13 Pembunuh

13 Pembunuh
Si Pincang Yang Aneh


__ADS_3

Saat tiga klewang bercahaya kemerahan terbang berkelebat cepat menyambar dari tiga penjuru, jarak antara Respati dan ketiga nenek bermuka belang yang di gelari 'Tiga Nenek Klewang Pemburu Kepala' itu masih sepuluh langkah jauhnya. dalam perkiraan si pemuda, dengan jarak sejauh itu dia masih punya waktu untuk mencabut pedang pedang Iblis Hitam miliknya sekaligus menangkis serangan lawan.


Tapi alangkah kagetnya Respati saat sadar dia telah salah perhitungan. kecepatan klewang terbang dari ketiga nenek itu benar- benar luar biasa. jangankan menangkis, sekedar untuk mencabut pedang pusakanya saja dia tidak punya kesempatan. terpaksa berguling jatuhkan dirinya sama rata dengan tanah.!


'Whuut., whuut., Bheeet.!'


'Shraeet., craas.!'


Tiga klewang bergerak berputar seperti baling- baling kincir dari bawah ke atas. biarpun Respati berhasil menghindar, tapi tetap saja tengkuk dan pundak kirinya sempat tergores. mungkin tidak sampai terluka parah, tapi tetap saja dia nyaris kehilangan kepalanya. tanpa sadar Respati bergidik ngeri. darah merah sedikit merembes membasahi bajunya putihnya. keringat dingin yang mengucur membuat rasanya semakin perih. tiga klewang terbang lewat melintas di belakang kepalanya.


Lain yang ada di pikiran beda pula dengan yang dia lakukan. sambil bergulingan Respati langsung mencabut pedang pusaka Iblis Hitam dari balik pinggangnya. seketika hawa hitam gelap dan bau busuk menyebar kesekitarnya.


Klewang terbang kembali berputar berbalik arah lalu menyambar cepat dari belakang. kini senjata maut itu tidak lagi menyerang dari tiga penjuru, melainkan melesat dari satu arah secara beruntun susul- menyusul.!


'Wheerrss., whuust., whuut.!'


'Bheeet., traaang., traang.!'


Bentrokan senjata terjadi beberapa kali, percikan api kemerahan bercampur hawa hitam pekat yang menyelimuti gelanggang semakin membuat suasana pertarungan menjadi panas dan menyeramkan. terpaksa Sabarewang bergegas menjauhkan kereta kuda mautnya agar tidak sampai terkena hawa panas pertarungan.


Tiga klewang terpental ke udara, ketiga pemiliknya cepat menggenjot tubuh ke atas menyambut senjatanya. dari udara mereka membuat gerakan saling membenturkan senjata. bunga api berpijar dan dengan cepat semakin membesar. maka di saat ketiga klewang membabat kebawah, kobaran api merah yang menyelimuti udara menderu mendahului serangan. inilah ilmu 'Klewang Hawa Neraka.!'


Respati terperangah juga, dia merasa berada dalam siraman hujan api. meskipun jurus serangan lawan belum tiba, tapi udara sudah terasa panas bukan kepalang. kalau dulu mungkin dia rada kesulitan jika menghadapi serangan sehebat ini, tapi setelah berhasil memperdalam ilmunya di goa rahasia bukit Lading bersama ketiga sahabatnya, pemuda ini menjadi lebih percaya diri.


Kedua lutut ditekuk ke dalam, pedang Iblis Hitam lurus ke atas. hawa hitam gelap yang mengerikan menyelimuti seluruh raganya. sekali dia membentak nyaring tubuhnya melesat secepat sambaran kilat ke udara. gulungan sinar hitam pekat berbentuk seekor ular kobra raksasa meluruk dahsyat. hawa panas busuk menghampar., inilah ilmu 'Roh Kobra Kegelapan.!'

__ADS_1


Kalau sebelumnya Respati selalu berpikir dua sampai tiga kali lebih dulu sebelum mengeluarkan ilmu ini, karena sangat menguras tenaga dalam dan kesaktiannya. setiap kali selesai menggunakannya bukan saja tubuh si pemuda pasti terasa sangat lemah tak bertenaga tapi kesadarannyapun juga turut menghilang.


Sebenarnya yang menjadi masalah selama ini bukan karena tingkat tenaga dalam yang Respati belum terlalu tinggi, melainkan karena dia belum mampu mengendalikan roh kobra iblis hitam yang menjadi sumber inti kekuatan dari ilmu kesaktian itu. jika dia tetap nekat memakai ilmu ini padahal belum mampu mengendalikan rohnya, bukan saja tubuhnya pasti kehabisan tenaga malah jiwanya bakal dirasuki roh kobra iblis hitam yang masih liar dan bersifat jahat. kalau sudah demikian Respati bisa berubah menjadi siluman ular yang sangat ganas.!


Pedang Iblis hitam bertemu dengan tiga klewang pemburu kepala., Roh Kobra Kagelapan saling hantam dengan Klewang Hawa Neraka. bentrokan ilmu kesaktian dan saling tikam bacok senjata pusaka terjadi diatas udara. benturan tenaga sakti itu menimbulkan suara ledakan yang memecahkan suasana pagi. hawa panas yang menghampar bergulung- gulung menyapu pedataran tepian hutan.


Semak belukar meranggas, hingga layu dan terbakar. ranting berpatahan daun- daun luruh berguguran, mengering lalu hangus terbakar.!


Bentrokan jurus keaktian terjadi berulangkali di atas udara, tidak terlihat jelas yabg terjadi disana. yang ada hanya gulungan sinar ular kobra hitam dan cahaya merah kobaran api yang saling sambar dan menggulung.


Detik selanjutnya terdengar jeritan tercekat dan parau. empat sosok tubuh terpental ke bawah. Satriyana menjerit penuh khawatir, Sabarewang bangkit berdiri hendak nekat menyerbu, tapi sebuah tangan halus putih menahan gerakannya.


''Nyi Dewi., kita harus menolong Respati sekarang juga. jangan sampai terlambat.!'' sentak Sabarewang tidak sabaran sembari menepis tangan Roro.


''Kau tidak perlu khawatir., aku yakin Respati pasti menang. karena kulihat dia sudah mampu menguasai ilmu kesaktian Roh Kobra Kegelapan yang jadi andalannya..'' ucap Dewi Malan Beracun sembari menepuk pundak Sabarewang mencoba menenangkan kecemasan di hati kusir kuda itu.


Apa yang dikatakan Roro Wulandari memang tidak benar seluruhnya, tapi juga tidak jauh meleset. Tiga Nenek Klewang Pemburu Kepala jatuh tergelimpang di atas tanah. tubuh mereka terkoyak hangus menghitam. dua diantaranya sudah tewas saat masih berada di udara. yang satunya masih mengerang lemah dengan nafas tersengal dan mata mendelik penuh dendam dan rasa sakit, tangannya terus mencengkeram erat senjata klewangnya yang sebagian masih berselimut bara api. dilihat dari keadaannya umur si nenek pasti tidak bakal lama lagi.


Di penjuru lain Respati jatuh terduduk. wajahnya pucat pias, ada lelehan darah di sudut bibirnya. sebagian baju dan kulitnya ada juga yang terbakar. beberapa sayatan luka menghiasi dada dan lengannya. dengan bantuan pedang Iblis Hitamnya pemuda ini berusaha bangkit berdiri. meskipun terluka dalam tapi dia masih bisa menguasai diri. setidaknya dia tidak lagi sampai kehabisan tenaga. dengan tertatih dia membalik dan berjalan menuju kereta kuda.


''Lihat., apa kubilang., dia pasti menangkan.?'' ujar Roro tersenyum. kedua rekannya saling pandang dan tertawa gembira hendak menghambur ke depan. saat itulah terjadi sesuatu yang di luar dugaan.


Tubuh kurus dan hangus dari nenek klewang yang tersisa mendadak bergetar hebat lalu terjingkat bangkit berdiri. klewang berapi yang masih tergengam dilemparkan ke depan. jarak si nenek dengan pungung Respati hanya lima enam langkah. Roro dan kedua kawannya menjerit ngeri setengah putus asa. mereka berada terlalu jauh hingga tidak mungkin memberikan pertolongan.


''Respati cepat menghindar., awas di belakangmu.!'' teriak mereka penuh kepanikan tanpa dapat berbuat sesuatu.

__ADS_1


''Hek., hek., mam., mampus kau., kau., bocah kep., kepa., keparat.!'' maki si nenek terbata sambil tertawa mengekeh.


Respati bukannya tidak tahu ancaman maut yang mengincarnya, tapi diapun tidak dapat berbuat banyak karena untuk menghindar atau menangkis serangan sudah tidak mungkin lagi baginya. ''Apakah aku bakal mati sekarang ini.?'' batinnya penasaran bercampur kesedihan. matanya menatap ketiga rekannya yang menghambur kedepan sambil menjeritkan namanya.


Kejab berikutnya terdengar jeritan parau dan benturan senjata. tubuh si nenek klewang tumbang dengan keadaan hancur gosong tercerai berai. senjata klewang terbangnya terpental dihantam sebatang tongkat besi hitam yang datang menghadang. tongkat aneh itu masih sempat berkelabat seputaran sebelum akhirnya kembali ketangan seorang pemuda pucat berbaju gelap yang datang entah dari mana.


Serentak mereka menoleh kesana. jika Sabarewang dan Satriyana tidak mengenali orang ini, lain halnya dengan Respati dan Roro, hampir bersamaan mereka berseru, ''Rupanya kau yang datang.!''


Agak jauh dari mereka entah sejak kapan sudah berdiri seorang pemuda sebaya Respati. hanya karena wajah tampannya yang pucat dan kesepian membuatnya jadi nampak sedikit lebih tua.


Pemuda ini tertunduk mengelus tongkat hitam berkepala tengkorak berwarna keperakan. saat bicara dia sedikit mendongak. ''Hari ini kita impas., aku tidak punya hutang lagi padamu.!''


Cuma itu saja yang dia ucapkan, karena berikutnya tubuhnya sudah berbalik dan melangkah pergi. dari mulutnya keluar suara siulan lagu berirama menyedihkan hati. saat berjalan baru terlihat kalau kakinya pincang. saat kaki kanan melangkah yang kiri terseok mengikuti. kalau di perhatikan terlihat lucu dan menggelikan seperti cacing merayap. meskipun demikian tidak satu orangpun yang tertawa melihatnya


''Hooii sobat pincang., Nyi Puji Seruni si Dewi Seruni Putih masih setia menunggumu di lembahnya. kau harus cepat datang karena ada seorang pangeran dari Blambangan yang ingin mempersuntingnya.!'' seru Roro Wulandari.


''Terima kasih pertolonganmu sobat., asal kau tahu sejak dulu tidak ada hutang apapun di antara kita berdua.!'' Respati turut berseru.


Dewi Malam Beracun menoleh heran, ''Kau juga mengenalnya Respati.?'' yang ditanya malah balik bertanya ''Kau juga kenal dia.?''


''Siapa sih pemuda itu., datang dan pergi seenaknya, sudah pincang sombong lagi..'' sungut Satriyana kesal.


''Huss., jangan bicara sembarangan. dia bukan pemuda yang sombong, malah dia sangat baik hati., hanya beban hidupnya yang mungkin terlalu berat..'' potong Respati setengah mendamprat.


''Nanti saja kuceritakan tentangnya, hari sudah beranjak siang. kita harus mencari tempat beristirahat. perutku sudah lapar..'' kata Roro pada kedua rekannya yang merasa masih penasaran dengan pemuda pincang yang pendiam dan aneh itu.

__ADS_1


__ADS_2