
Rupanya munculnya gelombang kekuatan sakti yang di rasakan oleh si tuan muda pemalas dari 'Kota Hantu Pagi' itu juga turut di ketahui oleh beberapa orang tokoh silat yang mempunyai kepandaian dan mata batin sangat tinggi, termasuk juga sang pimpinan dari 'Kelompok 13 Pembunuh'.
Orang tinggi besar bertopeng tengkorak yang sedang sibuk mengendalikan pasukan mayat hidupnya itu sempat menoleh ke satu arah, begitu juga beberapa anak buahnya termasuk si 'Iblis Tangan Biru'. setelah berpikir sesaat ketua 13 Pembunuh perintahkan bekas tokoh silat partai 'Gapura Iblis' itu untuk memeriksa keadaan di sana.
Orang tua berjubah putih itu menjura hormat sebelum berkelebat untuk melaksanakan perintah pimpinannya bersama beberapa orang anak buahnya dari 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis'. sementara dalam hatinya ketua 13 Pembunuh merasa penasaran juga gusar. ''Bedebah sialan., sebenarnya apa yang telah terjadi di sana. menurut asalnya gelombang tenaga sakti ini berasal dari salah satu bukit tempatnya para tahanan..''
Pandangan orang ini lalu beralih ke tengah pertarungan. ''Kedua orang keparat berbaju putih yang baru saja datang mengobrak- abrik di kalangan pertempuran itu juga belum aku ketahui berasal dari mana. kepandaian silat mereka sangat hebat. meskipun mungkin masih jauh dibawah ilmu si pincang tapi kekuatan tangan dan kaki mereka sudah menghancurkan kepala banyak pasukan mayat hidupku. dasar keparat..'' rutuknya menyumpah serapah.
Manusia jahat berjubah kuning itu tidak dapat menahan kemarahan jiwanya melihat amukan 'Kaki Besi Perak' dan si 'Tangan Besi Perak' yang bukan lain adalah sepasang pengawal dari majikan Kota Hantu Pagi. segala kejadian yang di lihat olehnya memang sangat tidak menguntungkan bagi pihak Kelompok 13 Pembunuh dan para pesilat golongan hitam yang jadi sekutunya.
Karena dengan hancurnya kepala mayat hidup juga bagian jantung membuat mereka tidak dapat terbangkit kembali. biarpun pasukan mayat hidup yang dia bangkitkan dengan ilmu 'Angonan Mayit Sewu' atau 'Penggembala Seribu Mayat' itu masih ratusan jumlahnya namun sebentar lagi pagi hari akan tiba.
Kekhawatiran orang yang dulunya adalah bekas salah satu sesepuh dari 'Istana Angsa Emas' dan di gelari sebagai 'Tuan Sesepuh Istana Utara' itu memang beralasan. karena selain bagian tengah dahi kepala dan jantung, cahaya matahari adalah kelemahan lain dari pasukan mayat hidupnya yang sampai kini belum dapat dia atasi.
__ADS_1
Namun untungnya sang ketua 13 Pembunuh ini masih memiliki dua puluh empat mayat hidup telanjang yang selain kebal senjata dan pukulan, juga tidak terpengaruh oleh cahaya mentari. selain itu kekuatan dari pihak lawan hanya tinggal sedikit saja. mengingat semua ini kegelisahan yang sempat mengusiknya menjadi sirnah. satu seringai keji tersungging dibalik topeng tengkoraknya.
''Kalian semua bertahanlah, sebentar lagi fajar pagi akan segera tiba. pasukan mayat hidup yang mengepung kita akan mati karena tubuh mereka tidak tahan dengan sinar matahari.!'' seru Putri Penjerat atau si 'Laba- Laba Kuning' mencoba terus memberikan semangat pada semua pesilat aliran putih yang sudah berada di ambang kehancuran.
Wanita berbaju kuning itu sungguh luar biasa. biarpun bekas pembunuh nomor empat itu hanya mempunyai sebelah tangan kanan saja namun dengan mengandalkan sabetan dan jerat senjata benang- benang bajanya, sudah puluhan mayat hidup juga pesilat aliran jahat yang dia jadikan korbannya. apalagi tidak jauh dari perempuan cantik bertubuh kecil itu juga hadir seorang pemuda pincang yang dengan sebuah tongkat Besi hitam kepala tengkorak mampu membuat semua pengepungnya terjungkal roboh dengan raga hancur gosong.
Beberapa orang diantaranya bahkan mungkin tidak sempat tahu bagaimana mereka bisa mati karena saking cepat dan kejamnya cara membunuh si pincang ini. dengan raut muka kaku dan pandangan sedingin mayat, dia seolah sengaja membuat suatu pembunuhan masal. setiap tongkat dan tangan kakinya bergerak, seketika itu juga paling sedikit dua atau tiga nyawa lawan melayang.
Seakan baginya., membunuh sama mudahnya dengan berkedip mata. para pesilat dari aliran putih inipun menyadari, meskipun pemuda pincang yang punya banyak julukan seram itu berasal dari aliran hitam namun justru dialah yang telah menjadi tameng bagi mereka. melihat itu para pesilat aliran putih yang bergabung dengan pihak Istana Angsa Emas merasa malu dan menjadi kembali berkobar semangat bertarungnya.
''Walaupun setelah keluar dari tempatku menyembunyikan diri, kekuatan ilmuku sudah semakin meningkat tapi juga belum tentu sempurna. aku tetap tidak boleh gegabah. kesaktian dari ketua partai 'Gapura Iblis' yang menjadi calon lawanku pastilah jauh lebih hebat dari semua musuh yang pernah kuhadapi..''
''Puncak kekuatanku hanya boleh digunakan saat berhadapan dengan manusia jahanam itu..'' batin pemuda dari gunung Bisma ini. sembari terus membantai lawannya pemuda bernama Pranacitra ini terbayang kembali pada suatu tempat rahasia yang bernama 'Lembah Seribu Racun' dimana dulu dia pernah digembleng oleh lima dedengkot persilatan golongan hitam.
__ADS_1
Di saat pemuda ini masih berpikir, dari satu arah terdengar teriakan menggembor buas yang disusul dengan jeritan parau menahan sakit. Pranacitra sempat berpaling melihat tubuh seorang pemuda tampan berjubah ungu dengan alis mata putih berlarian menjauh dari kalangan pertempuran besar dengan membawa luka parah terlihat dari darah yang tersembur dari mulutnya.
Sementara itu di belakangnya nampak ada pendekar muda gagah lainnya yang memiliki sepasang mata semerah bara api sedang beringas mengejarnya. meskipun belum pernah bertemu tapi dari ciri keduanya Pranacitra tahu kalau mereka adalah sesama pesilat muda yang dianggap terkuat saat ini yang di sebut sebagai 'Pendekar Alis Putih' dan si 'Pendekar Sadis Bermata Api' yang kabarnya menempati urutan teratas. rupanya selain berada di pihak yang berlawanan mereka berdua juga saling bersaing untuk memperebutkan nama besar.
Pemuda itu menyeringai sinis. dia kembali teringat persaingannya saat masih bercokol di urutan pertama dalam daftar pendekar muda pendatang baru terkuat beberapa tahun silam bersama dengan 'Ular Sakti Berpedang Iblis' dan si 'Dewi Malam Beracun'. meskipun generasi mereka sudah lama berganti tapi masih terselip kebanggaan akan masa lalu dalam hatinya.
Pagi hari yang ditunggu- tunggu dan terasa begitu lambat datangnya akhirnya tiba juga. seiring dengan semburatnya cahaya mentari pagi dari cakrawala timur, ratusan pasukan mayat hidup yang sudah selangkah lagi bakal membuat musnah kaum persilatan dari aliran putih yang turut menyerbu pulau 'Seribu Bisa' itu mendadak meraung bersautan.
Seakan terbakar api, tubuh mereka semua sama mengeluarkan asap kabut tipis sebelum hilang ke atas udara. bersamaan raga mereka menciut kering lalu runtuh ke tanah. onggokan ribuan mayat- mayat berbau busuk bergelimpangan memenuhi pulau karang itu. pemandangan seram ini membuat suasana pagi terasa menggidikkan jiwa.
Bagi para pesilat aliran putih yang jumlahnya kurang dari dua ratusan orang itu keadaan yang tenang ini cuma sementara saja. karena biarpun mereka bisa bernafas lega namun keganasan dari dua puluh empat mayat hidup telanjang yang seakan kebal terhadap apapun masih menjadi ancaman terbesar.
Belum lagi kesaktian ketua 13 Pembunuh yang belum turun tangan secara langsung dan para anak buahnya, juga seluruh pesilat jahat aliran hitam yang pastinya tidak akan tinggal diam untuk terus mendesak dan tidak bakal mau memberi peluang sedikitpun pada lawannya. karena bagaimanapun juga saat ini mereka menang jumlah orang.
__ADS_1
...........
Silahkan tulis komentar, like👍, vote👌jika Anda suka. Trims🙏.