidak perlu khawatir, kami pasti akan mematuhinya..''


''Haa., ha., benar kata kakang Sabarewang Nyi Dewi, tadinya kupikir aturanmu begitu sulit, ternyata hanyalah dua peraturan mudah saja..'' Birunaka turut menyetujui.


''Dasar kalian berdua memang tolol. apanya yang mudah., dengan dua aturan itu apapun perbuatan yang dia lakukan, kalian berdua tidak bisa lagi bisa membantahnya. karena semuanya akan kembali pada peraturannya yang pertama., pemimpin tidak pernah salah dan tidak boleh di persalahkan.!'' maki Respati mengutuki kebodohan dua kawannya.


Mendengar semua itu baik Satriyana, Jurata dan Ki Ageng Bronto alias 'Pendekar Golok Bayangan Setan' tanpa sadar ikut bergidik sekaligus tertawa geli. mendadak sang Putri Penjerat alias 'Laba- Laba Kuning' lontarkan benang bajanya ke atas. sekali saja tubuh kecilnya bergerak dia sudah turut naik dengan kecepatan luar biasa. biarpun tangannya cuma tersisa satu tapi dia masih sanggup naik ke atas cabang pohon yang tingginya lebih dari enam tombak.


Roro Wulandari dan kawan- kawan seketika berkelebat menyebar ke tujuh penjuru lalu mendekam bersembunyi, setelah melihat Putri Penjerat menunjuk ke salah satu arah sambil tangannya membuat suatu tanda isyarat adanya bahaya yang mengancam.


Tidak perlu menunggu terlalu lama bagi Roro dan semua rekannya untuk mengetahui siapa orang yang datang. puluhan orang berbaju hijau dengan topeng tengkorak putih dan bercaping bambu terlihat bermunculan dari arah yang di tunjukan si Putri Penjerat.

__ADS_1


Di lihat dari dandanan dan senjata tombak pendek bergerigi yang terselip di pinggangnya bisa di pastikan kalau mereka adalah anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang menjadi anggota bawahan kelompok 13 Pembunuh.!


Respati yang bersembunyi di samping Roro terkesiap kaget melihat ada tiga orang pesilat yang sepertinya menjadi pimpinan. merasa agak aneh, kedua orang bekas pembunuh bayaran itu saling pandang sekejap.


Dua diantara tiga pimpinan itu bukanlah para pentolan dari kelompok 13 Pembunuh, karena keduanya bukan lain tokoh silat yang turut menyerbu rumah besar Ki Ageng Bronto di Wonokerto. mereka sdalah Ki Lembu Singkil alias 'Raja Celurit Emas' dan Ki Maruta si 'Pendekar Belibis Putih'.


Rupanya kedua orang ini mampu lolos dari ledakan dahsyat Kereta Kuda Maut yang di buat Roro dan kawan- kawannya. dari keadaan yang terlihat ada kemungkinan kedua orang ini sudah tunduk dan bergabung dalam kelompok 13 Pembunuh. dengan demikian dapat di pastikan kalau anggota kelompok itu sudah ada yang tewas dalam ledakan di Wonokerto.


Meskipun kemunculan dua orang ini cukup mengejutkan, tapi yang menjadi perhatian Respati dan Roro adalah kehadiran seorang nenek tua berjubah hitam yang membekal sebatang tongkat berwarna merah. rambutnya yang memutih di ikat secarik kain yang juga berwarna merah.-


Entah sengaja atau sudah menjadi kebiasaan, kepala nenek itu seperti sering mendongak miring ke arah kiri. satu goresan melintang terlihat dari ujung mata kanan ke mata kiri melintang tengah hidungnya. rupanya kedua mata nenek itu buta. dari tubuh orang tua ini terasa ada hawa pembunuh yang mengerikan.


Roro Wulandari terkesiap kaget. saat melirik rekannya dia juga melihat Respati sedikit tegang. mereka sadar kalau saat ini sedang berhadapan dengan Nyi Sira, si Mambang Wanita Buta. salah satu dedengkot kelompok 13 Pembunuh yang lama menghilang.!


''Nyi Sira., apakah benar yang kau perkirakan kalau semua buruan kita berada di dekat sini, karena aku tidak melihat apapun..'' geram Ki Lembu Singkil bertolak pinggang. sekali dia membuat perintah, belasan anak buahnya segera bergerak menyebar. dengan mencabut tombaknya mereka mulai mencari buruannya.


''Huhm., kedua mataku memang buta, tapi pendengaran dan penciumanku jauh lebih bagus dari kalian para manusia melek.!'' dengus Nyi Sira bengis. di ujung katanya dia mencabut ujung gagang tongkat merahnya. terlihat kilatan cahaya keperakan yang sangat menyilaukan menyambar ke udara. terdengar bunyi berderak yang dibarengi tumbangnya sepuluh dahan pohon besar.

__ADS_1


Di atas sana terdengar suara jeritan tertahan. bersamaan dengan batang pohon besar yang berjatuhan, terlihat sesosok tubuh berbaju kuning yang melayang ke bawah seperti sehelai daun kering tertiup angin. terlihat noda darah menghiasi pakaiannya.


Sekelebat bayangan hitam melesat ke atas menyambut tubuh Putri Penjerat yang terjatuh. dengan berbekal golok besar bergagang tulang manusia orang ini juga menahan hawa serangan pedang yang menyambar ganas. bersamaan dengan turunnya mereka, Nyi Sira juga kembali masukkan batang pedangnya ke dalam tongkatnya.


__ADS_2