
Sabarewang lintangkan pedang buntung di tangan kirinya ke depan dada. meskipun bahu kanannya sudah berlubang dan tidak dapat lagi di gerakkan tapi daya tahan tubuh lelaki ini memang meningkat luar biasa setelah mendapat tambahan tenaga kesaktian dari 'Darah Keabadian' milik Satriyana.
Totokan jari Ki Ageng Bronto di sekitar lukanya membuat darahnya tidak lagi mengucur dari lubang di bahunya. ''Darah sakti yang kau berikan kepadaku tidak akan pernah aku sia- siakan. meskipun aku tidak akan mungkin melampau Respati atau Nyi Dewi., tapi kali ini akan aku pastikan nenek buta itu bakal mati di ujung pedang buntungku.!'' geram Sabarewang sambil sekilas melirik Satriyana.
Gadis itu masih bersandar di bawah sebatang pohon bersama 'Putri Penjerat' alias si 'Laba- Laba Kuning' yang juga tergolek lemah. Jurata dan Birunaka berjaga di samping mereka. biarpun tubuhnya penuh dengan luka tapi Putri Penjerat masih bisa di selamatkan setelah mendapatkan obat buatan tabib Rumilah sang 'Tabib Mata Hati.
Khasiat obat itu sangatlah luar biasa karena di ramu dengan memakai campuran Darah Keabadian yang berasal dari tubuh Satriyana. keturunan pewaris dari Istana Angsa Emas itu hanya tersenyum mendengar semua yang diucapan Sabarewang.
''Apakah sudah cukup semua omong kosong kalian para calon mayat.?'' bentak Nyi Sira garang tidak sabaran. mulut peotnya berteriak garang pedang tipisnya membabat beberapa kali ke udara. kilatan- kilatan cahaya tajam yang menyilaukan bertaburan menyambar ke segala arah.
'Whuuuut., wheeeet., srraaaat.!'
'Craaak., craaass., plaaang.!'
Semua orang serentak menjauh, Respati dan Ki Ageng Bronto si 'Pendekar Golok Bayangan Setan' putar senjata sakti di tangan masing- masing guna menangkis sambaran cahaya pedang Nyi Sira. sementara Roro Wulandari gunakan jurus 'Kipas Penggulung Awan' untuk menghempas mental puluhan batang dahan pepohonan yang putus tertebas.!
Birunaka dan Jurata juga berusaha sekuat tenaga melindungi kedua rekannya yang masih tergolek lemah. biarpun luka Satriyana hanya berupa goresan di pergelangan tangan, namun darah yang terhisap Sabarewang juga cukup banyak hingga perlu waktu untuk dapat memulihkan dirinya.
Sabarewang yang berdiri di depan ke empat orang itu mendengus keras. dengan kekuatan tenaga dalam dan pedang pusaka buntung di tangan kirinya yang berputaran mengelilingi tubuhnya yang besar, dia seolah tembok benteng raksasa yang melindungi semua rekan di belakangnya.
Cahaya merah bara api menyambar cepat menangkis serangan hujan sabetan pedang Nyi Sira yang di lepaskan dari jarak jauh. beberapa sabetan pedang si 'Mambang Wanita Buta itu masih mampu lolos, tapi dapat di halau oleh pentungan sakti Birunaka juga bacokan golok Jurata.
Pada akhir gerakannya pedang Sabarewang berputar setengah lingkaran. seiring dengan ayunan tubuhnya pedang buntung itu menusuk ke muka, selarik cahaya merah yang menyilaukan mata berbentuk bintang segi empat menyambar. itulah jurus pedang 'Bintang Langit Terpecah.!'
Sepasang kelopak mata Nyi Sira yang buta terlihat berkedut seakan dia merasakan suatu ancaman maut yang datang, namun begitu pedang panjang dan tipis di tangannya tidak berhenti menikam, malah sekarang sarung pedangnya yang berupa tongkat merah turut bergerak untuk membendung serangan jurus lawannya.
__ADS_1
Whuuuut., shaaaat., sheeeet.!'
'Craaang., traaang., braaaak.!'
''Uughh., setan alas. kau akan menyesali kelakuanmu sampai ke liang kuburanmu. serahkan pedang buntung itu padaku.!'' teriak Nyi Sira kalap. dalam bentrokan adu ilmu pedang tadi, nyaris saja kepalanya tersambar jurus pedang Sabarewang. beruntung tongkat merahnya masih mampu menahan. biarpun begitu cahaya pedang berbentuk bintang segi empat itu masih sempat memutus kain ikat kepala merahnya dan sedikit menggoreskan luka di dahinya.
Cahaya pedang berbentuk bintang merah segi empat itu terus melesat dan menghantam sebatang pohon yang sudah separuh tumbang akibat di babat pedang Nyi Sira. batang pohon sebesar satu pelukan orang dewasa itupun terbelah seketika menjadi empat bagian di sambar cahaya pedang buntung Sabarewang.
Si Mambang Wanita Buta meraung bengis sambil kirimkan tiga buah totokan tongkat ke perut dan dada Sabarewang. jurus ini diakhiri dengan empat buah tikaman pedang yang seakan datang hampir bersamaan dan sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi yang mengincar pinggang kiri lawan.
Jika Nyi Sira hampir saja terbelah kepalanya, justru sebaliknya Sabarewang seakan tidak merasakan kesakitan, padahal beberapa goresan luka sambaran pedang Nyi Sira sudah menghiasi tubuhnya yang tinggi besar. malah dengan menggembor keras dia berkelebat ke udara dengan membuat satu kali salto sambil babatkan pedang buntungnya dengan cara bersilangan yang di akhiri sebuah tusukan laksana halilintar menyambar. jurus 'Pusaran Petir Tunggal.!'
Jurata yang menyaksikan jurus ini seakan tercekat. dia ingat betul kalau gerakan inilah yang menamatkan nyawa seorang murid murtad dari perguruan silat 'Lutung Ciremai' yang telah memperkosa dan membunuh adik perempuannya.
''Lumayan juga ilmu pedangmu., tapi masih terlalu jauh untuk bisa mengancamku.!'' ejek Nyi Sira yang entah kenapa malah berdiri setengah membungkuk sambil kembali sarungkan pedangnya kedalam tongkat. seiring dengan kibaran jubah hitamnya yang mengembang, terasa ada hawa membunuh disertai hembusan angin dingin menggidikkan terpancar dari tubuh nenek buta itu.
'Trraaaang., craaaang.!'
''Aaakh., uagh.!'' Sabarewang menjerit tertahan. pedang buntungnya terpental lepas beberapa langkah ke belakang. tubuh tinggi besar itu tersungkur roboh dengan satu jalur luka panjang melintang di dada kiri hingga iga kanan. mungkin beberapa tulang iganya juga ikut tertebas putus.
''Kakang Sabarewang.!'' jerit Roro Wulandari penuh kekhawatiran berkelebat menolong rekannya seraya menghamburkan belasan jarum dan paku terbang beracun ke arah Nyi Sira. bersamaan itu Respati dan Ki Ageng Bronto melabrak si Mambang Wanita Buta yang kembali sarungkan pedang ke dalam tongkat merahnya. golok menderu keluarkan suara jeritan dan tawa setan penasaran sementara pedang membabat tebarkan hawa hitam busuk yang berselimut kematian.!
Nyi Sira meraung buas, jubah hitamnya Robek di bagian dadanya, ada sedikit noda darah yang merembes dari balik jubahnya. rupanya walaupun mampu merobohkan Sabarewang, tapi diapun juga turut terluka meski hanya berupa lubang sekecil ujung jari kelingking.
''Keparat., kalian benar- benar ingin mati lebih capat. baiklah., akan kuturuti apa mau kalian. mampuslah semuanya.!'' bentak Nyi Sira sambil mencabut pedangnya kembali. kali ini dia justru melakukannya dengan lebih perlahan. cahaya sinar menyilaukan yang tersembur terasa jauh lebih tajam hingga kulit tubuh serasa perih terkelupas. puluhan cahaya pedang membabat ke segala penjuru. suara ledakan disertai gemuruh angin keras turut mengiringinya.
__ADS_1
Sebenarnya jurus 'Sepuluh Pedang Siluman Jagal' ini sengaja disiapkan Nyi Sira sebagai bekalnya untuk membalas dendam pada Nyi Sumbar Geni atau si Dewi Pedang Api dan Iblis Pedang Buntung, bekas kekasihnya di masa lalu yang telah membutakan matanya.
Sayangnya musuh besarnya belum juga dapat di temukan dan mungkin juga sudah tewas, sekarang dua orang lawan berkepandaian tinggi sudah menyerangnya. hingga terpaksa dia gunakan jurus andalan ini yang dia latih dalam goa rahasia di pulau 'Seribu Bisa'. markas rahasia dari kelompok 13 Pembunuh.
Baik Respati Ular Sakti Berpedang Iblis maupun Ki Ageng Bronto si Pendekar Golok Bayangan Setan sama sekali tidak mengira jika Nyi Sira mampu mengeluarkan serangan sehebat itu. mereka berdua sudah terlambat untuk menghindar, dengan melipat gandakan kekuatan tenaga dalamnya kedua orang inipun terus maju menggebrak lawan.
Tanpa ampun lagi tiga kekuatan senjata sakti bentrok di udara. pijaran bunga api berselimut hawa kehitaman berserabutan ke segala arah. tiga orang itu masih sempat saling tikam senjatanya hingga terlewati beberapa jurus, hingga sebuah ledakan keras membuyarkan semuanya. Respati dan Ki Ageng Bronto sempat terpental ke belakang dengan beberapa goresan luka sabetan pedang di tubuhnya. jika saja ke dua orang ini tidak memiliki ilmu kesaktian yang tinggi, saat ini mereka berdua pasti sudah terkapar menjadi mayat.
Dua bekas anggota kelompok13 Pembunuh itu merutuk. mereka sungguh tidak mengira ilmu pedang Nyi Sira sungguh mengerikan. ''Kalian berdua menyingkirlah., urusanku dengan nenek buta itu belum selesai.!'' serentak kedua orang itu menoleh kaget , bahkan Nyi Sira jauh lebih terperanjat.
Dengan tubuh yang masih berlumuran darah, Sabarewang berdiri terhuyung. pedang buntungnya teracung ke atas. hawa sinar kemerahan yang terpancar dari pedang menyelimuti tubuhnya. 'Dewi Malam Beracun' yang berdiri memeluk tubuhnya dari belakang tidak kuasa menahan tekat orang itu. ''Hati- hatilah., kau harus tetap hidup.!'' bisiknya sambil mundur menjauh. lelaki itu tersenyum sekilas, di mata Roro wajah kusir kudanya yang brewok itu terlihat semakin garang dan jantan.
''Nyi Sira., Mambang Wanita Buta. aku akan pertaruhkan seluruh hidup dan matiku dalam satu serangan ini, jurus 'Bintang Api Kembar.!'' teriak Sabarewang sambil berkelebat ayunkan pedangnya ke depan. dua buah cahaya merah berbentuk bintang berapi menyambar laksana batu meteor yang terjatuh dari langit.!
''Jahanam., kau bakal mati diujung pedangku.!'' damprat Nyi Sira tidak kalah buas. untuk kedua kalinya dia lepaskan jurus 'Sepuluh Pedang Siluman Jagal'. tidak ada suara benrokan senjata pusaka. yang terlihat hanya sambaran sinar- sinar perak dan merah yang saling libas. angin bergulung hawa pedang tajam berhamburan menyambar ke delapan penjuru. dahan pohon berpatahan dedaunan rontok berguguran tersapu hawa kesaktian pedang.
Sabarewang terhuyung, perlahan dia balikkan badannya. meskipun pandangan matanya mulai kabur tapi dia masih sempat melihat sosok Nyi Sira yang berdiri sedikit terbungkuk sepuluh langkah membelakanginya. kepala nenek buta itu mendongak miring ke kiri. bibirnya yang peot menyeringai penuh penghinaan padanya. Sabarewang terbatuk mengupat penasaran. tapi yang keluar hanyalah semburan darah kehitaman dari mulut, hidung dan luka- luka yang ada di sekujur tubuhnya.
''Huhm., mampuslah dalam kebodohanmu karena berani menantangku. Hek., he.!'' gelak tawa Nyi Sira mengiringi tubuh tinggi besar Sabarewang yang tumbang, darah tergenang membasahi tanah berumput. semua rekannya meraung gusar hendak memburu ke depan. tapi saat itulah terjadi sesuatu yang di luar dugaan.
Nyi Sira, si Mambang Wanita Buta mendadak hentikan tawanya yang mengekeh bengis. suara dan nafasnya seperti tersedak sesuatu. saat dia membalikkan badan semua orang yang melihat sama tercekat membayangkan kengerian. mereka menatap sepasang mata si nenek buta seakan melihat hantu.
Sebelumnya kedua matanya tidak mampu melihat. tapi sekarang Nyi Sira malah tidak mampu lagi berpikir apapun. meskipun cuma sekejap saja tapi dia masih sempat juga merasakan kesakitan yang jauh lebih parah dari saat matanya di butakan. walau sekilas si nenek juga merasakan ada angin berhembus masuk melalui dua lubang di matanya hingga tembus ke belakang kepala.
Tubuhnya roboh terkapar. tidak ada jeritan ngeri juga darah yang tersembur dari mayat. yang terlihat cuma dua buah lubang hangus menghitam berbentuk bintang segi empat menembus bola mata tuanya yang buta sampai ke bagian belakang kepalanya.
__ADS_1
Respati dan semua rekannya tertegun, mereka sungguh tidak mengira kalau nyawa jago pedang kawakan bermata buta itu akan berakhir di ujung pedang buntung seorang kusir kuda. dendam kesumat karena kebutaan, mati juga karena lubang di matanya.