13 Pembunuh

13 Pembunuh
Siasat dibalik perpisahan


__ADS_3

''Semua perbekalan sudah selesai disiapkan, jadi besok pagi- pagi sekali kita bisa langsung berangkat untuk melanjutkan perjalanan.,!'' ujar Sabarewang sambil memasukkan sebuah buntalan kain berisi makanan kering kedalam kereta kuda.


''Hatiku selalu merasa sedih saat ada perpisahan., meskipun baru tiga hari di sini tapi aku sudah merasa terbiasa dan nyaman dengan suasana pondok pengobatan ini..'' ''Kira- kira., kita bisa kesini lagi ngak yaah.,?'' gumam Satriyana dengan muka murung.


''Haa., ha., tidak biasanya Satriyana si gadis remaja yang kukenal kuat dan selalu ceria, ternyata bisa juga sedih sampai mewek mau nangis.,!'' olok Sabarewang tertawa. ''Hei., orang tua., 'Jangan bicara ngaco, siapa yang menangis, aku cuma sedih saja tahu.!'' gerutu Satriyana kesal.


Ganti Sabarewang yang sewot karena dipangil sebagai orang tua. kedua tua muda itupun saling ejek sambil bercanda. Meskipun dalam beberapa hari ini hubungan keduanya semakin dekat, tapi terasa cukup aneh. kadang seperti bapak dengan anaknya, dilain waktu bagaikan anjing bertemu kucing, ribut terus.!


''Apa kau yakin mau melakukannya.,?'' tanya Rumilah sambil membelai rambut hitam Roro yang berbaring di pangkuannya. ''Kalau begini aku jadi teringat masa kita masih di gunung Lawu, Kakak selalu disampingku untuk menungguku tertidur.,!'' gumam Roro sambil pejamkan matanya. dia merasa nyaman dan tenang saat ini.


''Hhm., Kau selalu ketakutan di awal kita tinggal bersama guru dan memintaku untuk selalu menemanimu. sampai akhirnya keterusan sampai sekarang., tingkahmu ini seperti anak kecil saja.,!'' ejek Rumilah. sang adik seperguruannya seakan tidak perduli, malah mengeliat seanaknya.


''Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,?'' Rumilah kembali bertanya. Roro membuka matanya yang agak sembab, ''Meskipun berat bagiku tapi tetap harus kulakukan, karena ini yang terbaik.!'' jawabnya sedih. ''Malam ini bisakah Mbak Rumilah tidur denganku sambil kita bercerita seperti masa lalu.?'' gumam sang adik,


Rumilah menghela nafas, ''Kau benar- benar tidak pernah berubah, masih saja bertingkah seperti anak manja.,!'' mulutnya mengolok tapi dia berbaring juga disamping Roro.


''Bagaimana hubunganmu dengannya., meskipun kelihatan pendiam dan tidak perduli tapi aku tahu dia pemuda yang baik,!'' kata Rumilah sambil melirik Roro, si cantik jelita ini cuma tersenyum malu, wajahnya bersemu merah, ''Huuh., pakai tersipu lagi., 'Ingat Roro kalian berdua bukan lagi remaja belasan tahun yang baru mengenal cinta.!''


''Eehm., itu., itu tidak semudah yang kakak bayangkan, apalagi dengan keadaan diriku yang seperti ini., 'Kurasa., dia pantas untuk mendapat wanita yang lebih baik dariku.!'' gumamnya setengah berbisik.


Rumilah menghapus air mata sang adik yang mulai mengalir, dia tahu meskipun berparas cantik jelita, tapi Roro selalu merasa rendah diri dikarenakan masa lalunya yang kelam. bagi seorang wanita kesucian adalah sesuatu yang tidak ternilai, tapi Roro bukan saja sudah dinodai, tapi rahimnya juga sudah tidak mungkin bisa punya keturunan akibat berpuluh kali dipaksa minum obat penggugur kandungan.


Di dalam gudang penyimpanan rempah dan bahan obat yang ada dibelakang pondok., Respati terlihat sedang duduk bersila, tangannya membentang selembar kain putih kumal dimana terlukis gambar peta jalan menuju Istana Angsa Emas, dalam hatinya pemuda ini merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan peta ini, tapi meskipun sudah berulang kali memeriksa, dia tetap tidak dapat menemukannya.


Akhirnya disimpannya kembali lembaran peta itu kedalam kotak kayu hitam, lantas menyempatkan berlatih semedi tenaga dalam sebelum dia tidur dalam gudang itu.


Waktu subuh baru saja lewat tapi matahari juga belum terbit, sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda coklat terlihat keluar dari pintu gapura bambu sebuah pondok pengobatan lalu bergerak menyusuri jalanan yang masih gelap dan sepi menuju ke arah Wonokerto.


Perjalanan terasa lancar, Sabarewang mengendalikan laju kudanya sambil ngemil segenggam kacang tanah yang di goreng dengan pasir, sikapnya terlihat santai.


Bersamaan dengan terbitnya sinar mentari pagi, kereta kuda itu sudah keluar dari wilayah Jepara. Sabarewang mulai gebrak kudanya, kereta itupun melaju dengan cepat. Jendela kecil di belakangnya sedikit terbuka,


''Coba kau amati apakah ada orang persilatan yang terlihat disekitar kita.,?'' tanya Roro alias Dewi Malam Beracun dari balik jendela.


Sambil terus menjalankan keretanya kusir kuda ini diam- diam mulai mengedarkan pandangannya, meskipun jalanan mulai dilalui orang yang hendak keluar masuk wilayah Jepara, tapi tidak terlihat ada orang persilatan muncul didaerah itu. didekat sebuah persimpangan jalan Sabarewang menghentikan kereta kudanya.


Di depan sana ada persimpangan, sebelah kiri jalan ada sebuah warung makan, belasan ekor kuda dan gerobak berisi tumpukan barang terlihat tertambat di depan warung makan yang lumayan besar itu, meskipun pengunjungnya tidak terlihat dari luar tapi Sabarewang dapat memastikan kalau mereka orang persilatan dari sebuah kelompok jasa pengawalan barang.


''Kelompok pengawalan barang 'Singa Raung.,'' gumam Sabarewang saat melihat sebuah bendera kuning bergabar seekor singa besar sedang menerkam tertancap di salah satu kereta kuda yang ada didepan warung.


''Nyi Dewi., Apakah mereka bisa kita gunakan.?'' tanya Sabarewang, ''Hhm., Kurasa boleh juga, aku dan Respati akan masuk duluan, nanti kau menyusul belakangan.!'' jawab Dewi Malam Beracun sambil beranjak keluar dari dalam kereta kuda diikuti Respati.

__ADS_1


Kehadiran Roro Wulandari Si Dewi Malam Beracun yang anggun secantik bidadari seketika membuat belasan orang berseragam kuning hitam yang jadi anggota kelompok pengawal barang Singa Raung seakan terpesona, Roro seakan sengaja menebar senyuman dan kerlingan mata yang manja, wanita ini memang suka menjadi pusat perhatian para lelaki, apalagi kalau dia lelaki tampan dan kaya.


Setelah memesan makanan keduanya memilih duduk di meja tengah tanpa perduli dengan pandangan mata orang. sesat kemudian pesananpun datang, ''Beberapa hari ini ada orang sudah berani terang- terangan hendak merebut bayi ajaib itu.,'' ''Untung saja kita masih bisa mempertahankannya.!'' ucap Dewi Malam Beracun setengah berbisik. meski begitu tetap saja beberapa orang disana masih bisa mendengarnya.


Pemuda di depannya mengangguk ''Masalah bayi yang ada ditangan kita itu selalu membuatku khawatir., 'Bagaimanapun juga ini ada hubungannya dengan Istana Angsa Emas.,'' bisik Respati sambil melirik sekitarnya.


Di sudut ruangan warung terlihat seorang lelaki tinggi besar berbaju kuning, brewokan dan berambut gimbal kemerahan. ditangannya orang ini mencekal sebuah tombak bermata golok, yang gagangnya ada ukiran kepala singa emas. dari keterangan Sabarewang orang inilah yang dipanggil sebagai 'Raja Singa Dari Gunung Raung.' sang ketua kelompok jasa pengawalan barang Singa Raung.! dua orang anak buahnya terlihat menghampiri lalu membisikkan sesuatu kepadanya.


''Ketua., kami mendengar pembicaraan kedua anak muda itu, mereka membawa seorang bayi yang ada hubungannya dengan Istana Angsa Emas.!'' bisik orang yang sebelah kiri.


''Benar Ketua., bisa jadi bayi ajaib itulah yang menjadi pembicaraan semua orang belakangan ini..'' tambah orang sebelahnya. lelaki brewok lima puluh lima tahunan bernama Ki Singo Padas, berjuluk Raja Singa Dari Gunung Raung ini agak terjingkat, kedua matanya yang besar jelalatan.


Meskipun jaraknya terpaut tiga buah meja, tapi Respati dan Roro masih dapat mendengarnya. ''Yang menjadi sasaran telah memakan umpan..'' batin keduanya. Roropun langsung memulai rencananya. ''Seharusnya akulah yang berhak memiliki bayi itu, kenapa kau dan orang persilatan menginginkannya.!'' seru Dewi Malam Beracun seraya bangkit berdiri sambil gebrak mejanya.


''Perempuan tolol., 'Hentikan bicaramu, apa kau ingin semua orang tahu tentang bayi ajaib itu.!'' umpat Respati sambil menarik tangan Roro.


''Bayi itu milikku., 'Kau tidak berhak untuk mengaturnya.!'' sentak Roro marah. ''Dasar wanita keras kepala.!'' bentak sipemuda mulai naik pitam. sesat keduanya bentrok pandangan. semua orang melihat kearah mereka. saat itulah dari luar terdengar suara bentakan marah. ''Kembalikan bayi itu, jangan mencoba kabur.!''


''Kakak Dewi tolong., ada perempuan jahat yang menculik bayimu, cepatlah kemari.!''


Itulah suara teriakan Sabarewang dan Satriyana. keduanya cepat melesat keluar warung, disana terlihat Sabarewang sedang bertarung dengan seorang perempuan berjubah dan berkerudung hitam, tangan perempuan ini mendekap sesosok bayi berselimut kain jarik.


''Nyi Dewi., biar aku yang meringkus penculik bayi ini, kau minggir saja dulu..'' ujar si kusir kuda sambil babatkan pedang buntungnya ke perut lawan. ''Diam.,! 'Beraninya kau memerintahku., disuruh menjaga bayi saja tidak becus masih juga berlagak jagoan.,!'' maki Roro kesal.


Sabarewang mengerti, diapun mundur dari arena pertarungan. kini Roro sendiri yang saling hantam dengan si penculik bayi itu dengan sengitnya, dalam sekejab saja lima jurus sudah terlewati.


Semua orang menyaksikan pertarungan sengit itu dari tepian jalan berdecak kagum, mereka tidak menyangka kalau perempuan cantik jelita itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.


Bertarung sambil mendekap bayi seperti itu membuat si wanita penculik agak kerepotan, gerakan tubuhnya menjadi tidak leluasa, saat menyerang dia hanya dapat gunakan sebelah tangan dan kaki secara bergantian, sebaliknya lawannya mampu mendesaknya hingga nyaris termakan pukulan.


''Kembalikan bayi itu., Pecah kepalamu, jebol perutmu.!'' bentak Roro kalap sambil hantamkan kepalannya ke kening lawan, sementara kakinya menyusul kirimkan dua tendangan ke dada dan perut.


Wanita penculik itu mendengus marah, sambil terus menghindar tangan kanannya mengibas beberapa kali, lalu menghantam, serangkum angin keras menyambar kedepan hingga memaksa Roro melompat mundur. gerakan lawan tidak berhenti disitu, tangan kanannya merogoh tiga benda hitam berbentuk bola.


Saat berikutnya ketiga bola hitam itu dihantamkan kemuka, tidak mau kalah Roro ikut lemparkankan tiga buah pisau terbang memapaki ketiga bola hitam lawannya.


'Wheet., weet.!


'Blaaam., blaar.!'


Terdengar ledakan keras disertai kepulan asap hitam pekat yang menutupi pandangan dan menyesakkan dada. ''Awas menyingkir., Asap hitam ini beracun.!'' seru Roro sambil terbatuk, semua orang panik menjauh.

__ADS_1


Saat semuanya sirnah, wanita penculik bayi itu sudah lenyap dari sana, Roro Wulandari mengamuk. ''Bangs*t.,! 'Kuntilanak Hitam Penculik Bayi., jangan harap kau bisa lolos dariku, 'Ayoh cepat kejar dia.!'' Makinya sambil melompat masuk kedalam kereta kuda disusul Respati dan Sabarewang yang langsung menggebrak tali kekang kudanya.


Sambil keluarkan suara meringkik keras, dua ekor kuda penarik kereta itu melaju kencang dan menghilang diujung jalan. kini tinggal rombongan pengawal barang Singa Raung dan belasan orang penonton yang masih ada disana.


''Bagaimana Ketua., apa yang harus kita lakukan, ini kesempatan besar untuk mendapatkan bayi ajaib istana keramat.!''


''Sebaiknya kita kejar mereka sekarang juga.,!'' usul anak buah Ki Singo Padas. orang berjuluk Raja Singa Dari Gunung Raung itu ragu sesaat. tapi sekejab kemudian sudah naik ke punggung kudanya sambil menunjuk beberapa anak buahnya.


''Karpawi, Saparan dan Julingan., 'Kalian bertiga ikut aku mengejar mereka. 'Pangundil dan Sopala kalian pimpin sisanya untuk melanjutkan perjalanan mengawal barang.!'' perintah Ki Singo Padas lalu memacu kudanya bersama ketiga anak buahnya.


Setelah rombongan Singa Raung pergi, beberapa orang yang masih berada disana saling berbicara, ''Jadi itu adalah bayi Istana Angsa Emas yang belakangan ini diributkan orang.,!'' gumam salah satu dari mereka.


''Berita ini bakalan membuat semua semakin kacau, aku mau mengabarkannya kepada guruku.,!'' bisik yang lain sambil berlari pergi, orang persilatan yang mendengarkan juga berbuat serupa. melaporkan berita besar ini pada kelompoknya masing- masing.


Di dalam kereta kuda yang dipacu secepat petir Roro Wulandari, Respati dan Satriyana, tengah menikmati ketan bumbu kacang pedas untuk sarapan. ''Kau tidak makan Mbak Rumilah., 'Ketan kacang buatan muridmu ini enak lho.,!'' ucap Roro memuji.


''Kalian habiskan saja semuanya, jangan lupa sisakan untuk Sabarewang., 'Eeh., kurasa kita sudah aman, aku tidak mau terlalu jauh dari Jepara.,!'' jawab Rumilah sambil melepaskan jubah dan kerudung hitam yang dipakainya. rupanya penculik bayi itu hanyalah samaran Rumilah, bayi yang diculiknya ternyata juga cuma sebuah boneka kayu belaka.!


''Kuntilanak Hitam Penculik Bayi itu hanya nama karangan, ataukah benar ada.,?'' tiba- tiba Satriyana menyeletuk. mata Respati menatap tajam. ''Kenapa kau tanyakan itu.?'' ada rasa tidak suka dalam ucapan pemuda ini membuat gadis itu bingung sendiri.


''Dulu memang ada orangnya., tapi sudah lama sekali menghilang. 'Mungkin dia tidak akan muncul kembali.,'' jawab Roro pelan seakan ada kesedihan mendalam. tapi apa sebabnya hanya Respati, Rumilah dan Roro sendiri yang tahu.


Respati mengetuk dinding depan kereta. Sabarewang menepikan kereta kudanya ditempat yang agak tersembunyi, Roro menarik Rumilah keluar, kedua saudara seguru ini berpelukan sesaat lamanya. ''Tolong titip dan jaga bayiku Mbak Rumilah., kelak saat semua selesai aku pasti datang kembali.!'' bisik Roro. sang kakak hanya menganguk, ''Kalian harus selalu menjaga diri, berpikir yang matang sebelum bertindak., 'Respati., aku tahu adikku kadang menjengkelkan dan mau menang sendiri, tapi tolong kau jaga dia..!'' kata Rumilah sambil berkelebat pergi.


Respati melirik Roro Wulandari, wanita cantik itu mencibir lalu tersenyum- senyum sendiri. meskipun berat berpisah dengan bayinya, tapi dengan menitipkan Anggana di pondok Rumilah membuat beban Roro berkurang. kini dia bebas menggunakan otaknya untuk mengatur siasat, bersama mereka kembali melanjutkan perjalanan.


~Pemberitahuan~


Asalamualaikum Wrb., Salam sejahtera bagi kita semua.


Bersama ini saya beritahukan kalau Novel silat 13 Pembunuh saya hentikan sampai disini dulu dikarenakan ada tugas pekerjaan lain (ke luar daerah) yang tidak dapat saya tinggalkan.


Saya ucapkan Terimakasih kepada para Author dan Reader pembaca yang telah memberikan kritik, saran dan dukungan kepada novel ini. tentunya banyak sekali kekurangan di dalamnya.


Tidak lupa juga saya mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan.๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Insya Allah bila ada waktu novel ini akan saya lanjutkan kembali., Salam sukses dan sehat selalu buat anda semuanya๐Ÿ’ช๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘


Terimakasih juga untuk Novel Toon yang telah memberi kesempatan para Author untuk berkarya.


Terima kasih๐Ÿ™, Wasalamualaikum Wrb.

__ADS_1


__ADS_2