
Hampir semua orang yang berada disekitar tempat itu sama menoleh. disana nampak berdiri seorang gadis muda berpakaian hitam tanpa lengan. umurnya mungkin baru beranjak enam belas tahunan. rambutnya yang hitam tebal dipotong agak pendek. meskipun kulit tubuhnya sedikit gelap dengan gayanya seperti seorang lelaki, tapi tidak dapat di pungkiri kalau dia seorang gadis yang cantik dan sangat menarik hati.
Sebuah busur emas dengan tiga buah anak panah ungu sudah terentang. ujung mata panah yang tajam menyiratkan kilatan cahaya petir. anak panah yang terlepas dari senjata pusaka bernama 'Busur Panah Srikandi Kencana Wungu' inilah yang telah menahan ilmu pukulan sakti si 'Sukma Tertawa' hingga nyawa Jurata dan Birunaka selamat.
''Tidak akan kuijinkan siapapun juga untuk menyakiti para sahabat dan saidaraku. jadi silahkan kau pilih., cepat menyingkir atau majulah jika dirimu memang ingin cepat mati.!'' gertak Satriyana kereng. sepasang mata bening gadis itu seakan memancarkan kilatan cahaya ungu yang tajam mengancam.
Sukma Tertawa setapak tersurut mundur. pipa cangklong emas ditangannya dia hisap beberapa kali untuk menenangkan diri dan aliran darahnya yang sempat kacau akibat bentrokan ilmu dan sejata sakti. asap tipis kehijauan berbau ramuan obat menyengat hidung tercium seiring hembusan nafasnya. meskipun kaget orang gemuk besar berlemak ini masih tetap tertawa- tawa.
Suara tawa orang ini semakin membahana hingga menggoncangkan hampir seluruh lembah. ''Haa., haa., ha., tuan putri Istana Angsa Emas rupanya bisa juga berkata bengis. Haa., ha., tapi apakah kata ancaman itu bisa kau tunjukkan dengan perbuatan nyata., semua itu masih perlu dibuktikan.!''
''Walaupun Yang Mulia Ketua 13 Pembunuh lebih menghendaki dirimu yang masih dalam keadaan hidup, tapi dia juga tidak menolak jika cuma jasadmu saja yang didapatnya. karena 'Darah Keabadian' yang suci murni masih akan tetap berada didalam tubuhmu. maka dari itu., akan kuringkus kau sekarang juga.!''
Begitu selesai menghardik, Sukma Tertawa semburkan asap kehijauan beraroma obat yang memabukkan dari pipa cangklong. berikutnya dengan masih mengumbar tawa keras dia berkelebat maju. tangan kanannya tiga kali berturut- turut menghantam kedepan. gelombang sinar hijau memapaki tiga larik cahaya panah ungu yang terlepas dari busur emasnya.
Dengan jurus 'Panah Ungu Tiga Letusan' yang merupakan jurus kedua dari ilmu kesaktiannya Satriyana bermaksud melibas lawannya dalam sekali serang. tapi meskipun ilmu ini cukup hebat karena inti kesaktian di ujung mata panah ungunya dapat meledak jika terkena tubuh lawan atau benda keras, tapi pukulan sakti Sukma Tertawa juga bukanlah ilmu sembarangan.seperti sudah diduga, ledakan keras tiga kali berturut- turut terdengar beruntun akibat bertemunya dua kekuatan.
__ADS_1
''Bedebah gemuk., kau benar- benar cari mati.!'' bentak Satriyana marah. ''Haa., ha., tuan putri semakin menarik hari kalau sedang marah. Aah., mungkin setelah ketua menghisap darah saktimu, sisa ragamu bisa menjadi pemuas nafsuku.!'' si 'Sukma Tertawa' berseru mesum sambil kedua lengan gempalnya bergerak merangkul sekalian menjepit tubuh Satriyana.
Namun bayangan tubuh langsing padat berisi dari gadis berkulit hitam manis itu mendadak hilang dari hadapan. malahan kini sebagai gantinya beberapa kelebatan cahaya emas dan ungu tajam menyambar empat bagian tubuhnya yang tinggi gempal.
Tawa mesum Sukma Tertawa lenyap seketika berganti raungan kesakitan saat ujung anak panah ungu dan busur emas ditangan gadis itu menghantam lengan kirinya yang putih berlemak. untung saja senjata pipa cangklong ditangannya masih sempat menangkis dua kali tusukan busur panah lawan hingga luka di lengannya tidak begitu dalam tertembus.
''Hei orang gemuk tukang tertawa., harusnya kau sadar kalau yang tertawa paling akhir dialah pemenangnya. dan orang itu pastilah aku. Haa., ha.!'' seru Satriyana bergelak. saat bibirnya mencemooh lawan tubuhnya juga semakin cepat bergerak menyerbu.
Kedua kaki serta tangannya memutar lincah seiring serangan panah busur saktinya. cahaya emas dan ungu berkelebatan membelah kepekatan malam. ini untuk kedua kalinya semenjak pertarungan dengan anak buah Ki Kebo Dungkul, gadis itu kembali memainkan jurus tiga jurus silat, 'Busur Panah Srikandi.!'
Dalam waktu singkat pertarungan antara si besar dan si kecil itu sudah berlangsung hampir sepuluh jurus. biarpun ilmu silat Busur Panah Srikandi yang dimainkan Satriyana cukup hebat tapi dia tetap saja kalah tenaga dan pengalaman dibandingkan si Sukma Tertawa. maka saat lewat jurus ke sepuluh, gadis itupun mulai terdesak hebat. bukan saja aliran darahnya jadi tersendat, jantungnya juga seakan terbetot keluar dari rongga dada akibat ilmu kesaktian jahat dari Sukma Tertawa.
Melihat keadaan tuan putrinya yang terancam maut membuat Birunaka meraung gusar. tanpa perdulikan luka dalamnya yang belum pulih dia bangkit melabrak lawan dengan gebukan pentung saktinya. gelombang angin sekeras batu karang menyapu kedepan.
'Whuuuuk., whuuuk., Wheeess!'
__ADS_1
'Braaaak., braaak., plaaaang.!'
''Bocah keparat., akan kuhancurkan pentungan jelekmu ini. sekalian mencabut nyawamu.!'' bentak Sukma Tertawa bengis. akibat dari serangan pentungan yang bertubi- tubi dari pemuda berbaju biru itu, dia harus menangkis dengan senjata pipa cangklong emasnya hingga bengkok dan nyaris patah.
''Tuan putri Satriyana, apakah kau baik- baik saja.?'' tanya Birunaka khawatir. yang ditanya malah balik menatap si pemuda. dengan tersenyum manis jemarinya yang lentik mengusap darah yang menetes dari ujung bibir Birunaka. ''Eehm., Aku tidak apa- apa..'' jawabnya singkat. setelah sekejap melirik Roro yang masih terbaring dan dijaga Jurata. diapun membisikkan sesuatu ketelinga Birunaka.
''Jangan berpikiran macam- macam saat aku melakukan ini. tapi., terima kasih kakang Birunaka atas pertolonganmu tadi, kau., kau sangat baik, setia dan pemberani sekali..'' bisikan itu diakhiri dengan sebuah kecupan bibir yang lembut dipipi si pemuda. Birunaka seketika memerah mukanya, saat berbalik menghadapi Sukma Tertawa, entah bagaimana pancaran hawa kesaktian yang keluar dari tubuhnya seolah meningkat berkali lipat lebih kuat.!
''Haa., ha., tuan putri tenang saja bersama Nyi Dewi. biar aku yang melibas anjing gemuk tukang tertawa itu dengan pentung saktiku.!'' teriak Birunaka sambil berkelebat menerjang. pukulan senjata pentungnya menderu ganas seolah mampu meleburkan sebongkah bukit karang.
Gebrakan dahsyat pemuda itu bukan saja membuat si Sukma Tertawa terperanjat kaget, bahkan Satriyana juga terhuyung ngeri saking tidak dapat mempercayai kalau kecupan bibir dan kata rayuannya bisa membawa akibat yang sehebat itu.
Kalau dijaman sekarang., mungkin pemuda itu seolah baru saja menelan selusin doping obat kuat berdosis tinggi. tanpa sadar Jurata melirik Roro Wulandari sang 'Dewi Malam Beracun' yang mulai bangkit dan tersenyum penuh kelicikan.
Dengan santainya Roro memakai kembali jubah gaun hitamnya. ''Kau tahu kakang Jurata., pada umumnya para lelaki itu selalu ingin menjadi pelindung dan pahlawan dimata kaum wanita. jadi., sebuah ciuman dan sedikit kata rayuan yang tepat bisa membuat mereka semakin menggila..''
__ADS_1
''Gadis itu memang tidak pernah membuatku kecewa dan pantas menjadi adikku. dia telah belajar banyak dariku tentang bagaimana cara memperalat lelaki. Hii., hi..'' ucap Roro tertawa mengikik seperti kuntilanak hingga tengkuk Jurata menjadi dingin merinding. baru sekarang dia benar- benar paham, kenapa wanita secantik bidadari ini bisa begitu ditakuti oleh orang persilatan.