
Menyadari sahabatnya I Gede Kalacandra alias si Dewa Serba Putih mengalami luka dalam yang cukup parah, Kyai Jabar Seto tidak mau bertindak gegabah. pertama dia coba mendudukan tubuh sahabatnya lalu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Dewa Serba Putih.
Kedua telapak tangan Kyai Jabar Seto yang menempel ke punggung I Gede Kalacandra mengepulkan asap tipis berhawa dingin. tubuh pesilat kawakan dari pulau dewata itu bergetar keras seakan menolak tenaga sakti yang merasuk melalui punggungnya.
Kejadian ini membuat Kyai Jabar Seto terkejut. dengan setengah paksakan diri dia terus mencoba menerobos kekuatan hawa panas yang mengeram di dalam tubuh Dewa Serba Putih. dalam hatinya Kyai Jabar Seto merasa heran dan penasaran kenapa tenaga murninya yang bersifat dingin bisa tertolak oleh tubuh sahabatnya, padahal dia tahu kalau tenaga kesaktian I Gede Kalacandra juga bersifat dingin.
''Apakah., ilmu pukulan wanita itu benar- benar telah menguasai tubuh sahabatku ini atau hawa kesaktian I Gede Kalacandra yang sudah melemah.?'' batin Kyai Jabar Seto cemas.
Setelah tiga kali berusaha menembus hawa panas di tubuh rekannya, akhirnya Kyai Jabar Seto menghentikan penyaluran tenaga murninya. karena dari tiga kali usahanya cuma separuh saja tenaga dalam yang dapat menembus hawa panas di tubuh I Gede Kalacandra. sisanya tertolak bahkan nyaris berbalik menghantam dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat merasa ragu akhirnya dia memberikan dua butir obat berwarna kebiruan pemberian Respati ke dalam mulut rekannya. dengan lebih dulu membaca sebaris doa menurut keyakinannya Kyai Jabar Seto kembali memasukkan tenaga murninya ke tubuh Dewa Serba Putih.
Setelah sepeminum teh waktu terlewati, usaha Kyai Jabar Seto mulai menampakkan hasilnya. tubuh I Gede Kalacandra yang semula terasa panas dan kemerahan sudah berangsur pulih. asap panas yang keluar dari lubang hidung dan mulutnya juga mulai berhenti. Kyai Jabar Seto menarik nafas panjang seiring telapak tangannya yang di tarik kembali dari punggung rekannya.
''Syukurlah., rupanya pemuda itu tidak berkata dusta. dua butiran obat ini memang luar biasa. jadi benar kalau kekuatan Darah Keabadian milik tuan putri Satriyana berada dalam butiran obat itu..'' batin Kyai Jabar Seto lega sekaligus kagum. entah kenapa dalam hatinya kini timbul kepercayaan pada ketiga orang sahabat junjungannya itu.
__ADS_1
''Kau terimalah lima butir obat ini., dua butir berwarna biru bersifat dingin. sebutir lainnya berwarna merah sifatnya panas. satu lagi yang berwarna putih mampu memunahkan racun, sedangkan berwarna kuning emas dapat meningkatkan tenaga dalam serta hawa sakti..''
''Asal kau tahu Kyai Jabar Seto., butiran obat ini dibuat oleh seorang tabib hebat kenalan kami yang sudah sering membantu orang- orang keraton juga keluarganya yang sakit, saat dimana para tabib istana tidak mampu mengobati. dan harap kau tahu semua butir obat ini dibuat dengan menggunakan campuran Darah Keabadian dari Satriyana..''
''Percayakan junjunganmu pada kami seperti keinginannya. kau dan sahabatmu tetap bisa mengawasi kami secara diam- diam. bila terjadi sesuatu yang diluar dugaan, kalian bisa muncul menyelamatkannya..'' ujar si pemuda sambil berikan lima butiran obat itu pada Kyai Jabar Seto.
Orang tua berjubah dan bersorban putih ini kembali merenungi setiap kata yang telah diucapkan pemuda bernama Respati itu. saat ini yang paling penting adalah mencari tempat untuk merawat luka dalam dari Dewa Serba Putih hingga sembuh. sementara urusan junjungannya bisa dibicarakan kemudian. lagi pula saat ini Satriyana juga sedang marah hingga tidak bakal mau diajak bicara. dengan menggendong tubuh I Gede Kalacandra di punggungnya Kyai Jabar Seto berkelebat cepat tinggalkan tempat itu.
Sementara itu keadaan yang hampir serupa juga dialami Respati dan kawan- kawannya. tubuh Roro Wulandari tergolek lemah dengan hampir sekujur kulit tubuh memucat dingin berselimut es tipis di beberapa bagian. jubah gaun hitamnya robek besar dan basah kuyup. biarpun detak nadi dan jantungnya sangat lemah tapi perempuan cantik yang sempat berubah menjadi wanita iblis berapi karena menggunakan tingkatan akhir ilmu Cakar Tengkorak Darah itu masih hidup.
''Kakang Sabarewang., apa., apakah kakak Dewi akan bisa diselamatkan, aku rela menggunakan seluruh darahku agar dia bisa selamat..'' Satriyana bertanya penuh rasa khawatir dan sedih pada kusir kuda yang sedang berusaha menenangkannya.
''Dewi Malam Beracun pasti akan selamat, percayalah Respati akan bisa membantu menyadarkannya. kau lihat obat buatan Nyi Rumilah yang mengandung darah saktimu telah ditelannya. semoga Nyi Dewi bisa segera pulih..''
''Kita bawa Roro kedalam kereta kuda., kita perlu tempat yang hangat dan bersih untuk merawatnya..'' ujar Respati sambil langsung menggendong tubuh wanita itu diikuti oleh Satriyana dan Sabarewang. bedanya gadis itu ikut masuk ke dalam sementara Sabarewang berjaga di luar kereta kuda.
__ADS_1
Biarpun waktu berlalu terasa sangat lambat, tapi akhirnya dini haripun tiba. seraut wajah pucat dan kedinginan terlihat duduk bersila di dalam kereta kuda sambil pejamkan mata. terlihat di sekitarnya tetesan gumpalan darah beku yang berceceran.
Di belakang wanita cantik yang keadaannya mengenaskan itu juga duduk bersila sambil menyalurkan hawa murni ke tubuh wanita di depannya melalui punggung. selapis kabut uap tipis terlihat di atas kepala kedua orang ini. sekali lagi kedua telapak tangan pemuda di belakang wanita itu berputar menyentak, lalu seiring tarikan nafas panjang kedua telapak tangannya kembali di tarik lepas. bersamaan suara keluhan pendek tertahan terdengar dari bibir pucat wanita cantik itu, pengobatanpun berakhir.
''Biiarkan dulu Roro bersemedi pulihkan diri. sekarang kita keluar, ada yang harus kita bicarakan bersama..'' ujar Respati mendahuli keluar kereta. Satriyana sekejap melihat wajah Roro Wulandari yang pucat sebelum akhirnya turut menyusul keluar.
''Bagaimana keadaan Nyi Dewi sekarang.?'' Sabarewang tidak tahan bertanya. ''Meskipun berat tapi dia akan segera pulih. selain ilmu kesaktiannya sudah semakin tinggi, obat buatan Nyi Rumilah kuberikan hingga tiga butir..'' jawab Respati sambil sandarkan tubuhnya di dinding kereta. kedua tangannya terlipat di dada, wajahnya terlihat lelah dan bimbang.
''Sekarang ini kita sudah semakin dekat dengan Wonokerto. tempat tujuan akhir dari semua kekacauan yang kita alami selama ini. sebenarnya aku telah berbicara dengan Kya Jabar Seto agar mengijinkan Satriyana tetap ikut bersama kita, sebagai gantinya kuberikan beberapa butir obat sakti racikan Nyi Rumilah si Tabib Mata Hati padanya..''
''Kenapa kau beri dia obat sakti segala, apa kau lupa betapa berharganya benda itu..?'' potong Sabarewang kurang puas sambil merangkul Satriyana. Respati menghela nafas berat baru menjawab. ''Itu karena aku tahu Dewa Serba Putih meskipun terlihat masih mampu berdiri tegak, tapi jelas sedang memaksakan diri untuk menahan luka dalamnya akibat bentrokan ilmu kesaktian dengan Roro..''
''Walau bagaimanapun juga dia adalah salah satu kukubalang istana Angsa Emas yang hebat dan setia. kelak Satriyana pasti akan membutuhkan dukungan dan perlindungan orang seperti I Gede Kalacandra dan Kyai Jabar Seto..''
''Tapi aku benci dengan orang yang berani melukai kakak Dewi., lagi pula aku tidak begitu kenal dengan mereka, aku masih terus ingin bersama kalian selamanya.!'' bantah gadis itu terisak dari sudut matanya meneteskan air mata.
__ADS_1
Waktu semakin berpacu, bahkan mungkin sudah lewat dini hari. tiga orang di sana cuma dapat saling terdiam dan merasakan beban perjalanan mereka yang semakin berat.