
Udara malam yang terasa semakin dingin dan kabut tebal yang menghampar dijalanan itu seakan memberi isyarat akan datangnya kematian. delapan orang manusia berdiri dalam keheningan malam, nafsu membunuh terpancar dari tubuh mereka.
''Menghadang perjalanan orang di tengah malam buta adalah suatu pertanda buruk, waktu kami tidak banyak, katakan apa mau kalian.,?'' tegur Respati dingin. sebenarnya dia tahu kalau saat ini Roro tidak suka basa- basi karena musuh besar yang bertahun- tahun diburu ada di depan matanya. tapi Respati meminta dia untuk menahan diri sebentar.
''Haa., ha., sungguh kebetulan kamipun juga tidak suka berlama- lama disini., serahkan semua barang yang kalian bawa, dan kau gadis cantik bisa tetap disini menemaniku.,!'' jawab orang berbaju kuning sambil melihat Roro dengan pandangan mesum, perempuan itu seakan tidak mendengar, pandangannya yang angker tetap tidak beralih dari sosok Jalak Gandos dan Gempal Codet, membuat hati kedua orang itu merasa bingung dan gelisah.
''Dengar orang tua., setidaknya perkenalkan dulu dirimu karena aku cuma tahu si Jalak Gandos, Gempal Codet dan Nyai Welut Klawu yang ada disampingmu, 'Tapi agaknya kau juga begal rampok seperti mereka..'' ujar Respati. karuan semua orang tersentak. ''Ooh., aku tidak menyangka kalau kau tahu tentang kedua sobatku ini,.'' ujar si baju kuning untuk menutupi rasa kagetnya. ''Dengar bocah., aku biasa dipanggil sebagai Ki Nyambek Kuningan atau Si Biawak Kuning, dan mereka ini adalah dua orang muridku.,!'' gertak orang yang mengaku bernama Ki Nyambek Kuningan itu, rupanya dia agak gusar saat Respati cuma mengenali kedua rekannya saja.
Pemuda itu menoleh dan bertanya pada gadis disampingnya, ''Kau pernah mendengar nama orang ini.,?'' Roro mendengus ''Apa perlunya kenal dengan kaum rendahan yang bakalan jadi mayat.,!''
''Perempuan Bangs*t., jangan kira kau berparas cantik lalu kami tidak tega untuk menghabisimu.!'' hardik salah satu murid dari Ki Nyambek Kuningan gusar. bersama dengan kawannya yang bertubuh lebih tinggi mereka langsung menyerang Roro dengan tusukkan pedangnya, satu mengincar dada dan leher, satu lagi membabat perut dan pinggang kanan. dari gebrakan pertama sudah terlihat ilmu keduanya lumayan bagus, tapi masih terlalu jauh dibandingkan Roro.
Kipas perak sudah keluar dari dari balik pinggangnya yang ramping, sekali sentak kipas itu terbentang di tangan kanannya, saat dua pedang lawan datang mengancam, tanpa menggeser tubuhnya Roro memutar kipasnya seperti kincir angin, sepintas terlihat lambat tapi cepatnya bagaikan kilat. hanya dua kali putaran menyambar keatas dan tiga kali membabat kebawah, kedua serangan pedang yang mengancamnya bukan saja mampu dimentahkan, bahkan juga sempat melukai pergelangan kedua tangan lawannya.!
'Whuut., wuutt., Beet.,!'
'Traang., triing.!'
Belum sempat tahu bagaimana cara gadis itu mampu melukai mereka, dua buah pukulan telapak tangan kiri sudah menghajar dada dan lambung kedua murid Ki Nyambek Kuningan alias Si Biawak Kuning itu hingga mereka terpental jatuh muntah darah lalu terkapar diatas tanah, entah pingsan atau malah langsung mati. hanya dalam dua gebrakan saja kalah menang sudah terlihat, gegerlah semua orang.!
Rupanya hawa amarah sudah naik ke ubun- ubun. belum lagi kegemparan surut, tubuh Roro Wulandari alias Dewi Malam Beracun sudah berkelebat cepat menggebrak lawannya. kini Jalak Gandos dan Gempal Codet yang langsung menjadi sasarannya. kedua orang ini sontak kalang kabut, sebisanya mereka menghindar sambil menangkis serangan kipas Roro yang menimbulkan hembusan angin sekeras topan dan bau wangi memusingkan kepala.
Dalam hatinya kedua orang ini merasa ngeri dan penasaran kenapa wanita ini menyerang tanpa ampun. seakan punya dendam kesumat pada mereka berdua, biasanya mereka berdualah yang jadi pemangsanya tapi kini berbalik keduanya yang menjadi sasaran buruan. sudah lebih sepuluh jurus terlewati, sudah beberapa kali pula kipas perak wanita cantik ini menggores tubuh gemuk si Gempal Codet hingga mengucurkan darah, golok bergeriginya seakan tidak banyak gunanya. andai saja Jalak Gandos tidak membantunya mungkin dia sudah terkapar jadi mayat.
__ADS_1
Sementara itu Ki Nyambek Kuningan yang terperangah melihat kedua muridnya dipecundangi begitu mudah menjadi kalap, dengan membentak garang dia berkelebat sambil babatkan pedangnya, orang ini bermaksud ikut mengeroyok Dewi Malam Beracun, tapi sayang niatnya terputus ditengah jalan, selarik sambaran cahaya hitam yang lebih pekat dari gelapnya malam memotong serangan pedangnya.!
Whuut., traang.!
''Setan alas.,!'' maki Ki Nyambek Kuningan geram sambil kembali babatkan pedangnya melepaskan empat serangan sekaligus sambil melontarkan sebuah pukulan sakti bertenaga dalam tinggi, kali ini Respati yang jadi sasarannya. tapi pemuda ini hanya tertawa dingin. tubuh dan pedang Iblis hitamnya di gerakkan meliuk- liuk cepat bagai gerakan ular berbisa, hasilnya bukan saja empat serangan lawan mampu dipatahkan, bahkan pukulan sakti Ki Nyambek Kuningan juga dapat dihindari,
Gerakan jurus Respati tidak berhenti disitu saja, dengan langkah bagai orang mabuk dia memutar pedang Iblis Hitamnya hingga seakan berubah menjadi sembilan mata pedang. dan saat menikam kesembilan pedang itupun berhamburan keudara merajam tubuh Ki Nyambek Kuningan.!'
Diburu waktu untuk cepat sampai ke Jepara membuat Respati ingin menyudahi pertarungan ini secepatnya hingga dia menggunakan jurus 'Sembilan Patukan Kobra Mabuk.!' yang menjadi salah satu jurus terhebat miliknya.
'Nyai Welut Klawu., tolong aku.!'' jerit Ki Nyambek Kuningan ngeri, sebisa mungkin dia menghindar sambil putar pedangnya melindungi dirinya. tapi tetap saja serangan jurus itu tidak dapat dia bendung, lima bagian tubuhnya terluka parah, darah kehitaman muncrat membasahi baju kuningnya. masih untung tongkat hitam Nyai Welut Klawu atau Si Belut Kelabu sempat menghadang, jika tidak batok kepalanya pasti sudah berlubang.!
'Whuut., Beet., Bet.,!'
''Aaaakh.,!'' dijurusan lain terdengar jeritan panjang menyayat saat kipas perak Dewi Malam Beracun merobek perut Gempal Codet hingga ususnya terburai keluar, melihat rekannya tewas secara mengerikan, Jalak Gandos bermaksud kabur. setelah menggebrak Roro bertubi- tubi dengan tombak emasnya, orang inipun cepat mencelat melarikan diri.
Roro membentak keras, kipas peraknya diputar bagai gasing lalu dilempar kedepan, kipas terbang ini melesat bagaikan kilat memburu Jalak Gandos, meskipun sudah berusaha kabur tapi kipas perak lawan seakan anjing pemburu yang terus mengejar kemanapun mangsanya bergerak.
Jalak Gandos melolong kesakitan saat kipas perak Dewi Malam Beracun membabat kedua kakinya hingga nyaris putus, tubuh tinggi besar sang kepala rampok inipun terjungkal roboh, dimakan jurus 'Kipas Pengejar Rembulan' yang dilepaskan Roro.
Darah membasahi jalanan, Jalak Gandos meraung berkelojotan didepan wanita cantik yang telah membuat cacat kedua kakinya, gadis ini seakan sudah tidak punya perasaan lagi, tubuh lelaki itu ditendanginya bertubi- tubi, lolongan meratap minta ampun seakan tidak terdengar olehnya.
''Ammpuuun., Ampunilah aku., 'Aaakh., Aakh!''
__ADS_1
''Rasakan ini Bajing*n., Anjing jahanam.!'' maki Roro melampiaskan dendamnya, perempuan ini terus menyiksa lawannya dengan penuh kekejaman.
Sementara itu hampir bersamaan dengan tewasnya Gempal Codet dari arah kereta kuda juga terdengar teriakan ngeri, empat orang lelaki bersenjata golok terlihat terkapar berkelojotan sambil tekap wajahnya yang menghitam tertancap puluhan jarum beracun, sedang beberapa orang lainnya berlari menjauh.
Didalam kereta kuda Satriyana terus mengacungkan tabung senjata rahasia pemberian Roro Wulandari, nafasnya tersengal, gadis ini merasa gugup, takut sekaligus geram melihat ada sekelompok orang hendak masuk kedalam kereta kuda.
Dari rajahan burung jalak di lengannya, bisa diduga kalau mereka adalah anak buah Jalak Gandos, yang sengaja diperintah untuk masuk secara diam- diam disaat perhatian lawan terpecah karena pertarungan.
''Hik.,hi., hii., Kau rasakan pembalasanku, ini semua untuk warga desaku, orang tuaku dan tentunya kehidupanku yang telah hancur kau renggut.! 'Dengar keparat., Aku Roro Wulandari, anak Sindu Wijoyo dari desa Pendamaran, sekarang menuntut balas hutang darah sebelas tahun silam.!'' geram Roro beringas, raut mukanya begitu sadis bagaikan Iblis. satu persatu bagian tubuh Jalak Gandos dibuntungi kipas peraknya yang sudah berubah merah karena darah. tubuh yang tinggal badan dan kepala ini bergetar lemah bersimbah darah sampai akhirnya satu babatan di leher mengakhiri segalanya. enam bagian tubuh yang terpisah sungguh pemandangan mengerikan. bahkan Respati dan Nyai Welut Klawu sampai terdiam ngeri. Ki Nyambek Kuningan yang terluka parah ikut mengkirik ketakutan.
Dewi Malam Beracun menengadah, nafasnya tersengal, air mata membasahi kedua pipinya, dia sudah membalaskan dendamnya malam ini, tapi anehnya hatinya tidak merasa tenteram, apakah membalas dendam sakit hati bukan suatu penyelesaian yang baik, ataukah dia sudah terlampau kejam,? entahlah, yang jelas dia ingin secepatnya pergi dari tempat ini dan melupakan semuanya.
''Sebenarnya barang apa yang sedang kalian cari.?'' gertak Respati memecah keheningan. Nyai Welut Klawu atau si Belut Kelabu lintangkan tongkatnya, ''Sejujurnya aku cuma dimintai tolong oleh Ki Nyambek Kuningan untuk membantunya dan Jalak Gandos, sedang barang apa yang mereka incar aku juga tidak tahu.!''
''Bodoh., bisa- bisanya kau mau melakukan pekerjaan yang tidak jelas untungnya.!'' ejek Respati sinis. nenek tua itu menghela nafas berat, ''Aku pernah berhutang nyawa pada Ki Nyambek Kuningan, ini cuma soal balas budi saja.,!''
''Respati., kita pergi sekarang jangan hiraukan mereka lagi.,!'' potong Dewi Malam Beracun sambil mendahului masuk kedalam kereta kuda. ''Se., sebenarnya siapakah ka., kalian ini., Ka., kami hanya mendapat kabar kalau dalam kereta itu ada bayi ajaib dan pe., peta harta karun.!'' saking penasaran dengan susah payah Ki Nyambek Kuningan bertanya, nafasnya megap- megap, tubuhnya mulai menghitam, dari panca indranya keluar darah, ajalnya sudah hampir tiba.
Respati bergerak seperti penari ular, diakhir gerakan dia membuat kuda- kuda seperti seekor ular kobra yang siap mematuk.! sementara dari dalam kereta terdengar nyanyian ''Kala rembulan menerangi bumi, Putri malam membentang kipasnya., Mayat- mayat menjadi saksi., Saat dia menari diatas genangan darah musuhnya.,''
''Disini memang ada bayi, tapi dia cuma bayi biasa, juga tidak ada peta harta karun apapun, didalam kereta cuma ada seorang pesilat yang menumpang istirahat. kemarin tokoh silat kawakan si Dewa Serba Putih juga sudah memeriksanya, kalian semua telah tertipu, ini cuma pengalihan perhatian saja.!'' kata Respati sambil melesat naik ke bangku kusir, sekali sentak kereta kudanya melaju kencang menembus kegelapan malam.
Ki Nyambek Kuningan atau si Biawak Kuning merasa kecewa, kenapa dia tidak mencari tahu dulu kebenaran berita yang didapat oleh Jalak Gandos., lebih menyesal lagi saat dia tahu telah berhadapan dengan siapa, si nomor dua belas dan tiga belas dari kelompok 13 Pembunuh, seandainya saja dia tahu sebelumnya, biar punya nyawa rangkap tak bakalan dia sudi bersengketa dengan kedua orang ini., tapi penyesalan selalu terlambat tiba, nyawa sudah melayang meninggalkan raganya.!
__ADS_1
Nyai Welut Klawu ketukan tongkatnya berulang kali, mungkin dengan cara ini dia bisa mengurangi rasa seram yang menyesak didalam hatinya karena baru saja lolos dari cengkeraman elmaut.!'