13 Pembunuh

13 Pembunuh
Serbuan begal Jalak Gandos


__ADS_3

Cukup lama kedua orang itu terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing- masing.


''Hari sudah malam., tidurlah disini tubuhmu masih lemah, kau butuh istirahat.,'' kata Respati memecah keheningan. ''Kau sendiri mau kemana, aku belum mengantuk, bisakah kau temani aku disini.?'' tanya Satriyana pelan saat melihat Respati hendak turun dari kereta kuda.


Pemuda itu cuma menoleh sekejab, ''Ada hal penting yang perlu kubicarakan dengan Roro, sebentar lagi aku akan kembali untuk menemanimu disini..''


''Lagi pula., aku masih ingin mendengar semua cerita kenakalanmu dimasa kecil.!''


Satriyana mengangguk sambil tertawa kecil.


Sabarewang sedang sibuk membuat api unggun, karena sekarang musim kemarau tidak sulit baginya menemukan kayu bakar. lagi pula dia cuma butuh api yang kecil untuk merebus ramuan obat.


Sementara ditempat agak terpisah, Dewi Malam Beracun yang duduk diatas sebuah potongan batang pohon tumbang terlihat mencampur beberapa bubuk ramuan obat untuk menguatkan tubuh, selain ahli bongkar pasang senjata rahasia, siasat serta racun, wanita cantik ini juga pandai dalam ilmu pengobatan.


''Apakah anak itu sudah tidur.?'' tanya Dewi Malam Beracun pada Respati yang baru turun dari kereta kuda. ''Dia bilang belum ingin tidur, tapi kusuruh dia tetap didalam dan jangan banyak bergerak..''


''Kenapa kau tinggalkan dia, apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu.?'' kembali dia bertanya sambil menggeser tempatnya duduk, Pemuda itupun duduk di samping perempuan yang masih ada hubungan kerabat dengannya. ''Kadang aku masih tidak percaya kalau Roro Wulandari, si kembang desa Pendamaran yang cantik jelita dan terkenal sombong serta suka memerintah orang juga pandai meramu obat.,!'' canda Respati menggoda.


Dewi Malam Beracun mencibirkan bibir merahnya, ''Huh., Jangan kira karena kita sudah saling kenal sejak kecil lalu kau menganggap sudah tahu semua tentang diriku.! 'Lagi pula., kehidupan orang selalu berubah..'' kalimat yang terakhir ini diucapkannya dengan perlahan, wajah cantiknya yang biasanya selalu ceria dan penuh gairah, perlahan menjadi sendu penuh kegetiran. air matanya mengambang seakan sedang menahan kepedihan dihatinya.

__ADS_1


Respati seakan tahu betul apa yang sedang dirasakan wanita ini, direngkuhnya bahu Dewi Malam Beracun perempuan itu terisak dibahu si pemuda. meskipun kejadiannya sudah begitu lama, dan wanita yang ada disampingnya sudah berusaha keras untuk melupakan, tapi hari- hari terkutuk itu mungkin akan tetap teringat olehnya sampai kapanpun.


Kira- kira sepuluh tahun yang lalu.,


Pagi itu desa Pendamaran di kaki bukit Damaraja yang biasanya tenang dan tentram, di kejutkan oleh serbuan gerombolan perampok berkuda dan berkedok hitam. di setiap lengan mereka sengaja dirajah gambar seekor burung jalak berwana hitam sedang mecengkeram tulang, itu pertanda kalau gerombolan itu berasal dari kelompok begal rampok 'Jalak Gandos', salah satu gerombolan perampok yang cukup ditakuti.


Mereka merebut dan mengambil paksa apapun yang ada di depannya, harta, ternak dan tidak ketinggalan para wanita, tidak perduli gadis ataupun yang sudah bersuami. siapapun yang mencoba melawan pasti dihabisi.


Keluarga juragan Sindu Wijoyo yang terkenal kaya- raya tentu tidak luput dari sasaran, bahkan sepertinya merekalah yang jadi incaran utama, meski dalam keluarga itu juga ada beberapa penjaga yang punya ilmu silat lumayan, tapi karena kalah jumlah tetap saja mereka akhirnya binasa ditangan para perampok kejam itu. bahkan juragan Sindu Wijoyo dan istrinya turut menjadi korban, sementara sepupu istrinya yang mencoba melindungi anak perempuan sang juragan yang bernama Roro Wulandari malah mati dengan leher nyaris putus ditebas pedang si kepala perampok, gadis cantik itupun diculik bersama beberapa wanita lain dari desa itu.


Beberapa penduduk desa yang masih tersisa berusaha mencari bantuan pada prajurit kerajaan, yang lainnya termasuk Respati yang usianya belum genap lima belas tahun nekat mengejar kawanan perampok itu, sambil berharap pasukan kerajaan segera datang membantu. setelah hampir tiga hari mereka mencari, akhirnya mereka dapat menemukan tempat persembunyian para perampok itu. dengan mengendap- endap para pemuda desa Pendamaran hanya yang berjumlah delapan orang itu mengintai gerombolan perampok itu dari balik semak belukar dan pepohonan, hari yang mulai gelap membantu mereka menyembunyikan diri.


''Kakang Wirasaba., kita sudah sampai disini, kenapa tidak kita serang saja mereka sekarang juga, lagi pula kulihat jumlah mereka tidak begitu banyak.?'' tanya seorang pemuda berbaju hitam bertubuh kekar dan muka berangasan, sepertinya dia orang yang tidak sabaran.


Orang yang dipanggil sebagai Wirasaba adalah wakil Jogoboyo kepala keamanan di desa Pendamaran, meski usianya baru dua puluh tujuh tahun, tapi ilmu silat dan kecerdikannya diatas rata- rata, sebenarnya ilmu silatnya berada diatas Ki Kebo Riwut kepala keamanan desa itu, tapi dia lebih memilih jadi wakil karena menghormati jogoboyo yang lebih tua usianya dan lebih punya pengalaman. wajah Wirasaba tampan dan kalem, banyak gadis desa yang diam- diam kesengsem padanya, dalam serbuan para perampok Ki Kebo Riwut kepala keamanan desa itu tewas ditangan para perampok karena melindungi warga desanya. karenanya sebagai wakil jogoboyo dia merasa beban itu beralih ke pundaknya.


Wirasaba goyangkan tangannya, ''Jangan dulu., karena kudengar gerombolan begal Jalak Gandos ini sangat licik dan berbahaya, bisa jadi mereka sedang menyiapkan perangkap untuk kita.,!''


''Tapi., bagaimana kakang bisa menduga kalau para perampok jahanam itu sedang menjebak kita.?'' tanya si baju hitam agak sangsi. ''Waktu gerombolan perampok itu menyerang desa kita jumlahnya sangat banyak, meskipun beberapa sudah berhasil kita habisi tapi jumlah mereka tidak banyak berkurang. 'Tapi coba kalian lihat., disini hanya nampak beberapa orang penjaga saja.,!'' jawab Wirasaba, kedua kawannya seakan baru menyadari keadaan itu, dalam hati mereka memuji kemampuan Wirasaba dalam mengamati keadaan lawan.

__ADS_1


''Sekarang coba kalian dan dua orang lainnya bergerak memutar., kita kepung mereka dari dua arah, kalau sampai malam bala bantuan dari prajurit kerajaan belum tiba, terpaksa kita berusaha sendiri membebaskan para gadis desa kita yang mereka culik.!'' bisik Wirasaba kepada kedua kawannya, setelah mendapat beberapa pesan merekapun mulai bergerak.


Respati yang terhitung paling muda usianya maju mendekati Wirasaba. ''Kakang., aku membawa batu api dan minyak jarak di kudaku, mungkin ada gunanya.!''


Wirasaba mengelus kepala anak itu, ''Kau ini paling bisa memanfaatkan keadaan dan membuat keonaran., nanti diam- diam kau buat kebakaran di sekeliling sarang perampok ini, tapi hati- hati jangan sampai kau sendiri yang terbakar.!'' ujar pemuda itu sambil tersenyum, Respati mengangguk, dalam keseharian dia sangat dekat dan mengagumi Wirasaba.


Sebenarnya tidak lama lagi malam hari akan tiba, tapi bagi para pemuda desa itu waktu terasa berjalan begitu lambat, membuat hati setiap orang dihinggapi perasaan tegang. kadang menunggu memang suatu pekerjaan yang menjemukan.


Dan akhirnya waktu itupun tiba.,


Dengan mengendap- endap Respati mulai membakar semak dan dahan kering, dia sengaja memilih tempat pembakaran yang agak jauh dari gubuk- gubuk persembunyian gerombolan perampok itu, dia juga tidak hanya membuat kebakaran disatu tempat saja, melainkan di tiga tempat sekaligus yang agak berjauhan, untuk memancing mereka menjauh dari sana sekaligus memecah perhatian gerombolan begal rampok itu. dengan demikian Wirasaba dan yang lainnya punya kesempatan untuk menyelinap ke dalam sarang perampok Jalak Gandos.


''Kebakaran., kebakaran.,!'' seru para anggota begal Jalak Gandos yang bertugas jaga, tidak lama kemudian puluhan anggota yang lain berlarian keluar untuk melihat keadaan,


''Cepat padamkan apinya, jangan sampai merembet kemari.,!'' teriak yang lain.


''Sialan betul., baru saja tidur sudah ada masalah, musim kemarau begini memang sering terjadi kebakaran..'' sungut para anggota begal itu sambil berusaha memadamkan api yang berkobar dengan alat seadanya.


Beberapa saat kemudian mereka dikejutkan dengan jeritan menyayat yang terdengar berturut- turut dari arah gubuk, diselingi dengan teriakan dan makian marah, juga suara beradunya senjata.

__ADS_1


''Celaka., kita tertipu, kebakaran ini cuma pancingan.!''


''Setan alas., beberapa orang tetap disini untuk memadamkan api, yang lain ikut aku kembali.,!'' geram salah satu dari mereka yang bertubuh gempal dan punya codet di dagu kirinya sambil mendahului bergerak dengsn cepat. sepertinya dia cukup disegani dalam kelompoknya.


__ADS_2