
Bersamaan dengan datangnya sabetan sabit perak Ki Suket Gajah, tiba- tiba saja muncul lima buah titik sinar pedang menyambar cepat bagaikan halilintar yang mengancam tubuh lelaki kecil setengah umur itu. dengan mendengus keras Ki Suket Gajah terpaksa batalkan bacokan sabit peraknya, untuk menangkis datangnya lima bayangan tusukan pedang yang mengancam dirinya.
'Whuut., Beet., bet.!'
'Trraaang., traang.!'
''Setan alas., Anjing kurap.! 'Siapa yang berani ikut campur urusan si Sabit Perak Pencabut Nyawa.!'' bentak Ki Suket Gajah sambil memaki panjang pendek. sepasang matanya yang kecil memandang tajam, dia tertegun saat melihat seorang lelaki tinggi kekar berdiri menghadang di depan tubuh Dewi Malam Beracun yang masih terkulai di atas tanah kering berdebu. orang ini memegang sebatang pedang buntung dengan tangan kirinya, meskipun bukan kidal tapi berkat latihan keras dia dapat menggunakan tangan kiri lebih hebat dari tangan kanannya yang sudah cacat. terbukti jurus Lima Sambaran Petir Maut miliknya mampu memotong serangan jurus sabit perak pesilat kawakan sekelas Ki Suket Gajah.!
''Saba., Sabarewang., Kau.,!''
''Nyi Dewi tidak perlu banyak bicara., harap menyingkir dulu, usahakan untuk bisa masuk ke dalam kereta, Respati sudah ada di dalam bersama Satriyana. sekarang biar aku yang menghadapi orang ini.!'' potong orang tinggi kekar yang memang Sabarewang adanya.
''Kau gila., orang ini bukan tandinganmu,!' bantah Dewi Malam Beracun, 'Begini saja, kita coba hadapi dia bersama- sama..''
''Kubilang cepat masuk kedalam,! 'Kali ini kau harus dengarkan kata anak buahmu.,!'' bentak Sabarewang kereng. wanita cantik yang baru saja bangkit itu sampai tersurut mundur, dia kaget juga ngeri melihat Sabarewang yang menatapnya dengan pandangan berapi- api.
''Apa yang sudah terjadi dengan orang ini., kenapa kurasakan ada luapan tenaga sakti dari tubuhnya, padahal kutahu ilmunya tidak begitu tinggi.?'' batin Dewi Malam Beracun heran, tapi entah kenapa dia malah menuruti permintaan Sabarewang, ''Kau harus hati- hati, aku masih butuh kusir kuda.,'' pesannya pada Sabarewang.
''Siapkan saja tambahan upah untukku.!'' balas lelaki itu sambil menyeringai.
''Apakah masih belum cukup omong kosong kalian.,?'' geram Ki Suket Gajah kesal, karena merasa sudah dianggap remeh oleh kedua orang ini. ''Namaku Sabarewang., bertugas sebagai kusir kuda di rombongan ini, akulah yang akan menghadapimu.,!''
''Hek.,he.,hee., 'Seorang kusir kuda hendak berlagak di hadapanku Ki Suket Gajah., Apa telingamu kau belum pernah mendengar nama Sabit Perak Pencabut Nyawa.?''
Sabarewang cuma diam, pedangnya diangkat menyilang didepan dadanya, seiring bentakan keras tubuhnya melesat ke muka, pedang buntungnya menikam cepat bagikan kilat, lima buah sinar pedang menyambar disertai deru angin tajam. untuk kedua kalinya jurus Lima Sambaran Petir Maut di lancarkan Sabarewang,!'
Meskipun gerakan jurusnya masih sama, tapi kekuatan serangannya meningkat dua kali lipat lebih dahsyat dari pada saat dia bertemu dan bertarung dengan Respati untuk pertama kalinya. lalu dari manakah Sabarewang mendapatkan peningkatan kekuatan tenaga sakti itu.?
Tersentak juga Ki Suket Gajah menerima serangan pedang lawannya yang mengaku hanya sebagai kusir kuda, dalam hatinya orang ini membatin, ''Meskipun masih dibawah kehebatan ilmu silat si Ular Sakti dan Dewi Malam Beracun, tapi kemampuan ini juga tidak pantas kalau hanya dimiliki oleh seorang kusir..''
Namun Ki Suket Gajah tidak dapat berpikir lama, karena serangan lawan sudah ada di depan matanya, buru- buru dia bersalto dua kali kebelakang, lalu putar sabit peraknya sambil balik melesat maju melabrak jurus pedang Sabarewang, cahaya keperakan yang lebar dan tajam menyilaukan bertemu lima sinar pedang buntung.!' benturan senjata disertai pijaran bunga api terjadi beberapa kali, diakhiri dengan terpisahnya dua tubuh masing- masing ke belakang.
Sabarewang jatuh terkapar, di dada sebelah kanannya muncul satu sayatan sepanjang hampir dua jengkal, untung hanya melukai kulit luar tidak sampai parah, di depannya
__ADS_1
Ki Suket Gajah terlihat berdiri tegak, telapak tangannya yang menggenggam sabit besar terlihat mengucurkan darah, benturan senjata tadi membuat kulit telapaknya tergetar robek.
Sabarewang menggeram sambil melompat bangkit dia memutar tubuh dan pedang buntungnya setengah lingkaran lalu menusuk, selarik cahaya kekuningan yang menyilaukan berbentuk bintang segi empat menyambar., inilah jurus Bintang Langit Terpecah.!'
'Whuuut., Sheet.!'
'Trraaang.!'
''Edan., Keparat.!'' rutuk Ki Suket Gajah alias Sabit Perak Pencabut Nyawa murka, kali ini dia benar- benar kalap, serangan jurus pedang lawan mampu menggores dahi dan memapras rambut kepalanya yang sudah mulai beruban. untung dia masih sempat menangkis dan berkelit, jika tidak nyawanya pasti sudah melayang dengan kepala berlubang.!
Sabit besar keperakan disarungkan di pinggang, kedua telapak tangannya menekuk lalu menghantam, dua lapis cahaya hitam melengkung bagai sabit raksasa berhawa sepanas bara menggebrak dahsyat membelah udara siang, inilah ilmu pukulan 'Sabit Kembar Neraka Hitam.!' yang jadi andalan Ki Suket Gajah. siapapun yang terkena ilmu pukulan ini tubuhnya akan gosong terpotong.!
Sabarewang pucat wajahnya, meskipun kemampuannya sudah meningkat, tapi dia tidak sanggup jika harus menghadapi ilmu pukulan sakti sehebat ini. terpaksa dia hanya bisa melompat menghindar semampunya, meskipun sambaran ilmu pukulan lawan mampu dihindari hingga melabrak batang pepohonan sampai hangus tumbang, tapi tenaga angin sambarannya masih membuat kulit tubuhnya lecet kepanasan.!
Sialnya belum lagi dia berdiri tegak, pukulan lawan sudah kembali datang mengancam, kali ini Sabarewang hanya bisa jatuhkan dirinya sama rata dengan tanah meskipun dia sadar kalau tindakannya mungkin hanya sia- sia. dalam detik itu terbayang semua kejadian yang dialaminya selama ini, mulai menjadi anggota Garuda Merah, sampai bertemu dengan Respati dan mejadi kusir sekaligus pesuruh Dewi Malam Beracun yang galak, anehnya meski diancam maut tapi dia tidak menjadi takut, malahan Sabarewang sempat terkekeh.
Tapi rupanya kusir kereta kuda itu masih berumur panjang, disaat dua larik cahaya hitam berbentuk sabit raksasa menggebrak, bersamaan dengan itu terdengar suara mendesis keras dibarengi sambaran sinar dan kabut putih pekat berhawa panas yang membentuk kepala ular kobra raksasa memotong ilmu kesaktian Ki Suket Gajah.
Sabit Kembar Neraka Hitam bertemu dengan ilmu pukulan Kobra Penggerogot Mayat.!'
'Blaaam., Blaar.,!'
Ledakan dahsyat yang seakan menggoncang jagat terjadi. asap debu panas begulungan menutupi pandangan, tubuh Sabarewang terhempas beberapa tombak terkena angin ledakan yang menebar hawa panas, bajunya terkoyak sebagian kulitnya lecet bahkan ada yang melepuh, tapi dia masih selamat dan sadar.
Saat semuanya berlalu di lihatnya tubuh Ki Suket Gajah terhuyung lalu roboh keadaanya sungguh mengerikan. hampir sekujur tubuh orang ini menggembung, hangus terkoyak dan mengepulkan asap putih berbau busuk.
tapi sepertinya orang ini belum mati.
Dijurusan lain Respati jatuh bersandar di samping roda kereta kuda. wajahnya pucat pias, nafasnya tersengal.
''Ku.,kurang., Ajar.,! 'Kalian semua harus mati di tanganku.!'' Ki Suket Gajah meraung keras, tubuhnya menerjang sambil babatkan sabit peraknya, tapi dari dalam kereta kuda terdengar bentakan Dewi Malam Beracun, ''Kaulah yang bakal mati duluan.!'' bersamaan itu dari dinding kereta kuda berhamburan selusin anak panah yang melesat cepat kearah Ki Suket Gajah.
Dalam keadaan terluka sangat parah orang ini masih terlihat hebat, selusin anak panah berhasil disampok rontok dengan sabit peraknya, tapi saat datang tiga bola besi berduri sebesar kepalan tangan menghantam, dia tidak sanggup lagi menghindar, kepalanya dan dadanya pecah dihantam bola besi berduri yang keluar dari lubang rahasia di atas dinding kereta kuda. nyawanya lepas bersamaan dengan ambruk tubuhnya.!
__ADS_1
Hening sesaat lamanya, serangkaian pertarungan sengit yang mengerikan sudah berakhir, ataukah baru saja dimulai,?
Sabarewang tertatih bangkit, dia berusaha menghampiri Respati yang masih tersandar lemas di samping roda kereta. bersamaan itu Dewi Malam Beracun juga turun dari dalam sambil menggendong Anggana, anak itu seperti sengaja ditotok jalan tidurnya agar tetap tenang. dibantu Sabarewang Respati berhasil bangkit kembali.
''Bagaimana keadaanmu Respati., apakah kau terluka lagi.?'' bisik wanita itu cantik itu dengan penuh kecemasan. Respati menggeleng, lalu menunjuk ke satu arah.
''Jangan cemaskan aku, karena orang itulah yang harus kita takutkan.!'' bisik Respati resah. wanita cantik itu menoleh, kini dia juga merasa cemas. Sabarewang juga melihat orang itu, sesosok lelaki tua berjubah putih bersih datang mendekat.
Dewa Serba Putih terlihat berhenti lima langkah dari mereka, matanya menatap tajam bayi dalam gendongan Dewi Malam Beracun, membuat perasaan wanita ini semakin tidak karuan.
''Apakah bayi itu yang katanya ajaib dan jadi satu- satunya pewaris istana Angsa Emas.,?'' tanyanya langsung, suara orang tua ini terdengar tegas dan dingin.
Respati mendahului menjawab, ''Bukan., bayi ini cuma bayi biasa, kami mendapatkannya saat melintasi sebuah desa yang baru saja dibakar gerombolan perampok meski bayi ini selamat, tapi Ibunya tewas tertimpa reruntuhan kayu. sejak itu Dewi Malam Beracun mengangkatnya sebagai anak.,''
''Itu benar., terus terang kami heran kenapa ada berita kalau bayi ini adalah pewaris istana keramat. atau bisa jadi ini adalah tipu muslihat untuk mengalihkan perhatian orang dari peta rahasia Istana Angsa Emas yang katanya sudah berhasil didapatkan seseorang.!'' sambung Dewi Malam Beracun.
''Kalau begitu berikan bayi itu padaku.!'' pinta Dewa Serba Putih sambil ulurkan tangannya, orang ini memang tidak suka basa basi, apa yang dia ingin lakukan pasti langsung dilakukannya. apa yang dia mau katakan pasti langsung diucapkan saat itu juga.
''Sudah kubilang ini bukan bayi yang dikatakan orang, bayi ini anakku.!'' geram wanita itu marah,
''Berikan bayi itu padanya.,!'' ujar Respati tiba- tiba. Sabarewang terhenyak, bahkan Dewa Serba Putih juga tidak menyangkanya.
''Apa kau sudah gila.?'' bentak Dewi Malam Beracun tak habis pikir. ''Seorang tokoh silat ternama dan punya nama baik seperti Dewa Serba Putih tidak akan menyakiti bayi kecil yang tidak bedaya., berikan bayinya Roro Wulandari., percaya padaku.!'' bisik Respati lembut., wanita itu masih terlihat ragu sebentar, tapi kemudian dia menurut.
Bayi bernama Anggana sudah berada digendongan Dewa Serba Putih, orang tua ini meraba setiap jengkal tubuh si bayi dengan sangat teliti, dia menggeleng penuh kecewa,
''Memang bayi yang menarik, punya tulang bagus untuk berlatih ilmu silat., tapi ini bukan yang kucari.!'' kata Dewa Serba Putih sambil mengembalikan Anggana kepada Dewi Malam Beracun yang terlihat lega.
''Siapa lagi yang ada di dalam keretamu.?'' tanya orang tua itu saat mendengar suara mengerang dan terbatuk lirih dari dalam kereta kuda. Respati dan Sabarewang saling pandang sesaat, mereka terlihat waspada, ini tidak lepas dari mata Dewa Serba Putih. ''Katakan siapa di dalam sana.,!''
''Di dalam kereta kuda kami memang ada seseorang., tapi dia hanyalah seorang gadis desa yang kabur dari siksaan majikannya, dia juga seorang saksi pembunuhan yang dilakukan oleh majikannya itu terhadap dua orang saudaranya sendiri., masalah rebutan warisan.!'' ujar Dewi Malam Beracun. ''Beberapa hari lalu ada orang suruhan majikannya yang hendak membunuhnya, untungnya dapat kami gagalkan..'' tambah Sabarewang.
''Hoii., keluarlah sebentar, kakek ini bukan suruhan majikanmu, dia orang baik.!'' seru Respati, dari balik jendela samping kereta kuda perlahan muncul seraut wajah kurus pucat, berkerudung kain kumal, memandang penuh rasa takut, lalu kembali berlindung.
__ADS_1
''Nasib yang malang., tapi kisah seperti itu memang banyak terjadi didunia ini., baiklah aku pergi dulu, mungkin benar katamu, semua ini cuma pengalih perhatian dari orang yang mendapatkan peta rahasia Istana Keramat.!'' geram Dewa Serba Putih. lalu melompat ke punggung kuda putihnya, orang itu sesaat tertegun, lalu menoleh, ''Aneh., wajah anak itu seperti pernah kukenal.,'' gumamnya lalu gebrak kudanya, dan hilang di tikungan jalan.
Kini di dalam kereta kuda Respati dan Dewi Malam Beracun, terlihat memeluk tubuh kurus pucat Satriyana, luka sayatan di pergelangan tangan kiri gadis itu masih meneteskan darah, sebaliknya sepasang mata Dewi Malam Beracun malah meneteskan air mata, dengan lembut dibalutnya luka di tangan Satriyana, perasaannya campur aduk, darah anak inilah yang telah menyelamatkan mereka, membuat ilmu Sabarewang meningkat tajam, menyembuhkan luka Respati juga dirinya, darah yang menjadi rebutan seluruh rimba persilatan, darah keturunan Istana Angsa Emas.!'