
Mendengar jawaban Sabarewang yang terkesan meremehkannya membuat hati Panglima Istana Kiri menjadi gusar, kedua tangannya langsung diangkat hendak menghantam. tapi orang di hadapannya malah tertawa menghina.
''Hak., ha., Kau mau membunuhku atau hendak menghancurkan kereta kuda ini.? silahkan saja., kami bukanlah manusia yang takut pada ancaman kematian.!'' tantang Sabarewang sambil memutar- mutar belatinya.
''Tahukah kau., akibat berani membuat sengketa dengan rombongan kecil kami ini, kau dan juga temanmu yang terkapar di tanah itu telah membuat satu kesalahan besar.!''
''Keparat., apa maksud ucapanmu.?'' bentak Panglima Istana Kiri. turut maunya ingin dia membunuh Sabarewang saat itu juga. tapi sikap lawannya membuat dia curiga.
''Kaulah yang keparat., setan berjubah kuning sialan.!'' Sabarewang balik menghardik. ''Kalau sampai terjadi apa- apa dengan kawanku tadi., seumur hidupmu jangan harap dapat bertemu lagi dengan teman wanitamu.!''
Panglima Istana Kiri semakin pucat wajahnya. jelas sekali kalau orang ini merasa panik, bibirnya gemetar hendak bicara tapi tidak satu suarapun terdengar. tanpa sadar dia menurunkan kedua tangannya.
Sabarewang menyeringai, otaknya berputar mencari akal. lebih sebulan berpetualang bersama Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun dan Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis membuatnya mulai tertular sifat licik.
''Sepertinya ada hubungan khusus diantara lelaki pucat bergelang aneh ini dengan wanita yang ada di dalam kereta. Satriyana bilang kedua pria ini berani melihatnya saat dia sedang mandi di sungai., benar- benar kurang ajar..''
''Kalau tidak kuberi pelajaran rasanya terlalu enak buat mereka.!'' batin Sabarewang kesal.
''Hei., manusia muka pucat berjubah kuning, sebutkan siapa kalian berdua sebenarnya dan mau apa.?''
''Kau belum layak untuk mengetahuinya.!'' jawab Panglima Istana Kiri dengan ketus. ''Sekarang katakan ada di mana wanita yang kau bilang tadi.?'' desaknya balik bertanya.
Sabarewang mendengus, ''Dengar orang sombong., disini kami yang mengatur semuanya bukan kau. lagi pula wanita yang kami temukan belum tentu sama dengan yang kalian cari. jadi jangan mencoba berlagak di depanku.!''
''Sobatku Panglima Istana Kiri., untuk apa kau membuang waktu berdebat dengan cecunguk rendahan itu. kita habisi saja dia.!'' lelaki itu melirik Panglima Istana Kanan yang berjalan terseok mendekati. dia merasa lega karena rekannya sudah mampu bangkit. Sabarewang malah meludah. ''Jalan masih sempoyongan sudah berani berkoar., kalau sudah kalah kenapa masih berlagak jagoan.?''
''Dengar kalau kalian masih bersikap angkuh, kamipun tidak akan segan menghabisi nyawa wanita itu tidak perduli dia benar orang yang kalian cari atau bukan.!" gertak Sabarewang seakan sengaja tidak memberi kesempatan lawan untuk berpikir.
"Jahanam., kalau sedikit saja dia terluka, akan kuberikan siksaan paling mengerikan di dunia ini.!" rutuk Panglima Istana Kanan. sementara rekannya hantamkan kedua tangannya ke tanah berbatu hingga rengkah berlubang besar untuk melepaskan hawa amarahnya.
__ADS_1
"Hek., he., cuma bisa memukul hancur tanah dan batu, apa hebatnya.?" ejek Sabarewang. kusir kereta kuda maut ini agak terkesiap saat melihat kedua tangan Panglima Istana Kiri melesat cepat mencengkeram lehernya. anehnya Sabarewang malah maju seakan sengaja membiarkan lehernya diremukkan tangan lawan., apakah dia sudah berubah menjadi gila.?
Tidak., orang ini tidak gila, dia masih waras. hanya bertindak agak nekad.
"Orang mengancam karena ada dua sebab. pertama karena orang itu menginginkan sesuatu dan yang kedua karena dia takut pada sesuatu atau seseorang."
"Kalau sedang terancam sewajarnya orang akan berusaha menghindari atau melawan ancaman itu. tapi sering mereka terlupa kalau cara termudah adalah mengancam balik lawanmu."
Itulah pelajaran yang pernah dia dapat dari Dewi Malam Beracun. si perempuan cantik ahli tipu muslihat dan senjata beracun yang juga majikan barunya.
Leher Sabarewang sudah berada dalam cengkeraman Panglima Istana Kiri. meski kusir kuda ini agak tercekik tapi dia malah menyeringai. "Jang., jangan harap kau bisa ber., bertemu wanita itu., ayoh hab., habisi aku sekarang.!"
"Manusia keparat., cepat katakan padaku dimana orangnya.,?"
"Me., mangnya kau si., siapanya, 'Kek., kasihnya kah.? 'Pasti bukan. Ka., karena menurutku., kau cuma pria pengecut yang tak., takut meng., ngatakan cinta., hek., he.,!"
"Orangnya can., cantik. ber., berca., dar kuning. tubuhnya yang kecil lansing pen., penuh luka bakar., nyawanya ting., tinggal seujung jari. 'Kau sudah tidak mau bertemu deng., dengan., nya lagi.? Hek., he. he.," setengah tercekik Sabarewang berbicara lalu terkekeh. "Ken., kenapa, apa kau takut.?" bentaknya garang.
"Katakan padaku dimana wanita itu., kumohon.!" ujar Panglima Istana Kiri dengan suara perlahan. Sabarewang sampai tidak percaya kalau lawannya dapat bersikap lemah seperti ini. sesaat dia tidak tahu harus berkata apa.
"Panglima Istana Kiri., apa yang kau lakukan. jangan terbujuk oleh siasatnya.!" geram Panglima Istana Kanan. rekannya hanya menunduk diam hingga membuatnya muak. "Kenapa kau bisa berubah lemah begini., apa kau sudah lupa siapa diri kita dan semua beban tugas yang harus diselesaikan.?"
"Sudah diam.!" bentak Panglima Istana Kiri, orang tinggi besar itu terjingkat kaget karena baru kali ini rekannya sampai begitu marah kepadanya.
Saat itu terdengar suara ketukan lirih di pintu kereta kuda, Sabarewang menggeser tubuhnya, pintu kereta kuda terbuka. seorang perempuan cantik jelita berjubah gaun hitam keluar dari dalam kereta kuda. saat turun wanita ini terlihat begitu luwes dan anggun. Satriyana mengikuti di belakangnya dengan muka masam dan mata mendelik kesal pada kedua orang berjubah kuning itu. karena pintu kereta kuda seakan di biarkan terbuka maka isinya dapat dilihat dari luar.
Di dalam kereta itu cuma ada Respati yang sedang duduk bersila mengatur pernafasan. selapis cahaya hitam dan putih yang tipis terlihat menyelimuti tubuh si pemuda. kedua Panglima Istana Angsa Emas itu tertegun sesaat.
''Di mana wanita yang kau katakan tadi.? jangan coba bermain- main.!" gertak Panglima Istana Kiri marah dan cemas. Sabarewang juga sesaat terkejut, tapi dia cepat memahami masalahnya. dia lalu menutup kembali pintu kereta kuda itu.
__ADS_1
"Apakah yang saudara maksudkan adalah wanita cantik bercadar dan berjubah kuning yang tubuhnya penuh luka bakar itu.?" tanya wanita cantik berjubah sutra hitam alias si Dewi Malam Beracun itu. "Iya benar, memang benar dia yang sedang kami cari. tapi siapakah kau ini nisanak.?" tanya Panglima Istana Kiri. entah kenapa dia merasa sedikit segan berhadapan dengan wanita jelita yang anggun ini.
"Namaku Roro, dan gadis ini adalah adikku bernama Satriyana. kedua orang pria itu kawan karibku Respati dan Sabarewang. kami berempat hanyalah kaum pengembara kecil di dunia persilatan. kalau ada salah paham harap tuan berdua sudi menyudahi perselisihan ini.!" jawab Roro sambil menjura hormat. suaranya merdu merayu, kerlingan mata bening yang membetot sukma dan sikapnya yang lemah lembut tapi penuh kewibawaan membuat hati lawan menjadi segan.
"Saudari Roro tidak perlu sungkan, tapi dimanakah wanita yang kau bilang tadi.?" ucap Panglima Istana Kanan yang sifatnya agak berangasan. jubah kuningnya robek hangus. bekas lukanya masih terlihat karena dia hanya bertelanjang dada hingga tubuhnya yang besar dan berbulu nampak garang.
Wanita cantik ini menghela nafas berat seakan menyesali sesuatu. "Saat kami menemukannya di sungai tubuh wanita itu penuh dengan luka bakar, kami sempat mengira kalau dia sudah menjadi mayat. tapi aku bisa rasakan denyut nadinya masih ada."
"Maka kami membawanya kemari untuk diobati. tapi sayang luka dalamnya sangat parah. meskipun dia dapat kusadarkan tapi lukanya tak mampu kusembuhkan.!"
"Wanita itu sempat berpesan kepadaku agar memberikan kain cadar kuning dan sarung tangan ini pada seseorang yang bernama Panglima Istana Kiri., siapakah diantara tuan berdua yang mempunyai gelaran itu.?" tanya Roro ssmbil mengeluarkan sebuah cadar sutra kuning bernoda darah dan sepasang sarung tangan kulit yang juga berwarna kuning.
Kedua benda ini langsung di sambar oleh Panglima Istana Kiri. dengan penuh khawatir dan hati yang sangat sedih di tatapnya barang yang ada di tangannya itu. tubuhnya gemetaran, air matanya tak mampu lagi dibendung. orang yang biasanya dingin tanpa perasaan ini menangis sesengukan.
"Wanita itu juga berkata kalau dalam hatinya dia selalu ingin agar suatu saat Panglima Istana Kiri yang akan membuka cadar dan sarung tangannya ini. hanya sayang meskipun dia tahu engkau mencintainya tapi tidak pernah mau mengatakan perasaan itu padanya. dia merasa menyesal dan lelah menunggu.!"
"Dia tahu umurnya tidak bakal lama, sebelum pergi dia sempat berharap agar dapat mendengar ungkapan perasaanmu padanya. tapi sepertinya itu sudah tidak mungkin lagi." tutur Roro sambil melirik orang yang kini jatuh terduduk. "Aku memang tolol., selalu saja tidak mampu berkata apapun dihadapannya.,!"
"Ratusan musuh pernah kuhadapi, ancaman senjata maut bagai makananku sehari- hari. meskipun semua rintangan itu dapat aku lewati, tapi aku justru tidak pernah mampu untuk sekedar berkata kalau aku sangat menyayanginya dan ingin meminangnya.!" teriak Panglima Istana Kiri sambil terus menangis seperti anak kecil. tapi tidak ada satu orangpun disana yang berani menertawakannya. mereka malah bersimpati pada lelaki ini.
"Mungkin benar aku hanyalah lelaki dungu dan pengecut, sampai- sampai kalimat cinta semudah itupun tidak mampu kuucapkan., hak., ha., ha.,!" gelak tawa bercampur tangisan tersembur dari mulut Panglima Istana Kiri.
Susana pagi yang cerah seakan menjadi terasa menyedihkan hati. rasa cinta kasih yang mestinya membawa kebahagiaan kadang malah membuat kepedihan di hati manusia. 'Kalau kau suka pada seseorang, yah., katakan saja terus terang biar tidak menyesal di belakang hari.' itu kalimat yang sering terdengar. meskipun terasa gampang tapi sering kali orang takut dan bingung untuk melakukannya.
"Kata- kata semudah itu kenapa baru sekarang kau ucapkan., sebenarnya aku masih ingin mendengarkan lebih banyak lagi ungkapan perasaan yang ada dihatimu, tapi melihatmu seperti ini diriku jadi tidak tega.!" meskipun hanya satu suara lirih tapi cukup jelas terdengar di telinga semua orang.
Pintu kereta kuda sudah kembali terbuka, Respati turun bersama dengan seorang wanita cantik bertubuh agak kecil. sebuah baju hitam milik Satriyana membungkus tubuhnya yang ramping dan penuh bekas luka bakar. meskipun wajahnya terlihat lesu dan lemah tapi perempuan ini cukup kuat.
Panglima Istana Kiri seakan terpana tidak percaya, dia lebih tidak dapat membendung air matanya lagi saat perempuan itu menghambur dan memeluknya. "Kau memang pria bodoh, tapi siapa suruh aku suka dengan pria tolol sepertimu.!"
__ADS_1
Lelaki itu tertawa bercampur tangis haru lalu balas memeluk. malah pelukannya lebih erat dari wanita itu. karena selain berbuat seperti ini apalagi yang dapat dia lakukan. mereka berdua tidak perlu lagi bicara perasaan cinta, karena pelukan itu sudah mengungkapkan segalanya.