
Keempat orang itu tenggelam dalam pikirannya masing- masing. meskipun mereka semua sudah merasa yakin kalau sumber dari masalah ini adalah ketua kelompok 13 Pembunuh, tapi kejadian berliku yang sering kali dibarengi dengan kejutan tidak terduga membuat hati mereka berempat bingung.
''Hanya untuk mengantarkan sebuah peti wasiat palsu ke Wonokerto kita mesti bertaruh nyawa., kejadian ini sungguh sukar dipercaya..!'' ujar Sabarewang geleng- geleng kepala.
''Aku sudah tidak punya pendapat, apapun keputusannya aku akan ikuti. kalau perlu sesuatu panggil saja, aku mau memeriksa roda kereta kuda..'' Sabarewang ngeloyor pergi.
''Aku mau menemui Birunaka, ada sesuatu yang mesti kubicarakan dengannya..'' tutur Satriyana sambil menuju ke dalam kereta. Respati dan Roro sesaat saling pandang dan diam membisu.
''Apa yang ada dalam pikiranmu Respati.?'' tegur Roro sambil duduk di samping si pemuda. wanita ini tahu hati Respati sedang diliputi kegelisahan saat tahu sang guru juga terlibat dalam masalah yang ruwet ini.
''Hhmm., apalagi yang bisa kulakukan selain meneruskan perjalanan menjengkelkan ini sampai ke Wonokerto. aku ingin tahu apakah Ki Ageng Bronto, Pendekar Golok Bayangan Setan itu juga sadar kalau dia turut di jadikan umpan dan biji catur si ketua..!'' gumamnya sambil mengangkat bahunya. mendadak kedua mata si pemuda memandang tajam tubuh Roro Wulandari hingga membuat wanita ini merasa gelisah. ''Kau., kau sedang melihat apa.?''
''Roro., aku tahu kalau dirimu tidak tahan dengan udara panas, tapi bisakah kau tidak sesering ini berpakaian terbuka..'' bisik Respati hingga Roro tanpa sadar merangkapkan tangannya berusaha menutupi dadanya.
''Tapi aku memang kepanasan., coba lihat peluhku, lagi pula tidak ada orang lain di sini..!'' ucap Roro membela diri dan bangkit bertolak pinggang. rupanya dia merasa tersinggung.
''Justru karena itu aku jadi khawatir dan takut kalau sedang berdekatan denganmu..''
''Takut., takut kenapa., apakah kau takut tubuhku bau asem keringat.? maaf saja yah., kau tahu kan aku selalu mandi air bunga wangi, juga memakai cairan pengharum yang kudapat dari para pedagang arab dan berharga mahal. jadi tidak mungkin tubuhku bau asem..!'' bantah Roro sembari pura- pura menciumi bau tubuhnya sendiri. ''Uhh., tapi memang rada asem sih., apa ini karena aku malas membersihkan bulu ketiakku yah.?'' batin perempuan itu malu.
__ADS_1
''Bukan begitu., aku., aku hanya khawatir kalau kau terus- terusan begini, pada akhirnya diriku bisa tidak kuat dan gelap mata lalu menelanmu hidup- hidup..!'' ujar Respati sambil berlalu. sesaat Roro tidak mengerti ucapan si pemuda. tapi kejab berikutnya dia tersipu malu. ''Dasar lelaki mesum., awas kau yah..!'' gumamnya geli.
Di pinggiran kadipaten Wonokerto ada sebuah peternakan kuda dan kerbau milik seorang juragan kaya bernama Ki Ageng Bronto. orang berusia lima puluhan tahun ini bukanlah orang asli Wonokerto melainkan seorang pendatang yang menurut kabar berasal dari daerah wetan dan baru pindah ke Wonokerto kira- kira setahun yang lalu.
Jumlah kuda dan kerbau di peternakan itu ada ratusan banyaknya. meskipun baru berdiri setahun lalu tapi peternakan itu sudah sangat dikenal. bahkan dari kalangan kerajaan sering menjadi pelanggannya.
Anehnya Ki Ageng Bronto si pemilik dari peternakan ini jarang sekali terlihat. segala urusan mengenai jual beli kuda dan kerbau diserahkan kepada dua orang yang menjadi kepercayaannya dan di bantu oleh sepuluh orang pekerja kasar. jangan dilihat mereka cuma buruh peternakan kuda, bekal ilmu silat mereka juga lumayan.
Rumah Ki Ageng Bronto sendiri berada di dekat pusat pemerintahan kadipaten Wonokerto. tidak mudah untuk membeli tanah dan tinggal di sana. tapi dengan kekayaan dan hubungan baiknya dengan kalangan keraton, semuanya bisa diatasi.
Sore itu udara terasa panas, sinar mentari senja masih terasa menyengat. agaknya musim kemarau panjang belum ada tanda bakal berakhir. di dalam sebuah rumah besar yang berpagar tinggi terlihat seorang lelaki setengah umur berbaju mewah warna gelap, berkumis tebal serta memakai blangkon sedang berbicara dengan empat orang lelaki kekar yang membekal golok di pinggangnya.
Keempat orang lelaki kekar itu menjura hormat tanda mengerti. ''Ki Ageng Bronto tidak perlu khawatir, kami berempat pasti akan melaksanakan tugas ini., tanggung semuanya aman..'' ucap salah satu diantara keempat orang itu yang umurnya paling tua. mungkin dia pimpinannya.
Orang berbaju mentereng yang bernama Ki Ageng Bronto itu menganguk puas sambil kibaskan tangannya memberi isyarat agar mereka pergi dari hadapannya. orang kaya ini pandangi punggung keempat anak buahnya yang berlalu pergi. mereka berempat bukanlah penjaga sembarangan. dulunya mereka bekas anggota gerombolan perampok 'Siung Macan' yang ditakuti dan bercokol di wilayah alas roban.
Tiga tahun silam ketika Ki Ageng Bronto yang pada waktu itu masih menjadi anggota nomor sembilan dari kelompok 13 Pembunuh sedang mendapat tugas untuk menghabisi gerombolan begal rampok 'Siung Macan.'
Rupanya pihak kerajaan yang sedang sibuk menghadapi pemberontakan merasa kewalahan untuk mengurusi gangguan begal rampok hingga terpaksa harus menyewa kelompok 13 Pembunuh. dengan berbekal ilmu silatnya yang tinggi, Pendekar Golok Bayangan Setan mampu membantai anggota gerombolan Siung Macan sekaligus menghancurkan sarang perampok itu hingga tersisa beberapa orang saja.
__ADS_1
Empat orang yang terluka parah itu cuma diam pasrah tapi tidak mau ikut memohon- mohon minta ampun seperti anggota yang lain sekalipun lehernya diancam dengan golok pertanda mereka berempat punya kesetiaan dan harga diri. melihat itu selintas pikiran muncul di kepala Ki Ageng Bronto. sisa anggota Siung Macan yang merengek minta ampun malah di habisi. sebaliknya keempat orang lainnya di biarkan hidup.
Ki Ageng Bronto bukan saja membebaskan mereka berempat, tapi malah mengobati luka mereka sekaligus mengangkatnya sebagai anak buah yang bisa dia gunakan sewaktu diperlukan. empat orang ini lantas bersumpah untuk setia dan mengikuti Ki Ageng Bronto. tapi orang ini malah menyuruh mereka berlatih keras di tempat yang tersembunyi. bahkan Ki Ageng Bronto sempat menurunkan beberapa jurus ilmu goloknya kepada mereka berempat.
Semua itu makin membuat mereka merasa berhutang nyawa pada Ki Ageng Bronto. setelah hampir dua tahun berlatih. tiba- tiba ada perintah agar mereka menemui majikannya di Wonokerto. sejak itulah mereka menjadi penjaga rumah juragan Bronto. itulah kisah tiga tahun silam. selama ikut dengannya, keempat orang itu selalu setia dan siap berkorban nyawa untuknya. Ki Ageng Bronto terkekeh menyeringai, dia paham orang yang setia jauh lebih berharga dari segenggam emas permata.
Ki Ageng Bronto melangkah ke ruang dalam. langkah kakinya sangat teratur dan penuh perhitungan. tiga langkah lebar, dua langkah pendek. begitu seterusnya. langkahnya berubah cepat saat melalui dua buah lorong yang agak gelap. pada lorong pertama dia sengaja berjalan di sebelah kiri. sebaliknya saat di lorong kedua melangkah di sebelah kanan. peralatan senjata rahasia mematikan yang terpasang di sana akan bergerak kalau dia salah melangkah. bisa- bisa dia mati konyol dalam rumahnya sendiri dihajar pisau dan paku terbang beracun atau terjatuh ke dalam lubang jebakan yang berisi puluhan tombak tajam.!
Sesampainya di ujung lorong yang di terangi lentera minyak Ki Ageng Bronto berhenti. tangannya memutar lentera minyak yang tergantung di dinding lorong dengan perhitungan tertentu. terdengar suara benda bergeser. dinding di samping lentera minyak itu mendadak muncul sebuah pintu seukuran tubuh manusia.
Juragan kuda ini tidak langsung melangkah masuk melainkan menggeser tubuhnya agak jauh ke samping. empat lima kali hitungan kemudian dari dalam pintu gelap itu melesat tiga buah anak panah hitam yang langsung meletus saat tiba di luar pintu lalu terbakar lenyap ke ujung lorong. bisa di bayangkan jika dia langsung masuk, tubuhnya bakal jadi sasaran anak panah.
Walaupun sudah berkali- kali melewati pintu rahasia ini, tapi Ki Ageng Bronto masih sering merasa ngeri. ''Wanita cantik nomor dua belas itu memang menakutkan., tapi tidak percuma aku membayarnya mahal. beberapa waktu silam ada tiga orang pencuri yang mencoba masuk ke dalam rumah ini, keempat pengawalku sengaja kuperintahkan untuk diam karena aku ingin tahu kehebatan peralatan dan senjata rahasia yang terpasang di rumah ini. dan hasilnya mereka keburu mampus dirajam jarum beracun jauh sebelum sampai ke mari. padahal kulihat ilmu mereka lumayan juga..!''
Dengan membawa lentera minyak, tanpa ragu Ki Ageng Bronto melangkah masuk ke dalam ruangan gelap itu sambil menarik sebuah gelang rantai yang tergantung di dinding kanan. seketika pintu itu kembali tertutup. saat melangkah dia sempat dua kali berpindah dari dinding kiri ke kanan hingga sampailah dia di suatu ruangan berdinding batu seluas tiga kali tiga tombak keliling.
Ki Ageng Bronto menyalakan tiga buah obor yang tertancap di dinding ruangan batu. di sana ada dua buah peti. peti yang satu terbuka hingga terlihat ribuan keping emas dan perhiasan di dalamnya. peti lainnya lebih panjang dan tipis di banding peti berisi harta. peti itu tertutup dan terikat rantai besi.
Dengan menggunakan sebuah kunci orang ini membuka gembok rantai yang mengikat peti besi itu sekaligus membuka tutupnya. sebilah golok besar bersarung hitam berukiran tengkorak dan bergagang tulang manusia berada di dalam peti itu. dengan mata terpejam komat- kamit merapal mantra Ki Ageng Bronto mencabut golok itu dari sarungnya. seberkas cahaya biru kehitaman langsung semburat keluar. gulungan angin tenaga gaib yang disertai suara jeritan ngeri dan tawa menyeramkan berhembus di sekeliling ruangan. bayang- bayang wajah mengerikan berhamburan di udara. inilah senjata andalan si nomor sembilan, Golok Bayangan Setan.!
__ADS_1