13 Pembunuh

13 Pembunuh
Bertemu nenek penjual bawang


__ADS_3

Seminggu kemudian.,


...Dengan menggunakan pedang Iblis Hitamnya dan di saksikan ketiga kawannya Respati mengunci pintu ruang goa rahasia berisikan barang pusaka peninggalan si Maling Nyawa yang berada di dalam perut bukit Lading. untuk kedua kalinya dia kembali berlutut melakukan penghormatan pada pemilik tempat itu. ketiga rekannya juga menjura hormat di depan pintu yang sudah tertutup....


Dengan membawa obor Respati memimpin ketiga rekannya menuju keluar goa. sudah semingguan mereka berada di dalam, hanya sesekali keluar untuk mencari makanan. meskipun latihan yang mereka lakukan cukup singkat, tapi hasil yang didapat lumayan bagus terutama Satriyana. daya ingat, kecerdasan, penciuman, serta ketangkasan gadis itu sangat luar biasa. bukan saja saja tiga jurus ilmu silat Busur Panah Srikandi sudah dapat dikuasainya, bahkan sekarang dia mampu memanah di tengah kegelapan.!


Dalam jarak tertentu hanya dengan mendengarkan tarikan nafas dan bau tubuh mangsanya, gadis ini sudah dapat menentukan dimana sasarannya berada. jika dalam keadaan yang cukup cahaya, dalam sekali memanah Satriyana kadang mampu mengenai dua sampai tiga sasaran sekaligus.


Mulanya Respati dan yang lainnya merasa sangat heran dan takjub dengan kecepatan gadis itu dalam mempelajari sesuatu. tapi Sabarewang teringat saat Satriyana mampu menghabisi seorang begundal di tepian sungai dengan menggunakan jurus Bintang Langit Terpecah miliknya. juga waktu gadis itu memakai darahnya untuk menyelamatkan nyawa mereka bertiga dari ancaman maut Ki Suket Gajah, atau si Sabit Perak Pencabut Nyawa.


Akhirnya mereka paham ada suatu kekuatan hebat yang masih tersembunyi di dalam tubuh Satriyana. ibaratnya gadis ini mempunyai sesuatu yang sangat berharga tapi masih belum tahu bagaimana cara menggunakannya.


Dari cerita Rumilah kakak seperguruannya yang sempat memeriksa gadis itu saat berada di pondoknya, Roro Wulandari dapat menduga kalau mungkin ada beberapa jalan darah yang tersumbat di tubuh Satriyana hingga tenaga saktinya tidak mampu dikeluarkan.


Setelah berunding akhirnya di putuskan kalau Respati dan Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun yang akan membuka jalan darah Satriyana yang tersumbat. karena butuh tenaga dalam cukup besar untuk membuka aliran darah itu, maka Respati dan Roro harus bergiliran melakukannya. ini dapat dimaklumi karena kedua orang inilah yang ilmunya paling tinggi.


Hasilnya meskipun belum bisa mencapai tingkatan yang sempurna, paling tidak gadis itu kini sudah meningkat tajam kemampuan ilmu bela dirinya.

__ADS_1


Sabarewang juga demikian, bukan saja jurus Bintang Langit Terpecah sudah dapat di kuasainya dengan sempurna, bahkan Respati juga menambahkan sebuah jurus lagi yang dia ambil dari kitab jurus pedang Tujuh Bintang Pemusnah.


Meskipun jurus pedang yang kedua ini setingkat lebih sulit untuk di pelajari, tapi Sabarewang sangat bernafsu untuk dapat menguasainya, siang malam dia seakan hanya sibuk berlatih. beberapa kali Dewi Malam Beracun mendampratnya karena lupa makan minum. tugasnya sebagai penyedia perbekalan juga sampai terlupa. tapi di sisi lain Roro kagum juga dengan keuletan si kusir kuda. maka dua hari terakhir dia yang rela mengalah untuk menggantikannya berburu makanan.


Meskipun belum bisa menguasai jurus baru ini sepenuhnya, tapi Sabarewang sudah mulai paham dengan rahasia jurus pedang kedua yang bernama 'Bintang Api Kembar' itu.


Meskipun sebenarnya enggan, tapi Respati juga merasa perlu untuk meningkatkan kemampuannya, lima jurus terakhir dari kitab tujuh jurus pedang Bintang Pemusnah yang ada di dalam kotak kayu cendana hitam akhirnya dia pelajari juga sebagai bekal kemampuannya.


Roro Wulandari seakan tenggelam ke dunia lain kalau sedang mempelajari kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti, karena ternyata isinya bukan cuma soal senjata dan peralatan rahasia yang aneh- aneh, tapi juga seluk beluk ilmu tata letak suatu bangunan sekaligus cara membuatnya menjadi penuh dengan jebakan maut.


Kitab yang cuma setengah jilid itu adalah bagian awal dari kitab Seribu Senjata Rahasia Sakti yang dia dapat dari gurunya. karena Roro langsung mempelajari setengah bagian kitab terkahir maka dia harus meraba dan mengira- ngira dulu. ibarat kata dia hanya pernah melihat orang memasak ikan dan juga memakannya. tapi dia tidak tahu racikan bumbu dan takarannya.


Jalan keluar goa rahasia itu berbeda dengan saat mereka masuk, jalan yang mereka lewati sekarang lebih berliku, meskipun tidak banyak cabang goa tapi harus melewati beberapa pintu batu. cara membukanya juga berbeda- beda satu pintu dengan pintu yang lainnya. hanya sekali lihat Roro langsung tahu kalau ada beberapa jebakan mematikan di setiap pintu itu.


''Akhirnya kita keluar juga dari dalam bukit ini.,!'' seru Satriyana riang. saat memandang sekitarnya dia baru sadar kalau hari sudah berganti pagi. Satriyana harus menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang baru terbit beberapa saat lamanya agar tidak merasa silau, karena selama seminggu ini diantara mereka berempat cuma dia yang belum pernah keluar goa karena sibuk melatih diri.


'' Eeh., sepertinya ini bukan daerah yang sama dengan tempat kita meninggalkan kereta kuda kita.?'' gumam gadis itu bingung. sekarang anak ini terlihat agak berbeda, perawakannya jadi lebih berisi. busur panah yang terikat di punggungnya menambah daya tarik gadis ini.

__ADS_1


''Ini adalah bagian timur bukit., tempat kita masuk dulu berada di sebelah barat'' jelas Respati sambil padamkan api obornya. setelah semuanya keluar goa, dia dan Sabarewang menutup mulut goa dengan batu- batu besar dan tumbuhan liar. terakhir Dewi Malam Beracun turut menaburkan segenggam serbuk berwarna kehitaman diatasnya.


''Apa gunanya benda itu.?'' tanya Satriyana heran. tapi beberapa saat kemudian dia tahu sendiri jawabannya, saat melihat tumbuhan dan rumput liar diatas bebatuan penutup goa menjadi tumbuh sangat cepat dan menjalar hingga benar- benar menutupi mulut goa.


''Aku benar- benar tidak dapat menebak sebenarnya kau ini masih mempunyai berapa macam obat aneh.,?'' gumam Respat sambil melirik Roro. wanita cantik ini cuma tertawa kecil. ''Hik., hi., sebenarnya itu cuma sebuah ramuan obat yang gagal kubuat, karena kesal aku membuangnya ketanah berumput. Eeh., beberapa saat kemudian rerumputan itu tumbuh dengan sangat lebat. barang ini juga pernah aku jual pada seorang kepala tukang kebun istana dengan harga mahal., karena puas dia selalu membelinya lagi kepadaku.!''


''Wah., kalau begitu Nyi Dewi pasti cepat kaya.!'' puji Sabarewang. ''Ooh., oh., kakang Sabarewang kau jangan salah kira. tanpa menjual obat inipun hartaku juga sudah berlimpah.!'' ujar Roro sambil mengikuti Respati yang sudah mendahului melangkah.


Empat orang berjalan cepat mengitari bukit. tidak berapa lama kemudian merekapun hampir tiba ditempat asal. meskipun masih agak jauh tapi kereta kuda itu sudah terlihat. Respati serta Roro mendadak sama hentikan langkahnya. dibelakang Sabarewang dan Satriyana juga berbuat yang sama. dalam seminggu belakangan rasa kepekaan kedua orang ini meningkat tajam meskipun belum sehebat Roro dan Respati.


''Ada yang sedang menanti kita di depan sana, teman atau musuh.?'' bisik Roro sambil keluarkan kipas peraknya. sementara Respati masih terlihat tenang. ''Kita bisa mengetahuinya setelah tiba di sana..'' jawab si pemuda sambil berkelebat kedepan diikuti Roro dan kedua rekannya.


Dua orang anggota kelompok 13 Pembunuh itu tiba hampir bersamaan. kedua orang ini tercengang saat melihat ada dua orang tua muda sedang berdiri di dekat kereta kuda.


Yang satu adalah seorang nenek tua keriput bertubuh kecil setengah bungkuk, berjubah dan berkerudung putih serta membawa sebuah keranjang rotan yang ditutupi selembar kain berwarna hitam. meskipun sepintas tubuh nenek tua ini terlihat lemah dan ringkih dengan jalan yang tertatih, tapi sinar matanya sangat tajam dan berhawa maut.


Di samping si nenek tua berdiri seorang pemuda gagah tapi berbibir agak sumbing. sebelah mata kirinya di tutupi sepotong kulit binatang berwarna hitam.

__ADS_1


''Dua orang muda- mudi yang gagah dan cantik jelita, aku seorang nenek tua penjual bawang yang sedang mencari seorang kawan lamaku., bisakah kalian berdua menolong orang tua yang lemah ini untuk turut mencarinya.?'' sapa nenek tua itu sambil berjalan tertatih mendekat.


Meskipun mereka belum pernah bertemu sebelumnya, tapi baik Roro maupun Respati seakan sudah dapat mengira siapa adanya nenek tua ini. entah kenapa dalam hati mereka berdua mulai di jalari perasaan ngeri.


__ADS_2