13 Pembunuh

13 Pembunuh
Penyerbuan. (bag5)


__ADS_3

Seakan sadar dengan kehebatan dari ilmu kesaktian yang di gunakan lawannya, 'Datuk Cebol Naga Guling' langsung merubah gerakan silatnya. sambil berteriak keras dia menekuk tubuhnya yang pendek gemuk lantas memutar cepat seperti roda. cahaya dan asap hitam panas turut menyelimuti tubuh si cebol ini.


Hebatnya lagi sisik- sisik berkilauan yang memenuhi kulit tubuhnya sama menegak tajam berkilauan bagaikan ribuan mata pisau. putaran tubuh roda penuh sisik pisau hitam ini melabrak rantai tasbih biru raksasa Kyai Jabar Seto. itulah ilmu kesaktian milik Datuk Cebol Naga Guling yang di sebut sebagai 'Gelinding Siluman Naga Melindas Maut.!'


Kabarnya dengan menggunakan ilmu sejenis ini, Datuk Cebol pernah melibas kepungan lebih empat puluh orang prajurit utama dari kerajaan Bali dibantu oleh dua orang tokoh silat sakti yang hendak menangkapnya, sekaligus menjebol tembok benteng keraton sebelum akhirnya berhasil kabur.


Biarpun dia gagal dalam usahanya mencuri barang pusaka juga menculik seorang putri cantik anak dari salah satu selir sang raja, tapi kejadian itu sudah membuat kegemparan di mana- mana. jika benteng kokoh yang tebal dari suatu kerajaan saja dapat dia robohkan, maka Datuk Cebol juga sangat yakin mampu menghancurkannya.


'Whuuungg., wheeeeerr., wheeeeesss.!'


'Sraaaakk., braaaaakk., drraaakkk.!'


'Blaaaaarrr., blaaaaanngg.!'


''Uughh., ilmu kesaktian yang dimiliki manusia laknat ini memang tidak dapat di pandang remeh. diriku mesti sangat berhati- hati dalam menghadapinya..'' batin Kyai Jabar Seto tersurut mundur beberapa tindak sembari berusaha menahan rasa sakit dan aliran darahnya yang kacau hingga hampir saja termuntah akibat bentrokan ilmu kesaktian.

__ADS_1


Di pihak lainnya Datuk Cebol Naga Guling harus terpental lebih dari tiga tombak ke belakang sambil mengerang kesakitan juga menahan amarah. meskipun dia mampu memusnahkan ilmu kedigdayaan lawan tapi belasan sisik- sisik hitam mengkilat yang jadi pelindung tubuhnya juga turut terkelupas dan terlepas dari kulitnya hingga mengucurkan darah.


Biarpun begitu orang cebol ini tidak lantas menjadi gentar karena sebentar saja sudah muncul sisik- sisik hitam yang baru serupa lempengan besi dari dalam tubuhnya. dengan keluarkan suara gemboran buas dia kembali melabrak Kyai Jabar Seto yang juga tidak mau kalah gertakan. senjata kalung tasbih biru di tangan berputar di atas sorban kepalanya lantas menghantam ke depan.


Beberapa larikan sinar berupa lingkaran kebiruan berkelebatan menghadang cabikan cahaya hitam tajam dari cakar si Datuk Cebol yang hendak merobek perut serta dada kanan lawannya. jika sisik hitam pelindung tubuh Datuk Cebol Naga Guling dapat cepat pulih, ada satu kehebatan juga dari kalung tasbih biru Kyai Jabar Seto.


Dengan lebih dahulu membaca sebaris doa untaian manik- manik tasbih yang hancur berserakan ke segala penjuru dapat ditarik dan bersatu kembali ke telapak tangannya membentuk kalung tasbih sakti yang baru. pertarungan antara kedua pesilat kawakan itupun berlanjut semakin sengit.


Ledakan dan sambaran tenaga kesaktian yang saling beradu membuat tanah bebatuan karang di sekitar tempat pertarungan itu porak poranda bahkan beberapa kali sempat menyambar anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang berniat turut membantu atasannya. tapi Datuk Cebol yang seolah tidak perduli dengan semua itu terus mendesak lawannya.


Tidak jauh dari tepian pantai yang terdapat tonjolan batu karang, nampak dua sosok bayangan putih sedang saling berhadapan. keduanya masing- masing berdiri diatas sebuah batu karang yang paling tinggi hampir dua tombak dari permukaan air laut. ombak yang menghempas pantai seolah terbalik arah saat hendak menggulung mereka.


Orang yang berdiri tegak dengan jubah putih gombrong kebesaran adalah seorang tua bertubuh pendek dengan rambut putih agak botak. kedua tangannya memegang sebuah gagang pedang besar dan lebar berwarna hitam legam yang panjangnya hampir sama dengan tinggi dagunya sendiri. kakek tua yang tinggi badannya hampir sama dengan Datuk Cebol Naga Guling ini bukan lain adalah si 'Pendekar Pedang Lali Jiwo.!'


Bertolak belakang dengannya, sang lawan justru bukan saja masih gadis muda bahkan sangat cantik jelita. kedua tangannya terlihat menggenggam dua buah pedang pendek yang bersinar keemasan. jubah putihnya yang melambai diterpa angin lautan membuatnya semakin nampak anggun. Puji Seruni si 'Dewi Seruni Putih' itulah nama dan julukan gadis penguasa dari 'Lembah Seruni' ini.

__ADS_1


Mungkin sejak pertama kali mereka berdua bertemu di desa Kembangsoka, keduanya seolah sudah ditakdirkan untuk bertarung ilmu pedang. bukan saja untuk menentukan siapa yang lebih unggul namun juga demi kehormatan jiwa seorang pendekar yang menganut ilmu pedang.


''Bocah ayu., kuakui ilmu pedang 'Walet Emas' milikmu sangat bagus. tapi sayangnya itu masih belum cukup meskipun cuma untuk sekedar bertanding seimbang dengan diriku. sejujurnya aku sangat tertarik dengan bakatmu. begini saja., jika kau mau menyerah akan kuangkat dirimu sebagai muridku. asal kau tahu saja, selama ini banyak orang yang ingin menjadi muridku tapi selalu aku tolak..'' bujuk Pendekar Pedang Lali Jiwo.


''Ooh begitukah.?'' potong Puji Seruni mencibir sinis. ''Jadi kau anggap aku sangat beruntung jika dapat berguru padamu. Chuih., menang dan kalah diantara kita saja masih terlalu jauh untuk ditetapkan tapi kau sudah bicara lain. asalkan kau tahu orang tua pendek, yang kita berdua tadi lakukan sebelumnya menurutku baru pemanasan saja. karena pertarungan sesungguhnya baru dimulai sekarang.!''


Sementara bibir indahnya berbicara sepasang pedang emasnya turut bergerak membabat seiring dengan tubuh rampingnya yang berkelebat ke depan melewati tonjolan bebatuan karang yang memisahkan kedua tua muda itu. jurus ringan tubuh 'Walet Terbang Menembus Awan' yang dipadukan dengan ilmu pedang 'Sayap Walet Cahaya Surya' membuat serangan Puji Seruni bukan saja indah terlihat tetapi juga sangat mematikan.


''Gadis kurang ajar. kau memang tidak layak dikasih hati. jangan dikira aku tidak tega memenggal kepalamu.!'' rutuk Pendekar Pedang Lali Jiwo sambil angkat pedang hitamnya lantas kirimkan tiga tikaman untuk memotong jalur serangan pedang kembar lawan yang mengincar leher dan dadanya.


Dari pertemuan pertamanya, orang tua pendek itu sudah dapat menjajaki sampai di mana ketinggian tingkat ilmu pedang gadis muda yang cantik itu. meskipun enggan tapi dalam hatinya dia juga mengakui kalau murid Nyi Pariseta ini bukanlah lawan yang mudah untuk di habisi.


Dalam sekejap mata cahaya hitam pekat dan kuning emas sudah saling libas puluhan kali di udara hingga timbulkan suara keras dari dentingan senjata sakti yang beradu. jurus- jurus pedang 'Lali Jiwo' atau 'Pelupa Ingatan' yang mampu membuat pikiran lawan menjadi kacau bahkan gila sudah di lancarkan.


Dua bayangan putih yang berkelebatan mengincar nyawa lawannya di atas batuan karang pantai yang tajam dan licin di pulau 'Seribu Bisa' itu menandakan mereka berdua mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi. deburan ombak besar disertai angin kencang yang menghempas karang seolah menjadi saksi pertarungan adu jiwa dari kedua jago pedang itu.

__ADS_1


*****


Maaf sangat pendek dan selalu lambat up date. silahkan tuliskan komentar Anda yah👌. Terima kasih👏.


__ADS_2