
Roro Wulandari atau Dewi Malam Beracun dan Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis saling pandang sekejab. yang ada di dalam pikiran keduanya agak berbeda. Respati merasa kalau nenek tua ini yang sangat mungkin adalah Nyai Bawang bekas anggota nomor dua belas dari kelompok 13 Pembunuh ini pasti sedang mencari si Maling Nyawa, karena hampir tidak ada orang lain yang tahu tempat persembunyian pencuri tua itu.
Tapi ada urusan apa Nyai Bawang dengan si Maling Nyawa.? selintas bayangan aneh timbul di pikiran si pemuda. ''Aah., jangan- jangan mereka berdua sepasang kekasih di masa mudanya.'' membayangkan sang guru berpacaran dengan nenek tua jelek, bungkuk dan peyot begitu membuat Respati ingin tertawa sekaligus mau muntah., Jijik.!
Roro menatap tajam nenek tua yang berjalan tertatih mendekat, selama ini dia jarang sekali merasakan kegelisahan dalam hati meskipun saat berhadapan lawan yang ilmunya lebih hebat darinya. karena wanita cantik ini punya nyali, kecerdikan dan kepercayaan diri yang tinggi.
Tapi saat berhadapan dengan nenek tua yang terlihat lemah dan ringkih itu hatinya malah merasa rada gentar. bahkan dulu gurunya pernah mewanti- wantinya jika jiwa raga dan pikirannya belum siap betul, jangan pernah sekalipun berani bertarung dengan Nyai Bawang, bekas kawan karib gurunya yang punya julukan sangar Nenek Bawang Beracun Belatung Darah.!
''Apa yang harus kulakukan., dulu aku merasa sangat yakin kalau tugas dari guru pasti dapat terlaksana dengan mudah. tapi sekarang saat berhadapan langsung dengannya, diriku merasa sangat lemah..'' batin Roro. tanpa terasa keringat dingin mengucur di tubuhnya.
Nenek tua berkeranjang rotan itu berhenti beberapa langkah dari mereka berdua. ''Bagaimana anak muda, apa kalian mau menolong nenek tua ini.?''
''Maaf nenek tua, siapa sebenarnya orang yang sedang kau cari, lalu kalian berdua ini siapa dan berasal dari mana,?'' tanya Respati sambil melirik sebentar ke arah pemuda berbibir rada sumbing yang berdiri di samping kereta kuda.
Mata si nenek tua mencorong tajam, ''Aku nenek tua penjual bawang tidak suka basa- basi, dari tubuh kalian berdua bisa kurasakan pancaran kekuatan tenaga sakti. katakan padaku siapa kalian berdua dan ada hubungan apa dengan si Maling Nyawa penguasa tempat ini.?'' nenek tua itu balik bertanya membuat Respati merasa tidak enak hati.
''Apa maksud ucapanmu nek., aku tidak tahu yang sedang kau bicarakan, juga siapa itu si Maling Nyawa. memangnya dirimu baru kemalingan sekarung bawang sampai mengejar kesini.?''
__ADS_1
Nenek tua itu terkekeh sebentar lalu pejamkan matanya yang cekung sambil komat- kamit seakan merapal sesuatu. ''Anak muda yang jenaka., aku jadi ingat dengan maling tua itu. kelakuannya sama persis denganmu. meskipun dia tidak mewariskan semua ilmunya padamu tapi aku masih bisa merasakan kalau sumber dasar tenaga saktimu sama dengannya, kau ini murid si maling tua berjari buntung itu bukan.?'' gumamnya menyeringai sinis.
Baik Respati maupun Roro sama terkesiap, sekalipun seorang pesilat kelas atas juga belum tentu sanggup untuk dapat menebak dasar ilmu lawannya hanya dengan merasakan hawa sakti yang terpancar dari tubuh seseorang. tapi nenek tua ini mampu melakukannya. ''Tua bangka ini benar- benar lawan yang menakutkan.!'' batin keduanya.
''Hak, ha, ha., maafkan aku yang rendah dan tolol hingga tidak mengenali angkatan tua dari kelompok 13 Pembunuh. Nyai Bawang., si Nenek Bawang Beracun Belatung Darah.!" sambil tergelak Respati menjura.
Nyai Bawang mengernyit alisnya. "Kau juga kenal diriku.?''
Respati seakan menyesali sesuatu. ''Hhem., tidak ada gunanya menyangkal di depan nenek sakti sepertimu, terus terang saja aku pernah mengenal si Maling Nyawa. selama hampir empat bulan aku sempat ikut dengannya, terakhir kali dia bilang hendak menyatroni Pesanggrahan Selaksa Pedang.'' jawab Respati.
''Aah., sejak saat itu dia menghilang, selama bertahun- tahun aku berusaha untuk mencarinya. sudah tiga kali ini diriku datang ke bukit ini tapi., orangnya tidak juga terlihat..'' sambungnya sambil melirik Nyai Bawang.
Respati bilang mengenal si Maling Nyawa itu suatu fakta, tapi baru kenal empat bulan itu dusta. menyatroni Pesanggrahan Selaksa Pedang itu kebenaran, namun Respati bilang sudah tiga kali mencari di bukit ini mungkin suatu kebohongan.
''Ooh., begitu rupanya. lalu siapa teman wanitamu yang cantik jelita ini, aku merasa dia sangat menarik hati..''
Respati tanpa malu lingkarkan lengannya ke pinggang Roro yang ramping. perempuan itu terpekik kecil tidak karena menyangkanya, mukanya bersemu merah antara malu tapi lebih banyak suka. ''Dia keponakan si Maling Nyawa, belakangan ini dia ikut mencari keberadaan pamannya. 'Eehm., sebenarnya kami sudah bertunangan.!'' ujar Respati sambil tertawa. ''Bodoh., kenapa juga harus bilang bertunangan segala.,!'' bisik Roro kesal. tapi dalam hatinya justru merasa senang. perempuan memang aneh kadang suka mendustai perasaannya sendiri.
__ADS_1
''Dusta.!' si tua itu tidak punya siapapun di dunia ini, bagaimana mungkin bisa muncul seorang keponakan.!'' bentak Nyai Bawang.
''Orang yang punya banyak musuh tentu memiliki rahasia pribadi yang sengaja di sembunyikan. lagi pula kau sendiri ada perlu apa mencarinya.?'' ujar Respati mencoba mengalihkan pembicaraan.
Hek., he., bagaimana kau bisa tahu dia punya banyak musuh, memangnya maling tua itu pernah bicara apa saja padamu.?'' selidik Nyai Bawang membuat si pemuda sesaat merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
''Nyai Bawang., dia memang tidak pernah bercerita apapun padaku. tapi selama hampir empat bulan bersamanya seingatku lebih lima atau enam kali dia berhadapan dengan musuhnya. bahkan pernah diriku sampai ikut terseret pertikaiannya. yang membuatku jengkel setiap kali kutanya siapa mereka., dia cuma menjawab ''Aah itu hanya kenalan lamaku yang ingin bermain- main.!"
"Hei nenek., dari tadi kau terus menanyainya, tapi kau sendiri belum sekalipun menjawab pertanyaannya.?" sambung Roro yang sedari tadi diam. wajah cantik, bola mata yang bening dan gerak- geriknya yang rada centil menarik perhatian Nyai Bawang dan pemuda sumbing bermata satu yang berdiri di belakang. orang ini berkelebat cepat ke samping kiri Nyai Bawang.
"Junjunganku Nyai Bawang., aku suka pada perempuan cantik ini, bisakah kau dapatkan dia untukku.?'' bisiknya pelan, sementara mata tunggalnya jelalatan dan melotot seakan menembus jubah gaun hitam Roro, membuat wanita ini merasa risih dan sebal. seandainya tidak ada Nyai Bawang disana pasti dia sudah melabrak pemuda mesum yang bukan lain Santang Wirat itu.
Nyai Bawang terkikik menyeringai, seringai licik yang berbau kematian. ''Ada sebuah benda berupa kitab pusaka bernama kitab 'Seribu Senjata Rahasia Sakti'. barang itu ada pada dua orang, separuhnya dimiliki oleh seorang kenalan lamaku yang menghilang, mungkin juga dia sudah mampus., setan alas.!'' geram Nyai Bawang sambil kibaskan sebelah tangannya. segulung angin tenaga disertai sinar merah melabarak bebatuan dan semak belukar yang ada di sana hingga hancur dan hitam membusuk.!
Mendengar disebutnya kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti membuat Roro sangat terkejut, hampir saja dia menjerit tertahan. sekarang dia tahu awal mula perselisihan antara Nyai Bawang dengan gurunya si Nenek Tabib Selasa Racun mungkin di sebabkan rebutan kitab rahasia itu.
''Sisa setengahnya baru kuketahui setahun belakangan. barang itu ada pada si Maling Nyawa bahkan mungkin dialah yang telah memberikan separuh kitab itu kepada kenalan lamaku itu. sekarang aku bertanya sekali lagi dimana si maling tua itu berada.?''
__ADS_1
Respati sadar kalau pertarungan sengit tidak dapat lagi dihindari. setelah Gada Rahwana ini kedua kalinya dia berhadapan dengan angkatan lama dari 13 Pembunuh. bedanya sekarang dia tidak yakin bakal bisa menang.