
Pertarungan besar- besaran di tengah pulau 'Seribu Bisa' yang awalnya seimbang, kini berubah menjadi ajang pembantaian sepihak dari 'Kelompok 13 Pembunuh' dan para tokoh golongan hitam terhadap gabungan pihak 'Istana Angsa Emas' juga kaum persilatan aliran putih menjadi semakin tidak lagi dapat terbendung.
Jika awalnya mereka begitu bersemangat dan yakin pihak kebenaran akan menang, tapi sekarang semuanya keyakinan itu sudah memudar bahkan mungkin hilang lenyap dari jiwa mereka. jangankan untuk bisa menang, sekedar dapat bertahan hidup saja sudah hampir tidak ada peluang.
Kini mereka hanya bisa mengandalkan para pimpinan Istana Angsa Emas dan pentolan pesilat aliran putih seperti 'Raja dan Ratu Lutung Sakti' dari gunung Ciremai juga Puji Seruni alias si 'Dewi Seruni Putih' untuk menahan gempuran pasukan mayat hidup yang jumlahnya seakan tidak pernah habis.
Meskipun beberapa waktu lalu juga muncul bantuan dari puluhan orang pesilat yang baru saja dibebaskan Roro Wulandari dan si 'Maling Nyawa' dari ruang penjara rahasia pulau Seribu Bisa, tapi semua itu cuma ibarat siraman segayung air yang harus menyirami kebun luas yang kekeringan, nyaris tidak ada artinya.
Diantara para pesilat golongan hitam yang merasa mendapatkan keuntungan besar karena kejadian ini tentunya adalah Ki Kala Mayit dan kedua kawan karibnya Ki Ageng Bangkal Sungsang serta Ki Maung Gembong. dari tarikan upah untuk menyeberangkan para tokoh persilatan ke pulau Seribu Bisa ini saja mereka sudah berhasil mengumpulkan banyak sekali harta pusaka.
Apalagi sekarang dengan adanya kesempatan dari pihak 13 Pembunuh agar bersekutu dalam menyapu habis semua pesilat aliran putih, membuat mereka bertiga menjadi semakin yakin bakalan lebih mudah untuk memperoleh imbalan besar seperti yang dijanjikan oleh ketua 13 Pembunuh. lagi pula., siapa yang akan begitu bodoh jika sampai melewatkan rejeki yang sudah ada didepan mata. ibarat kata, kemenangan tinggal menunggu waktu saja.
Di salah satu puncak bukit karang yang ada di pulau itu terlihat seorang pemuda berjubah putih sedang duduk setengah berbaring diatas kursi malasnya. kedua matanya yang rada terpejam sepintas nampak acuh dengan semua yang terjadi di bawah sana. meskipun begitu, keempat orang pengikutnya yang terdiri dari dua lelaki muda yang gagah kekar dan sepasang gadis cantik jelita itu tahu betul kalau majikannya sedang berpikir keras.
Setelah menunggu beberapa lama, salah satu dari kedua pemuda gagah itu memberanikan diri bicara. ''Maaf tuan muda., ijinkan aku berpendapat. walau kedatangan kita di pulau Seribu Bisa ini hanya bertujuan untuk mendapatkan benda itu tapi hamba rasa kita juga tidak dapat membiarkan pembantaian ini terus berlanjut..'' ucap pemuda kekar yang berdiri di belakang sebelah kiri tuan mudanya.
__ADS_1
Kalau diperhatikan mulai lengan bahu hingga jemari lelaki yang mungkin umurnya sekitar dua puluh lima tahunan itu selain terlihat sangat kekar berotot, bahkan mungkin dua tiga kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan tangan berotot pemuda kekar pada umumnya juga nampak mengkilap dan berkilauan.
''Benar tuan muda., biarpun dalam aturan 'Kota Hantu Pagi' yang tuan tetapkan sangat melarang untuk turut campur dengan masalah orang lain dan selalu bertindak berdasarkan untung rugi, tetapi kita juga bukanlah golongan orang yang tidak punya hati nurani..'' sambung rekannya yang berdiri sebelah kanan dan bertubuh lebih tinggi.
Jika kawannya yang agak pendek mempunyai sepasang tangan kekar berotot yang sangat besar, sebaliknya dia memiliki dua buah kaki yang juga kekar berotot dari pangkal paha hingga ujung jemari kaki. celana panjangnya yang longgar dan putih tidak dapat menutupi besarnya otot kaki pemuda yang usianya mungkin dua tahun lebih tua dari kawannya itu.
''Eehm., tuan muda. aku dan kakak 'Camar Anggun' juga sependapat dengan mereka berdua. kupikir sekali- kali, sedikit melanggar aturan juga tidak masalah bukan.?'' ucap gadis paling muda bernama 'Pipit Lincah' duduk menggelendot manja di samping bahu si pemalas sambil tersenyum nakal dan mengedip- kedipkan kedua matanya yang bening. jelas sekali kalau gadis manis berlesung pipit itu sedang berusaha merayu tuan mudanya.
Tuan muda pemalas dari Kota Hantu Pagi itu menghela nafas kesal. ''Kau tidak ikut merayu diriku seperti gadis nakal ini.?'' tanyanya melirik gadis cantik jelita yang duduk di kanan sambil membaca buku catatan. ''Untuk apa merayumu, di luarnya saja tuan nampak tidak perduli tapi sebenarnya kau adalah orang yang sangat perhatian..''
''Haa., ha., sungguh penghujung malam yang menyenangkan. 'Tangan Besi Perak' dan 'Kaki Besi Perak'. kalian berdua aku ijinkan untuk turun ke bawah sana. berolah raga sedikit kurasa juga cukup baik bagi kalian.!'' kata si tuan muda pemalas tertawa bergelak. ''Baik tuan muda. kami terima perintahmu..'' sambut keduanya bersamaan. setelah menjura hormat mereka berkelebat cepat langsung menuju ke tengah kalangan pertempuran.
Kehadiran kedua orang ini yang begitu tiba- tiba membuat kemenangan para pesilat jahat menjadi tertunda. 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' langsung kocar- kacir dihajar pukulan dan tendangan dari Kaki Tangan Besi Perak dan si Kaki Besi Perak yang kekuatannya bagaikan bongkahan bukit karang yang runtuh. sebaliknya kaum persilatan aliran putih jadi bisa sedikit bernafas lega meskipun mereka belum tahu dari golongan mana keduanya berasal.
Segera saja puluhan mayat hidup hasil ilmu hitam 'Angonan Mayit Sewu' sang ketua 13 Pembunuh menyerbu mereka. tapi kecuali pasukan mayat telanjang yang kebal senjata dan pukulan sakti, mayat- mayat hidup yang lainnya seketika tumbang dan terpecah kepalanya hingga tidak dapat terbangkit lagi.
__ADS_1
''Kakak Camar Anggun, kau sudah curang karena merayu dengan menciumnya. itu tidak adil.!'' sungut Pipit Lincah melotot bertolak pinggang. yang di semprot hanya melirik dan tersenyum lantas kembali duduk membaca bukunya. ''Kau jangan cemburu. pipiku yang sebelah kiri masih nganggur. kau bisa juga mengecupnya sepuasmu..'' goda tuannya.
''Kalau sering cemburu kau nanti bisa cepat tua dan keriput..'' olok Camar Anggun hingga Pipit Lincah jadi semakin kesal. gadis muda itu terpekik saat lengan tuan mudanya meraih pinggang kecilnya yang ramping lantas menarik ke pangkuannya. Pipit Lincah cepat baringkan dirinya ke atas dada tuannya dan mencibir. ''Lihat., tuan muda memelukku. jelas dia lebih sayang padaku..'' ganti mengejek Camar Anggun. wanita cantik jelita itu cuma menggeleng- gelengkan kepalanya dan terus membaca buku.
''Tadi tuan muda sengaja menahan si Kaki Besi Perak dan Tangan Besi Perak agar tidak turun tangan membantu karena belum yakin mereka akan mampu memberi bantuan pada pesilat aliran putih itu bukan.? jika begitu., apakah tuan muda sudah tahu kelemahan para mayat hidup ini dan memberitahukannya pada mereka berdua sebagai bekal.?''
Pemuda itu menggeliat malas sebelum menjawab pertanyaan Camar Anggun. ''Aku tidak yakin kelemahan dari dua puluh empat mayat telanjang itu sampai pesilat sehebat si pincang juga belum mampu memusnahkan mereka. jika perkiraanku benar ini semua berhubungan dengan 'Darah Keabadian..''
''Ada sebab pasti ada pula akibatnya. tapi dari yang kudengar dari mata- mata kita yang ikut datang saat terjadi pertarungan besar di lembah sunyi, mayat- mayat hidup itu sangat lemah dengan cahaya matahari. tidak pernah ada ilmu hitam yang sempurna. semua pasti punya kelemahan. sebentar lagi mentari pagi akan muncul. kita bisa melihat keadaan yang sebenarnya..''
Pemuda pemalas yang jadi penguasa dari sebuah kota terlarang di dunia persilatan itu seakan terjingkat kaget bahkan nyaris saja dia berdiri dari kursi malasnya. raut wajahnya terlihat tegang penuh dengan hawa membunuh. dia seperti raja iblis yang baru saja terbangun dari tidurnya. kedua gadis cantik bawahannya tanpa sadar menjadi bergidik ngeri.
''Sepertinya semua ini akan segera mencapai puncaknya. aku merasakan adanya suatu gelombang tenaga kesaktian yang luar biasa sedang bergejolak di ujung sana dan hendak menuju kemari..'' desis si pemalas sembari menunjuk ke satu arah. kedua gadis cantik itu tertegun. meskipun tidak yakin tapi mereka tahu kalau itu adalah arah di mana si 'Dewi Malam Beracun' terakhir terlihat sebelum dia melenyapkan diri.
......
__ADS_1
Authornya sibuk kerja juga masih kurang sehat. maaf lambat update. Terima kasih🙏.